Sebuah buku melewati banyak proses di percetakan sebelum ia lahir dalam wujudnya yang ilahar: rapi terbungkus plastik dan siap dibeli, dan dibaca.

JIKA dunia penerbitan adalah ruang yang riuh, maka percetakan adalah dunia yang redam. Sebab di dunia penerbitan, ada banyak interaksi antara penerbit-penulis, penerbit-reseller, penerbit-pembaca. Hal itu tentu berbanding terbalik dengan dunia percetakan yang pada umumnya berinteraksi dengan mesin dan mesin. Padahal, di sanalah salah satu penentu gerak perbukuan kita.

Kadangkala penulis dan pembaca—bahkan tak jarang penerbit—hanya tahu kalimat “Buku sedang dicetak” tanpa benar-benar mengerti bagaimana sebuah buku diproses. Berdasar pengamatan sederhana di Utama Offset beberapa waktu lalu, redaksi Pocer mencoba mengurutkan langkah-langkah dalam proses tersebut. Semoga dapat menjawab rasa penasaran kita.

 

Fail masuk

Biasanya, fail buku yang diminta percetakan berupa bentuk pdf untuk isi, dan Corel/Potoshop/Indesign untuk fail kover. Itu merupakan standar umum di percetakan, hal itu demi memudahkan percetakan melakukan tahap lanjut. Namun jangan khawatir, jika fail Anda benar-benar masih mentah semisal baru ketikan word biasa dan belum ada rancangan kover, beberapa percetakan menyediakan jasa tata letak (layout) dan membuat visual pada sampul depan.

 

File setting (Menyetel fail)

Ini biasa dilakukan oleh operator mesin sebelum proses cetak. Ia akan memeriksa fail, untuk kemudian menyetelnya ke mesin cetak. Baik mesin besar (misalnya oliver) atau mesin kecil (jamak disebut mesin POD). Jika ada kejanggalan atau sesuatu yang tidak pas, operator akan meminta kita memeriksa ulang fail.

 

Cetak pelat isi dan kover

Jika Anda main ke percetakan, hampir pasti Anda akan menemukan tumpukan pelat. Bentuknya seperti seng rumah namun rata. Samar-samar pada seng tersebut, terlihat jajaran teks atau gambar. Teks dan gambar itulah yang nantinya melekat pada kertas. Hampir seperti sablon. Namun pelat ini hanya berlaku bila mencetak dalam oplah banyak (mayor). Apabila sedikit, tidak perlu memakai pelat dan langsung saja menggunakan mesin POD yang terlihat seperti mesin fotocopi.

Jika Anda bisa menyimpan pelat tersebut dengan baik, maka itu bisa digunakan lagi saat Anda mencetak fail yang sama. Sehingga dengan itu minimal bisa sedikit menekan biaya saat akan mencetak buku yang sama.

 

Potong kertas

Kertas cetak, umumnya tersedia dalam berbagai ukuran besar. Semisal 61 x 86 cm atau 79 x 109 cm. Saat akan mencetak, lembaran kertas itu akan dipotong memakai mesin pisau besar berdasar ukuran mesin cetak yang akan digunakan. Jika kita hendak mencetak POD, maka biasanya ukuran kertas dipotong menjadi ukuran A3 (29 x 42 cm).

 

Cetak isi

Selanjutnya adalah proses cetak. Anda akan mendengar suara gemuruh jika memakai mesin besar. Semacam deru rel kereta api yang terdengar dari jauh saat Anda menanti di depan palang lintasan. Kemudian terlihat tabung bulat berputar berulang-ulang mengeluarkan lembaran kertas dengan tinta hitam telah melekat di atasnya. Sedangkan jika memakai mesin POD, suaranya terdengar persis seperti mesin printer.

 

Menyetel dan mencetak kover

Hampir sama dengan cetak isi. Kover yang dicetak dengan mesin besar biasanya tidak meleot atau melengkung seperti bila dicetak pakai mesin kecil. Penerbit Indie di Jogja, punya siasat mengatasi problem ini. Agar tetap dapat mencetak sedikit buku namun dengan kualitas kover yang prima, mereka umumnya mencetak kover dengan jumlah minimal ofset (sekitar 200). Mereka akan menyimpannya dan apabila hendak mencetak isi, kover itu tinggal dibawa ke percetakan.

 

Proses potong dan sisir buku

Kembali ke mesin pisau besar. Produk buatan Jerman ini yang paling sering kami lihat di percetakan. Namanya Polar. Walau punya nama yang lucu, mesin ini tetap terlihat seram. Pisau sepanjang kira-kira 1 meter dan lebar kira-kira 10an cm, terlihat seperti pisau cutter raksasa.

Biasanya hasil cetak masih berukuran plano besar, oleh karenanya perlu dipotong lagi sehingga menjadi lebih kecil sesuai ukuran buku.

Mesin ini dilengkapi sistem keamanan yang baik. Sehingga apabila tangan kita berada terlalu dekat dengan pisau, mesin ini tidak akan bergerak. Ketika kertas akan dipotong, akan terdengar suara dengung disusul kemudian “kressss”. Khas suara tumpukan kertas yang terpotong.

 

Lipat

Setelahnya potongan kertas-kertas itu akan pindah ke mesin lain. Ini barangkali salah satu mesin paling unik karena punya banyak kawat kecil yang terlihat bergerak ritmis. Seolah melihat mesin tenun. Kertas-kertas yang tadi telah terpotong, akan secara otomatis terlipat sendiri di mesin ini. Bergerak tanpa henti, dari lembaran menjadi lipatan-lipatan yang nantinya digabung menyesuaikan halaman untuk jadi buku.

 

Binding (penjilidan)

Anda pasti pernah bertanya-tanya, bagaimana buku tebal dilem? Sebab kalau distaples, pasti mbrodol. Jawabannya ada pada proses ini. Lem panas terlihat di satu lekukan mesin. Menggenang seperti bubur. Dalam satu gerakan, isi buku dan kover akan berjalan seperti kereta api ke satu sisi. Pada perjalanan pertama itu, lem akan tertempel dengan sendirinya pada punggung buku. Dan ketika kembali ke sisi satunya, proses pengeleman sudah selesai. Seharusnya visual ini dalam bentuk video. Kami akan merekamnya dikemudian hari.

 

Sortir

Proses ini adalah memilih dan memilah buku. Sepandai-pandainya tupai membuat buku, pasti ada yang cacat juga. Semisal halaman yang kebolak-balik, penjilidan yang miring, atau kotor. Ada satu sampai dua orang yang bertugas untuk ini. Memastikan bahwa hanya buku dengan kualitas baik yang akan masuk tahap berikutnya.

 

Wrapping

Dalam bahasa Indonesia istilah ini kira-kira sepadan dengan membungkus, meski tentu saja membungkus buku tidak bisa dibayangkan sama dengan membungkus kacang di mana akan ada lilin, kemudian ujung plastik dipanaskan sedikit agar bisa saling merekat. Tahap ini melibatkan mesin yang dipanaskan dengan suhu tertentu. Seperti oven pemanggang kue yang diberi rel berjalan. Buku akan bergerak masuk ke dalam dengan plastik masih kembung, kemudian keluar dengan plastik yang sudah sangat rapat, melindungi buku dari air dan rayap.

 

Packing (pengepakan)

Anda tentu tidak ingin membawa buku dengan susah payah secara terpisah-pisah. Tahap akhir ini merupakan proses standar. Anda akan diberi dua pilihan oleh percetakan perihal pengepakan buku: diikat atau dimasukkan ke dalam kardus. Keduanya sama-sama rapi meski tentu saja kardus akan membuat buku Anda lebih elegan.


Wijaya Kusuma Eka Putra
Sosok di balik Pojok Cerpen
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara