Apakah kehadiran penerbit buku digital akan berimbas pada matinya penerbit buku cetak? Kini kehadiran penerbit semacam itu di Indonesia sudah bukan hanya wacana, Bookslife, mungkin, hanyalah sebuah awal.

SABTU (21/10) yang lalu bertempat di Nyata Kopi, Condongcatur, Bookslife mengundang siapa saja yang tertarik bicara soal penerbitan untuk datang pada pukul tujuh malam. Saya sampai di sana pukul 20.20 karena mendengar Windy Ariestanty akan menjadi salah satu pembicara. Memang benar, acara malam itu diformat untuk diskusi dengan narasumber Mas Ardi, Mba Tata dan Mba Windy.

Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Irwan Bajang (Founder Indie Book Corner) tersebut, diperkenalkan platform penerbitan digital baru, Bookslife (www.bookslife.co). Berbeda dengan Storial (www.storial.co) dan Wattpad (www.wattpad.com) yang hanya menyediakan platform menulis daring, Bookslife benar-benar menerbitkan buku. Kehadiran penerbit buku digital ini merespon kebutuhan generasi milenial yang lebih akrab dengan gawai, memelototi layar handphone dan laptop lebih dari delapan jam sehari dan malas membawa banyak buku dalam satu ransel. Kalau bisa menyimpan apa saja dalam bentuk digital, rasanya milenial cukup membawa satu smartphone saja ke manapun pergi.

Kebiasaan membaca generasi muda masa kini yang kian lama kian banyak beralih kepada artikel panjang maupun pendek di internet ketimbang buku-buku yang dicetak menjadi salah satu penyebab kehadiran Bookslife. Peralihan perilaku membaca ini dapat dilihat dari jumlah pembaca cerita di Wattpad, misalnya, yang mencapai jutaan pembaca untuk karya-karya tertentu. Penerbit mayor umumnya merespon hal ini dengan menerbitkan buku dari penulis yang karyanya telah dibaca sekian juta kali di Wattpad (dan mencantumkannya di bagian kover).

Apakah kemudian tulisan-tulisan yang telah dibaca jutaan kali ini otomatis laris di pasaran setelah keluar dalam bentuk cetak? Tidak juga, bahkan dengan tempelan telah dibaca sekian juta kali di kovernya. Penyebabnya bisa dua hal: pertama, mereka memang lebih suka membaca dalam format digital. Kedua, pembacanya belum loyal sehingga memilih untuk membaca secara gratis di platform daring. Maklum, harga buku-buku ini lumayan juga, 60-80ribuan per eksemplar. Mending juga duitnya buat ngopi-ngopi cantik. Toh membaca yang gratis juga masih bisa. Agaknya pikiran seperti itu harus kita ubah mulai dari sekarang.

Bookslife juga membawa kabar baik bagi para penulis yang selama ini masih bingung akan dikemanakan naskah yang telah selesai namun masih tergeletak di antara draf skripsi itu? Mau dikirim ke penerbit mayor, takut ditolak, atau lebih parah lagi, digantung berbulan-bulan. Mau dikirim ke penerbit indie, masih harus membayar biaya editing, proofreading, tata letak dan lain-lain.

Di Bookslife, penulis bisa menyerahkan naskah, dan hanya dalam waktu maksimal dua minggu, naskah akan diterbitkan. Tentu saja naskah-naskah tersebut sudah melewati proses kurasi oleh editorial Bookslife.

Kabar baiknya lagi, naskah yang telah melewati proses kurasi tersebut akan dihargai dan dijual layaknya buku cetak, namun dalam format digital atau e-book. Proses kurasinya juga tidak membebankan biaya pada penulis. Tentu saja penulis berhak memberi referensi seperti apa layout dan kover yang diinginkan, semuanya dapat didiskusikan via surat elektronik sampai penulis dan editorial Bookslife mencapai kata sepakat. Mengenai royalti dan hal lainnya, dapat dicek pada website Bookslife.

Harga yang dipatok oleh Bookslife jauh lebih murah ketimbang buku-buku cetak yang biasa kita jumpai di toko buku seharga 40-100ribuan untuk novel dan kumpulan cerpen, misalnya. Di Bookslife saya jumpai buku di kategori Contemporary Novel seharga 25 ribu. Itu sudah versi lengkap. Artinya buku sudah selesai dari tahap awal sampai tamat. Penulis tidak harus memiliki naskah tamat untuk dapat menerbitkannya di Bookslife. Semuanya bisa ‘dicicil’ per part. Satu part terdiri dari 15-25 halaman dan part tidak sama dengan bab dalam buku.

Part pertama juga dapat dijadikan teaser bagi pembaca, layaknya trailer film bagi penontonnya. Dengan membaca part pertama secara gratis, kita boleh berharap jika part dua dan seterusnya diberi harga, akan laku di pasaran. Jika tidak, per part biasanya dihargai lima ribu rupiah. Bookslife ingin memberi penghargaan dalam bentuk monetisasi tadi kepada setiap penulisnya, meskipun dalam jumlah yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan penerbit cetak.

Barangkali tidak lama lagi kita bukan saja akan menghadapi era kepunahan keyboard dan mouse, tetapi juga kepunahan buku cetak. Tentu saja kamu saat ini sedang berujar, ‘Nggak. Nggak bakal. Aku tetap akan menjadi pembaca buku cetak yang masih bisa kunikmati wangi kayunya sebelum mulai membaca halaman pertama.’ Tidak masalah.

Mungkin nanti setelah ada penemuan yang dapat menurunkan efek negatif paparan radiasi layar komputer dan smartphone sampai ke Indonesia, kamu juga akan beralih ke buku digital. Atau mungkin ketika pada akhirnya manusia masih malas menanam pohon sedangkan minat baca sudah sedemikian meningkat sehingga buku-buku terus diproduksi dan menghabiskan kayu di hutan, produksi buku akhirnya beralih dari cetak ke digital.

Entah mana yang akan terjadi lebih dulu. Yang jelas, kehadiran penerbit buku digital membawa keuntungan bagi pembaca, penulis, maupun dunia penerbitan itu sendiri. Bagi pembaca muda, dapat mengapresiasi karya penulis  dengan membayar harga yang disepakati namun lebih murah dibandingkan buku cetak. Plus tidak perlu menambah beban ransel sampai punggung bongkok.

Sementara bagi penulis, terutama yang masih pemula, penerbit buku digital dapat merealisasikan mimpinya dengan terwujudnya buku dalam bentuk buku digital, dihargai pula. Tidak sia-sia malam-malam tanpa tidur selama berbulan-bulan ini jika akhirnya ada yang membeli dan membaca tulisanmu. Bagi penerbit, ongkos produksi lebih murah dan tidak ada lagi cerita buku retur. Betul begitu?

Oh iya, terakhir saya hanya ingin menambahkan untuk calon penulis yang mungkin setelah membaca tulisan ini jadi ingin menerbitkan buku di Bookslife, tenang saja. Bukumu bisa diterbitkan dalam bentuk cetak di penerbit lain kok setelah terbit dalam bentuk digital di Bookslife, tentu dengan kesepakatan-kesepakatan tertentu.


Chandra Wulan
Chandra Wulan adalah penulis kreatif di sebuah perusahaan start-up media daring di Yogyakarta. Cerpen dan puisinya dimuat dalam December Sun (Ellunar Publisher) dan Kado Terindah (Jejak Publisher), sedang ulasan-ulasannya bisa dibaca di minumkopi.com
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara