15 Aug 2017 Asmara Edo Kusuma Sosok

Penyair adalah dia yang akrab dengan bahasa. Darinya lahir ungkapan-ungkapan segar yang tak terpikirkan orang awam. Salah satu contoh dari kesusasteraan Arab adalah ungkapan Al-Mutanabbi ketika dia dituduh mengaku nabi.

DALAM SEBUAH wawancara di tahun 2015 bersama Louisiana Channel (Museum of Modern Art, Denmark), Adunis, penyair asal Syiria yang beberapa kali masuk daftar kandidat peraih nobel sastra, banyak berbicara terkait agama, puisi dan kepenyairan. Pada saat sampai pada obrolan tentang sejarah sastra Arab klasik, Adunis menyebut nama Abu Thayeb al-Mutanabbi (915-965 M); seorang penyair yang hidup di periode akhir Dinasti Abasiyah,  di di mana di dalam daerah kekuasaanya telah muncul negeri-negeri kecil (Imarat).

Lalu Adunis menceritakan sosok al-Mutanabbi sebagai salah satu penyair besar yang pernah dilahirkan bangsa Arab. Ada yang menggelitik dari cerita Adunis ini, yaitu sebuah persidangan di mana al-Mutanabbi sedang diadili sebab dituduh mengaku nabi. Persidangan ini digelar di hadapan Saif al-Daulah al-Hamdani, seorang penguasa Imarah Aleppo. Meskipun diceritakan secara singkat oleh Adunis, namun dialog yang terucap dalam persidangan ini membuat saya meluangkan waktu untuk merenunginya. Pernyataan al-Mutanabbi di dalamnya sungguh unik dan mengejutkan.

“Pada sebuah sidang pengadilan di hadapan Saif al-Daulah al-Hamdani, salah satu peserta sidang bertanya kepada al-Mutanabbi: ‘Bagaimana bisa kau mengklaim dirimu sebagai nabi, sementara Nabi kita (Muhammad) telah berkata: La nabiyya ba'diy (tak ada lagi nabi setelahku).’

Mendengar pertanyaan orang itu, al-Mutanabbi tertawa ringan lalu menjawabnya dengan sangat tenang: ‘Tampaknya kau salah membaca perkataan Nabi, yang benar Nabi kita berkata: La nabiyyun ba'diy (‘tak seorang pun’ adalah nabi setelahku).’ Lalu al-Mutanabbi melanjutkan penyataannya, ‘Wa ana ismi la (Dan ‘tak seorang pun’ itu adalah namaku),’”

Demikian cerita Adunis.

Saya butuh beberapa menit untuk mencerna maksud dari penyataan al-Mutanabbi sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan di persidangan, sebelum saya tersenyum sendiri berkali-kali. Selanjutnya saya berpikir bahwa pernyataannya itu cukup menarik untuk dibicarakan.

Apa yang menarik dari pernyataan itu bukan soal klaim kenabian; sebuah tema yang menurut saya terlampau suci untuk dibicarakan panjang lebar, melainkan soal kelihaian al-Mutanabbi dan keberaniannya memperlakukan kata-kata dengan model baru. Awalnya saya sempat menganggap pernyataan al-Mutanabbi sebagai sebuah lelucon yang sewenang-wenang terhadap perkataan Nabi Muhammad. Namun saya segera menepis anggapan yang terburu-buru itu. Lalu berusaha adil dalam memahaminya dengan cara menganalisanya dari beberapa sudut pandang.

Jika ditelisik, pernyataan al-Mutanabbi yaitu "La nabiyyun ba’diy,” memang terdengar asing (gharib), namun harus diakui penyataan itu tidak memiliki cacat dari sisi gramatikal, sebagaimana kesempurnaan gramatikal kalimat “La nabiyya ba’diy” yang diucapkan oleh Nabi Muhammad. Dalam pernyataan al-Mutanabbi, “La” yang itu adalah namanya, berposisi sebagai mubtada (subjek) dan “nabiyyun” sebagai khabar (predikat), sedangkan “ba’diy” berposisi sebagai dzaraf zaman (keterangan waktu).

Lompatan pembacaan al-Mutanabbi dari “La nabiyya ba’diy” ke “La nabiyyun ba’diy” bagi saya merupakan sebuah dobrakan bahasa dan kejutan imajinasi yang menawarkan kreatifitas baru dan segar. Dengan menjadikan “La” berposisi sebagai mubtada dan sekaligus sebagai nama, al-Mutanabbi telah menjadikan “La” sebagai sosok hidup (a person) sekaligus lafadz yang mandiri, sebagaimana kata “Muhammad” yang berarti orang bernama Muhammad.

Berbeda dengan “La” dalam “La nabiyya ba’diy,” statusnya  adalah sebagai“la nafiyah li al-jins” (La yang menegasikan, bermakna “tidak ada”) yang membutuhkan kata lain (pendamping) agar bisa dipahami sebagai sosok yang dinegasikan, kata lain itu adalah “nabiyya.” Jika “La” dipisah dari “nabiyya,” ia hanya lafadz yang kesepian, tanpa personalitas.

Dengan analisa ini tentu saya tidak sedang mengingkari kebenaran perkataan Nabi Muhammad, atau menganggap pernyataan al-Mutanabbi lebih benar dari perkataan Nabi Muhammad. Ini murni analisa kebahasaan, di mana al-Mutanabbi bagi saya menawarkan kebaruan pada zamannya.

Lebih dari itu, apa yang diucapkan oleh al-Mutanabbi sangat intuitif dan metafisis, serta menunjukkan bahwa ia memiliki samudera imajinasi yang luas. Al-Mutanabbi menembus dua dimensi sekaligus, dimensi tampak (al-mar'i/visible); dimensi yang hanya dipahami melalui pemahaman inderawi atau pembacaan tekstual, dan dimensi tak tampak (ghairu al-mar'i/invisible); dimensi yang hanya dipahami melalui imajinasi dan perenungan.

Ketika al-Mutanabbi mengatakan bahwa "tak seorang pun" adalah nabi (setelah Muhammad) dan menegaskan bahwa "tak seorang pun" itu adalah dirinya, ia sedang mengakui sekaligus menegasikan keberadaan dirinya. Ketika secara tekstual dan gramatikal ia berhasil menghidupkan “La” menjadi lafadz yang memiliki personalitas, ketika itu pula ia membunuhnya, sebab ia juga mengakui bahwa dirinya hanyalah “La” yang berarti ketiadaan, ia adalah tak seorang pun (no one). Al-Mutanabbi sedang berbicara tentang kedalaman “ada dan eksistensi.” Pada titik inilah ia memasuki dimensi “tak tampak” atau bathin yang sifatnya personal dan intuitif.

Terkait klaim kenabian dalam penyataan al-Mutanabbi, kita harus jeli bahwa pernyataan, “Nabi kita berkata: ‘tak seorang pun adalah nabi setelahku,’ dan ‘tak seorang pun itu adalah namaku’,” tentu berbeda dengan (seandainya) al-Mutanabbi dalam persidangan mengatakan, “Nabi kita berkata; ‘Abu Thayeb adalah nabi setelahku,’ dan ‘Abu Thayeb itu adalah namaku’.” Atau menyatakan, “Nabi kita berkata: ‘al-Mutanabbi adalah nabi setelahku,’ dan ‘al-Mutanabbi itu adalah namaku’.” Karena dalam nama “Abu Thayeb” dan “Al-Mutanabbi” tak terkandung negasi, sementara dalam nama “Tak seorang pun” terkandung negasi.

Pada akhirnya secara pribadi saya menyimpulkan, pernyataan al-Mutanabbi tidak menunjukkan kesewenang-wenangannya dalam melafalkan perkataan Nabi Muhammad, atau keawamannya dalam membaca teks Arab, mengingat dirinya sebagai penyair besar Arab yang memiliki pengetahuan bahasa yang mumpuni dan melebihi pengetahuan bahasa orang awam.

Sementara hubungan antara orang awam dan bahasa adalah hubungan peniruan (taqlid), maka hubungan antara penyair dengan bahasa adalah hubungan penciptaan (ibda’) dan kebaruan (hadatsah). Oleh karena itu, dari cerita persidangan ini, saya mengenal al-Mutanabbi sebagai sosok yang kreatif dengan tutur kata yang segar, sekaligus sosok yang humoris karena penyataannya yang unik itu merupakan respon bernada humor atas terlalu seriusnya orang-orang dan begitu mudahnya mereka tersulut kemarahan.

 

*Tulisan ini pernah dimuat di akun facebook pribadi penulis dan telah melewati proses penyuntingan sebelum dikirim dalam format baru.


Asmara Edo Kusuma
Penghuni kedai kopi asal Cirebon yang sedang nyantri di kelas Pascasarjana Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga. Tinggal di Gondokusuman Yogyakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara