05 Apr 2017 Arif Doelz Sosok

Johan Budhie Sava, Bapak Toko Buku Diskon Toga Mas, meninggal dunia 4 April tiga tahun yang lalu. Beliau mewariskan banyak hal dalam dunia perbukuan, termasuk pentingnya untuk selalu memiliki "mimpi" baru.

Oewangkoe seriboe

Tapine akoe brani

kasih sama sitoe

doea riboe

Koetika koerogoh

kantongkoe

Kok kedapetan

beriboe-riboe

Itoelah ilmoe

kantong bolong

kajak bilange

mamahkoe

Daleme laoet

dapat didoega

Daleme kantong

Sapa njang taoe

(Sindhunata)

 

Memang pas, apa yang ditulis Budayawan Sindhunata dalam menggambarkan sosok Johan Budhie Sava. Seorang pengusaha toko buku yang selama hidupnya banyak memberi dibandingkan meminta.

Saya sebagai salah satu orang yang pernah dekat dengan Pak Johan, juga mengamininya. Selama 10 tahun, saya sempat mencicipi kebaikannya. Sebagai pribadi, misalnya, handphone pertama saya adalah pemberian Beliau. Blackberry pertama saya juga Pak Johan yang membelikan, versi terbaru saat itu. Dan hampir barang-barang yang pernah saya miiki tapi saya tak sanggup membelinya, adalah pemberian dari Pak Johan. Beliau kalau memberikan sesuatu kepada orang lain selalu yang terbaik atau paling update.

Filosofi kantong bolongnya Pak Johan, juga terlihat pada hubungan beliau dengan karyawannya. Kepada semua karyawannya, Pak Johan sangat akrab atau tidak menjaga jarak. Gaya kepemimpinan inilah yang paling berkesan bagi saya. Beliau begitu ‘nguwongke’ karyawan, kepada semuanya tidak peduli pangkat. Seringkali jika pas waktu makan, hampir selalu mengajak karyawannya makan ramai-ramai, baik tempat makan yang sederhana maupun yang mahal sekalipun. Dan di meja yang sama. Juga ketika sedang ke dinas luar kota, jika tidur di hotel bintang lima, ya semua rombongan yang ikut juga tidur di hotel yang sama. Tas atau koper, tidak mau dibawakan karyawannya, selalu dibawa sendiri.

Karakter pribadi Pak Johan seperti itu juga mewarnai langkah-langkah kakinya dalam menjalankan usahanya. Toko bukunya dibangun dengan ‘ruh’ kebersamaan dan ‘nguwongke’ siapapun. Beliau membuka diri kepada siapapun. Baik kepada pembeli maupun kepada supplier/penerbit. Jika kebetulan Pak Johan berada di toko buku, beliau tidak segan menyapa pembeli, membantu mencarikan buku, bahkan ikut menyampul buku. Bahkan membawa tangga sendiri untuk membetulkan lampu yang mati.

Kepada supplier/penerbit, belaiu juga sangat dekat dan ramah. Semua penerbit bisa langsung mengaksesnya, nomor HP pribadi tidak disembunyikan dan diinfokan kepada semuanya. Baik kepada penerbit besar sampai penerbit kecil yang hanya punya 1 judul buku sekalipun. Baik kepada penerbit yang sumbangan omsetnya ratusan juta perbulan maupun yang tidak selalu ada omset setiap bulannya. Bagi Pak Johan, hubungan baik lebih penting dibandingkan angka-angka penjualan. Sehingga tidak heran, jika banyak penerbit dalam menjalin hubungan dengan toko bukunya, bukan didasari aspek hubungan yang melulu industrial tetapi karena aspek hubungan personal yang baik.

Tipikal hubungan toko buku dan penerbit model seperti ini lebih strategis dan langgeng. Selain karena kecil dan labilnya dunia buku di Indonesia, sehingga gampang ‘goyang’ jika ada sedikit saja perubahan. Tetapi juga karena yang diperjualbelikan di industri buku lebih unik dibandingkan dengan industri lain. Industri buku memperjualbelikan produk yang berisi gagasan dari pergulatan intelektual manusia. Jadi tidak bisa diperlakukan sama seperti komoditi-komoditi industri lainnya. Industri buku harus memperjalankan buku dengan lebih humanis. Tidak bisa hanya dilempar atau ditumpuk begitu saja di rak atau di atas kotak-kotak pajangan. Begitulah saya membacanya, semoga tidak salah.

Saya teringat pandangan Pak Johan terkait konsepsi produk buku ini. Beliau berkata bahwa kita harus memperhatikan kualitas buku yang dijual. Kita harus mempertahankan keagungan buku. Kita memang berdagang, tapi harus tetap punya idealisme. Namun harus diingat, idealisme juga harus bisa membiayai dirinya sendiri. Jika kita lupa menjaga hal-hal di atas, dunia buku bisa terancam runtuh.

Johan Budhie Sava mendirikan Toko Buku Diskon tahun 1990, di Kota Malang. Toko pertamanya ini masih menjadi satu dengan rumahnya. Ruang tamu rumah dijadikan toko. Koleksi buku-buku pertama yang dijualnya sebagian besar adalah buku-buku perguruan tinggi. Itulah mengapa beliau memberi nama tokonya TOGAMAS. Yang pernah beliau cerita ke saya, alasannya sederhana saja. Setiap sarjana yang lulus kuliah, pada saat wisuda memakai ‘Toga’. Dan kata ‘MAS’ berasal dari kata ‘emas’. Maksudnya, jika mahasiswa suka baca buku selama kuliah, maka mahasiswa tersebut akan lulus dengan baik. Ibaratnya, kalau sarjana lulus dengan baik, saat wisuda toganya warnanya emas.

Beberapa tahun setelah itu, karena Pak Johan rajin menjalin hubungan ke kampus-kampus di Malang, Togamas berkembang pesat. Toko yang di rumahnya sudah mulai sesak, baik jumlah buku maupun pengunjung. Akhirnya, Togamas pindah ke sebuah ruko yang jauh lebih luas dari toko pertama di ruang tamu rumah Pak Johan. Lalu beberapa tahun kemudian pindah lagi ke sebuah tempat yang lebih besar lagi, yang ditempati sampai sekarang.

Pada tahun 1999, tepatnya tanggal 9-9-1999, Togamas membuka cabang pertama di Yogyakarta. Tempatnya waktu itu masih di pojokan perempatan Condong Catur. Lalu terus berkembang ke kota-kota lain. Seingat saya, sampai tahun 2010, jumlah toko Togamas mencapai hampir 40 toko buku. Tersebar di kota-kota Pulau Jawa dan Bali. Baik di kota besar propinsi maupun di kota-kota kabupaten. Kalau saat ini, saya tidak tahu persis berapa jumlah tokonya, karena sejak tahun 2010, saya sudah tidak di Togamas lagi.

Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, tapi menurut saya, toko buku diskon di Indonesia yang mampu mempunyai jaringan toko buku di banyak kota, hanya Togamas. Kalau toko buku diskon jaringan tapi hanya di dalam satu kota, sudah banyak dan hampir di kota-kota besar yang jumlah sekolah dan perguruan tingginya banyak, selalu ada toko-toko diskon. Mengapa Togamas bisa berkembang seperti itu?

Saya sendiri punya pengalaman menarik setelah tidak lagi bergabung dengan Togamas. Banyak yang bertanya, apa sih strategi Togamas bisa sukses berkembang seperti itu?

Jujur saja, pada waktu itu saya kesulitan menjawabnya. Saya kesulitan menemukan kalimat instan yang pas untuk menjawabnya. Walaupun selama 10 tahun sebelumnya, saya menjadi salah satu yang terlibat dalam pengembangannya. Ibaratnya, jika Togamas adalah perguruan silat, pasti sebagai sebuah perguruan mempunyai jurus-jurus andalan atau pamungkas. Tapi saya tidak bisa mendefinisikan apa jurus andalan Togamas. Saya hanya merasa, seperti hanyut saja bersama tim manajemen Togamas, ikut ke sana ke mari bersama Pak Johan. Hari-hari kita waktu itu sebagian besar diisi ngomongin toko dan buku, termasuk saat melepas lelah seperti ngudud, ngopi, dan haha hihi.

Sekali lagi, bukan mengada-ada, saya waktu itu memang kesulitan menjawab pertanyaan di atas. Misalnya, kita ambil contoh saja tentang pilihan strategi diskon. Sepertinya semua toko kalau mau, bisa kok menjual dengan diskon. Atau kualitas SDM, sama juga. Semua orang bisa mendapatkan SDM yang baik. Atau mempunyai kelebihan pada koleksi buku yang dijual? Tidak juga. Hampir semua penerbit yang memasok buku ke Togamas juga memasok ke toko-toko yang lain. Atau karena Togamas telah menerapkan sitem TI yang baik? Juga tidak rasanya, kan semua orang juga bisa membangun sistem IT masing-masing.

Namun beberapa waktu kemudian, setelah saya renungkan beberapa kali. Mungkin, sekali lagi mungkin, dan bisa jadi salah. Saya menemukan sedikit jawabannya. Saya mulai dengan meminjam kutipan pengusaha terkemuka Indonesia Mochtar Riadi, bahwa kehebatan sebuah gunung bukan ditentukan oleh ketinggiannya, tetapi oleh raksasa yang menghuninya. Juga kehebatan sebuah samudera bukan ditentukan oleh kedalamannya, tetapi oleh naga yang menghuninya.

Pak Johan itu, setelah saya ingat-ingat, orang yang selalu mempunyai ‘mimpi’. Atau semacam vision kalau bahasa kerennya. Beliau banyak dan selalu punya mimpi-mimpi baru di dunia buku pada umumnya dan tentunya di Togamas pada khususnya. Walau tidak semua mimpinya tercapai, tapi Beliau serius dalam mengejarnya. Beliau mampu juga membuat timnya seakan-akan tidak pernah selesai berjuang. Dan yang terpenting, Beliau mampu membuat mimpinya menjadi mimpi bersama. Tidak saja bagi timnya di internal Togamas tetapi juga mimpi bagi semua yang berhubungan dengan Togamas. Seperti penulis, penerbit, atau distributor. Sehingga semuanya menjadi punya sesuatu yang dikejar di masa depan.

Bukankah semangat akan selalu terjaga jika mempunyai sesuatu yang dikejar?

Dan bukankah kehidupan yang hidup adalah milik orang-orang yang mempunyai semangat?

Dan bukankah masa depan diciptakan oleh orang-orang yang memimpikannya?

Saya mendengar kabar meninggalnya beliau, pada saat ada rapat dengan teman-teman penerbit di Jogja. Begitu kabar ini diterima, reaksi teman-teman penerbit yang sedang rapat kaget dan sejenak terdiam semua. Tentu ada rasa duka karena meninggalnya seorang teman. Namun, saya merasakan ada suasana duka yang lain, yaitu kehilangan salah satu sosok yang mempunyai visi di dunia buku. Rasanya dunia buku akan berkurang serunya, jika kehilangan satu sosok yang suka bikin ‘onar’ dengan mimpi-mimpinya.

Pada akhir-akhir ini, sempat muncul rindu juga berdiskusi dengannya. Penasaran juga berdiskusi bagaimana pendapatnya tentang perubahan-perubahan terakhir di dunia buku. Mulai fenomena e-book, masa depan penerbit inde, masa depan toko buku luring, merebaknya toko buku daring, teknologi produksi POD, dan kira-kira keseimbangan apa akan yang terjadi. Rindu diskusi dan mendengarkan ide-ide gilanya. Dan pasti sambil menghabiskan banyak cangkir kopi di sela pekatnya asap udud.

Si Pendekar Petroek Kantong Bolong, meninggal dunia 3 tahun lalu, pada Hari Jum’at tanggal 4 April 2014, di Kota Malang. Kabarnya karena sakit. Banyak yang kaget karena Pak Johan tidak pernah menceritakan kepada banyak orang tentang sakit yang dideritanya.

dan kubiarkan

pelupuk jiwaku

membasah

di setiap hari ulang tahunku

(Arif Doelz – 4/4/14)


Arif Doelz
Arif Doelz adalah konsultan toko buku. Salah satu penggagas Kampung Buku Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara