Perempuan dan puisi memiliki “keakraban” tersendiri di Indonesia. Bunga rampai puisi berlabel perempuan tak sering ada, tapi selalu ada.

SEMAIAN sastra di Indonesia pantang paceklik dari puisi-puisi gubahan perempuan. Penerbitan buku-buku kumpulan puisi bersama jadi seruan agar umat sastra tak meremehkan kaum perempuan berpuisi, dari masa ke masa. Buku itu pembuktian meski pembaca memanggul ragu, sangkaan, dan pujian. Buku demi buku telah diterbitkan dengan sokongan besar bersinggungan politik dan bisnis, tak melulu pamrih bersastra mutlak.

Pada 2011, terbit buku terbesar dan termewah dalam ikhtiar membuktikan kaum perempuan Indonesia berpuisi, bersolek kata dan makna. Buku sulit terbeli bagi pembaca-pembaca berselera sastra berharga puluhan ribu. Buku berjudul 123 Puisi Perempuan Indonesia mencantumkan harga mencengangkan bagi mata kaum kere. Mahal bukan patokan. Orang nekat membeli dan membaca buku tak usah terlalu memikirkan harga demi sampai ke penghormatan estetika dan pemaknaan perempuan atas pelbagai hal. Buku dibaca sulit dengan adegan dipangku atau tiduran. Buku dengan berat sekian kilogram. Pembaca menghindari lelah atau kejatuhan buku mendingan membaca dengan cara menaruh buku di meja. Kerepotan itu jangan membuat pembaca asal tebar curiga ke para penulis, penggagas, sponsor, dan penerbit. Buku itu bukti paling gamblang tak ada paceklik bagi kaum perempuan berpuisi seantero Indonesia.

Seratus dua puluh tiga perempuan menggubah puisi tanpa wajib mereka bersastra dulu atau telanjur keranjingan menulis. Pejabat, pengusaha, artis, atau kalangan akademik dihadirkan sebagai penggubah puisi di buku. Mereka berpuisi tanpa kaidah-kaidah baku berlagak sastra banget. Di buku 332 halaman, puisi-puisi dipamerkan bergantian dengan foto-foto berwarna dalam ukuran besar: sehalaman penuh. Pembaca mungkin tergesa menganggap buku itu kumpulan foto ketimbang kumpulan puisi. Anggapan sembrono dan menandai cemburu picisan!

“Secara pribadi saya merayu dan meyakinkan mereka untuk mau menulis puisi. Pendekatan pribadi ini ternyata efektif. Dalam waktu relatif singkat, ada yang langsung mengirim karyanya. Namun ada juga yang mengalami hambatan dalam menulis karena mengaku tidak terbiasa. Beberapa bermasalah dengan foto pengadaan diri,” pengakuan Sarita Hantra selaku penggagas pembuatan buku. Di kalimat-kalimat awal, pembaca mengerti tata cara mengajak orang menulis puisi. Kalimat terakhir justru mengandung keluhan, bukan berurusan puisi tapi foto. Penggagas ingin buku memang menjadikan puisi dan foto manunggal. Keinginan itu pantas masuk daftar dalam pembuatan kaidah estetika dan patokan menerbitkan buku antologi puisi-foto di Indonesia.

Buku diterbitkan molek. Pembaca boleh menekuni puisi, dari halaman ke halaman. Pembaca gampang mengantuk saat bertemu huruf-huruf mendingan mengalihkan tatapan mata ke foto-foto. Di halaman foto, pembaca melamun tentang kerepotan memilih busana, kosmetik, dan adegan. Foto-foto dihasilkan secara profesional dan “mahal”. Penggubahan puisi dianggap sulit. Pengadaan foto pun dianggap sulit melebihi puisi. Dalil pembuatan buku: menulislah puisi berlanjut beradegan di depan kamera. Pemotretan terjadwal dan serius.

Kita bakal kelelahan jika cuma mengumbar curiga-curiga dan pujian kecil. Bukalah halaman 39, puisi berjudul “Darahku, Panggilanku” gubahan Puan Maharani Soekarno Putri. Di sebelah puisi, sehalaman foto: anggun dan cantik. Kita melihat foto. Kita membaca puisi. Kutipan sebait:

terbangun aku tengah malam

hati berdetak tak menentu

terdengar teriakan mereka

makin kututup kupingku semakin nyata.

Puisi berselera nasionalisme. Kini, beliau telah menjadi menteri terbukti sanggup berpuisi.

Kita berjalan mundur, meninggalkan buku terbesar dan termewah ke buku terbit di masa lalu. Konon, buku antologi puisi kaum perempuan diawali Seserpih Pinang, Sepucuk Sirih (1979). Buku tersaji dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Editor Toety Heraty. Buku terbitan Pustaka Jaya dengan sampul berwarna merah tanpa gambar atau foto. Buku bersejarah dalam alur kesusastraan di Indonesia. Buku menghadirkan puisi dan lukisan. Para penulis puisi sudah tercatat dan terhormati dalam sastra Indonesia. Kita mengingat sekian nama: S Rukiah, Walujati, Isma Sawitri, M Poppy Hutagalung, Selasih, dan Toety Heraty. Di buku, puisi-puisi tak dibiarkan sendirian. Mereka ditemani lukisan-lukisan oleh Betsy Lucas, Charlotte Panggabean, Kartika, Ratmini Soedjatmoko, Roelijati, Sriyani, Timur Bjerkness, Umi Dachlan, dan Wiranti.

Di puisi berjudul “Pohon Sunji”, Rukiah mengisahkan manusia dan alam:

Engkau sudah tua

akarmu rapuh dengan tanah berpegangan

sebagian sudah lepas

putus berpisahan

dan pasir sebutir demi sebutir

ngeri ia berdjatuhan!

Semula, puisi dimuat di majalah Pudjangga Baru edisi April-Mei 1948. Puisi dari masa lalu diterbitkan lagi, mengajak pembaca melacak deretan puisi gubahan perempuan, sejak masa 1930-an sampai 1940-an. Pada masa berbeda, Toety Heraty menulis puisi berjudul “Sebuah Kota”, puisi mengandung kritik atas tata hidup di kota:

dengan teliti pintu tetangga

ditutup kembali

pintu, kokoh dengan terali

oleh wanita keluar membuang sampah

dengan garis-garis muka

yang tidak ramah.

Dua puisi berbeda haluan tapi memastikan tak ada paceklik bagi kaum perempuan menulis puisi, dari masa ke masa.  

Pada abad XXI, usaha mengadakan buku antologi puisu melulu gubahan para perempuan tetap berlanjut. Kita mendapati buku berjudul Sembilan Kerlip Cermin terbitan Pustaka Jaya, 2000. Editor Isma Sawitri dan Rayani Sriwidodo. “Sebagaimana tiap antologi, buku ini tidak berbeda dengan kumpulan puisi yang lain, kecuali dalam satu hal, bahwa seluruh puisi yang terhimpun di dalamnya merupakan karya para wanita penyair. Mungkin karena itu, dorongan untuk menerbitkannya sedemikian besar, apalagi kalau mengingat bunga rampai yang agak khas seperti ini diterbitkan pertama kali pada dua puluh tahun yang lalu,” penjelasan Isma Sawitri. Kalimat itu pasti mengacu ke buku berjudul Seserpih Pinang, Sepucuk Sirih. Dulu, Isma Sawitri turut memberi puisi di buku terbitan 1979. Pada tahun 2000, Isma Sawitri tetap memberi puisi dan berperan pula selaku editor.

Di buku berisi puisi-puisi gubahan 9 perempuan, kita memilih mengutip puisi berjudul “Ibadah Separoh Hati” gubahan Dorothea Rosa Herliany. Puisi mengenai manusia dan religiositas:

kuletakkan hatiku pada meja perjamuan

telah sepanjang usia aku merendamnya dalam

darah: jiwa yang mengaliri doadoaku

saban hari

 

makin lama aku makin tahu

Tuhan cuma memberiku matahari terbit

dan terbenam.

Puisi-puisi di buku berjudul Sembilan Kerlip Cermin mengena dan bermutu ketimbang pembaca mengumbar keluhan saat membuka halaman-halaman 123 Puisi Perempuan Indonesia. Pamrih berbeda menjadikan cara menggarap dan pilihan puisi pun berbeda. Buku berjudul Sembilan Kerlip Cermin sepi dari lukisan dan foto. Pembaca tak dimanjakan atau dilenakan selain puisi.

Pada 2006, Toety Heraty muncul lagi sebagai editor dalam penerbitan buku antologi puisi 17 perempuan berjudul Selendang Pelangi. Buku diterbitkan oleh Indonesia Tera. Dorothea Rosa Herliany ada di penerbitan Indonesia Tera. Kerja penerbitan puisi tetap saling berkaitan di kalangan sesama penulis perempuan di Indonesia, berbeda masa, usia, dan kota. Di ujung pengantar, Toety Heraty memberi satu kalimat: “Paling tidak, antologi ini pasti tidak akan kita sesali karena 17 suara hati telah menemukan realisasi.” Gairah menghindari paceklit untuk terbitan buku antologi puisi khusus perempuan kembali terbukti. Nama-nama di buku-buku terdahulu muncul lagi dengan penambahan nama baru: Isma Sawitri,  Rayani Sriwidodo, Toety Heraty, Abida El Khalieki, Ani Hukma, Cok Sawitri, Dorothea Rosa Herliany, Medy Loekito, Nenden Lilis, Sirikit Syah, Dina Octaviani, Nurwahida, Shantined, Shinta Febriany, dan Putu Vivi Lestari.

Jumlah penulis semakin bertambah di buku-buku terbitan belakangan. Kita agak takjub pada kerja ambisus penerbitan buku berjudul Kartini 2012, terbitan Komunitas Radja Ketjil dan Kosa Kata Kita. Buku berpenampilan sederhana dengan judul gampang mengesankan pembuktian kaum perempuan berhak bersastra. Buku memuat puisi gubahan 69 perempuan. Judul buku bereferensi Kartini. Acara puisi pun diselenggarakan dalam peringatan Hari Kartini. Buku bermaksud gamblang, tak ragu memilih Kartini dalam penjudulan, berbeda arahan imajinasi dari judul-judul buku masa lalu.

Lima buku kita kenang sepenggal-sepenggal saat orang-orang mengulang peringatan Hari Kartini. Kemauan menata lagi 5 buku berisi gubahan kaum perempuan anggaplah cara terhormat berdalih kesejarahan sastra memilik halaman-halaman mulia bagi perempuan. Begitu.


Bandung Mawardi
Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara