Ada banyak sekali penghargaan sastra di Jepang. Di satu sisi hal itu menunjukkan tingginya apresiasi sastra. Akan tetapi di sisi lain, ada juga beberapa kritikan yang diajukan terhadapnya.

SAYA TERKEJUT KETIKA membaca data jumlah penghargaan sastra di Jepang yang dilaporkan oleh Koyama Tetsuro, seorang reporter Kyodo News Service. Teramat  banyaknya. Anda pasti juga heran kalau saya menyebutkan bahwa angkanya di atas 350. Tapi itu benar.

Dengan angka itu berarti secara rata-rata ada satu penghargaan diberikan setiap harinya dalam satu tahun. Artinya, tiada hari tanpa seorang penulis pun memperoleh penghargaan sastra. Wah, alangkah hebatnya tradisi sastra yang seperti itu!

Saya sebelumnya sudah mengenal Akutagawa Prize, Noma Prize, Naoki Prize, dan Tanizaki Prize, tapi tak menyangka penghargaan serupa mencapai jumlah sebanyak itu. Dalam pikiran saya langsung muncul pertanyaan: diberikan untuk kategori karya apa sajakah itu, dan berapakah jumlah penghargaan yang termasuk prestisius?

Kalau kemudian temuan saya seputar penghargaan itu ternyata lebih banyak positifnya, nampaknya saya perlu mempertimbangkan diri untuk ikut kursus kilat bahasa Jepang. Setelah itu saya bisa hijrah ke sana dan melakukan naturalisasi.

Penghargaan sastra paling prestisius di Jepang hingga kini masihlah Akutagawa Prize, diikuti oleh Naoki Prize. Keduanya sekaligus merupakan penghargaan tertua (sejak tahun 1935) yang masih diberikan secara rutin dua kali dalam setahun.

Jika dikalkulasi, hingga kini pemenangnya telah diumumkan lebih dari 150 kali. Jika Anda hidup di Jepang dan memperoleh salah satu dari penghargaan ini, bisa dijamin Anda akan sangat terkenal dan buku Anda akan laris. Ketenaran yang dijanjikan itu bahkan telah membuat penulis sekelas Dazai Osamu (1909-1948) tergerak untuk mengemis hadiah pada panitia Akutagawa Prize.

Akutagawa Prize menjanjikan uang tunai 1 juta yen plus arloji cantik setiap bulan Januari dan Juli. Penghargaan ini diarahkan untuk penulis baru yang pada tahun bersangkutan meluncurkan novel hebat atau cerita pendek dahsyat di sebuah terbitan berkala.

Salah satu penghargaan sastra tertua di Jepang ini menjadi kuat karena dukungan kepakaran jajaran panitia pendirinya yang dipimpin oleh Kikuchi Kan (1888-1948) dan beranggotakan Tanizaki Jun’ichiro (1886-1965), Yokomitsu Riichi (1898-1947), dan Kawabata Yasunari (1899-1972); dan kekuatan tim ini sanggup diwariskan hingga kini.

Mekanisme pemilihan tidak hanya merayakan dan memberi pengukuhan pada suatu karya, tapi juga menguatkan istilah generik ‘sastra Jepang modern’—sebuah kategori yang isinya bisa berganti tanpa dipertanyakan penyebabnya. Penghargaan ini menampilkan karya kepada para pembaca yang mengenali sastra Jepang sebagai bagian dari mereka, yang berbeda dengan sastra bangsa lain yang tidak berbahasa Jepang.

Dari daftar pemenangnya, saya mengenal banyak nama penting, misalnya Ishikawa Jun (1936), Inoue Yasushi (1949), Abe Kobo (1951), Yoshiyuki Junnosuke (1954),  Endo Shusaku (1955), Oe Kenzaburo (1958), Murakami Ryu (1976), Ogawa Yoko (1990), Tawada Yoko (1992), dan Wataya Risa (2003)—pemenang termuda sepanjang masa. Jadi, Anda sudah lihat saya tak menyebutkan nama Osamu di sini.

Walaupun begitu, bukan hanya Dazai Osamu saja yang tak sempat mencicipi Akutagawa Prize di usia muda. Bahkan Murakami Haruki dan Banana Yoshimoto juga tidak pernah mendapatkannya.

Tim Akutagawa Prize terdiri dari sepuluh orang. Anda bisa membayangkan bagaimana rasanya dikagumi sepuluh orang juri sekaligus. Itu artinya sangat sukar untuk meraih penghargaan ini. Mungkin jumlah penulis di Jepang hanya selisih sedikit dibanding jumlah penulis di Islandia. Artinya, mau hidup di Jepang atau Islandia Anda akan sama-sama sukar jadi pemenang hadiah sastra.

Pengalaman telah membuktikan betapa penulis dengan gaya yang kuat atau sangat individual justru sering gagal menyabet Akutagawa Prize. Sebaliknya, mereka yang mempunyai spektrum pembaca lebih luaslah yang cenderung terpilih.

Kasus dalam Akutagawa Prize ini tidak dengan sendirinya terjadi pula pada penghargaan lainnya. Sastra Jepang, sebagaimana sastra di negara manapun, diwarnai kejutan-kejutan. Namun hal paling menarik dari penganugerahan hadiah ini adalah bahwa ia selalu menjadi bagian dari keingintahuan masyarakat secara umum, bukan hanya pengamat sastra.

Dengan kata lain, orang yang tak punya minat sastra sama sekali pun seringkali penasaran dan membuka koran untuk mengetahui pemenangnya. Tujuannya sederhana: untuk sekadar memberi wawasan diri tentang tren sastra terbaru. Maka bisa dikatakan bahwa Akutagawa Prize memegang peranan besar dalam memotivasi para penulis muda untuk terus maju.

Lebih lanjut lagi, Koyama Tetsuro melaporkan betapa berbagai panitia penghargaan menyeleksi karya para penulis muda yang terbit di media, yang jumlah totalnya bisa mencapai angka 1500. Panitia juga menyeleksi naskah yang dikirimkan oleh penulis Jepang yang bermukim di negeri lain.

Contoh yang diberikan oleh Tetsuro adalah Oba Minako yang tinggal di Alaska. Pada tahun 1968, Oba Minako memenangkan Akutagawa Prize, meski karyanya tidak mengisahkan tentang panasnya suhu udara.

*

Bagaimana dengan Naoki Prize? Penghargaan ini dianugerahkan untuk ‘penulis terdepan karya sastra yang populer’. Kandidatnya adalah para penulis setengah baya atau—kata Norikazu Yamada, editor majalah sastra All Yomimono—penulis yang secara konsisten menghasilkan karya cemerlang dalam periode yang panjang. Hingga kini hadiahnya sudah jatuh lebih dari 180 kali, sementara hadiah itu sendiri sama menggiurkannya dengan Akutagawa Prize: uang 1 juta yen plus arloji ganteng.

Keinginan untuk bersikap konsisten dalam memilih penulis berbakat sering membuat tim panitianya menjadi sangat hati-hati. Belakangan ini anggota tim seleksi cenderung berkata bahwa mereka ingin melihat karya lain dari penulis yang bersangkutan sebelum hadiah itu dijatuhkan padanya. Oleh karena itu, sangat jarang seorang penulis bisa langsung menang dalam satu kesempatan nominasi saja.

Kecenderungan itu mendapatkan kritikan, dalam arti bahwa sikap terlalu hati-hatinya tim Naoki Prize justru mencegah seorang penulis berbakat untuk meraih perghargaan di tengah puncak karirnya, atau dalam bahasa yang lebih keras, sebenarnya panitia penghargaan tak becus membuat keputusan.

Ketidakpuasan itu mendorong munculnya penghargaan baru pada tahun 2003, yaitu Honya Taisho Award. Menariknya, penghargaan ini dianugerahkan oleh persatuan karyawan toko buku.

Bayangkan! Buku yang terpilih untuk menerima Honya Taisho Award malah justru meraih angka penjualan jauh lebih tinggi dari pemenang Naoki Prize. Jika pemenang Naoki Prize rata-rata meraih angka 100.000 kopi, maka pemenang Honya Taisho Award bisa mencapai angka penjualan 1 juta kopi.

*

Jika Akutagawa Prize dirindukan para penulis bujang yang masih lontang-lantung nasibnya, maka Tanizaki Prize yang mulai dianugerahkan pada tahun 1965 justru dihasrati oleh para penulis mapan. Hadiah ini diberikan untuk novel utuh (bukan novelet) yang diterbitkan setahun sebelumnya. Namun selama dua tahun, yaitu 1988 dan 1989, hadiah ini sempat diliburkan karena perbedaan pendapat di tubuh dewan juri.

Nama-nama besar yang sempat meraih hadiah ini di antaranya adalah Endo Shusaku (Silence, 1966), Oe Kenzaburo (The Silent Cry, 1967), Abe Kobo (Friends, 1967), Yoshiyuki Junnosuke (The Dark Room, 1970), Murakami Haruki (Hardboiled Wonderland and The End Of The World, 1985), Murakami Ryu (A Symbiotic Parasite, 2000), dan Tawada Yoko (Suspect On The Night Train, 2003).

Nominator Akutagawa Prize, Naoki Prize, maupun Tanizaki Prize diumumkan secara terbuka sebelum panitia penyeleksi mulai berdebat. Setelah pemenangnya diumumkan, panitia memberikan penjelasan rinci perihal alasan mengapa karya tersebut dimenangkan.

Penghargaan penting lainnya adalah Noma Prize—yang diberikan khusus untuk penulis dan kritikus senior—dan Kawabata Yasunari Prize—yang diberikan untuk cerita pendek terbaik yang diterbitkan tahun sebelumnya. Ada pula penghargaan sastra yang disponsori oleh surat kabar.

Dari kategori yang disebutkan terakhir, yang cukup bergengsi hanyalah Yomiuri Literary Prize. Novel perang Shohei Ooka, Fires on the Plain, meraih penghargaan ini pada tahun 1952, lalu nama lain yang juga tenar adalah Mishima Yukio, The Temple of the Golden Pavilion (1957), Abe Kobo, Woman in the Dunes (1962), dan Murakami Haruki, The Wind-Up Bird Chronicle (1996).

Untuk melengkapi berbagai penghargaan prestisius di atas, sejumlah besar penghargaan lain diberikan untuk naskah drama, esai, catatan perjalanan, kritik sastra, biografi, puisi, haiku, penelitian akademik, terjemahan, cerita detektif, fiksi ilmiah, dan masing-masing masih dirinci pula untuk tingkatan usia tertentu.  Pemerintah Jepang sendiri secara resmi menetapkan tiga penghargaan untuk penulis berbakat, di antaranya Hadiah Geijutsu Sensho, Hadiah Menteri Pendidikan, dan Hadiah Akademi Seni.

*

Meski nampak amat sangat meriah, Tetsuro menunjukkan betapa kepanitiaan berbagai penghargaan itu kurang beriklim sehat. Masalahnya, banyak di antara dewan juri yang merangkap kepanitiaan di berbagai penghargaan, bahkan hingga empat kepanitiaan sekaligus. Betapapun mereka berhati-hati dalam menyeleksi, sangatlah terbuka kemungkinan mereka akan lebih memilih karya-karya yang masuk dalam satu tipe.

Kekurangan lain, masih menurut Tetsuro, adalah stratifikasi penerima untuk masing-masing penghargaan itu. Ada kategori penulis pendatang baru, penulis mapan, penulis senior, namun tak ada satu pun penghargaan yang bersifat umum tanpa memandang tingkatan usia. Menurutnya ini tiada lain menunjukkan keengganan dewan juri untuk menentukan ‘yang terbaik’ dalam arti sebenar-benarnya.

Ya, tapi mungkin ada penjelasan lain yang lebih cerah untuk fenomena bersama ini.


Nurul Hanafi
Penulis dan penerjemah. Bukunya yang baru terbit adalah Novel berjudul Piknik. Sedang terjemahannya antara lain Ibu Kota Lama (Yasunari Kawabata), Bocah Lelaki Yang Menulis Puisi (Yukio Mishima) dan yang terbaru Rumah Delima (Oscar Wilde).
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara