Lahir di Garut, penerbit Layung kini sudah menerbitkan dua buah buku. Kelahirannya terjadi setelah pendirinya berkunjung ke Jogja untuk "berguru" seluk-beluk perbukuan selama beberapa hari, sembari ngopi.

SEBAGAI ORANG YANG dilahirkan di daerah yang sangat terpencil di Jawa Barat, yakni di Bungbulang, 80 kilometer dari Kota Garut, dan dibesarkan di pondok pesantren, sebelumnya tak pernah sedikitpun terpikir oleh saya untuk bekerja atau mengurus penerbitan buku. Jangankan bekerja atau mengurus penerbitan buku, akses untuk mendapatkan buku saja dengan kondisi saya seperti itu sangat susah.

Tapi begitulah, jalan hidup siapa yang bisa menerka. Setelah lulus SMA, syukurlah saya diperkenalkan kepada buku bacaan oleh kawan–kawan saya. Pada akhirnya, karena kecanduan yang mungkin saja dilahirkan oleh keinginan untuk balas dendam masa-masa sebelumnya itulah perlahan-perlahan saya mengenal dan mulai mengoleksi buku.

Pada saat saya membaca buku, khususnya buku dari cetakan tahun 1990 sampai sekarang, saya menemukan keganjilan, kenapa alamat-alamat penerbit buku yang saya baca adalah Jogja?

Pada tahun 2011 (kalau tidak salah), setelah saya memegang handphone, saya mulai melihat postingan-postingan buku di dinding facebook. Sebelum itu, saya tidak memegang handphone karena saya masih di pondok pesantren yang tidak membolehkan saya menggunakan alat elektronik.

Ada beda memang antara jualan online di facebook pada masa itu dengan sekarang. Dulu masih belum seramai kini, dan yang sering berseliweran di dinding facebook saya adalah postingan-postingan Pak Agus Bukulawas Menkmenk yang ternyata beralamat di Jogja juga. Karena penasaran tentang perbukuan di Jogja, pada tahun 2014 saya berangkat ke Jogja khusus untuk mencari tahu seputar dapur perbukuan. Syukurlah pada saat itu saya kemudian bisa bertemu dengan penulis buku Declare: Mas Adhe, pengelola penerbit Jendela dan penerbit Octopus.

Gelas pun hilir-mudik di meja kami, kami mengobrol dari pagi hari sampai pagi lagi. Selama beberapa hari itu saya disuguhi diskusi yang sangat mengasyikan dengan Mas Adhe. Setelah diskusi itulah saya berpikir bahwa beliau adalah kamus berjalan perbukuan Jogja.

Sesudah diskusi beberapa hari kami rasa cukup dan kami harus mencari udara segar tanah Jogja, saya diajak jalan-jalan dan diperkenalkan pada orang-orang buku oleh beliau, dari mulai kawan-kawan penerbit mayor maupun indie, lay outer, sampai percetakan, dll. Uniknya, setiap kali kami bertemu dengan orang-orang, pastilah kopi selalu ada. Tak salah jika Mas Adhe memasukan bagian “Jogja yang Komunal” di dalam bukunya. Dari hasil ngopi dengan beliau itulah saya memutuskan untuk sesampainya pulang ke Garut akan mendirikan penerbit.

Penerbit itu pada akhirnya saya beri nama Layung.

*

Pada saat saya mendirikan Layung, status saya adalah mahasiswa. Anda pasti tahu kan bagaimana kondisi dompet mahasiswa? Oleh sebab itu, saya memberinya nama Layung, bukankah layung tidak selamanya ada setiap hari meskipun hari cerah?

Pada dasarnya, meskipun saya mengurus Layung sendirian, namun saya tidak merasa sendirian. Selalu ada tangan yang mengulurkan bantuan, baik tangan yang terlihat, maupun yang tidak terlihat, karena saya yakin saat kita memiliki niat baik maka semua pintu akan terbuka.

*

Sebagai penerbit yang masih berusia muda, Layung kini baru menerbitkan 2 buku. Yang pertama adalah Puisi dan Esai Terpilih Octavio Paz, bekerjasama dengan Pustaka Promethea, dan yang kedua adalah Déng, novel karya Godi Suwarna yang diterjemahkan dari bahasa Sunda oleh Deri Hudaya. Semoga buku terbaru kami segera hadir di tangan Anda. Tabik.


Zhulfy “Miko”
Tinggal di Garut, Jawa Barat. Pengelola Penerbit Layung
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara