Para penerbit indie Jogja 1998-2003 dan 2012-kini memiliki beberapa perbedaan. Ada beberapa poin yang bisa diamati, di antaranya: momentum kelahiran, tema terbitan, tata niaga, dan sistem manajemen.

KETIKA penerbit mayor mengalami kelesuan, penerbit indie menyeruak ke permukaan memanggul berkoli-koli optimisme. Ratusan penerbit muncul di Jogja dan beberapa kota lainnya, ribuan judul buku lahir. Uniknya, mereka tidak memilih menjual produknya lewat jalur konvensional. Mereka jualan secara daring, atau melalui perjumpaan-perjumpaan langsung dengan pembacanya.  Kegairahan baru ini cukup paradoksal di tengah skeptisisme yang melanda sebagian penerbit mayor terhadap masa depan penerbitan buku.

Terus terang, moncer-nya dunia penerbitan indie di Jogja membuat saya iri. Ingatan saya melayang kembali ke masa silam. Kalau saja pasar dunia maya pada tahun 1998 sudah sematang sekarang, apakah saya dan teman-teman bisa berkiprah sedahsyat Irwan Bajang (IBC), Eka Pocer (Oak), atau Dana (Berdikari  Books)? Kalau pasar daring sudah seperti sekarang, bisakah kami eksis sebagai penerbit alternatif dengan strategi penjualan yang benar-benar anti-mainstream?

Tapi itu pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Yang jauh lebih penting untuk dianalisis, setelah dua dekade, apa saja yang berubah dalam ekosistem penerbitan buku Jogja? Apa yang membedakan penerbit indie Jogja jaman now dibandingkan pendahulu mereka di tahun 1998-2003?

Momentum yang Melahirkan Euforia

Hampir dua dekade silam, kegairahan menerbitkan buku melanda Jogja. Tumbangnya Orde Baru dirayakan dengan munculnya ratusan penerbit di kota sekecil Jogja sepanjang periode 1998-2003. Sepanjang beberapa saat yang meriah, kita semua memasuki era kebebasan berekspresi sejati, sebelum munculnya sweeping buku kiri pertama di tahun 2000.

Euforia kebebasan berekspresi bukan hanya dirasakan pada bidang perbukuan, tetapi juga media massa cetak secara umum. Tahun 1999-2000 kita bisa melihat bahwa penerbit tabloid politik dan hiburan menjamur dalam jumlah yang tidak kalah dibandingkan penerbit buku. Mekanisme pasar yang kejam telah menghantam tabloid-tabloid tersebut hingga banyak di antara mereka tersungkur berkalang tanah.

Jika penerbit Jogja generasi 1998-2003 merupakan respons terhadap reformasi politik, penerbit Jogja jaman now lebih merupakan respons terhadap revolusi di jagat maya.

Sudah diramalkan oleh futurolog John Naisbitt (Global Paradox, 1994) bahwa internet akan membuat individu-individu lebih kuat dan otonom. Tidak ada lagi dikotomi central-peripherial. Faktanya, para penerbit indie yang berbasis daring tidak harus tunduk pada siapa pun kecuali konsumen. Dan ketika mereka menerapkan pola akuisisi konsumen dengan menganggapnya sebagai sahabat, hubungan persahabatan yang terjalin itu kemudian menjadi semacam proteksi dari serangan kompetitor.

Momentum yang berbeda menghasilkan dua generasi penerbit yang berbeda. Dari era 1998-2003 muncul pekerja buku yang berlatar belakang aktivis, pegiat persma, dan penulis. Dari era kiwari banyak yang masih berstatus mahasiswa yang juga penulis, aktivis, dan juga pegiat pers kampus. Ada juga mantan pekerja penerbit mayor yang bosan. Kesamaan mereka adalah sama-sama cinta buku dan suka membaca. Latar belakang seperti ini memungkinkan mereka menggarap tema-tema idealis yang tidak pro-pasar. Mereka tahu ada buku bagus yang harus terbit, entah nanti laku atau tidak.

Banyak juga penerbit Jogja yang muncul dalam kurun waktu 1998 sampai sekarang, yang tidak dimotori oleh orang yang benar-benar pecinta buku dan hobi membaca. Motivasi mereka menjadi penerbit lebih dominan pada aspek komersial, dengan produk terbitan yang kebanyakan tema-tema pesanan distributor atau toko buku. Mereka juga memainkan judul-judul dan tema idealis, tetapi hanya apabila itu dianggap marketable oleh distributor dan toko buku.

Penerbit pada kategori ini muncul sebagai respons atas “peluang pasar” yang ditawarkan toko buku dan distributor. Bersenjatakan “daftar tembak” (daftar buku-buku best seller) mereka membanjiri toko buku dengan produk-produk yang semata-mata berorientasi omzet dan laba. Pada saat muncul persepsi bahwa pasar buku lesu, tidak banyak penerbit jenis ini yang bermunculan. Tapi ketika gairah perbukuan meningkat, mereka akan hadir dengan produk-produknya.

Tema Terbitan dan Tata Niaga

Tema-tema terbitan penerbit Jogja 1998-2003 dan penerbit indie 2012-2017 berada pada kategori yang sama. Filsafat, sastra dan sejarah menjadi tema dominan. Namun setelah tahun 2004, tren buku chicklit dan teenlit merajai pasar, kemudian buku-buku nonfiksi populer menggusur buku-buku filsafat dan sastra dari rak-rak toko buku besar. Penerbit Jogja yang gegap gempita memasuki pasar pada tahun 1998-2003, kini mulai memasuki era senjakala. Banyak yang tumbang, kecuali mereka yang mampu bersiasat dengan keadaan. Menerbitkan buku-buku populer—yang kadang disebut “buku ora mikir”—harus diakui, tidaklah mudah.

Penerbit indie di era kiwari jauh lebih berani menerbitkan buku-buku yang dianggap kurang laku. Misalnya buku-buku filsafat yang berat, buku sastra, buku-buku aneh, buku karya teman sendiri, atau buku puisi oleh penyair pemula yang enggan diterbitkan penerbit mayor.

Apakah buku-buku itu lebih rendah secara mutu? Tidak otomatis demikian. Banyak yang kualitasnya istimewa, hingga bisa memenangkan reward. Tapi ada juga—harus diakui—yang bermutu seadanya.

Mengapa mereka berani menerbitkan buku-buku seperti itu? Ini yang membedakan mereka dari pendahulunya. Memang, penerbit Jogja 1998-2003 juga menerbitkan buku-buku berat. Tapi, ada peran distributor di sana. Maksudnya, para penerbit pasti juga enggan menerbitkan buku-buku yang satu eksemplar pun tidak dipesan oleh distributor. Tapi penerbit indie jaman now memiliki penilaian sendiri yang independen, untuk menentukan mana buku yang layak diterbitkan dan mana yang tidak.

Perbedaan lain adalah interaksinya dengan pasar. Jika Irwan Bajang cs menjual sendiri bukunya lewat jalur daring, Buldanul Khuri dkk menyerahkan pemasaran buku terbitannya melalui distributor. Penerbit Jogja generasi 1998-2003 pada umumnya bersandar pada distributor. Bahkan ada yang kelahirannya dibidani oleh sang distributor. Mengapa mereka tidak melakukan penetrasi pasar secara langsung?  Alasannya klasik, yaitu ketidakmampuan untuk menyebarkan produk ke seluruh negeri. Menjual lewat distributor mungkin menjadi semacam “jalan pintas” untuk menjangkau pasar.

Memasarkan buku lewat distributor itu sangat mahal. Dan makin lama menjadi kian mahal. Penerbit mengikhlaskan persentase besar untuk biaya distribusi. Dengan sistem kredit returnable, yang terjadi di kurun waktu 1998-2003, penerbit harus memberi potongan 60%. Distributor mengeluarkan giro bilyet mundur empat bulan. Penerbit yang kekurangan cashflow (pada umumnya memang demikian), berusaha mencairkan BG tersebut lebih awal, dengan diskonto 3-4% per bulan. Sehingga uang tunai yang diterima penerbit tinggal sekitar 28% dari harga bruto buku. Padahal, biaya produksi buku itu sendiri mencapai 20%, sedangkan biaya redaksi 5% dan akuisisi naskah antara 5-10%. Wajarlah kalau kemudian banyak yang gulung tikar karena tidak memahami bagaimana sistem dan struktur biaya yang demikian, ibarat kanker yang menggerogoti keuangan penerbit.

Sistem tata niaga yang tidak sehat ini dipraktikkan hampir seluruh penerbit. Para penerbit tidak berdiskusi mengenai pasar (yakni para pembaca) dan perilakunya. Bagaimana perilaku pembaca berubah, dan bagaimana pergeseran selera baca mereka. Yang sering terjadi, para penerbit berkumpul untuk bertukar informasi apa pun mengenai distributor. Para penerbit akan ramai-ramai menyerbu distributor yang dianggap bonafid (bermodal tebal) untuk kemudian digelontor puluhan ribu eksemplar buku. Akhirnya, pipa distributor jeblol juga. Ternyata, sistem tata niaga buku dengan pola kredit returnable, tidak hanya menghancurkan penerbit, tetapi juga membangkrutkan distributor.

Kalau sistem kredit returnable tidak sehat, lantas sistem apa yang sehat? Semua sepakat, konsinyasi. Sistem titip jual ini memungkinkan penerbit menerima persentase netto yang lebih besar. Pada tahun 2003-2008 besarnya rabat untuk distributor rata-rata 45%. Sehingga penerbit bisa menerima 55% dari penjualan bruto.  Perolehan nominal ini ternyata dua kali lipat dibandingkan jika penerbit menjual bukunya pakai sistem kredit, dan langsung menukar BG menjadi uang tunai dengan membayar diskonto. Laba penerbit naik, arus kas lebih stabil, dan rencana penerbitan dapat dieksekusi sesuai rencana.

Ada dua hal yang membuat sistem ini kurang ideal. Pertama, sistem ini mensyaratkan kapital dalam jumlah besar. Sistem konsinyasi adalah sistem yang menjual bersenjatakan stok. Kalau mau penjualan tinggi, stok harus besar. Padahal, stok yang besar berarti kapital musti kuat.

Setelah dihantam badai retur dan BG kosong pada tahun 2004, penerbit Jogja nyaris punah. Jangankan kapital untuk bangkit di sistem konsinyasi, kepercayaan diri pun sudah lenyap. Inilah yang membuat tidak banyak penerbit Jogja mampu beradaptasi dengan sistem tata niaga yang baru.

Kedua, rabat pada sistem konsinyasi sendiri semakin tidak menguntungkan penerbit. Jika dulu persentase bagi hasil 55% untuk penerbit dan 45% untuk distributor dan toko buku, sekarang posisinya terbalik menjadi 55% jatah distributor dan toko buku, sedangkan 45% jatah penerbit. Toko buku berargumen mereka harus menaikkan rabat karena biaya sewa dan pengelolaan toko yang kian mahal. Begitu juga distributor yang harus meng-handle biaya operasional yang tidak sedikit.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa jalur pemasaran buku mayor kian mahal saja. Dampaknya, harga buku makin mahal karena penerbit berusaha mempertahankan pendapatan nominalnya, bukan persentasenya. Penerbit mayor menerima hanya 45% dari harga bruto (itu pun masih dikurangi royalti, biaya produksi dan overhead).

Penebit indie mengalami hal yang berbeda. Mereka tidak mengenal distributor. Paling-paling hanya reseller. Nominal netto yang diterima jauh lebih besar. Memang, eksemplar yang terjual pada umumnya lebih sedikit.  Tapi itu jumlah yang aman, karena mereka menerapkan sistem pre-order pada penjualan, dan print on demand (POD) pada sisi produksi.

Penerapan pola pre-order dan POD itulah yang membedakan penerbit indie jaman now dibandingkan pendahulunya. Risiko produksi penerbit indie relatif kecil, kendati risiko biaya overhead di redaksi dan pracetak sama saja besarnya dengan penerbit mayor.

Sisi Manajemen

Karakteristik tipikal pelaku bisnis buku di era Irwan Bajang dan Eka Pocer cs, dibandingkan era Buldanul Khuri dan Adhe Ma’ruf, tidaklah jauh berbeda. Praktisi perbukuan Jogja 1998-2003 adalah mahasiswa atau fresh graduate pengangguran, nir kapital, minim akses pasar, dan berbekal ilmu pengelolaan penerbitan yang seadanya. Dijalani sembari belajar. Learning by doing. Trial and error. Apa yang mereka punya? Idealisme dan semangat untuk berbagai wacana kritis bagi masyarakat—sesuatu yang tak mungkin dilakukan saat Jenderal Suharto berkuasa.

Para pelaku penerbitan indie di Jogja juga banyak yang masih berstatus mahasiswa atau fresh graduate. Tentu saja mereka tidak bermodal besar, kecuali semangat dan mental baja. Mereka sangat paham dunia perbukuan di Indonesia dan dunia. Pemahaman mengenai karya-karya penulis besar, wacana, karya-karya magnum opus, school of thought. Dari kacamata manajemen, penerbit indie paham product knowledge. Mereka mampu menemukan celah-celah pasar untuk buku-buku berat. Persis seperti era 1998-2003. Bedanya, para penerbit indie mengelola risiko dengan pola pre-order dan POD, sehingga tidak mungkin terbebani bad stock yang berlebihan seperti pendahulunya belasan tahun silam.

Dari dua generasi penerbitan di Jogja tersebut, tidak banyak yang memiliki bekal ilmu manajemen. Selain itu, aspek kultural begitu dominan dalam pengelolaan penerbitan. Manajemen pengelolaan penerbitan diwarnai unsur-unsur kekeluargaan dan pertemanan. Beberapa kali terjadi konflik, tetapi dapat diselesaikan sebagaimana para sahabat merampungkan masalahnya.

Penerbit Jogja era 1998-2003 yang masih bertahan satu dekade setelahnya, lantas berusaha membenahi aspek manajemen perusahaan masing-masing. Fungsi-fungsi manajemen seperti produksi, pemasaran, personalia (SDM) dan keuangan—telah dijalankan. Ada penanggung jawab masing-masing. Ada standard operating procedures (SOP), sesederhana apa pun. Yang jelas, sudah berusaha membentuk birokrasi ala Max Weber dengan spesialisasi kerja ala Adam Smith.

Penerbit indie mungkin belum sampai ke tahap tersebut. Banyak di antara penerbit indie yang dikelola seorang diri, dibantu satu dua orang. Struktur organisasi belum dibutuhkan, walaupun fungsi-fungsi manajemen telah mulai dijalankan. Segala sesuatunya belum rumit. Sebetulnya itu patut disyukuri karena ruang gerak dan waktu masih leluasa untuk memikirkan hal-hal yang bersifat kreatif. Setidaknya, penerbit indie bisa ambil keputusan lebih cepat. Ini berbeda dengan sebuah penerbitan dengan ratusan karyawan, di mana birokrasi korporasi sudah kontra-produktif karena ribetnya.

Masa Depan

Baik penerbit indie Jogja yang lahir 2012-2017 maupun penerbit jaman old yang muncul tahun 1998-2003 kini menghadapi masa depan yang sama. Yakni ekosistem perbukuan yang belum seideal negara maju. Namun, disadari atau tidak, sebagian masalah bersumber dari diri sendiri. Saat mengeluh pasar stagnan, sudahkah kita mengeksplorasi masyarakat pembaca yang potensial di pelosok-pelosok nusantara? Saat mengeluh minat baca rendah, sudahkah kita menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan mereka?

Sementara penerbit indie berkecimpung di pasar daring yang pertumbuhannya sangat pesat, penerbit Jogja generasi 1998-2003 yang masih bertahan (dan sering disebut penerbit mayor) harus menghadapi realitas pasar toko buku yang stagnan bertahun-tahun. Kedua “medan tempur” itu sangat berbeda karakteristiknya. Tapi ujungnya adalah bagaimana pasar potensial diedukasi sedemikian rupa, diberi virus-virus gemar membaca.

Manajemen adalah kunci bagi penerbit untuk dapat menempuh usia 10, 20,30 tahun atau bahkan lebih.

Fungsi-fungsi manajemen (produksi, pemasaran, keuangan, personalia) tetap diperlukan, tak peduli seberapa kecil ukuran penerbit. Jadi masa depan penerbit, entah indie maupun mayor, akan tergantung pada seberapa baik pengelolaannya. Mengelola penerbit berumur 1-3 tahun tentu berbeda dibandingkan mengelola penerbit berumur 15-20 tahun.

Yang melegakan, penerbit indie jaman now tidak lagi silau dengan parameter-parameter dunia bisnis tahun 1980-an. Saat itu, makin bonafid sebuah perusahaan dilihat dari jumlah karyawan, selain tentu saja omzet dan aset. Makin banyak jumlah karyawan, makin bonafid perusahaan itu. Untuk konteks penerbitan buku, makin banyak judul yang terbit tiap bulan, makin tinggi penjualannya.

Tapi itu belum tentu. Jumlah karyawan tidak berbanding lurus dengan omzet maupun laba. Jumlah judul terbitan tidak sejajar dengan nominal penjualan. Perjalanan waktu menunjukkan bahwa yang besar seringkali rentan terhadap perubahan. Besar belum tentu baik. Itu sebabnya, ilmu manajemen tahun 1990-an sudah menyebut-nyebut istilah downsizing, rightsizing, dll. Pola kerja outsourcing menjadi andalan efisiensi, dan ini telah dilakukan para penerbit indie sejak lahir.

Penerbit indie tidaklah besar, dan mereka memang menghindari menjadi besar. Sementara para penerbit indie sudah membentuk organisasi dengan ukuran yang pas, penerbit Jogja generasi 1998-2003 sekarang harus berkutat dengan aneka strategi rightsizing. Mereka sudah telanjur besar. Penerbit-penerbit itu harus mampu membuat organisasinya ramping dan lincah, serta responsif terhadap perkembangan baru.


Indra Ismawan
Owner dan pengelola MedPress Group, aktif di perbukuan Jogja sejak 1993, pengurus IKAPI Jogja tahun 2002-2012
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara