18 Apr 2018 Cep Subhan KM Sosok

Catatan tentang leksikografer terkadang masih sukar ditemukan. Salah satunya misalnya catatan tentang sosok leksikografer Peter Salim.

KETIKA seseorang mencari kamus bahasa Indonesia yang lengkap maka mereka akan cenderung mengingat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang disusun oleh tim Pusat Bahasa (sejak tahun 2010 berganti nama menjadi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa atau dalam versi singkatnya Badan Bahasa). Hal itu tentu bukannya tanpa alasan, karena selain kamus ini disusun oleh lembaga bahasa bertaraf nasional yang bernaung di bawah Kementrian Pendidikan Nasional, maka kamus ini pun memang memiliki ketebalan yang lumayan.

Meskipun demikian, sebenarnya ada beberapa kamus lain yang sampai saat tulisan ini ditulis masih beredar di pasaran, meski tentunya tak semudah KBBI yang edisi kelimanya menjelang terbit. Penyebabnya, bisa jadi, adalah karena kamus-kamus tersebut merupakan kamus terbitan lama sehingga kadang hanya ada di pasar buku bekas, ataupun karena kamus-kamus tersebut tingkat popularitasnya memang kalah oleh KBBI.

Yang pertama adalah Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) susunan W.J.S Poerwadarminta. Terbit pertama kali tahun 1953, kamus yang sejak edisi keduanya (tahun 1976) diolah kembali oleh Pusat Bahasa ini sampai kini masih bisa didapatkan di toko buku, yakni untuk edisi ketiganya yang memiliki ketebalan 1371 halaman. 

Yang kedua adalah Kamus Umum Bahasa Indonesia Badudu-Zain (KUBI Badudu-Zain). Kamus ini semula berjudul Kamus Moderen Bahasa Indonesia yang disusun oleh Prof. Sutan Mohammad Zain dan pertama kali terbit tahun 1954. Pada tahun 1994 edisi perluasan kamus ini yang dilakukan oleh Prof. Dr. J.S. Badudu diterbitkan. Edisi ketiganya (tahun 1996) setebal 1646 halaman memang sudah tak ada di toko buku tapi masih bisa ditemukan di pasar buku bekas.

Yang ketiga adalah Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer yang disusun oleh Drs. Peter Salim, M. A. Kamus ini pertama kali terbit tahun 1991. Edisi keduanya terbit tahun 1995 dan edisi ketiganya terbit tahun 2002. Kamus ini pun memang sudah tak bisa ditemukan di toko buku tapi di pasar buku bekas masih beredar dan biasanya harganya lumayan mahal. Tentang penyusun kamus inilah tulisan ini dimaksudkan.

*

Mencari informasi seputar sosok Peter Salim bukanlah hal yang mudah. Hal itu sebenarnya sedikit mengherankan terutama jika melihat bahwa karya-karyanya di bidang leksikografi tak bisa dianggap remeh. Penelusuran di internet hanya memberikan informasi yang sama sedikitnya dengan informasi yang dicantumkan di kamus-kamus yang disusun olehnya.

Tak hanya biodata, bahkan foto Peter Salim pun sama sukarnya untuk dicari. Satu-satunya foto yang ada hanyalah foto berukuran kecil yang ada pada jaket kover kamus-kamusnya. Sementara itu, satu-satunya buku yang memberikan informasi “lumayan” perihal biodatanya adalah buku berjudul “Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia” karangan Drs. Sam Setyautama yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada tahun 2008.

Dalam buku setebal 529 halaman yang berbentuk ensiklopedis itu nama Peter Salim bisa ditemukan di halaman 224-225. Informasi sebanyak hanya tiga paragraf itu sendiri disebutkan bersumber dari kamus-kamus karyanya. Artinya, nampaknya memang hanya sebatas itulah informasi yang bisa kita dapatkan perihal sosok leksikografer kita ini. Dengan sumber semacam itu, meskipun buku tersebut terbit pada tahun 2008, informasi yang diberikan tidaklah merupakan informasi terkini tentang Peter Salim melainkan hanya informasi sekadarnya saja.

Menurut buku itu, Drs. Peter Salim, M. A. memiliki nama asli Lim Hong Tjay. Beliau lahir di Padang, Sumatera Barat pada tahun 1942 dan merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Lim Asiang dan Tan Po Tin. Disebutkan bahwa orang tuanya merupakan pedagang alat kebutuhan sembahyang.

Peter Salim menempuh SD-nya di Sekolah Tionghoa Sin Hoa, sedangkan SMP dan SMA-nya ditempuh di sekolah Frater Don Bosco. Kesemuanya itu ditempuh di tanah kelahirannya di Padang. Barulah kemudian beliau meneruskan kuliah di FKIP Sanata Dharma Yogyakarta jurusan Bahasa Inggris.

Konon sejak kecil Peter Salim menyukai bahasa Inggris. Saat kuliah itu beliau mempraktikkan penguasaannya akan bahasa Inggris dengan ikut berperan dalam Sandiwara Bahasa Inggris yang diselenggarakan fakultasnya.

Selepas kuliah di Sanata Dharma, beliau pulang kembali ke Padang dan berjualan cengkeh dan kayu manis. Namun kemudian beliau meninggalkan dunia bisnis tersebut dan melanjutkan kuliah bahasa Inggris di University of California di Los Angeles, Amerika. Dari kampus tersebut beliau mendapatkan gelar M. A.

Sepulang dari Amerika, beliau mengajar les privat dan menyelenggarakan kursus di sekitar Roxy Mas, sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di Jakarta Barat. Buku “Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia” menyebutkan empat judul kamus yang dikarangnya, padahal sebagaimana nanti bisa dilihat sebenarnya kamus yang dikarang oleh beliau berjumlah jauh lebih banyak dari itu.

*

Kamus bahasa Indonesia karangan Peter Salim berjudul Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Yang membuat kamus ini istimewa adalah karena ketebalannya yang pada edisi ketiga (2002) mencapai 1749 halaman itu membuatnya lebih tebal bahkan dari KBBI edisi ketiga (2005) yang tebalnya 1386 halaman ataupun KBBI edisi keempat (2008) setebal 1701 halaman.

Tentu ketebalan tersebut tak lantas berarti kamus anggitan Peter Salim memuat lema yang lebih banyak daripada KBBI, terutama karena perbedaan tata letak isinya dan juga ukuran besarnya akan berpengaruh. Akan tetapi jika dibandingkan kedua sisi fisik tersebut pun maka nampak bahwa perbedaan itu tak akan menciptakan kesenggangan jumlah lema yang signifikan di antara kedua kamus tersebut.

Peter Salim tak sendirian menyusun Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Kamus tersebut disusun bersama dengan putri sulungnya, Yenny Salim, B. Sc. yang sebagaimana dijelaskan pada jaket buku bagian dalam kamus tersebut membantu dalam penyuntingan dan sistematika kamus. Selain itu, dalam pengantarnya Peter Salim juga menyebut beberapa referensi yang digunakan dalam penyusunan kamus tersebut yakni KUBI, KBBI, Kamus Dewan (“KBBI”-nya Malaysia), Webster’s New World Dictionary, The Random House Dictionary of the English Language, dan juga beberapa “kamus istilah bidang studi”.

Yang juga membedakannya dengan KBBI dan kamus-kamus bahasa Indonesia yang sudah disebutkan sebelumnya, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer tak hanya memberikan makna lema melainkan juga gambar ilustrasi sebagaimana lazim ditemukan dalam, misalnya, Kamus Webster.

Selain membuat tampilan menjadi lebih menarik, gambar ilustrasi yang disajikan terkadang dalam tampilan hitam putih dan terkadang berwarna itu juga membantu pembaca untuk memahami makna lema. Terkadang kata tertentu tak cukup jelas tanpa bantuan gambar ilustrasi.

Lihat misalnya lema amfora yang bermakna kendi dari tanah liat yang biasa digunakan untuk tempat minyak atau gandum oleh bangsa Romawi dan Yunani Kuno. Mengimajinasikan seperti apa wujud benda tersebut tentu akan sukar, dan dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer susunan Peter Salim pembaca akan melihat gambar ilustrasinya.

Selain Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Peter Salim juga mengarang beberapa kamus lain yang tak kalah tebalnya, misalnya The Contemporary English-Indonesian Dictionary. Kamus ini terbit pertama kali bulan Juli 1985 dan pada Maret 2008 telah mengalami cetakan ke-16. Dengan ketebalan 2662 halaman untuk edisi 2008, kamus ini merupakan kamus Inggris-Indonesia paling tebal yang pernah terbit. Kamus ini disusun dengan gaya yang sama dengan Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer termasuk dalam hal adanya gambar ilustrasi.

Kamus yang lain yang juga disusun oleh Peter Salim adalah Standard Indonesian-English Dictionary, The Contemporary Indonesian-English Dictionary, Advanced English-Indonesian Dictionary (menurut buku “Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia” kamus ini dan Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer disusun dengan petunjuk dosennya, Prof. Dr. Jacub Isman dan Dr. Agustiah Syahwar, M. A.), The Contemporary Medical Dictionary English-Indonesia, Contemporary Dictionary of Idioms English-Indonesian, Salim’s Ninth Collegiate English-Indonesia Dictionary, dan dua serangkai kamus terbitan Gramedia: Modern English-Indonesian Dictionary dan Modern Indonesian-English Dictionary.  Dua yang terakhir ini terbit pada pertengahan 2010 namun masih bisa didapatkan di toko buku sampai sekarang.

Dengan karyanya yang banyak di bidang leksikografi, fakta bahwa catatan tentang sosok Drs. Peter Salim, M. A. yang sangat minim merupakan sesuatu yang mengherankan. Mencatat jasa-jasa tokoh-tokoh di bidang bahasa seperti beliau tentu merupakan hal yang jauh lebih penting daripada meributkan apa makna “fiksi” dan “fiktif”. Untuk itulah tulisan singkat ini ditulis sebagai semacam catatan awal demi kesemogaan suatu hari nanti pelbagai data yang lebih lengkap mungkin ditambahkan. 


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara