Tahun ini sebuah buku baru karangan Martin Aleida terbit, judulnya "Tanah Air yang Hilang", tebalnya 323 halaman. Buku ini menelusuri jejak para eksil, merekam kisah mereka berdasar wawancara: sebuah buku yang berpotensi menjadi "klasik".

“SAYA sudah periksa tiket Bapak tadi,” kata kondektur dalam gerbong kereta api jurusan Baden-Baden ke Zürich. Aku melongo, baru kali ini bertemu kondektur orang Swiss berbicara bahasa Indonesia. Buru-buru aku menanyakan, “Oh, bisa bahasa Indonesia, pernah tinggal di Indonesia?” Ia mengaku pernah bekerja di Bali. “Kenapa Bapak tahu saya orang Indonesia?” Ia menoleh ke arah saya, “Saya lihat Bapak membaca buku bahasa Indonesia.” Aku tak sadar sedang memegang buku Tanah Air Yang Hilang karya Martin Aleida. Sebelum buku itu aku tutup, aku beri garis bawah panjang pada kalimat yang terakhir kubaca, tertulis: Ke Bali lewat darat, naik bus. (hal: 122). Kebetulan juga yang sedang kubaca pada kisah I Ketut Putera yang terdampar di Sofia.

Mendengar kondektur itu pernah bekerja sebagai Tour Leader di kantor Trio Bali di Denpasar untuk mengurus turis Swiss dari travel Vögele-Reisen, aku pun kaget, karena aku adalah guide di kantor yang sama. Akhirnya ia duduk di depanku sambil saling geleng-geleng mengingat masa silam, ternyata kita pernah kerja bersama di Bali. Kami saling bercerita dan aku memberitahu beberapa teman yang sudah meninggal. Tampak penumpang lelaki Swiss di seberang heran, dengan bahasa yang kondektur pakai? Setelah tahu itu bahasa Indonesia dan kondektur bernama Markus itu menjelaskan bahwa kami teman kerja lama. Penumpang di seberang itu jawab, “Die Welt ist klein“ (Dunia itu kecil).

Berkat buku di tangan saya itu, saya jadi bertemu kawan lama yang sudah 21 tahun tak pernah bertemu. Buku tentang kisah lama dan saat mulai membaca juga berhasil mempertemukan teman lama.

Sebagai pembaca yang berdomisili di Swiss dan penyuka travelling yang banyak mengunjungi negeri komunis, maka buku ini saya baca dengan semangat membukit. Dari semua kota dan negara yang ditempati para eksil Indonesia itu, kebanyakan sudah pernah saya injakkan kaki, kecuali Nan Cang di China. Kota yang pernah saya datangi, seperti Moskow, Tirana, Havana, Hanoi, Sofia, Praha, Berlin, Amsterdam dan Paris.

Dari sejumlah eksil yang diwawancarai dalam buku ini, ada satu eksil yang pernah saya temui, bernama Sunarto, bekerja sebagai sopir taksi di Berlin. Satu lagi ketika saya melacak jejak Kafka di Praha bertemu Maman Abdurahman, pemilik Indoneska Restaurance Sate, yang terletak sekitar 500 meter di depan istana presiden. Tapi kabarnya Maman kini sudah meninggal. Ia berasal dari Bandung dan dikirim Bung Karno tahun 1961 untuk belajar ekonomi di Praha. Maman yang sudah menyandang doktor ilmu ekonomi itu bercerita kepada saya, seminggu sebelum Gus Dur menjadi presiden, ia pernah datang ke restorannya. Disusul Gunawan Mohamad pernah mampir ke restoran itu juga.

Membaca buku ini pertama kali saya teringat karya Utuy Tatang Sontani berjudul Di Bawah Langit Tak Berbintang. Jika Utuy menggambarkan delegasi PKI yang diundang Kamerad Mao dengan cerita yang samar, sebaliknya buku ini berupa deret testimoni yang gamblang dari para pelaku.

Lewat buku ini pula pembaca akan mendapat gambaran lebih detil tentang peta orang klayaban yang beritanya sering simpang siur dan tertutup. Jika tragedi `65 itu bisa kita baca di buku atau saksikan sendiri atau mendengarkan dari cerita tetangga dan keluarga di dalam negeri, maka cerita orang klayaban di luar negeri ini perlu kejelian penulis mendatangi mereka satu per satu dari kota atau negara lain.

Berawal dari pemikiran Eduard Bernstein yang berani merevisi pemikiran marxisme menjadi revisionis.  Lahirlah dua artikel terkenalnya berjudul Problem-Problem Sosialisme (Probleme des Sozialismus) tahun 1896 dan Kebutuhan Sosialisme dan Tugas Sosial Demokrat (Die Voraussetzungen des Sozialismus und die Aufgaben der Sozialdemokratie) tahun 1899. Akibatnya August Bebel, Wilhelm Liebknecht dan ahli teori marxis Karl Kautsky mempertimbangkan untuk mengeluarkan Bernstein dari partai. Bahkan Rosa Luxemburg terang-terangan menganggap bahwa Bernstein antisosialisme dan menjauh dari partai.

Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD) yang sekarang ini, merupakan partai tertua di dunia yang mewarisi ajaran marxisme. Berkembangnya partai sosial demokrat di negara-negara Eropa sekarang ini tak lepas dari perseteruan tajam antara sosialisme dan sosial demokrat dari para pendahulunya. Memang partai komunis atau sosial masih ada di negara-negara Eropa, namun perolehan kursi di parlemen sangat kecil. Tak seperti di Indonesia, jangankan partai komunis boleh berdiri, orang berpikir kiri dan berbau keluarga komunis saja dijauhi masyarakat.

Peking dan Moskow menjadi dua poros yang saling tarik-menarik. Berawal dari D.N Aidit mengirim delegasi PKI atas undangan Mao Tze-Tung untuk merayakan ulang tahun negeri Tiongkok yang jatuh pada 1 Oktober 1965. Perpecahan delegasi PKI di Tiongkok pimpinan Yusuf Ajitorop membuat peta orang klayaban tersebar. Mereka mencari tempat aman dengan meminta suaka politik ke negara-negara Eropa atau kembali ke tanah air secara diam-diam. Kedua persebaran ini dengan satu tujuan, untuk keselamatan hidup selanjutnya.

Buku ini memuat kisah orang klayaban yang mbalelo dari kubu politik Ajitorop. Adapun para pengikut Ajitorop yang berhasil pulang ke Indonesia maupun terdampar ke negara lain masih belum terungkap secara gamblang. Barangkali ke depan akan ada buku tandingan tentang kelompok setia Ajitorop.

Solidaritas Seidologi

Yang menarik pada buku ini adalah bahwa ia juga merekam jejak para mahasiswa tahun 1963 kiriman Bung Karno yang sudah berstatus stateless, karena mereka menolak mengakui pemerintahan baru di bawah Soeharto. Saya jadi teringat program pendidikan ke luar negeri oleh Paman Ho di Vietnam. Ia mengirimkan ratusan pemuda Vietnam, terutama anak-anak gerilya untuk belajar di DDR (Jerman Timur). Bahkan Paman Ho tidak hanya mengirimkan anak mudanya, sejak siswa SMP sudah diberangkatkan ke DDR dalam jumlah ratusan.

Saat saya berkunjung ke kota Hue, Vietnam saya membaca koran Sunday, Viet Nam News, tertanggal 30 Oktober 2002. Di halaman muka tertulis A Deutsch Home Coming disertai wajah-wajah menangis antara perempuan Jerman dan Vietnam. Pada berita itu disebutkan pada tahun 1955, presiden Ho Chi Minh mengirimkan 150 anak-anak Vietnam antara usia 9 – 15 tahun ke DDR. Mereka anak-anak dari keluarga pejuang revolusioner. Mereka belajar di Maxim Gorki School di Dresden. Pemerintah DDR ingin membantu Ho Chi Minh atas kemerdekaan yang baru diraih atas penjajahan Prancis.

Yang mengharukan dari koran itu, sudah 50 tahun silam (1955-2005) para alumnus lulusan sekolah di Moritzburg, Jerman Timur itu melakukan reuni. Uniknya alumnus berjumlah 350 orang itu berangkat memakai transportasi seperti 50 tahun silam, yakni naik kereta api melewati 6 negara; China, Mongolia, Rusia, Belarus, Polandia dan Jerman selama sebulan. Dari 350 alumnus Jerman Timur itu, 30 orang menyandang titel doktor dan bekerja pada pemerintahan Vietnam sekarang.

Masih pada koran tersebut ditegaskan, menurut Christian Ludwig Weber-Lortsch, dubes Jerman untuk Vietnam, ada sekitar 100.000 orang Vietnam bermukim di Jerman. Dua ribu di antaranya adalah mahasiswa.

Sepertinya di antara negara komunis ada semacam solidaritas saling memajukan bidang pendidikan. Bung Karno dan Paman Ho sama-sama mengirimkan generasi mudanya ke negara-negara sosialis di Eropa. Sekarang ini ketika kapitalisme berkuasa, pemuda dari negeri-negeri dunia ketiga, jika hendak ke negara Eropa seperti pengemis.

Namun jika dibandingkan antara kiriman pemuda ke Eropa Timur dari Paman Ho dan Bung Karno, yang dari Indonesia masih kalah banyak. Menurut keterangan M Djumaini Kartaprawira, ada sekitar 500 mahasiswa Indonesia yang kuliah di Lomonosov dan Lumumba, Rusia.

Pada buku ini juga disebut ada sekitar 500 orang klayaban di Eropa baik dari delegasi PKI dari Tiongkok maupun mahasiswa yang langsung dikirim ke Eropa oleh Bung Karno.

Sampai saat ini dari 500 orang itu, 130 orang dinyatakan telah meninggal dan 30 orang hilang dari catatan. Dua ratus orang paspornya dicabut di Peking, 500.000 orang dibunuh, 12.000 orang dibuang ke pulau buru selama 10 tahun, serta 300.000 orang dipenjarakan.

Tak Ingin Mati di Negeri Sendiri

Membaca buku ini saya seperti membaca sebuah novel yang tragis namun berakhir bahagia. Dua perempuan muda, yakni Ersa, putri dari seorang eksil bernama Erman SA dan Nita, putri Sobron Aidit mengungkapkan, mereka sama-sama merasa jauh dengan Indonesia. Apalagi Nita yang lahir di Peking tahun 1964 dan Ersa yang saat tiba di Peking masih bocah yang belum sekolah. Nyaris generasi pertama dari eksil kita semakin lamat-lamat memahami Indonesia. Apalagi dengan gambaran Indonesia sebagai negeri yang pemerintahnya antiideologi komunis dan masyarakatnya menolak keluarga komunis.

Bisa dimaklumi, jika kedua perempuan anak orang eksil itu diajukan pertanyaan yang mirip oleh Martin Aleida; Tanah Airnya mana? Ersa menjawab, “Tanah air saya Prancis, dimana kebebasan berpikir dan hak-hak asasi manusia dihormati. Namun, saya juga merasa punya tanah air yang bernama Indonesia, walau saya tidak bisa menyesuaikan diri dengannya karena saya tidak dibesarkan di sana.”    

Nita ditanya, “Kepingin pulang nggak?” Dijawab, “Pulang itu apa? Pulang itu pulang ke kampung itu pulang. Kalau saya ke Indonesia, buat saya itu bukan pulang, tapi jalan-jalan. Beberapa kali saya ke Indonesia.”

Jika putri-putri orang eksil punya alasan tidak ingin kembali ke tanah air Indonesia, karena tidak dibesarkan di Indonesia, alasan para eksil tua yang sudah berusia sekitar 70-80 tahun bahkan ada yang 90 tahun, karena faktor usia, penyakit yang diderita dan jaminan masa tua.

Kadir Soelardjo, seorang eksil di Amsterdam menuturkan, “Saya enggak kepingin mati di Yogya. Saya mati di sini. Kalau saya mati di sini kan saya tak menyusahkan orang. Di sini sudah ada asuransi, jadi masalah pokok sudah dijamin. Mayat saya pasti tidak akan dilemparkan ke jalan. Asuransinya tidak dalam bentuk uang yang diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan, tetapi dalam bentuk sepetak tanah. Ada yang menggali, peti mati dan angkutan jenasah disediakan. Kemudian kalau yang ditinggalkan ingin ada acara minum-minum kopi sudah disediakan juga di gedung pemakaman. Premi asuransi saya bayar hanya sampai usia 75. Istri saya yang masih tetap membayar untuk asuransinya sendiri.”

Luar biasa deskripsi rencana kematian di atas. Betapa ritual kematian sebagai orang Jawa yang penuh keguyuban sudah terkubur bersama waktu lamanya di negeri asing yang rasional ditambah kekhawatiran tak diterima masyarakat Indonesia.

Pascareformasi banyak forum politik dan sastra di internet lewat mailing list. Saya mengenal beberapa eksil, seperti JJ Kusni, Sobron Aidit, Umar Said, Kohar Ibrahim, dan Mawi Ananta Joni. Namun dari mereka yang berhasil saya temui hanyalah JJ Kusni yang pada buku ini dipanggil Emil.

Pada hari Sabtu, akhir September 2004 saya dan istri sempat berkunjung ke restoran Indonesia di Paris. Saya bertemu pegawai bernama Yoso asal Surabaya dan minta bertemu JJ Kusni. Usai makan, JJ Kusni keluar memakai kopiah. Kami sudah saling mengenal lewat komunikasi di internet. Kami berbicara sebentar, karena ia juga akan melanjutkan memasak ke dapur. Saya menitipkan salam untuk Sobron Aidit, karena sedianya Sobron bersedia menerima kami berdua menginap di rumahnya, namun posisi ia sedang di Belanda.

Pada kesempatan yang berbeda saya dan istri mampir lagi ke restoran yang sempat dilarang Soeharto, jika diplomatnya berkunjung ke Paris. Saya amati lebih detil lagi di depan restoran tertulis Specialités Indonesiennes. Di dalam ruangan tak ada asesoris berlambang palu arit, apalagi poster Karl Marx, Mao atau Che. Justru dekorasi kebudayaan Indonesia, seperti batik bermotif wayang, topeng Bali dan Jawa, serta peta Indonesia terbentang memanjang.

Kisah mengunjungi restoran Indonesia itu saya tulis dalam buku saya Menyusuri Lorong-Lorong Dunia jilid 1 yang terbit tahun 2005. Sobron Aidit saya beritahu, ia suka. Dan secara tak sengaja suatu saat saya dan istri di Paris bertemu seorang perempuan muda asal Bandung yang domisili di Belanda. Pada saat mengunjungi sebuah katedral itu ia mengaku sebagai anak angkat Kaslan Budiman. Lewat gadis itu, saya bisa berkomunikasi dengan Kaslan Budiman di Belanda. Dan ketika ia saya beri buku catatan perjalanan saya itu, ia memberitahu, kalau Nyoto dulu juga  pernah menasihati untuk menulis literatur literer.

Dengan Mawi Ananta Joni dan Kohar Ibrahim, saya dan mereka hanya saling memberi komentar tentang puisi di internet. Saya baru tahu, kalau Umar Said sudah meninggal dari buku ini. Kontak saya terakhir dengannya, ketika ia akan ke kantor PBB di Jenewa ia tanya, sekiranya saya bisa meminjamkan buku Di Bawah Bendera Revolusi karya Bung Karno. Tetapi rencana itu batal.

Sobron Aidit di mailing list sering mengirimkan puisinya. Kadang kami saling memberi komentar. Satu cerpen saya berjudul Eskalator, pernah mendapat komentar darinya; plastis.

Sobron tak hanya menuliskan puisi, namun juga menulis kisah sehari-hari secara bertahap yang diberi tajuk Serba-Serbi. Pada salah satu kisah Serba-Serbinya ia tulis, bertemu pramugari MAS (Malaysia Airlines) bernama Maria. Ia ceritakan bahwa pramugari MAS itu sebetulnya takut naik pesawat, tetapi demi orang tuanya, bahwa dia sudah bekerja, maka ia jalani. Kata Sobron rata-rata pramugari MAS lebih ramah ketimbang pramugari Garuda. Dan saya saat mudik naik MAS, saya teringat cerita Sobron itu, saya mencoba berbincang dengan pramugari MAS, dan benar memang mereka lebih alami keramahtamahannya. Jika saya bandingkan dengan pramugari Garuda, mungkin pramugari anggap, ini gembel pakai kaus oblong naik pesawat internasional.

Tentang restoran Indonesia Sobron juga tulis, bahwa usaha koperasinya itu awalnya mendapat sambutan dari Presiden Franqois Mittertand. Pencari suaka politik harus mencari usaha sendiri. Dan setelah usaha Sobron dan kawan-kawan berhasil, malah dijadikan model untuk para pencari suaka politik yang lain. Sobron tambahkan, bahwa beberapa pejabat Prancis telah mencoba masakan Indonesia di restoran itu. Tak sampai di situ, ia bercerita di buku tamu restoran itu, terdapat beberapa aktivis Latin Amerika mendatanginya. Mereka tahu dari berita yang mereka baca dari negaranya. Kalau tak salah ingat, Sobron pernah menulis bahwa orang-orang dekat dari Salvador Allende di Chile pernah mengunjungi restoran Indonesia di Paris.

Kontak terakhir dengan orang eksil itu saya ingat dengan seorang ibu dari Swedia. Lagi-lagi kami tidak bertemu muka, hanya berkontak lewat email. Ibu itu menyarankan saya, kalau mudik hati-hati dengan perempuan, karena beberapa eksil lelaki tua yang sudah beristri saat mudik kawin lagi dengan perempuan muda di Indonesia.

Bali identik dengan keindahan, baik alam maupun budaya, namun pada buku ini menyusup dua orang Bali yang menjadi orang eksil dengan petualangannya yang mencengangkan. I Ketut Putera dan Ketut Rahendra menyimpan kisah yang pilu. I Ketut Putera berambisi belajar, hingga nekat meninggalkan kampung halamannya, pergi ke Jakarta, akhirnya belajar dan sampai beranak istri di Sofia. Meskipun ia berada di tempat jauh, ia memantau perkembangan politik Indonesia terkini. Ia tak hanya pernah bertemu Jokowi saat masih sebagai wali kota di Solo, ia pun mengagumi pola kerja Jokowi.

Ketut Rahendra dikirim ke Havana dari Akademi Ilmu Politik “Ali Rachman“ di Jakarta. Nasib Rahendra, belajar di Havana belum tuntas, ia sudah ditarik Ajitorop ke Peking, lalu dioper ke Vietnam. Di Vietnam-lah Rahendra berlatih gerilya dan paling suka kalau ia bisa menangkap pilot USA yang helikopternya ditembak jatuh.

Rahendra pada akhirnya bermukim di Belanda dan seperti teman-teman eksil lainnya, mereka mengubah paspor menjadi berkewarganegaraan Belanda. Di sini terjadi dilema bertumpuk, satu sisi di zaman Belanda, kita melawan penjajah dan sisi lain harus meninggalkan status kewarganegaraan Indonesia tercinta.

Kuncinya pada mengakarnya stigma PKI yang buruk dan berhasil disosialisasikan Orde Baru. Jika kita tengok di Vietnam, para doktor-doktor jebolan DDR mereka berlenggang kangkung kembali ke negerinya sendiri dan memperkuat barisan pemerintah warisan Paman Ho. Yang membedakan, karena ideologi mereka sejak dulu sampai kini, tetap sama, komunis.

Satu hal yang sering menjadi pertanyaan orang Indonesia, kira-kira bagaimana sikap mahasiswa kita yang sedang belajar di Belanda saat itu? Francisca C. Pattipilohy menjelaskan, bersama suaminya Zain berdemonstrasi dan ada 17 mahasiswa mengembalikan beasiswa ke pemerintah Belanda.

Adapun kelemahan pada buku ini masih terdapat beberapa kata yang salah ketik. Mungkin proses menjadi buku ini agak tergesa-gesa. Deskripsi pertemuan dengan Sunarto, eksil yang sebagai sopir taksi di Berlin kurang emosional. Saya waktu bertemu Sunarto di rumah Komang di Berlin dalam sebuah diskusi dengan para aktivis, kaget mendengar ucapan Sunarto. Dari ucapan bahasa Indonesia sudah terdengar sangat kaku dan lucu. Belum tahu siapa dia, saya sudah bayangkan, orang ini hidup terlalu lama di luar negeri.

Martin Aleida, bisa dibilang adalah the right man in the right place. Ia adalah sisa sastrawan Lekra yang masih aktif menulis dengan stamina kesehatan yang terjaga. Mungkin berkat olah raganya yang rutin, yakni berenang dan jalan kaki. Yang paling mengagumkan adalah proses melacak jejak kaum eksil ini atas inisiatif sendiri. Itu lah Indonesia. Jika tragedi itu terjadi di Jerman seperti pada para korban Nazi, niscaya upaya diambil alih oleh pemerintah. Setidaknya pihak pemerintah ikut campur tangan, paling tidak sebagai sponsor atau yang menerbitkannya. Bahkan sekarang di Belanda saja sudah mulai ada upaya-upaya yang dihembuskan para intelektual untuk menghukum para tentara Belanda yang melakukan pelanggaran etik pada zaman penjajahan di Indonesia. Para korban perempuan di Asia dari tentara Jepang sudah mulai mendapatkan santunan.

Martin Aleida saya kenal dari jauh saja. Namun ketika KLM (Komunitas Lereng Medini) di kampung saya, Boja, Kendal mengadakan acara Parade Obrolan Sastra, April 2013 mengundangnya dan saya menjemputnya di stasiun kereta api Tawang, Semarang. Ia tinggi, ramping dan simpatik. Dalam perjalanan menuju kampung saya, sengaja saya lewat jalur hutan jati di Sepetek, Kaliwungu, sembari berhenti di pinggir jalan untuk menunjukkan bekas kuburan massal PKI.

Sekitar sebulan dari acara di kampung, Martin Aleida mendapat musibah. Ia ditabrak motor saat menyeberang jalan untuk sebuah acara sastra di Jakarta. Sejak itu ia harus berjalan dengan bantuan tongkat penyangga.

Pada saat ia melawat ke beberapa kota di Eropa pun, kondisi kakinya masih belum pulih. Ia berjalan pincang menjemput satu cerita ke cerita lain, belum lagi hawa dingin di musim gugur yang kurang ramah. Saya duga, 10-20 tahun berikutnya buku ini akan menjadi klasik, artinya semakin dicari orang. Pada kurun itu kemungkinan besar para eksil sudah sulit diwawancarai lagi, mengingat usia mereka sudah sangat tua. Semoga mereka tetap sehat dan panjang umur.

Pada April 2017 dalam acara Kemah Sastra III di gunung teh Medini oleh KLM, Martin Aleida hadir lagi untuk mendiagnosis cerpen-cerpen para peserta kemah. Itu pertemuan saya yang kedua dengan penulis buku Mati Baik-Baik, Kawan. Bulan depan, 4 November 2017 saya akan bertemu dengan dia yang ketiga kali. Kali ini bukan di tanah air, melainkan di kota St Gallen, Swiss. Ia hendak membicarakan buku ini, selain ke Belanda, Prancis dan beberapa kota di Jerman.


Sigit Susanto
Penulis, kini berdomisili di kota Zug, Switzerland.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara