10 Dec 2016 Wahyudin Bicara Buku

"Sebagaimana pernah saya katakan, perancang sampul laksana perupa di dunia pustaka atau perancang pakaian dalam khazanah perbukuan."

“Books are a thing of beauty, but so are horse-drawn carriages.”
—Dick Brass, Wakil Presiden Pengembangan Teknologi, Microsoft.

DI REPUBLIK INDONESIA—rata-rata penerbit buku menggunakan istilah sampul atau cover (dipungut langsung dari bahasa Inggris) untuk menyebut lembaran terdepan dan terbelakang buku yang tergurat gambar, judul, nama penulis, logo penerbit, ikhtisar, dan endorsemen. Sedikit lainnya menggunakan istilah kulit (Balai Pustaka), jilid (Pustaka Jaya), dan kulit muka, misalnya Pustaka Firdaus, Grafiti Pers, Gunung Agung, Pusat Data dan Analisa TEMPO, dan Kreasi Wacana.   

Orang atau lembaga yang bertanggungjawab, kalau bukan berkuasa, atas lembaran itu—lazimnya disebut perancang sampul. Namanya biasa tercantum di kolofon atau lembaran terbelakang buku.  

Sebagaimana pernah saya sampaikan, perancang sampul laksana perupa di dunia pustaka atau perancang pakaian dalam khazanah perbukuan. Seperti halnya pameran seni rupa atau peragaan busana, sampul adalah presentasi estetik yang menampilkan keseluruhan buku dalam sebuah perpaduan artistik kata dan rupa. Itu sebabnya, selembar kover yang gemilang terpandang sebagai bukan hanya pembungkus buku bermutu, melainkan juga karya seni rupa berwibawa.

Sungguh bukan ciptaan gampangan apalagi sembarangan. Tak berlebihan jika Debbie Millman, penulis buku How to Think Like a Great Graphic Designer (2007), mendaulatnya sebagai buah daya cipta dari “tugas yang membutuhkan keterampilan misterius luar biasa”.

Saya percaya itu—terutama karena saya tahu banyak perancang sampul yang berkecenderungan artistik mengotak-atik gatuk kata dan rupa dalam proses kreatif mereka melahirkan selembar kover. Itu serupa permainan puzzle yang menuntut kecermatan nalar dan khayal dalam memalihkan hasrat naratif penulis menjadi hasrat visual perancang sampul.

Hasil terbaiknya adalah lembaran ajaib dengan pesona penebusan subjek yang harus dimiliki oleh pembaca bermata awas yang becus meninting gandum dari sekam. Hasil terburuknya adalah mambang perbandingan yang menghela klise “dari mata turun ke hati” dengan ketidakpekaan yang mencemari rekognisi dan imajinasi pembaca. 

Kita bisa melihat contohnya dalam sampul buku bikinan Buldanul Khuri atau Ong Hari Wahyu alias Pak Ong. Saya ingin mengedepankan mereka sebagai perancang sampul dengan pencapaian artistik yang memungkinkan pembaca mengetahui bahwa rahasia penerbitan buku bukan hanya kata dan angka, tapi juga rupa dan rasa.

Dengan itu, pembaca boleh percaya akan adanya tangan-tangan ajaib yang mampu menjaga martabat buku dari deru campur debu bisnis perbukuan. Dengan itu pula saya ingin percaya pada apa yang dikatakan epistimolog Nassim Nicholas Taleb ini: “Buku adalah satu-satunya media yang belum dirusak oleh yang duniawi: apa pun benda lainnya yang bisa dilihat, memanipulasi Anda dengan iklan.”

Saya bisa jadi naïf memercayainya. Sebab, penerbitan buku adalah juga bisnis—urusan duniawi yang memerlukan iklan untuk menjajakan dirinya, bahkan dengan kulitnya sendiri. Oleh karena itu, saya ingin menghibur diri dengan pemikiran bahwa sampul merupakan arena manasuka yang memungkinkan tujuan komersial dan tujuan artistik menjadi opisisi berpasangan dalam penerbitan buku.

Pada titik itu, sampul bakal berlaku sebagai apa yang disebut Milan Kundera, “pengkhianatan penuh daya tarik.” Itulah sampul buku yang dibuat dengan teknik penjajaran kata dan rupa, gunting-tempel visual, atau bongkar-pasang tipografi—sebagaimana tersua dalam sampul buku tanpa judul dan nama penulis ciptaan, antara lain David Konopka, Rodrigo Corral, Alister MacInnes, Kyle Kolker, Gray318, Mark Abrams, John Gray, dan Claire Skeats.

Itulah sampul buku yang mencela otak dagang penerbit—alih-alih akal bulus estetis bisnis pengetahuan—sekaligus membuai pembaca dalam perasaan terpesona dan pikiran bimbang bukan alang-kepalang untuk meminang dan menimangnya.

Sayangnya, saya tak menemukan sampul buku semacam itu di tanah air—paling tidak yang dibikin oleh perancang sampul dalam negeri sebagai suatu eksperimen artistik dalam gagasan dan bentuk “baru” penciptaan sampul buku.

Tak apa. Jangankan eksperimen artistik—pengakuan eksistensial terhadap perancang sampul toh belum seberapa di negeri ini. Buktinya, masih ada penerbit buku yang kerap kali luput menyantumkan nama perancang sampul buku mereka. Periksalah buku-buku terbitan, misalnya, Kanisius dan Elex Media Komputindo.

Bahkan, penerbit legendaris Pustaka Jaya, sang pemula sampul buku berselera seni rupa itu, tak pernah menerakan nama perancang sampulnya. Kecuali nama-nama pembuat gambar jilidnya, antara lain perupa Popo Iskandar, Nashar, Zaini, dan Wakidjan, saya tak tahu siapa-nama perancang sampul buku Pustaka Jaya selama ini. Anda tahu?

Celakanya, perkembangan estetik dan pencapaian artistik sampul buku di republik ini belum beranjak jauh dari apa yang dikerjakan penerbit itu sejak 1971.


Kredit Gambar : Lailly Prihatiningtyas
Wahyudin
Wahyudin merupakan seorang kurator seni rupa. Juga bekerja sebagai Editor in Chief di Indo Art Now.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara