Saat ini di Ciamis, Jawa Barat, ada sebuah penerbit indie bernama Kentja, dilafalkan dengan huruf e seperti pada kata “nenek”. Nama yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bermakna “kiri”.

KENTJA ITU KENTJA saja, tapi dari mana asalnya?

Ada sebuah koran yang diterbitkan oleh Paguyuban Pasundan, kalau tidak salah koran Papaes Nonoman, terbit pada tahun 1914an. Koran yang disebut-sebut sebagai koran pertama berbahasa Sunda itu menyebutkan bahwa kentja adalah ideologi generasi muda pribumi yang menentang kolonialisme. Bagi penulis kolom politik di koran itu, perkumpulan seperti Budi Oetomo, Insulinde, dan lain-lain dan lain-lain, ya sudah pasti itu mah golongan kentja. Hidup pemuda-pemudi! 

Serta satu hal lagi, orang-orang yang suka mengatakan bahwa tradisi jurnalistik di negeri ini belumlah panjang dibandingkan dengan di negara-negara maju seperti di Eropa dan Amerika, mereka harus sering-sering baca koran zaman Hindia Belanda! Pandangan mereka nanti pasti tertonjok oleh pemikiran modernisasi dari pemuda-pemudi tahun 1920an. Pada zaman yang terpisah jauh dari kita di zaman kiwari itu, mereka sudah ngomong jauh mulai dari kesetaraan gender, menolak perang membela Belanda, anti terhadap hukuman mati, pertarungan wacana anti kolonial, hingga tata bahasa jurnalistik.

Pasti juga belum pernah ada yang mengutip dari tulisan di koran Sora Merdika mengenai teori jurnalistik di Hindia Belanda dikaitkan dengan kelas sosial. Nah, jadi, menurut penulisnya, penerbitan itu ada tiga; pribumi, Belanda, dan Cina. Kalau penerbitan pribumi kebanyakan hidup tapi tidak lama terus mampus karena kondisi keuangan dan hukum kolonial yang dengan mudahnya mengganjar delik pers. Makanya koran palingan tahan selama setahun atau dua tahun, kalau sampai lima tahun itu mah sudah Alhamdulillah banget.

Hal ini beda banget dengan penerbitan Cina dan juga Belanda, yang secara keuangan dan manajemennya disokong dengan baik serta bahkan untuk penerbitan milik Belanda jarang sekali tersentuh oleh delik pers. Enggak cuman berita atau opini, sastra di koran juga, apalagi kalau ada buku juga yang masuk kategori bacaan liar, misalnya buku kumpulan syair, kalau tidak berkenan di hati pejabat kolonial, nasib penerbitan pribumi gampang kena dihukum kolonial. Sungguh terlalu.      

Karena ada keterkaitan yang penting antara koran indie dan penerbitan buku bacaan liar pada zaman itu.

Coba perhatikan koran-koran indie pada era 1920an. Di iklan-iklan koran itu akan bertebaran iklan jualan buku-buku indie. Bayangkan, mereka juga melakukan cetak terbatas untuk buku-bukunya, tapi sepertinya cetak terbatas mereka sekitar 1000 eksemplar untuk sekali cetak. Palingan kalau dibandingkan zaman sekarang saingan terberatnya di Instagram ya Berdikari Book, kalau dibandingkan dengan Kendi Reko Pustaka ya sebanding lah.  

Pos memang sudah menjadi alat kirim-kirim buku yang diminati oleh pembaca dan produsen buku indie saat itu. Ada yang jualan buku kumpulan syair lah, roman dari kisah nyata lah, dangding karya sendiri lah. Bandung Mawardi yang bukan dari Bandung itu pernah menyebutkan bahwa mereka jualan buku itu terus uang yang dihasilkan mereka digunakan untuk berjuang, dari jualan buku-buku bacaan liar jadilah pergerakan nasional. Suatu upaya yang menarik untuk diperbandingkan dengan kebiasaan di masa kini.

Jadi, buku indie di Preanger itu sejarahnya panjang, dari sejak zaman bacaan liar, yang tidak tertib bahasa dan beda sekali dari roman-roman terbitan Balai Poestaka, namanya juga liar dan nasionalistis dengan tafsir yang tak kalah memukaunya dengan tafsir kekinian. Sebutlah yang paling samar terdengar hingga sekarang ini, Penerbit Dahlan-Bekti, kalaupun ingin mendengar lebih lanjut perihal penerbit ini bisa ditanyakan ke lapak buku lawas Bandung seperti Lawang Buku, atau bisa juga tanya ke CW Watson di ITB sana yang sempat-sempatnya meneliti sastra Melayu era Hindia Belanda saat dia sedang semangat-semangatnya dan asyik-asyiknya baca di perpustakaan Leiden: maklum bahan-bahan tersebut sudah tak bisa ditemukan di negeri sendiri. Ironis sungguh.

Nah Dahlan-Bekti juga ada bagian Drukkerij-nya, percetakan, alamatnya di djalan Kanoman 23. Di tempat yang sama juga ada toko buku namanya Galoeh, banyak buku dijual di sana, buku-buku indie berbahasa Sunda banyak sekali, berbahasa Melayu lebih banyak lagi. Mereka suka juga memasang iklan di koran-koran indie itu, termasuk daftar judul-judul buku yang dijualnya. Konon pada zaman dulu itu mencetak di mereka terhitung paling murah. Tentu saja itu dulu, kalau dibandingkan sekarang di Bandung untuk mencetak tarifnya mahal dan tak bisa mencetak menggunakan bookpaper juga kalau hanya mencetak sedikit.

“Ya sudah, produksi bukunya di Jogja saja,” kata kang Adhe, bosnya Penerbit Octopus. Sudah, parantos, sampun, untuk sementara segitu saja dulu ngalor-ngidul mengobrolkan penerbitan indie di pagi ini, soalnya mau mengajak Cep Subhan KM sarapan bubur ayam di depan.


Wahyu Heriyadi
Pengelola penerbit Kentja, lahir di Ciamis, menamatkan pendidikan S2 FISIP UI pada tahun 2013. Saat ini tinggal di Bogor dan bekerja di Lights Institute, Lembaga Hak Asasi Bahasa.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara