PK Ojong (1920-1980) adalah seorang pembaca yang cermat dan disiplin. Karisnya di dunia kepenulisan bermula sebagai redaktur pelaksana Star Weekly, kemudian ikut membidani lahirnya Kompas.

PADA 1930, tidak banyak orang kaya yang bermukim di Payakumbuh, Sumatera Barat. Pada tahun itu hanya ada sepuluh orang yang memiliki kendaraan pribadi berupa mobil. Auw Jong Pauw adalah salah satunya.

Auw Jong Pauw adalah seorang perantau asal Pulau Quemoy (kini Taiwan) yang berprofesi sebagai pedagang tembakau. Sebelum merantau ke Sumatera Barat, Auw Jong Pauw adalah seorang petani. Hidup berkecukupan di Payakumbuh tidak lantas membuat Auw Jong Pauw memanjakan anak-anaknya. Mereka diajarkan hidup hemat, tekun, dan disiplin. Hal ini kemudian membuat salah satu anaknya?Auw Jong Peng Koen?berhasil merintis sebuah perusahaan media di kemudian hari. Auw Jong Peng Koen kemudian dikenal dengan nama Petrus Kanisius Ojong (PK Ojong).

Ojong dilahirkan di Bukittinggi, pada 25 Mei 1920. Pendidikan awal yang ia jalani di Payakumbuh adalah Hollandsch Chineesche School (HCS), sekolah dasar khusus warga Tionghoa. Pada masa inilah Ojong berkenalan dengan beragam bacaan seperti koran dan majalah yang membuatnya ketagihan. Selain itu, di HCS inilah Ojong pertama kalinya berkenalan dengan ajaran Katolik. Beberapa waktu kemudian dia memutuskan untuk memeluk Katolik.

Pada 1933 Ojong kehilangan ayahnya yang meninggal karena sakit. Hal ini berdampak pada kondisi keuangan keluarganya. Padahal, Ojong harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Keadaan ini menggiring Ojong untuk melanjutkan sudi ke sekolah yang biayanya terjangkau. Pilihan Ojong lalu jatuh pada Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK) Meester Cornelis (sekarang Jatinegara).

Di HCK Meester Cornelis inilah Ojong mulai aktif menulis banyak hal. Setelah lulus dari HCK pada 1940, Ojong memulai karirnya sebagai guru dan ia mengajar di kelas I Hollandsch Chineesche Broederschool St. Johannes di kawasan Jakarta Kota (kini SD Budi Mulia)

Pekerjaan Ojong tersebut harus terhenti kala Jepang menduduki Indonesia dan menutup sekolah-sekolah pemerintah Hindia Belanda, termasuk HCB St. Johannes. Pada saat itu Ojong lalu memilih untuk menekuni bidang kepenulisan yang sudah lama diminatinya. Waktu pun bergulir, Ojong semakin lihai dalam bidang ini hingga kemudian dipilih menjadi redaktur pelaksana Star Weekly. Di tengah kesibukannya ini, Ojong menyambi studi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Ojong adalah pecinta buku yang tak tanggung-tanggung mengoleksi buku dari berbagai disiplin ilmu. Mulai dari hukum, kesenian, sejarah, kesusasteraan, kebudayaan, sains, sosiologi, jurnalistik, filsafat, kriminal hingga buku masakan. Dalam perjalanan menuju dan kembalinya dari kantor, Ojong selalu membaca.

Untuk setiap buku yang dibelinya, Ojong selalu mencatat rincian judul, harga dan tanggal pembelian buku-buku tersebut di buku hariannya.  

Pekerjaannya sebagai pemimpin majalah ternama, membuat Ojong kerap bersentuhan dengan aktivitas politik. Pada 1953 misalnya, Ojong terlibat aktif dalam mendukung golongan Tionghoa peranakan yang terancam kehilangan kewarganegaraannya. Pemerintah pada masa itu membuat sebuah rancangan undang-undang yang menganggap peranakan Tionghoa di Indonesia memiliki kewarganegaraan rangkap. Jika hendak menjadi WNI, mereka harus aktif menolak kewarganegaraan RRC. RUU ini dipandang tidak menguntungkan buat peranakan Tionghoa yang tinggal di pelosok dan tidak terpelajar.

Dalam sebuah pertemuan di Gedung Sin Ming Hui, berkumpul sejumlah tokoh peranakan Tionghoa, di antaranya Siauw Giok Tjhan, Tan Po Goan, Tjoeng Tin Jan, Tjoa Sie Hwie (keempatnya angota parlemen), Yap Thiam Hien, Oei Tjoe Tat. Mereka membentuk panitia yang bertugas meneliti masalah kewarganegaraan Indonesia bagi keturunan Tionghoa dengan Siauw Giok Tjhan, sebagai ketua. Panitia ini juga melahirkan Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Bersama sembilan tokoh peranakan Tionghoa lainnya (di antaranya Injo Beng Goat dan Onghokham) Ojong menandatangani pernyataan berisi dukungan terhadap proses asimilasi, tetapi mengimbau agar prosesnya berjalan tanpa paksaan.

Pada saat bersamaan, Star Weekly makin menasional. Kalau tadinya edisi khusus hanya untuk menyambut Tahun Baru Imlek, maka kemudian ada edisi Idulfitri, Hari Kemerdekaan, bahkan Hari Kebangkitan Nasional. Sampai tahun 1958, tirasnya sudah 52.000. Itu berkebalikan dengan nasib Keng Po. Pada 1 Agustus 1957, surat kabar itu diberangus pemerintah tanpa alasan jelas. PT Keng Po mengubah nama menjadi PT Kinta (kependekan dari kertas dan tinta).

Itulah sebabnya, Ojong jadi makin hati-hati. Rubrik "Gambang Kromong" yang berisi sentilan dihilangkan. Sedangkan "Timbangan" berganti nama menjadi "Intisari". Rupanya Star Weekly tak luput dari peringatan. Rubrik "Tinjauan Luar Negeri" misalnya, kerap dianggap menyentil kebijakan luar negeri Indonesia. Puncaknya, Ojong dipanggil pihak yang berwenang. Satu kalimat yang ia ucapkan sekembali dari sana ialah, "Wij zijn dood, "Kita semua mati". Seisi kantor terdiam. Pemerintah tak pernah menyebut dengan jelas alasan penutupan majalah bertiras 60.000?hingga nomor terakhir, 7 Oktober 1961?itu.

Meski dibredel, Ojong dan para karyawan tetap masuk seperti biasa. Khoe Woen Sioe, direktur Keng Po dan pimpinan Star Weekly berusaha menyalurkan mereka ke unit usaha lain. Khoe sadar, kepandaian sebagian besar anak buahnya cuma tulis-menulis dan cetak-mencetak. Maka, didirikanlah PT Saka Widya yang menerbitkan buku-buku. Sejak itu, Ojong punya jabatan baru: direktur perusahaan penerbitan buku.

Saat itu, pergaulan Ojong sudah sangat luas. Dia berteman baik dengan Goenawan Mohamad, Arief Budiman, Soe Hok Gie, dan Machfudi Mangkudilaga. Intisari terbit 17 Agustus 1963. Seperti Star Weekly, wujudnya hitam-putih tanpa kulit muka. Ukurannya 14 X 17,5 cm, dengan tebal 128 halaman. Logo "Intisari"-nya sama dengan logo rubrik senama yang diasuh Ojong di Star Weekly. Edisi perdana yang dicetak 10.000 eksemplar ternyata laris manis.

Kira-kira dua tahun umur Intisari, Ojong dan Jakob menerbitkan Harian Kompas. Saat itu, hubungan antara Intisari dan Kompas mirip-mirip Star Weekly dan Keng Po. Saling membantu, berkantor sama, bahkan wartawannya pun merangkap. Setelah beberapa pengurus Yayasan Bentara Rakyat bertemu Bung Karno, beliau mengusulkan nama "Kompas".

Usulan Bung Karno itu disetujui oleh pengurus yayasan yang terdiri dari I.J. Kasimo (Ketua), Frans Seda (Wakil Ketua), F.C. Palaunsuka (Penulis I), Jakob Oetama (Penulis II), dan Ojong Peng Koen (bendahara). Mereka juga menyepakati sifat harian yang independen, menggali sumber berita sendiri, serta mengimbangi secara aktif pengaruh komunis, dengan tetap berpegang pada kebenaran, kecermatan sesuai profesi, dan moral pemberitaan.

Sesuai sifat Ojong yang selalu merencanakan segala sesuatunya dengan cermat, kelahiran Kompas disiapkan sematang mungkin. Modal awal mereka cuma Rp 100.000,- yang sebagiannya merupakan uang Intisari. Maka, 28 Juni 1965 terbit Kompas nomor percobaan yang pertama. Setelah tiga hari berturut-turut berlabel percobaan, barulah Kompas yang sesungguhnya beredar.

Ojong lalu mengisi hidupnya dengan kerja yang disiplin dan cermat. Dua hal yang di kemudian hari ia sadari tidak serta-merta bisa dipaksakan pada orang lain. Pada 31 Mei 1980, Ojong tutup usia, dengan sebuah buku di sampingnya. Benda kesayangan yang tidak pernah berjarak dengannya sepanjang usia.


Kredit Gambar : kompasiana
Margareth Ratih Fernandez
Redaktur pelaksana di EA Books. Bermukim di Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara