Pilihan gambar kover tiap penerbit biasa berbeda-beda satu sama lain. Ada juga kecenderungan yang seperti ini: mencantumkan gambar wanita cantik di kover.

PADA permulaan 2018, pilihan membaca tabloid mungkin berpamrih iseng atau mencari penghiburan agar tak tenggelam di lautan berita politik dan hukum. Pilihan membaca tabloid tentu berharap mesem atau tertawa, rela digoda gosip, dan pikiran mengalami pengentengan.

Perkara buku justru telah muncul di tabloid Nyata edisi 1 Januari 2018. Umat pembaca di Indonesia bergirang dan bertepuk tangan? Bacalah tanpa seribu curiga dan marah saat mengikuti kalimat demi kalimat di tulisan berjudul “Tiga Bintang, Tiga Novel.” Buku jadi menu penting di tabloid. Pembaca diharapkan memberi pujian dan membuang sinis ke selokan.

“Tiga pesinetron terpilih jadi model cover novel Second Chance Series terbitan Falcon Publishing. Siapa saja mereka? Seperti apa pengalaman mereka?” Tiga kalimat di awal sudah membikin hati berdebar, tak perlu penasaran. Di samping tiga kalimat, redaksi sengaja memasang tiga foto perempuan cantik. Mereka bernama Cassandra Lee, Salshabilla Adriani, dan Cut Beby Tsabina. Mereka itu cantik, molek, dan menggemaskan!

Industri perbukuan di Indonesia bakal mendapat godaan dari tiga perempuan cantik. Foto mereka sengaja ditaruh di sampul 3 novel. Pembaca pasti kesengsem ingin membeli dan mengoleksi 3 novel. Buku telah tergantung cantik. Pada 18 Desember 2017, mereka mengikuti pemotretan di Jakarta. Potret terbaik bakal memberi sihir ke para pembaca novel. Kini, penerbitan novel tak melulu mementingkan isi. Sampul justru bakal dianggap penentu nasib novel memiliki pembeli atau pembaca. Sampul cantik tentu melariskan novel! Konklusi tergesa meski bisa salah.

“Tiga Bintang, Tiga Novel” memberi sengatan ke pembaca novel dan pengamat buku di Indonesia. Urusan cantik dan novel romantis mengajak pembaca membuat ramalan rumus-rumus industri buku ingin meraup tenar dan untung pada 2018. Pembaca sulit meramal berhak kembali ke masa lalu untuk mengingat (lagi) cantik di buku-buku, terutama terbitan novel. Cantik telah memberi arti kehadiran novel-novel dan memiliki sambungan sampai masa sekarang.

Pada 1985, terbit novel Leo Tolstoy dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia. Penerjemah adalah Koesalah Soebagio Toer. Editor oleh Savitri Scherer. Di Indonesia, dua nama itu tenar berurusan sastra dan sejarah.

Penerbitan novel Anna Karenina oleh Indira Akademi & Sastra mendapat pelengkap nama perempuan cantik di sampul buku. Pembaca diajak mengimajinasikan tokoh perempuan berasal dari Rusia “dipaksa” mirip dengan wajah perempuan asal Indonesia. perempuan cantik, bibir bergincu, dan rambut pendek.

Siapa itu jelita? Di sampul belakang, pembaca menemukan keterangan bahwa si cantik-jelita bernama Dana Christina. Foto itu dibuat oleh Gandewa Studio. Anna Karenina dalam terjemahan bahasa Indonesia terbit 4 jilid. Semua sampul memuat foto Dana Christina.

Kita mengandaikan menjadi manusia masa lalu. Peristiwa berkunjung ke toko buku di Jakarta. Mata melihat sampul novel menjadi cerah, enggan berkedip. Bujukan ke pembaca agar menikmati sastra Rusia dari pengarang besar justru dimulai dengan cantik di sampul buku. Cantik itu perlu. Kita tak usah melengkapkan dengan meniru slogan majalah terkenal: “enak dipandang dan perlu.” Dibaca dan dipandang tentu berbeda makna. Mata melihat perempuan cantik tak merangsang cerita ke negeri jauh bernama Rusia. Wajah si perempuan khas Indonesia, perempuan di negeri tropis. Tatapan mata si cantik-jelita disengaja sendu, berharap pembaca terharu dan memutuskan membeli novel agar terlena dengan cerita berairmata.

Dulu, para pembeli dan pembaca Anna Karenina mungkin menanggung dilema mengimajinasikan perempuan dalam cerita dan perempuan di sampul buku. Penerbit telah menerapkan siasat ke tatapan mata beririsko mengelabui imajinasi. Cantik sampul buku diinginkan memicu laris dan memberi kesan mendalam ke pembaca berlatar selebrasi industri hiburan di Indonesia masa 1980-an. Foto si sampul novel mungkin ingin tersambut dengan situasi Indonesia, menggampangkan cara menjual novel ke pembaca berselera romantis dan tragis.

Foto itu tak bakal ditemui lagi oleh pembaca jika membeli Anna Karennina cetak ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Cantik di sampul tiada, berganti dengan sampul merangsang tafsir tak habis. Pada empat jilid Anna Karenina edisi Indira Akademi & Sastra, pembaca justru gagal melihat foto pengarang. Foto Leo Tolstoy tak pernah ada, sengaja diabsenkan di buku. Apakah foto lelaki tua jenggotan bakal merusak ingatan pada kecantikan di sampul buku? Pembaca keranjingan sastra Rusia tentu memiliki ingatan pada foto khas Leo Tolstoy berusia tua.

Pada 1985, pembaca novel-novel terjemahan dari negeri-negeri asing masih bertemu cantik di sampul buku. Novel itu berjudul My Brilliant Carreer gubahan Miles Franklin. Novel diterjemahkan oleh TW Kamil dan editor oleh Anton Adiwiyoto. Novel edisi Indonesia diterbiktan oleh Indira atas kerjasama dengan Angus & Robertson Publishers. Di sampul, pembaca melihat perempuan cantik asal Indonesia. Novel berisi cerita perempuan asal Australia. Selisih imajinasi dipamerkan di sampul, sebelum pembaca khatam isi novel.

Siapa di sampul depan novel? Mata pembaca lekas pergi ke sampul belakang. Ia bernama Chintami Atmanegara. Foto dikerjakan oleh Gandewa Studio. Dua novel membuktikan foto garapan Gandewa Studio pantas memikat pembeli dan pembaca. Penerbit memiliki ramalan Novel-novel laris dan diperbincangkan publik asal dipasangi foto perempuan cantik, bukan foto pengarang. Di novel My Brilliant Carreer, pembaca mustahil menemukan foto Miles Franklin. Penerbit mungkin berpesan ke pembaca: “Berimajinasilah sampai jauh dan ketemu!” Urusan foto dalam penerbitan novel oleh Indira pada masa 1980-an telah memberi ketakjuban pada si cantik tapi menghilangkan hak pembaca melihat foto para pengarang. Dilema itu masa lalu, tak pernah menghasilkan demonstrasi atau tuntuntan sampai ke pengadilan. Ingatan masih tersisa adalah cantik di sampul buku.

Pada 2018, nostalgia (industri) buku ingin diulangi oleh penerbit Falcon Publishing. Pembaca harap bersabar menunggu penerbitan 3 novel romantis. Sabar diperlukan jika ingin melihat 3 perempuan cantik di sampul buku. Pada awal tahun, tabloid telah mengajak kita berpikiran enteng mengenai buku dan perempuan cantik. Kita diajak berpikiran dan berimajinasi cantik ketimbang cemberut dan mecucu melihat lakon perbukuan Indonesia mutakhir. Begitu.


Bandung Mawardi
Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara