Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) lahir dari keprihatinan dan kekhawatiran akan hilangnya Bahasa Jawa dari akar budayanya. Berdiri sejak 1982, PSJB menerbitkan tulisan berbahasa Jawa dari para penulis lokal.

PSJB menjadi penerbit pertama yang lahir di Kota Bojonegoro. Muncul  pada rezim yang represif di mana kegiatan sastra belum se-menggeliat saat ini, PSJB tergolong awet karena masih bertahan dan bergiat hingga kini. Meski, para pengurusnya kini sudah berkategori usia senja.

Sebelum menjadi penerbit produktif, PSJB hanya sebuah komunitas sastra yang bertujuan menaungi para pegiat dunia kepenulisan di Bojonegoro, terutama penulisan Sastra Jawa. Niat awal mendirikannya hanya untuk menjadi ruang bertemu, berdiskusi, dan berbagi motivasi untuk tetap menjaga produktivitas menulis tulisan berbahasa Jawa.

PSJB didirikan oleh sembilan sastrawan Jawa asal Bojonegoro. Mereka adalah JFX Hoery, Djayus Pete, Yusuf Susilo Hartono, Muh. Makloem, Yes Ismi Surya Atmaja, L. Isnur Sukmana, Sri Setyo Rahayu, Hadi Mulyono, dan Sajilin. Bahkan, saat ini, dari nama-nama tersebut sudah dua anggota telah meninggal.

“Sudah dua yang meninggal,” kata Ketua PSJB, JFX Hoery beberapa pekan lalu saat ditemui di rumahnya, di sebuah desa yang menjadi pembatas antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.   

Meski usianya kini sudah menyamai usia Kemerdekaan Indonesia, Hoery masih selalu bersemangat saat diajak berbincang terkait perkembangan sastra Jawa. Pria  kelahiran 7 Agustus 1945 tersebut, memang menjadi tokoh pendiri PSJB yang sejak awal hingga saat ini masih telaten merawat dan memeliharanya.

Dulu, sebelum menerbitkan puluhan buku berbahasa jawa, PSJB hanya menjadi tempat berkumpul bagi dia dan teman seangkatannya untuk melakukan giat literasi. Istilah saat ini: komunitas. Dengan fokus kegiatan berkutat pada sarasehan dan diskusi tulisan berbahasa jawa. Selain itu, para anggota PSJB yang notabene seorang penulis sastra Jawa itu juga membuka pelatihan ke sekolah-sekolah yang ada di Bojonegoro. Tujuannya, berusaha mempertahankan eksistensi Bahasa Jawa yang mulai tersisih oleh Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. 

“PSJB dibentuk atas dasar keprihatinan sekaligus keinginan mengawetkan Bahasa Jawa agar tidak tercerabut dari akar budayanya,” tutur Hoery.

Bahkan, PSJB sempat membuka sekretariat (terkait pelatihan di sekolah-sekolah) di Kabupaten sebelah, yakni Tuban dan Lamongan. Di awal dekade 1980 an, PSJB juga kerap mengadakan lomba mengarang geguritan hingga keroncong. Sayangnya, tidak seperti di Bojonegoro, sekretariat PSJB di Kota Tuban dan Lamongan hanya bertahan selama dua tahun.       

Hoery masih ingat, pada 1984, PSJB pernah menghelat sebuah acara besar bertajuk Jati Diri Sastra Daerah yang diikuti sejumlah sastrawan dari berbagai bahasa. Mulai Bahasa Batak, Minang, Sunda, Madura, Bali, Banjar, hingga Toraja (Sulawesi). Waktu itu, PSJB bekerjasama dengan Organisasi Pengarang Bahasa Jawa (OPSJ). Kegiatan itu menjadi kegiatan terbesar yang pernah diinisiasi komunitas sastra sekelas Kabupaten. Mengingat pada era 80an berbagai kegiatan sastra masih sangat sepi.

Eksistensi PSJB memang tidak selamanya lancar. Dalam perjalanannya, PSJB pernah vakum selama sepuluh tahun, tahun 1990-1999, akibat berkurangnya para pengurus yang diperparah oleh panasnya gesekan politik nasional kala itu. Setahun pasca-reformasi meletus, tepatnya pada 1999, PSJB kembali dihidupkan.

“Memang sempat vakum selama sepuluh tahun sebelum dihidupkan kembali,” ujar sastrawan yang pernah mendapat penghargaan Rancage pada tahun 2004 tersebut.

Setelah dihidupkan kembali, kegiatan PSJB tidak hanya berkutat pada sarasehan dan diskusi bagi para pengurus. Melainkan juga mulai melebarkan sayap seperti masuk ke sekolah-sekolah melalui penataran guru Bahasa Jawa tingkat SMP hingga melaksanakan kemah budaya. Tujuannya, untuk memicu terjadinya regenerasi.

Mulai Mencetak dan Menerbitkan Buku

PSJB mulai menerbitkan buku pada 2004. Tahun ketika proses penerbitan dan pencetakan buku di Bojonegoro masih sangat langka. Itupun, PSJB hanya menerbitkan karya dari para anggota PSJB yang notabene semua berupa tulisan berbahasa Jawa. Buku pertama yang diterbitkan merupakan karya JFX Hoery berupa antologi gurit (sajak) berjudul Pagelaran  dan sebuah buku berisi antologi cerita cekak (cerkak) berjudul Blangkon karya para anggota PSJB.

Sejak saat itu, hampir setiap tahun PSJB selalu menerbitkan buku berbahasa Jawa. Selama 12 tahun berjalan dalam hal menerbitkan buku, hampir semua buku yang diterbitkan berupa buku berbahasa Jawa. Selama 12 tahun ini, jika ditotal, PSJB sudah menerbitkan sebanyak 26 buku. Dari jumlah tersebut, hanya ada 3 buku yang diterbitkan berupa buku berbahasa Indonesia.

“Tahun ini, rencananya kita menerbitkan 3 buku berbahasa jawa,” imbuh pria yang pada tahun 2016 mendapat penghargaan sastra dari Balai Bahasa Jatim itu.

Setiap tahun—dan ini menjadi semacam prinsip untuk dilakukan terus-menerus—PSJB berusaha menerbitkan secara rutin sebanyak 2 hingga 3 buku. Dan itu merupakan buku-buku yang ditulis para penulis lokal Bojonegoro (meski tidak menutup kemungkinan dari luar daerah), dengan prioritas karya berbahasa Jawa.

Buku-buku hasil terbitan PSJB memang bahkan kerap mendapat penghargaan. Buku terbitan PSJB yang pernah mendapat penghargaan meliputi; Pagelaran (antologi gurit diterbitkan 2004) karya JFX Hoery mendapat penghargaan Rancage pada 2004, Pulo Asu (antologi cerkak diterbitkan 2010) karya Herwanto mendapat penghargaan Rancage pada 2010.

Selain itu, ada pula buku berjudul Kluwung (antologi cerkak diterbitkan pada 2013) karya Nono Warnono mendapat penghargaan Rancage pada 2013. Di tahun yang sama. Yakni 2013, melalui sebuah karya berjudul Puser Bumi (antologi gurit diterbitkan 2013), salah satu anggota PSJB, Gampang Prawoto, mendapat penghargaan karya sastra terbaik dari Balai Bahasa Jawa Timur.

Hoery mengaku, saat sejumlah anggota mendapat penghargaan (tentunya juga uang pembinaan), beberapa persen dari uang pembinaan itu disumbangkan ke kas untuk digunakan menerbitkan buku. Nanti jika buku sudah tercetak, hasil penjualan buku itu dimasukkan lagi ke kas untuk biaya menerbitkan buku. Dengan cara seperti itu, roda produktivitas penerbitan PSJB masih bisa berputar hingga saat ini

Beberapa karya buku yang diterbitkan PSJB sering menjadi rujukan bahan skripsi bagi mahasiswa-mahasiswa jurusan Sastra Jawa dari sejumlah Universitas. Beberapa di antaranya dari Universitas Indonesia (UI), Unnes Semarang, UNS Solo, Unsoed Purwokerto dan Unesa Surabaya.

Perjuangan mempertahankan Bahasa Jawa memang bukan perjuangan ringan. Sebab, semakin hari, porsi penggunaan bahasa tersebut kian berkurang. Saat ini, hampir di setiap sekolah Bahasa Jawa diberlakukan sebagai pelajaran muatan lokal. Artinya, keberadaan pelajaran tersebut bukan sebuah kewajiban, melainkan berada di luar mata pelajaran wajib, porsinya pun sangat sedikit.

Melihat fakta tersebut, regenerasi menjadi masalah utama yang kerap mengganggu. Sebab, saat ini sangat sulit menemukan siswa atau remaja yang masih memiliki keinginan memperdalam pemahaman Bahasa Jawa. Kalaupun ada, hanya siswa-siswa tertentu saja. Meski begitu, PSJB tetap bergerak dan berkontribusi melalui penerbitan buku-buku berbahasa jawa dari para penulis lokal. Harapannya, bisa memperpanjang usia eksistensi penggunaan Bahasa Jawa.

 

Ket. Foto: JFX Hoery dan buku-buku terbitan PSJB.


Wahyu Wrizkiawan
Jurnalis dan pembaca buku lepas, bergiat di Rumah Ngaostik. Bercita-cita mendirikan sekolah yang dipenuhi ruang baca dan perpustakaan.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara