21 Mar 2017 Cep Subhan KM Sosok

Fidel Castro, sudah demikian banyak tulisan menceritakan sosoknya. Tulisan dari berbagai tokoh. Salah satunya adalah tulisan Gabriel Garcia Marquez, tentang Fidel, tentang keinginannya menjadi penulis.

TENTANG SEORANG PENGUNJUNG asing yang telah dia temani selama seminggu dalam sebuah kunjungan keliling Kuba, Fidel Castro berkata: “Sungguh betapa orang itu bercakap—dia bercakap bahkan lebih dari yang kulakukan!” Dengan mengenal Fidel Castro sedikit saja sudah cukup bagi kita untuk menyadari bahwa ini adalah sebuah pelebih-lebihan, pelebih-lebihan yang sangat, karena tidaklah mungkin menemukan orang yang lebih keranjingan pada kebiasaan bercakap daripada dia.

Pemujaannya pada kata hampir bersifat magis. Pada awal revolusi, hampir seminggu setelah dia masuk dengan jayanya ke Havana, dia berpidato di televisi selama tujuh jam tanpa jeda. Ini mustilah sebuah rekor dunia. Sepanjang beberapa jam awal, rakyat Havana, belum akrab dengan kekuatan hipnotis suara itu, duduk dengan cara biasa untuk mendengarkan. Tetapi, seiring waktu berlalu, mereka kembali pada rutinitas harian mereka, dengan satu telinga diperuntukkan urusan mereka dan satu telinga yang lain diperuntukkan pidato itu.

Saya telah tiba sehari sebelumnya bersama sekelompok jurnalis dari Caracas, dan kami mulai mendengarkan pidato itu di kamar hotel kami. Tanpa ada jeda, kami kemudian melanjutkan mendengarkan di elevator, di dalam taksi yang membawa kami pada kawasan-kawasan bisnis, pada teras kafe di mana bunga-bunga mekar, dalam bar-bar yang pendinginnya membekukan, dan bahkan saat berjalan menyusuri jalanan di mana radio-radio berbunyi sekencang-kencangnya melalui jendela-jendela yang terbuka. Menjelang malam kami telah menyelesaikan jadwal harian kami tanpa kehilangan sepatah kata pun dari pidatonya.

Ada dua hal yang menarik perhatian kami saat kami mendengarkan Fidel Castro untuk pertama kalinya. Yang pertama adalah kekuatannya yang mengerikan untuk membujuk para pendengarnya; yang lain adalah kerapuhan suaranya. Suaranya adalah suara yang serak, yang pada waktu-waktu tertentu tereduksi sampai menjadi bisikan terengah-engah. Seorang dokter, saat mendengarkan keserakan itu, menyimpulkan bahwa bahkan tanpa pidato-pidato maraton yang nampak mengalir sama panjangnya dengan Sungai Amazon, Fidel Castro dikutuk untuk kehilangan suaranya dalam lima tahun. Tak lama setelahnya, pada bulan Agustus 1962, nubuat ini nampak mendapatkan konfirmasi peringatannya yang pertama ketika dia menjadi bisu setelah berpidato mengumumkan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Amerika. Tetapi hal itu adalah kemunduran sementara yang tidak terulang. Dua puluh tahun telah berlalu semenjak itu. Fidel Castro baru saja menginjak usia 61 tahun, dan bunyi suaranya masih sama pastinya sebagaimana sebelumnya, tetapi suara itu terus menjadi instrumennya yang paling berguna dan tak tertahan dalam penciptaan seni kata yang dilisankan.

Tiga jam, bagi dia, adalah sebuah rata-rata yang bagus untuk satu percakapan biasa. Dan tiga jam pada suatu waktu, hari-hari dipercepat olehnya. Berhubung dia bukanlah seorang pemimpin akademis yang bercokol di kantor-kantornya, lebih menyukai mencari-cari ragam masalah di mana pun mungkin mereka berada, dia bisa dilihat dalam mobilnya yang tak tampak menonjol, tanpa raungan sepeda motor yang mengiringi, menyelinap di sepanjang jalan raya Havana yang sunyi atau di beberapa jalan di luar-jalan-umum kapan saja, bahkan pada jam-jam dini hari. Semua ini telah membangkitkan legenda bahwa dia adalah seorang penyendiri yang suka keluyuran, seorang pengidap insomnia yang berantakan dan menyalahi kelaziman, orang yang mungkin datang berkunjung jam berapa saja dan membuat tuan rumah terjaga sampai fajar.

Ada beberapa kebenaran di balik citra tersebut pada tahun-tahun awal revolusi, ketika dia membawa serta kebiasaan-kebiasaannya dari Sierra Maestra. Tak hanya karena pidato-pidato panjangnya, melainkan juga karena selama lebih dari 15 tahun dia tak memiliki rumah yang nyata, kantor, ataupun rutinitas harian yang tetap. Kursi pemerintahan adalah tempat semestinya dia berada, dan kekuatan itu sendiri bergantung pada kesempatan, disebabkan oleh pengembaraan-pengembaraannya. Kini hal itu menjadi sungguh berbeda. Tanpa mengurangi karakteristik-karakteristik keterburu-buruannya, dia pada akhirnya memaksakan keteraturan tertentu dalam kehidupannya. Sebelumnya, siang dan malam akan berlalu seiring dengan lakunya yang hanya melirik ke sana-sini sampai kapanpun ketika rasa letih menguasainya. Kini dia mencoba untuk membiarkan dirinya sendiri tidur tanpa terganggu selama minimal enam jam, meski bahkan dia sendiri tak tahu kapan hal itu mungkin terjadi. Tergantung pada bagaimana hal-hal berlalu, jam tidurnya bisa jadi bermula pada pukul sepuluh malam atau pukul tujuh pagi berikutnya.    

Dia menyediakan beberapa jam untuk urusan-urusan rutin di kantor kepresidenan Dewan Negara-nya, tempat di mana sebuah meja rapi, perabot yang menyenangkan dari kulit yang tak disamak, dan sebuah rak buku mencerminkan keluasan cita rasanya: dari risalah-risalah tentang hidroponik sampai novel-novel romantis. Dari kebiasaannya menghisap setengah peti cerutu yang dia habiskan setiap hari dia berubah menjadi seorang pemantang yang mutlak, dengan alasan sederhana supaya memiliki otoritas moral untuk melawan laku merokok di negeri di mana Christopher Columbus menemukan tembakau—yang masih merupakan satu sumber utama pendapatan Kuba kini.

Ketenteraman buruk yang dengannya dia mendapatkan tambahan berat badan telah mengharuskannya mengikuti diet permanen. Ini adalah sebuah pengorbanan yang sangat besar, mempertimbangkan hasratnya yang tinggi dan kesenangan yang tak pernah lekang dalam hal berburu resep-resep yang dia sukai untuk disiapkan dengan sejenis semangat ilmiah. Suatu Minggu, membebaskan dirinya sendiri, dia menyelesaikan makan siang berskala bagus dengan menyantap 18 sendok es krim. Akan tetapi, dia biasanya memilih daging ikan tak bertulang bersama sayuran-sayuran rebus, lalu hanya saat rasa lapar menguasainya, alih-alih berdasarkan waktu makan yang teratur. Dia tetap dalam kondisi fisik yang sempurna dengan beberapa jam di gimnasium setiap harinya dan sering berenang. Dia membatasi dirinya sendiri pada segelas wiski sederhana yang diminum dengan sesapan yang hampir tak kentara, dan dia telah mengatur untuk mengendalikan kelemahannya atas spaghetti yang dipelajari cara mempersiapkannya dari duta kepausan pertama revolusi, Monsignor Cesare Sacchi. Amukan-amukannya yang Homerik tapi singkat kini sudah menjadi masa lalu, dan dia telah belajar mengusir suasana hatinya yang gelap dengan kesabaran yang tak terkalahkan.

Ringkasnya: sebuah disiplin keras. Tetapi dalam banyak kasus ini tidaklah pernah cukup, mempertimbangkan bagaimana kelangkaan waktu yang tak bisa dihindari menimbulkan jadwal yang tak teratur dan kekuatan imaginasinya mungkin menguasainya pada saat-saat tertentu. Bersamanya, Anda tahu di mana Anda akan memulai, tetapi Anda tak pernah tahu di mana Anda akan menyudahi. Adalah biasa dalam setiap malam tertentu menemukan diri Anda sendiri terbang dalam sebuah pesawat terbang ke beberapa tujuan yang rahasia, untuk menjadi seorang manusia terbaik dalam sebuah pernikahan, memancing lobster di laut lepas atau mencicipi keju-keju Perancis pertama yang dibuat di Camaguey.

Lama berselang dia berkata: “Belajar untuk beristirahat itu sama pentingnya dengan belajar untuk bekerja.” Tetapi metode-metode istirahatnya nampak terlalu orisinal, dan rupanya tidak mencakup bercakap-cakap. Sekali waktu dia meninggalkan satu sesi kerja intens hampir tengah malam, tampak nyata bahwa dia lelah, dan dia kembali pada jam-jam menjelang fajar dengan kondisi sepenuhnya pulih setelah berenang selama dua jam. Pesta-pesta pribadi berlangsung berlawanan dengan karakternya, karena dia adalah seorang Kuba yang langka yang tak bisa menyanyi ataupun menari, dan sangat sedikit dia mengikuti perubahan di sekitar pada saat dia tiba. Mungkin dia tak menyadari itu. Mungkin dia tidak peduli kekuatan yang dihadirkan oleh keberadaannya, suatu kehadiran yang dengan seketika nampak memenuhi seluruh ruang, meskipun dia tidaklah tinggi ataupun gemuk ketika dia nampak pada pandangan pertama. Saya telah melihat orang yang paling percaya dirinya sendiri kehilangan sikap tenangnya pada tamu-tamunya, dengan mengusahakan supaya nampak tenang atau mengambil hawa kepercaya dirian yang dilebih-lebihkan, tanpa pernah membayangkan bahwa dia sama terintimidasinya dengan mereka, dan harus membuat usaha awal supaya hal itu tak kentara. Saya selalu percaya bahwa jamak yang sering dia gunakan ketika berbicara tentang tindakan-tindakannya sendiri tidaklah demikian megah seperti nampaknya, tetapi lebih merupakan sebuah poetic license untuk menutupi rasa malunya.

Dengan tak bisa dielakkan tarian pun terganggu, musik berhenti, makan malam ditangguhkan, dan kerumunan hadir di sekitarnya untuk bergabung dalam percakapan yang seketika bermula. Dia bisa terus seperti itu dalam waktu yang lama, berdiri, tanpa meminum ataupun memakan apapun. Terkadang, sebelum tidur, dia akan mengetuk pintu seorang kawan dekatnya pada malam yang sangat larut, di mana dia mungkin menampakkan diri tanpa permakluman, dan mengatakan bahwa dia mampir hanya lima menit. Dia akan mengatakan itu dengan semacam kesungguhan bahwa dia bahkan tak akan duduk. Sedikit demi sedikit, dia akan dirangsang oleh percakapan baru, dan setelah beberapa saat dia menghempaskan diri di kursi yang enak dan merentangkan kakinya, berkata: “Aku merasa seperti manusia baru.” Seperti itulah: letih berbicara, dia beristirahat dengan berbicara.

Sekali waktu dia berkata: “Dalam reinkarnasiku terkemudian, aku ingin menjadi penulis.”

Kenyataannya, dia menulis dengan baik dan menikmatinya, bahkan dalam mobil yang bergerak, pada buku catatan yang selalu dia sertakan untuk menuliskan apapun yang terbersit dalam pikirannya, atau terkadang surat-surat pribadi. Buku-buku catatannya tersusun dari kertas biasa, dijilid oleh plastik berwarna biru, yang setelah bertahun-tahun telah dikumpulkan dalam berkas-berkas pribadinya. Tulisan tangannya kecil dan ruwet, meskipun dalam sepintas lalu nampak sesederhana tulisan tangan anak sekolah. Dia berurusan dengan tulisan seperti seorang profesional. Dia mengoreksi satu frasa berkali-kali, mencoretnya, mencobanya lagi pada tepi halaman, dan adalah biasa baginya untuk mencari sepatah kata yang tepat selama berhari-hari, memeriksa kamus, bertanya ke sekitar, sampai dia menemukan apa yang dia inginkan.

 

*Diterjemahkan dari pengantar buku Fidel: My Early Years. Versi terjemahan buku ini diterbitkan oleh penerbit Mata Angin.


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara