Penerbitan antologi puisi lengkap penyair-penyair yang sudah meninggal belum banyak dilakukan di Indonesia. Buku puisi, apalagi dengan ketebalan lumayan, bukanlah buku yang mudah dipertimbangkan untuk diterbitkan.

BUKU ITU berjudul “Balada si Burung Merak: Puisi-puisi Lengkap W.S. Rendra”. Kovernya menampilkan foto Rendra pada gestur dan usia yang berbeda-beda dengan latar belakang warna hitam. Tebal buku itu xxvi + 575 halaman, memuat 286 puisi Rendra yang disusun secara kronologis dari 1954-2009.

Jangan dulu menduga bahwa penerbit buku yang dirilis tahun 2016 itu adalah penerbit Indonesia. Jangan. Karena buku itu senyatanya diterbitkan oleh ITBM, Institut Terjemahan & Buku Malaysia. Kantornya di Kuala Lumpur.

*

Awal tahun 2006, penerbit Komunitas Bambu menerbitkan antologi sajak lengkap penyair Sitor Situmorang dalam dua jilid tebal. Dua buku itu memuat sajak-sajak sang penyair dari tahun 1948 s/d 2005. Sepuluh tahun kemudian buku tersebut dicetak ulang menjadi satu jilid buku yang didesain eksklusif berkover tebal dengan tambahan puisi yang ditulis sang penyair sampai tahun 2008.

Penerbitan semacam itu merupakan sebuah upaya penerbitan yang tak ternilai namun sayangnya tak banyak dilakukan penerbit kita. Sebelumnya puisi-puisi Sitor Situmorang berserakan dalam antologi-antologi kecil dari penerbit yang beragam yang sudah sukar diperoleh di pasaran: Dalam Sajak diterbitkan oleh Pustaka Jaya, Angin Danau oleh Sinar Harapan, Bunga di Atas Batu oleh Gramedia, Rindu Kelana oleh Grasindo. Dengan penerbitan antologi sajak lengkap semacam itu, pembaca akan bisa menemukan keseluruhan puisinya dalam satu buku.

Ada banyak penyair kita yang sudah meninggal, tapi ada sangat sedikit kita temukan antologi yang memuat keseluruhan puisi mereka. Kebanyakan karya mereka masih terserak dalam antologi-antologi kecil yang kadang untuk mendapatkannya pun memerlukan jerih payah tak terkira: beberapa bisa ditemukan dalam kondisi baru sebagai hasil cetak ulang penerbit tertentu, beberapa hanya bisa ditemukan di pasar buku lawasan dengan kondisi yang rupa-rupa. Taruhlah buku-buku antologi puisi Subagio Sastrowardoyo misalnya, atau J.E. Tatengkeng, atau Aoh K. Hadimadja, atau Hartojo Andangdjaja.

Kita beruntung memang bahwa sudah ada beberapa upaya antologisasi terhadap karya beberapa penyair, terutama penyair-penyair yang ketika karyanya secara keseluruhan digabungkan dalam satu antologi hasilnya adalah buku yang masih di bawah ketebalan 300 halaman. Sebutlah misalnya karya-karya Amir Hamzah (Amir Hamzah sang Penyair, Pustaka Jaya) dan Chairil Anwar (Aku Ini Binatang Jalang, Gramedia), akan tetapi “kerja belum usai, belum apa-apa”, kita misalnya masih belum bisa mendapatkan puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo dalam satu buku lengkap, puisi-puisi Toto Sudarto Bachtiar, dan bahkan puisi-puisi WS Rendra.

Antologi puisi lengkap WS Rendra yang disinggung di awal memang memuat seluruh puisi WS Rendra, tapi bukan dalam bentuk aslinya. Sudah ada penyelarasan penulisan puisi-puisi tersebut ke dalam bahasa Melayu yang digunakan di Malaysia.

Maka akan kita temukan di dalamnya banyak perubahan diksi, misalnya “bunda” menjadi “bonda”, “uang” menjadi “wang”, “berbeda” menjadi “berbeza”, “rusak” jadi “rosak”, “arti” menjadi “erti”, “permadani” menjadi “permaidani”, dan yang sedikit aneh adalah “litani” menjadi “litano”, padahal merujuk pada Kamus Dewan (yang memuat bahasa Melayu Malaysia) dan Kamus Bahasa Melayu Nusantara (yang memuat bahasa Melayu Indonesia, Malaysia, dan Brunei), kata “litani” tetaplah “litani”.

Tentu saja jika ingin sedikit ekstrem dengan membandingkan budaya penerbitan buku-buku puisi para penyair Inggris dan Amerika, antologi itu pun masih memiliki beberapa kekurangan: ada beberapa salah tulis semacam “kemarin” menjadi “kelmarin” (hal. 58) “akal” menjadi “akan” (hal. 529), tak dicantumkan sumber setiap puisi selain disebutkan secara umum dalam pengantar di awal buku, juga tak ditemukan indeks larik awal puisi.

Belakangan ini kita temukan beberapa penerbit mencetak ulang antologi puisi WS Rendra. Penerbit Pustaka Jaya misalnya menerbitkan ulang beberapa judul seperti Ballada Orang-orang Tercinta (cet. ke-14 2013), Blues untuk Bonnie (cet. ke-6 2013), Potret Pembangunan dalam Puisi (cet. ke-3 2013), Empat Kumpulan Sajak (cet. ke-11 2016), penerbit Mata Angin menerbitkan Orang-orang Rangkasbitung (2017), ataupun penerbit Bentang yang menerbitkan Doa untuk Anak Cucu (cet. ke-1 2013) yang memuat “puisi Rendra yang belum pernah dipublikasikan”.

Tentu upaya semacam itu memiliki nilai tersendiri untuk diapresiasi. Akan tetapi, andai saja yang diterbitkan adalah antologi puisi WS Rendra lengkap—dan bukan dengan “penyelarasan ke dalam bahasa Melayu”—tentu tindakan tersebut akan menjadi jauh lebih tak ternilai.

Yang cukup menggembirakan, ada gelagat baik bahwa kita kini bahkan sudah bisa menemukan antologi puisi—yang untuk sementara—lengkap dari penyair yang masih berkarya: Goenawan Mohamad dan Taufik Ismail misalnya. Sebuah gelagat baik karena buku-buku antologi puisi awal mereka kini memang sudah tak mudah didapatkan. Upaya semacam itu tentu saja sama nilainya dengan beberapa penyair yang kembali menerbitkan ulang antologi-antologi awal puisi mereka: Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna.

*

Apa sebenarnya yang membuat sebuah antologi yang menampung keseluruhan karya seorang penyair yang sudah meninggal memiliki nilai sangat penting?

Ada dua alasan yang bisa disodorkan, meski tentunya tidak menihilkan kemungkinan adanya alasan-alasan yang lain:

Pertama, dengan antologi tersebut maka orang bisa menelaah keseluruhan puitika sang penyair. Telaah tersebut penting dalam kaitannya dengan historiografi sastra yang kemudian berimbas pada di manakah sang penyair bisa kita posisikan dalam peta perpuisian kita secara keseluruhan: sebuah apresiasi generasi kiwari untuk para pendahulu. Telaah semacam itu tentu hanya bisa dilakukan jika bahan-bahannya lengkap.

Kedua, hadirnya antologi semacam itu dengan sendirinya mempermudah proses penelaahan karena orang cukup membeli satu antologi saja tanpa harus susah payah mencari buku-buku kuno yang sudah tak bisa ditemukan di pasar. Kalaupun buku-buku kuno tersebut masih dibutuhkan untuk telaah lanjutan, misalnya telaah filologis, maka setidaknya telaah tahap awal karya bisa dilakukan dengan mengandalkan satu antologi tersebut.  

Taruhlah kita menerima dua alasan tersebut sebagai alasan yang terdengar penting, lalu apa sebab penerbitan antologi semacam itu belum banyak ditemukan dalam dunia penerbitan karya sastra kita?

Ada dua kemungkinan alasan yang bisa disodorkan, juga dengan tidak menihilkan adanya kemungkinan alasan yang lain-lain:

Pertama, selalu ada kekhawatiran bahwa penerbitan antologi semacam itu akan melahirkan buku yang tebal. Sebuah buku tebal, buku puisi terutama, cenderung buruk secara hitung-hitungan pasar karena harganya akan cenderung mahal. Belum lagi jika kemudian buku antologi tersebut dicetak dengan bentuk eksklusif. Konon pula di negeri ini buku puisi memang cenderung memiliki pasar yang tak bagus, kecuali jika sudah didongkrak oleh berbagai alasan yang nonsastrawi, misalnya buku tersebut muncul dan memesona dalam film yang populer. 

Kedua, masalah hak penerbitan. Mengurus penerbitan buku puisi para penyair kita tentu tak bisa menihilkan persoalan tersebut. Hal itu sudah menjadi bagian dari penghormatan terhadap sang pencipta karya. Pada akhirnya urusan inilah yang mungkin akan panjang: menggabungkan hak penerbitan dari berbagai penerbit yang berbeda misalnya bukanlah hal yang mudah, belum lagi soal hitung-hitungan harga naskah yang bersangkutan ataupun format terbitan yang direncanakan yang belum tentu sesuai dengan keinginan pemegang hak cipta.

*

Jadi, kapan kira-kira di Indonesia akan mulai lazim penerbitan sebuah antologi lengkap puisi seorang penyair?

Entahlah, mungkin ketika para penerbit sudah berhenti autis dan memulai proyek kerja sama untuk mewujudkan kumpulan puisi lengkap seorang penyair yang semula diterbitkan dalam pecahan oleh berbagai penerbit yang berbeda. Mungkin ketika pemegang hak cipta bisa lebih mudah bersepakat dengan harga dan format yang ditawarkan penerbit. Itu semua tentu saja adalah urusan dapur penerbitan, yang bukan "koki", apa boleh buat, tak boleh ambil bagian.

Pada akhirnya, dirindukan atau tidak, penerbitan antologi karya lengkap seorang penyair adalah penerbitan yang perlu, terutama penyair yang sudah meninggal. Menerbitkan antologi semacam itu, pada dasarnya, adalah sebuah laku menciptakan buku dengan faedah yang jauh lebih tinggi daripada menerbitkan semacam “antologi sepilihan puisi” atau “sehimpun puisi pilihan”. Sudah saatnya ditemukan penyelesaian masalah-masalah, apapun itu, yang mengganjal upaya penerbitan buku berfaedah tinggi semacam itu. Mungkin kita bisa berharap, meskipun tidak banyak, pada pemerintah. Mungkin.

Pada saat semua masalah sudah diselesaikan, barulah mungkin di toko buku akan kita temukan buku antologi puisi lengkap WS Rendra, dengan diksi yang sama dengan ketika puisi-puisinya dipublikasikan pertama kali, bukan dalam bentuk puisi yang penuh dengan diksi “berbeza”, “wang”, dan “bonda”, dan dengan penerbit yang berkantor di Jakarta, Bandung, ataupun Yogyakarta, bukan di Kuala Lumpur.

Dengan kata lain: penerbit kita.

*

Yogyakarta, 9 Juni 2017


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara