Di tengah cuaca muram akhir tahun, Yogyakarta tetap meriah oleh acara seni dan berbagai catatan tentang puisi, tentang penyair, tentang “halaman Indonesia”.

SEPANJANG tahun 2017, telah digelar acara-acara sastra di berbagai tempat dengan berbagai tema dan pengisi acara mulai dari yang ternama hingga yang baru saja memperkenalkan namanya. Kehidupan bersastra di Yogyakarta menjadi penuh warna. Tinggal pilih, mau diskusi serius hingga harus mengernyitkan dahi atau menyaksikan pembacaan karya yang bisa disambi ngobrol ke sana-sini. Acara sastra di Yogyakarta memang istimewa.

Dan, tahun 2017 sudah berlalu. Pesta demi pesta perayaan menyambut datangnya tahun 2018 juga sudah tak lagi bergema. Namun, ada satu pesta yang rasa-rasanya sayang jika harus dilupakan, Pesta Puisi Akhir Tahun.

*

Hari Sabtu tanggal 30 Desember 2017 pukul 20.00, Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta sudah dipadati oleh para pencinta puisi yang sebagian besar adalah generasi muda. Mereka hadir untuk menyaksikan acara Bincang-bincang Sastra edisi147 bertajuk Pesta Puisi Akhir Tahun: Yogya Halaman Indonesia jilid II yang diselenggarakan oleh Studio Pertunjukan Sastra. Malam itu, Studio Pertunjukan Sastra mengundang 10 penyair Yogyakarta dari berbagai daerah di Nusantara untuk membacakan puisi-puisinya, yakni Nermi Silaban (Sumatra Utara), Wisnu Wardhana (Kalimantan Tengah), Irwan Apriansyah Segara (Banten), Imana Tahira (Jawa Barat), Agus Manaji (Yogyakarta), Jusuf AN (Jawa Tengah), Bernando J. Sujibto (Madura-Jawa Timur), Mira M.M. Astra (Bali), Ilham Rabbani (Nusa Tenggara Barat), dan Muhammad Aswar (Sulawesi Selatan). Selain itu ada pula penampilan musik puisi oleh Kopibasi dan Soko_Kamaru, teaterikal puisi oleh Ngopinyastro, dan deklamasi oleh Kadha Aditya. Dalam acara itu, Tia Setiadi didaulat untuk menyampaikan orasi budaya.

Para penyair yang akan tampil mulai berdatangan. Sejumlah penyair Yogyakarta lainnya pun tampak. Ada yang datang membawa rindu karena telah lama tidak saling bertemu. Ada yang datang membawa cerita lucu yang menerbitkan tawa. Ada yang datang membawa karya memantik semangat penyair lainnya. Mereka bersatu padu dengan orang-orang yang hadir malam itu, tanpa berjarak. Ada interaksi yang tidak setiap saat bisa terjadi.

Malam itu, meski tipis, gerimis membuat para tamu merangsek merapat berdesakan di bangku batu Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta. Suasana menjadi hangat, bahkan berkeringat. Masing-masing penonton sudah mencangking segelas kopi atau teh manis serta aneka gorengan ditambah kacang dan jagung rebus menemani mereka untuk menikmati dan menghikmati puisi.

Meski kami sudah menegakkan sapu lidi untuk menangkal turunnya hujan, namun gerimis tak juga reda. Bulan yang menyala, buram diselubungi kabut. Di bawah langit malam Minggu yang puitis, acara Pesta Puisi Akhir Tahun pun dimulai.

Kelompok musik puisi Soko_Kamaru menjadi penampil pembuka, disusul pembacaan puisi oleh Wisnu Wardhana, Imana Tahira, Ilham Rabbani, Nermi Silaban, Jusuf AN, Bernando J. Sujibto, Agus Manaji, dan Irwan Apriansyah Segara. Sayang, Mira M.M. Astra dan Muhammad Aswar berhalangan hadir malam itu. Di antara pembacaan puisi itu, Kadha Aditya dari Sanggar Sastra Indonesia secara khusyuk mendeklamasikan puisi “Yogyakarta: Kelahiran Kedua” karya Indrian Koto. Para penonton tampak tercengang menyaksikan Kadha Aditya berdeklamasi diiringi petikan gitar dari Adam Malik. Teaterikal dari Ngopinyastro pun menyihir penonton hingga tidak beranjak dari tempat duduknya.

Tiba giliran Tia Setiadi menyampaikan orasi budaya. Pria berkacamata kelahiran Subang, 7 November 1980 itu bicara tentang “Tantangan-tantangan Penyair Hari Ini” dalam orasi budayanya. Malam itu, ia memulai pembicaraannya dengan menceritakan sepenggal kisah tentang penyair Linus Suryadi Ag. Sekitar tahun 1979-1981 penulis besar Inggris, V.S. Naipaul berkunjung ke rumah ibundanya Linus bersama Umar Kayam dan Linus sendiri. Sepulang dari rumah Linus, mereka bertiga berbincang, lalu terbitlah pertanyaan dari Naipaul, “Apakah ibunda Anda diam-diam bangga bahwa Anda seorang penyair?” Linus menjawab, “Beliau bahkan sama sekali tidak paham apa itu penyair.” Kisah yang disampaikan Tia Setiadi menyitir buku Among the Believers itu pun mengundang tawa.

Tia Setiadi melanjutkan orasinya, ia menyebut bahwa tantangan penyair itu betapa kompleks di sebuah negeri yang sebagian besar penduduknya sama sekali tak tahu apa artinya menjadi penyair. Sebagaimana kasus yang terjadi pada Linus, bahkan sang ibunda pun tidak paham apa itu penyair. Setidaknya ada empat tantangan bagi penyair hari ini yang telah dirumuskan oleh Tia Setiadi.

Tantangan pertama, bahwa penyair harus bisa menemukan kedalaman di sebuah dunia yang terkepung kedangkalan. Dunia hari ini serba cepat dan sementara, sementara penyair harus menemukan makna di antaranya. Kuncinya, disiplin diri, keseimbangan hidup, konsentrasi yang tinggi juga tekat dan ketenangan yang tak tergoyahkan sangat diperlukan buat para penyair, juga riset yang tekun dan meditatif, baik di perpustakaan ataupun di tengah deru debu jalanan.

Tantangan kedua, adalah ihwal ekonomi. Kami tak perlu memperpanjang soal tantangan yang satu ini.

Tantangan ketiga, hal komunikasi-komunikasi sastra. Komunitas sastra di Yogyakarta kian merebak belakangan ini. Kehadirannya menjadi suatu kebahagiaan, para (calon) penyair bisa saling menempa diri, ada diskusi, ada dialektika yang akan membuat sebuah karya menjadi semakin matang, mendapat tempat, dan memungkinkan akan tercipta kompetisi antarkomunitas, bersinergi, bersaing dengan sehat tanpa menjatuhkan, berlomba membuat acara bermartabat tanpa saling meremehkan satu sama lain. Bukan mustahil dari komunitas-komunitas itu nantinya akan lahir para penyair dahsyat.

Tantangan keempat. Perihal keterlibatan atau sikap dan keberpihakan kita sebagai penyair. Menyitir Kafka, di sebuah dunia yang selalu dipenuhi konflik, korupsi, kekerasan, dan tragedi: dunia tersebut akan menyempit dan menyempit. Ke arah sana ada perangkap dan ke arah sini ada pemangsa.

Di akhir orasinya, ia mengutip puisi “Yogyakarta: Kelahiran Kedua” karya Indrian Koto. Lalu ia berujar, “Hidup di Yogyakarta rasa-rasanya kian hari kian mencemaskan, akan tetapi tiap-tiap kali menulis puisi entah kenapa kita selalu merasa dilahirkan kembali.

Ya, Yogyakarta menjadi tempat yang entah terbuat dari apa tanah yang terus menumbuhkan kreativitas tiada putus-putusnya ini. Mustofa W. Hasyim, selaku ketua Studio Pertunjukan Sastra dalam pengantar buku Yogya Halaman Indonesia jilid II yang diterbitkan Studio Pertunjukan Sastra dalam acara ini menyatakan,

Sejak terjadinya pemindahan pusat kekuasaan Kasultanan Demak ke Pajang, dan menetap di Kotagede menjadi Kerajaan Mataram Islam, maka dari  Kotagede yang kemudian pindah ke Yogyakarta sudah terbentuk tradisi Ibukota. Tradisi menjadi Ibukota Kerajaan Mataram Islam. Memiliki tradisi sebagai Ibukota Kasultanan Islam ini penting untuk dicatat, karena pada masa Indonesia modern, Yogyakarta kuat menerima amanah sebagai Ibukota Indonesia pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.  Sebelum itu, Yogyakarta juga sudah dikenal sebagai Ibukota Muhammadiyah, Ibukota Tamansiswa, Ibukota HMI, dan banyak lagi yang semuanya lahir di Yogyakarta dan menjadikan Yogyakarta sebagai Ibukota kultural dan spiritual. Setelah itu, Yogyakarta dikenal sebagai Ibukota budaya dan sastranya Indonesia. Ketika Umbu Landu Paranggi masuk Yogyakarta dan kemudian mendirikan 'kerajaan sastranya' di Malioboro, maka dia lantas disebut sebagai Presiden Malioboro. Sebutan-sebutan itu menegaskan bahwa Yogyakarta memang memiliki tradisi sebagai Ibukota dan layak serta kuat menjadi Ibukota macam-macam itu.

Risiko menjadi Ibukota budaya, sastra, dan pendidikan misalnya adalah mengharuskan dirinya untuk terbuka. Tersedia atmosfer, mekanisme, fasilitas, sistem sosial, dan budaya yang ramah dan nyaman untuk menerima siapa pun yang datang. Yang datang dari seluruh pelosok Indonesia itu diterima, kemudian diajak untuk srawung. Srawung budaya memnbentuk komunitas-komujnitas kreatif. Dengan demikian, teman-teman yang datang untuk bersastra bisa bebas dan terhormat untuk berkarya, nyaris tanpa gangguan. Lama-kelamaan teman-teman tadi akan merasa terolah menjadi orang Indonesia dan wong Yogyakarta. Dia menjadi orang Indonesia yang positif karena Indonesia di dalam dirinya masih menghormati budaya dan nilai-nilai luhur daerahnya dan ketika disintesakan dengan nilai Jawa dan Islam di Yogyakarta bisa langsung menjadi adonan nilai baru yaitu menjadi wong Yogyakarta. Semua diterima menjadi warga Yogyakarta, asal mau srawung secara budaya dan sosial dengan aktif dan rendah hati.

Jadi, Yogyakarta, dalam konteks ini tidak menelan daerah-daerah dan tidak menelan Indonesia, tetapi menjadikannya sebagai sesuatu yang utuh. Meski rasa dan bentuknya bisa dibedakan, tetapi tetap tidak dapat dipisahkan. Itulah uniknya Yogyakarta. Dan, ketika teman-teman dari berbagai daerah menulis dengan tema-tema daerahnya, menggunakan bahasa Indonesia dan ditulis di Yogyakarta, maka karya yang dilahirkannya akan terasa  beraroma daerah, beraroma Indonesia, dan beraroma Yogyakarta sekaligus. Coba dibaca lirik-lirik puisi yang terkumpul di buku ini, rasanya seperti menyaksikan intan berfaset tiga. Gemerlap, memantulkan spektrum warna berbeda, tetapi berasal dari sebuah intan yang sama.

Bagi banyak sastrawan, Yogyakarta kemudian terasa sebagai halaman Indonesia, atau malahan Indonesia menjadi halaman Yogyakarta. Dialektika kultural yang bolak-balik ini mengasyikkan ketika sangu atau bekal nilai-nilai daerahnya pun dilibatkan dalam dialektika bolak-balik ini. Kalau kita perluas, ternyata pengalaman para pelukis, misalnya, juga mirip dengan para sastrawan. Mereka merasa terharu karena diterima menjadi wong Yogyakarta, kemudian mereka kerasan berdiam di Yogyakarta. Demikianlah, semoga catatan singkat ini dapat menjelaskan kenapa ada dinamika kultural yang unik di Yogyakarta, trermasuk dinamika sastranya.”

Sengaja secara utuh kami tampilkan pengantar dari penyair kenamaan Yogyakarta itu sebagai latar belakang keberadaan acara perjumpaan sastra di Yogyakarta yang tak boleh berhenti, bagaimanapun bentuknya. Melalui Pesta Puisi Akhir Tahun yang menjadi agenda tahunan Studio Pertunjukan Sastra, kami mencoba menghadirkan wajah Indonesia di Yogyakarta. Puisi-puisi karya penyair dari berbagai daerah disajikan. Puisi-puisi tentang kampung halaman masing-masing penyair. Di situlah wujud tegur sapa, saling mengenal dan menghormati keberagaman dihadirkan sebagai bukti nyata bahwa Yogyakarta adalah rumah yang nyaman bagi siapa saja. Yogyakarta adalah rumah berbentuk pendapa. siapa saja boleh dan bisa masuk di dalamnya. Masih menjadi misteri, mengapa orang-orang dari berbagai penjuru bumi itu betah, nyaman, dan aman tinggal di sini dengan segala problematikanya. Bahkan, lebih dari itu, di kota ini banyak yang merasa dilahirkan kembali.

Dan, langit Yogyakarta akhirnya lepas. Acara Pesta Puisi Akhir tahun 2017 pun berakhir ditutup dengan penampilan dari Kopibasi, sebuah grup musik beraliran folk akustik yang mengingatkan bahwa belakangan di Yogyakarta telah banyak berdiri kedai-kedai kopi. Membuat orang-orang betah berjaga di malam hari. Barangkali di situlah surga bagi para penyair. Maka, karya-karya indah penuh makna pun banyak yang lahir. Menarik.


Latief S. Nugraha
Carik di Studio Pertunjukan Sastra dan Balai Bahasa DIY. Buku kumpulan puisinya "Menoreh Rumah Terpendam" (Interlude, 2016).
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara