26 Apr 2017 Cep Subhan KM Sosok

Fidel Castro adalah seorang pembaca yang kuat. Di samping 50 dokumen dan 200 halaman berita yang dibacanya setiap hari, dia pun membaca buku-buku sastra, sebagai penyeimbang.

PADA TAHUN 1970-an, Fidel memiliki kebiasaan menuliskan pidato-pidatonya, dengan demikian lambat dan dengan kecermatan tertentu sampai-sampai proses tersebut nampak hampir mekanis. Tetapi sifat yang sama ini merusak pidato-pidato itu. Kepribadian Fidel Castro nampak berubah ketika dia membaca pidato-pidato itu: nadanya menjadi berbeda, gayanya, dan bahkan kualitas suaranya. Beberapa kali di Revolution Square yang sangat luas, di depan setengah juta orang, dia merasakan dirinya tercekik dalam baju pengekang kata-kata yang tertulis, dan setiap dia mendapatkan kesempatan, dia memisahkan diri dari teks.

Dalam kesempatan-kesempatan yang lain dia menemukan bahwa juru ketiknya telah membuat satu kesalahan, dan bukannya mengoreksinya seiring dia melanjutkan, dia akan berhenti berbicara dan membuat satu perubahan dengan pena bolpoin, tak sayang akan waktunya. Dia tak pernah puas. Terlepas dari upaya-upayanya untuk menghidupkan pidato-pidatonya, dan terlepas dari kenyataan bahwa dia telah sukses dalam banyak kasus, pidato-pidatonya yang mau tak mau membuat orang mendengarkan itu membuatnya merasa frustrasi. Pidato-pidatonya mengatakan apapun yang ingin dia katakan, dan mungkin pidato-pidato itu mengatakannya dengan lebih baik, tetapi pidato-pidato itu menghilangkan rangsangan terbesar dalam kehidupannya, yakni kegembiraan akan risiko.

Lantas, mimbar sang improvisator nampak merupakan lingkungannya yang sempurna, meskipun dia selalu harus menguasai rintangan awal yang dikenali banyak orang dan yang tak bisa dia nihilkan. Dalam sebuah catatan yang dia kirim kepada saya beberapa tahun yang lalu yang meminta saya untuk berpartisipasi dalam semacam upacara publik, dia berkata:

“Cobalah sekali naik ke atas panggung dengan penuh rasa takut, sebagaimana aku sendiri harus melakukannya demikian kerap.”

Hanya dalam kasus-kasus yang sangat khusus dia menggunakan kartu berisi berbagai catatan, yang dia keluarkan dari sakunya dengan kaku sebelum memulai dan menempatkan kartu itu dalam jangkauan pandangannya. Dia selalu memulai dengan suara yang hampir tak terdengar, sangat ragu-ragu, maju ke depan ke dalam kabut pada jalan yang tak pasti, tetapi menggapai cahaya seredup apapun untuk mendapatkan tanah inci demi inci, sampai dia mengamuk dengan semacam cakar besar dan menangkap memegang pemirsa. Satu laku memberi dan mengambil pun dikukuhkan, menggairahkan dirinya dan para pemirsa dan menciptakan semacam keterlibatan dialektis di antara mereka. Dalam tensi yang tak tertanggungkan ini terbentang esensi kegembiraannya. Itulah inspirasi: kondisi apik yang sangat menarik dan mempesonakan, yang ditolak hanya oleh mereka yang tak memiliki kejayaan mengalaminya.

Pada mulanya, peristiwa-peristiwa umum dimulai dengan kemunculannya, bahkan meskipun kemunculannya itu sama tak terprediksinya dengan hujan. Selama beberapa tahun kini dia telah mulai muncul tepat pada waktunya, dan durasi pidatonya tergantung pada suasan hati para pemirsa. Pidato-pidato tak terbatas pada tahun-tahun awalnya sudah menjadi bagian masa lalu yang kini dicampurkan dengan legenda, karena demikian banyak apa yang musti diterangkan pada waktu itu kini sudah dimengerti, dan gaya Fidel Castro sendiri telah menjadi lebih rapi setelah demikian banyak sesi pedagogi oratoria.

Fidel tak pernah terdengar mengulang slogan-slogan papier-mache apapun dari komunis ilmiah atau membuat penggunaan apapun dari sistem dialektika ritual sama sekali, suatu bahasa fosil yang zaman dahulu kehilangan persinggungan dengan realitas dan bergandengan tangan dengan jurnalisme pujian dan peringatan—lebih dimaksudkan untuk menyembunyikan daripada menerangkan. Dia adalah seorang anti dogmatis yang sempurna, yang imajinasi kreatifnya hidup melayang di atas ngarai bidah. Dia jarang mengutip frasa orang lain, baik dalam percakapan ataupun di mimbar, kecuali frasa-frasa Jose Marti yang merupakan pengarang favoritnya. Dia mengetahui 28 jilid karya Marti secara menyeluruh, dan telah memiliki bakat untuk menggabungkan gagasan-gagasannya ke dalam aliran darah revolusi Marxis. Tetapi esensi filsafatnya sendiri mungkin adalah keyakinannya bahwa kerja publik adalah, terutama, satu persoalan tentang menjadi peduli dengan setiap individu. 

Ini bisa menerangkan kepercayadiriannya yang mutlak dalam kontak langsung. Bahkan pidato-pidato paling sukar pun nampak sebagai percakapan-percakapan biasa, seperti percakapan-percakapan yang dia lakukan dengan murid-murid di halaman universitas pada permulaan revolusi. Kenyataannya, khususnya di luar Havana, adalah biasa bagi seseorang untuk memanggilnya dari kerumunan dalam sebuah pertemuan publik dan dialog yang diteriakkan pun akan bermula. Dia memiliki bahasa untuk setiap kesempatan dan suatu bentuk bujukan yang berbeda tergantung pada teman bicaranya, baik mereka itu pekerja, petani, siswa, ilmuwan, politisi, penulis, atau pengunjung asing. Dia bisa meraih setiap mereka pada tingkatan mereka sendiri dengan informasi luas dan bervariasi yang menyebabkannya bisa bergerak dengan mudah dalam medium apapun. Tetapi kepribadiannya demikian rumit dan tak terprediksi sampai-sampai siapapun dari mereka bisa membentuk satu kesan yang berbeda tentangnya dalam pertemuan yang sama.

Satu hal yang pasti: di manapun dia mungkin berada, bagaimanapun dan bersama siapapun, Fidel Castro ada di sana untuk menang. Saya tak berpikir ada orang di dunia ini bisa menjadi seorang pecundang yang lebih buruk darinya. Sikapnya dalam menghadapi kekalahan, bahkan dalam kejadian-kejadian paling remeh dalam kehidupan sehari-hari, nampak mematuhi satu logika pribadi: dia bahkan tak akan mengakuinya, dan dia tak memiliki satu kedamaian masa sampai dia mengatur untuk membalikkan terminologi dan mengubahnya menjadi satu kemenangan. Tetapi apapun itu, dan di mana pun, segalanya terjadi dalam ruang lingkup percakapan yang tak ada habisnya.

Subjek itu sendiri bisa apapun, tergantung pada ketertarikan pemirsa, tetapi sering yang sebaliknya terjadi ketika dialah yang memilih satu subjek tunggal bagi semua pemirsanya. Ini cenderung terjadi selama periode ketika dia mendedah satu gagasan yang mengganggunya, dan tak ada orang yang bisa lebih obsesif daripada dia ketika dia telah mengemukakan bahwa dia harus mencapai inti sesuatu. Tak ada proyek, betapapun megahnya atau betapapun remehnya, yang tak dia jalankan dengan satu hasrat yang menggebu, khususnya apabila dia menghadapi kesengsaraan. Tak pernah dia nampak lebih baik daripada saat semacam itu, muncul dalam suasana hati yang lebih baik, atau dalam semangat yang lebih tinggi. Seseorang yang yakin bahwa dia mengetahui Fidel berkomentar: “Hal-ihwal pasti berjalan dengan sangat buruk, karena kau nampak berseri-seri.”

Meskipun demikian, seorang pengunjung asing yang bertemu dengannya untuk kali pertama memberitahu saya beberapa tahun silam: “Fidel sedang menua; tadi malam dia kembali pada subjek yang sama sebanyak tujuh kali.”

Saya menunjukkan padanya bahwa pernyataan-pernyataan ulang yang hampir emosional ini adalah salah satu caranya bekerja. Subjek tentang utang asing Amerika Latin, misalnya, telah timbul dalam percakapan-percakapannya untuk pertama kali sekitar dua tahun lampau, dan telah berkembang, bercabang, tumbuh lebih dalam, sampai hal itu menjadi sesuatu yang sangat mirip dengan sebuah mimpi buruk yang berulang. Hal pertama yang dia katakan, seperti sebuah kesimpulan aritmatika sederhana, adalah bahwa utang itu tak bisa dibayar. Sedikit demi sedikit, selama tiga kunjungan yang saya lakukan ke Havana tahun itu, saya menyatukan variasi-variasinya yang paling akhir tentang tema itu: reaksi-reaksi atas utang dalam ekonomi negara-negara, dampak politis dan sosialnya, pengaruhnya yang menentukan terhadap hubungan-hubungan internasional, sisi pentingnya yang bersifat sudah ditakdirkan untuk kebijakan kesatuan Amerika Latin. Akhirnya, dia membangkitkan satu kongres besar para ahli di Havana dan berpidato yang di dalamnya dia tak meninggalkan apapun selain pertanyaan-pertanyaan penting dari percakapan-percakapannya yang terdahulu. Pada saat itu dia memiliki visi luas yang hanya perjalanan waktu yang akan membuktikannya.

Menurut saya sifatnya yang paling luar biasa sebagai seorang politisi adalah kecakapannya melihat evolusi masalah tertentu ini, sepenuhnya sampai kesimpulan-kesimpulannya yang paling jauh, seolah-olah dia mampu melihat tidak hanya massa yang terperhitungkan dari sebuah gunung es melainkan juga tujuh per delapannya yang ada di bawah air. Kecakapan ini, meskipun demikian, tidak berjalan karena intuisi, melainkan lebih merupakan sebuah hasil dari pertimbangan yang sukar dan ngotot. Seorang teman berbicara yang tekun bisa menemukan embrio awal sebuah gagasan dan mengikuti perkembangannya setelah beberapa bulan melalui percakapannya yang berkelanjutan, sampai hal itu pada akhirnya dikemukakan ke publik dalam bentuk lengkapnya, sebagaimana terjadi pada topik utang asing. Sekali subjek tersebut habis, seolah-olah sebuah siklus penting sudah selesai, dan dia mengajukan itu selamanya. 

Jentera verbal semacam itu tentu membutuhkan bantuan aliran informasi yang tanpa putus-putusnya, dikunyah dengan baik dan dicerna. Bantuan tertingginya adalah ingatannya, dan dia menggunakan itu sampai pada titik penyiksaan untuk menopang pidato-pidato dan percakapan-percakapan pribadi dengan pertimbangan yang membanjir dan operasi-operasi aritmatika dengan kecepatan yang tak masuk akal. Tugas akumulasi informasi ini bermula ketika dia terbangun.

Fidel Castro sarapan pagi dengan tak kurang dari 200 halaman berita dari seluruh dunia. Sepanjang hari, terlepas dari mobilitasnya yang tanpa henti, dia diikuti oleh informasi penting di mana pun. Dia sendiri mengkalkulasi bahwa setiap hari dia harus membaca sekitar 50 dokumen. Termasuk ke dalam dokumen ini pula laporan-laporan layanan resminya dan para pengunjungnya, dan segala hal yang bisa menimbulkan ketertarikan bagi keingintahuannya yang tak terhingga.

Pernyataan yang berlebihan apapun tentang ini hanya bisa sedikit, bahkan dalam kasus ekstrem berikutnya seputar perjalanan menggunakan pesawat terbang.

Dia memilih untuk tidak terbang, dan melakukan itu hanya ketika tak ada alternatif lain. Ketika dia terbang, dia adalah seorang penumpang yang buruk karena kecemasannya untuk mengetahui segalanya: dia tak tidur ataupun membaca, dia hampir tak makan, dia meminta peta navigasi pada kru tiap kali dia merasakan keraguan, dia membuat mereka menerangkan mengapa rute ini diambil dan bukannya rute yang lain, mengapa suara turbin berubah, mengapa pesawat berguncang padahal cuaca bagus. Jawaban-jawaban yang didapatkan, tentu, haruslah benar, karena dia bisa menemukan ketidakkonsistenan yang paling kecil sekalipun dalam sebuah frasa biasa.

Sumber informasi penting lainnya, tentu, adalah buku. Mungkin aspek kepribadian Fidel Castro yang paling tak terjaga dalam citra yang dibuat oleh para musuhnya adalah bahwa dia merupakan seorang pembaca yang rakus. Tak ada seorang pun yang bisa menerangkan bagaimana dia menemukan waktu atau metode apa yang dia gunakan untuk membaca demikian banyak dalam waktu demikian singkat, meskipun dia bersikeras bahwa tak ada sesuatu yang khusus perihal itu.

Dalam mobil-mobil Fidel, dari mulai Oldsmobile prasejarah berturut-turut Soviet Zils, sampai pada Mercedes baru, selalu ada cahaya untuk membaca pada waktu malam.

Berkali-kali dia membawa sebuah buku pada jam-jam dini hari, dan berkomentar tentangnya pada pagi berikutnya. Dia membaca bahasa Inggris, tetapi tidak berbicara menggunakannya. Dalam banyak kasus dia memilih berbicara dalam bahasa Spanyol, dan pada jam-jam kapanpun dia siap untuk potongan kertas apapun dengan huruf di atasnya yang mungkin jatuh ke tangannya. Ketika dia membutuhkan semacam buku yang paling baru, yang belum diterjemahkan, dia mengusahakan terjemahannya.

Pernah seorang kawan dokter mengirimkan padanya, sebagai rasa hormat, risalahnya tentang ortopedik yang baru saja diterbitkan tanpa, tentu, pretensi apapun bahwa Fidel membacanya, tetapi seminggu kemudian dokter tersebut menerima sebuah surat dengan daftar panjang tinjauan. Dia adalah seorang pembaca yang membiasakan diri membaca subjek-subjek ekonomi dan sejarah. Ketika dia membaca memoir-memoir Lee Iacocca, dia menemukan beberapa kesalahan luar biasa pada versi Inggrisnya sampai dia mengirimkan ke New York, untuk membandingkannya dengan versi bahasa Spanyol. Sungguh, sang penerjemah telah mengacaukan makna banyak sekali kata dalam dua bahasa itu.

Fidel Castro, adalah seorang pembaca sastra yang bagus, dan ia mengikuti tema itu dari dekat. Dalam hati nurani saya, saya merasa bahwa saya memprakarsai kecanduannya pada konsumsi-cepat karya-karya best seller—menjaganya tetap selaras zaman sebagai sebuah penangkal dokumen-dokumen resmi. 

 

*Diterjemahkan dari pengantar buku Fidel: My Early Years. Versi terjemahan buku ini diterbitkan oleh penerbit Mata Angin.


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara