Pameran buku bisa menjadi sarana untuk mempopulerkan budaya literasi di kalangan masyarakat.

RABU kemarin saya iseng mampir ke pameran buku di Alun-alun Purwodadi. Kebetulan tempat pameran sejalur dengan tujuan saya, Jogja. Apa salahnya melihat-lihat siapa tahu ada buku yang bikin hati luluh untuk membelinya.

“Pameran Buku Grobogan” merupakan salah satu rangkaian dari acara hari jadi Kabupaten Grobogan ke-292. Pameran tersebut berlangsung pada 13-19 Maret. Saat menapakkan kaki ke pintu masuk, tampak stan-stan buku berjejer rapi. Seperti biasa berbagai buku mulai dari anak-anak hingga buku populer dipamerkan di atas meja. Pengunjung pun bervariasi. Mereka mendekat ke stan-stan dan nampak asyik menatap buku yang mereka pegang.

Sebelum Grobogan menggelar pameran buku, sekitar sebulan sebelumnya Kabupaten Rembang telah menggelar bazar buku murah pada 23 Januari-2 Februari. Bazar yang digelar di Balai Manunggal tersebut menghadirkan banyak genre seperti sejarah, sastra, seni, hobi, pertanian, biografi, hingga politik.

Kabupaten Demak tak mau kalah. Untuk menyambut hari jadi Kabupaten Demak ke-515, yang jatuh pada 28 Maret berbagai rangkaian acara telah dipersiapkan. Salah satunya pameran buku yang akan digelar pada 18-23 April mendatang di Stadion Pancasila.

Grobogan, Rembang, dan Demak, ketiga kabupaten yang berada di pantura tersebut bukan hanya mereka yang kerap menggelar pameran buku. Ketika menyusuri jalan pantura untuk mudik acap kali saya melihat baliho mini bertuliskan pameran buku. Kabupaten Kudus, Pati, Solo, serta Jogja adalah kota yang cukup antusias dalam hal ini.

Kalau Jogja jangan diragukan lagi. Bisa dikatakan Jogja adalah salah satu pusat perbukuan di Indonesia, hal mana bukti sahihnya bisa ditemukan berupa banyaknya penerbit buku, toko buku, serta panggung literasi yang diisi oleh komunitas-komunitas.

Coba tengok Gramedia Sudirman yang rutin setiap tahun dengan agenda bazar buku murah di halaman depan gedungnya. Baru-baru ini Togamas melancarkan siasat yang sama. Tak tanggung-tanggung acara yang diberi tajuk “Ngayogbook 2018” tersebut dibanjiri massa sejak dibuka. Bagaimana tidak acara yang berlangsung singkat selama tiga hari tersebut pembeli akan mendapat potongan harga 30%.

Pada tataran kampus pun polanya hampir sama. UGM Press dan Suka Press adalah dua dari sekian banyak kampus yang rutin menggelar pameran buku. Pada 19-31 Maret UGM Press sudah melangsungkan bazar buku mereka bertempat di Showroom UGM Press. Di GOR UNY acara rutin yang digelar adalah Islamic Book Fair—yang selain menghadirkan buku-buku bernuansa agamis, juga terdapat buku-buku populer lainnya.

Pameran buku, bazar buku, atau book fair—dalam segi definisi dan penerapannya memang tidak ada perbedaan yang signifikan. Secara konsep penerapan ketiga istilah tersebut tetap mengacu pada aktivitas jual-beli buku dalam jumlah yang besar dan terkadang untuk meramikan atau menghidupkan acara bisa saja disisipkan diskusi di sana.

Adanya pameran buku yang digelar di suatu tempat tentu saja membantu calon konsumen untuk menemukan buku yang mereka cari. Bahkan buku yang sebelumnya tidak ada dalam daftar beli pun bisa saja masuk keranjang. Satu lagi, harga buku—baik buku lawas ataupun baru—biasanya jadi jauh lebih murah dari harga standar.

Lebih dari itu pameran buku seperti menjadi ruang bertemunya penerbit, penulis, maupun konsumen. Relasi tersebut sangat penting untuk menjalin silaturahmi, lebih-lebih bertukar pandangan tentang dunia literasi saat ini.

Di ranah yang cakupannya lebih luas lagi, dalam acara Indonesia International Book Fair (IIBF) 2016 misal. Buku mengambil peran penting dalam menjalin komunikasi dinamis antarnegara. 14 negara mengambil bagian dalam IIBF 2016. Beberapa negara lintas benua tersebut seperti Malaysia, Mesir, Korea Selatan, Cina, Jerman, India, dan masih banyak lagi.

Antusias masyarakat Indonesia cukup meyakinkan. Dalam lima hari IIBF 2016 digelar, menurut Ikatan  Penerbit Indonesia (IKAPI) selaku penyelenggara, lebih dari 60 ribu pengunjung menghadiri IIBF 2016, jumlah yang melebihi target semula.

Saya sendiri sedikit skeptis jika mendengar riset, penelitian, atau apapun itu yang mengatakan minat baca masyarakat kita itu rendah. Acara tahunan yang digelar IKAPI sedikit memberikan gambaran bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia tidaklah seburuk itu.

Jika pemangku kebijakan bisa melihat mana yang salah dan mana yang benar, sudah barang tentu anggapan budaya literasi kita rendah bisa dimuntahkan. Lihat saja bagaimana distribusi buku ke pelosok negeri. Buku merupakan barang langka di sana. Adanya pegiat literasi di daerah-daerah terpencil di satu sisi bisa menunjukkan bahwa pemerintah kurang berperan dalam membangun ruang literasi yang hidup. Jadi yang patut dipertanyakan adalah kontribusi pemerintah bukan justru mengandalkan pegiat-pegiat literasi tadi.

Terlepas dari permasalahan yang sudah telanjur kritis tersebut, masih ada harapan dari acara yang setidaknya kini rutin digelar: pameran buku. Pameran buku di sini bukan sekadar ditujukan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Lebih dari itu, esensi dari pameran sesungguhnya yang perlu ditekankan adalah mendekatkan masyarakat kita dengan buku.

Pengetahuan menjadi barang wajib yang harus dimiliki segala lapisan masyarakat. Firaun sekalipun tidak lepas dari buku. Ia mebangun kekuatannya bukan hanya lewat militer, tetapi aspek penting yang tak luput dari pandangannya adalah buku. Firaun memiliki koleksi 20.000 buku di perpustakaanya.

Salah satu tokoh bangsa ini yang juga terkenal memiliki kesadaran sangat tinggi tentang buku adalah Bung Hatta. Tak terhitung berapa buku yang ada di rumahnya. Ungkapan yang selalu terkenal dari Hatta dan masih relevan saat ini, “aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Jelas bahwa Bung Hatta ingin menyadarkan bangsa ini tentang peranan buku dalam kehidupan manusia.


M. S. Fitriansyah
Mahasiswa yang gagal cumlaude
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara