Gabriel Garcia Marquez melalui “para peziarah”-nya berkisah tentang pertemuan kebudayaan yang gagap, melahirkan campuran antara komedi dan tragedi: tragi-komedi.

DENGAN nama besar Gabo (Gabriel Garcia Márquez), bukan kejutan jika cerita bermodel realisme magis-lah yang kita temukan dalam Para Peziarah yang Aneh ini. Sebuah buku berisi duabelas cerpen yang kesemuanya mengisahkan persentuhan manusia Amerika Latin—sebagai keturunan kolonialis—dengan tanah moyangnya: Eropa.

Tentang mengapa diberi judul “peziarah”, Gabo menceritakannya  di bagian prolog buku ini. Ia bermimpi menghadiri pemakamannya sendiri dan merasa senang teman-temannya berkumpul. Ketika teman-temannya pulang, ia sendirian dan tidak bisa pergi, “Kamu satu-satunya yang tidak bisa pergi,” kata temannya. Gabo sendiri berpikir kalau mimpi itu adalah titik awalnya untuk menulis hal-hal ganjil yang dialami orang-orang Amerika Latin di Eropa. Mimpi itu sendiri menjadi ide cerita yang sayangnya, diputuskan untuk dibuang ke keranjang sampah.

Dari titik awal yang begitu ganjil dan penuh bayang-bayang keterasingan, bisa ditebak macam apakah keduabelas cerita yang selesai ditulis. Ini duabelas cerita dengan tema dan gaya tutur yang sama. Efeknya, keduabelas cerita pendek dalam buku ini seakan bukanlah cerita yang masing-masing berdiri sendiri dengan tegas. Pembaca, sejak halaman pertama, menjumpai subjek demi subjek dalam realitas yang begitu mirip, cuma berlainan peristiwa saja. Ketika membacanya, kita seperti masuk lorong dengan kamar-kamar bercat sama yang diisi masing-masing penghuni. Dan dari kamar-kamar itu kita mendapati dua hal yang paling kuat bercokol di kepala: keberjarakan dan keterasingan.

Cerpen pertama dalam buku ini adalah “Bon Voyage, Tuan Presiden”. Sebuah cerita tentang seorang presiden dari Karibia yang menjadi eksil di Jenewa, Swiss. Di sana, ia bertemu sopir ambulans yang sebangsa dengannya dan sama-sama sebagai eksil. Istri sopir ambulans itu, memiliki prasangka bahwa Presiden adalah seorang eksil korup yang kaya. Mereka ingin menjual jasa pemakaman kepada sang presiden, sebelum menemukan fakta bahwa presiden hanyalah seorang tua miskin yang sakit-sakitan. Cerpen ini mengisahkan tarik-ulur antara pamrih dan keikhlasan. Tentang bagaimana sepasang miskin melepas pamrih mereka atas materi sebab perlahan-lahan digerus simpati.

Sedangkan cerpen kedua, “Orang Suci”, adalah kisah tentang perjuangan gigih seorang ayah, Margarito Duarte. Ia pergi dari desanya di dataran tinggi Andes, Kolombia ke Roma hendak menemui Sri Paus untuk proses kanonisasi putrinya. Putrinya adalah jenazah yang “seperti seorang gadis kecil berpakaian pengantin yang masih tertidur”, jasadnya utuh setelah sebelas tahun kematian.

Di Roma, Margarito Duarte begitu kesulitan menemui Sri Paus sebab birokrasi dan kendala-kendala insidental. Meski begitu ia pantang menyerah, demi kanonisasi putrinya ia menetap di Roma sampai 22 tahun. Kisah ini merupakan kegagalan pemahaman yang miris antara Vatikan dengan segenap perangkat birokratisnya terhadap Margarito Duarte. Keberjarakan tak terjembatani antara Margarito Duarte dan Gereja Vatikan membikin kegagalan pemahaman tersebut.

Kisah hampir sama terdapat dalam cerpen “Tujuh Belas Orang Inggris Tewas Keracunan”. Cerpen ini mengisahkan seorang tua bernama Prudencia Linero yang pergi ke Italia. Ia pergi jauh dari rumahnya di Riohacha, dengan mengenakan pakaian St. Fransiskus, untuk melakukan pengakuan dosa kepada Sri Paus. Setibanya di Napoli, ia malah menjumpai realitas asing yang membuatnya ngeri. Napoli, sebuah kota pelabuhan pasca-perang, seolah jadi ujian pertamanya dalam perjalanan ziarah. Prudencia Linero, seorang tua yang saleh, gagal memahami realitas Napoli yang menyeretnya pada kondisi tertekan dan kesepian. Bahkan spiritualitas khas Karibia-nya pun tak mampu menyelamatkannya dari teror—yang ia ciptakan sendiri, tanpa sengaja. Apa yang dihadapi Prudencia Linero terangkum secara simbolik dan paralel dalam perkataan kelasi kapal kepadanya,

“Tak ada gunanya kamu terus berdoa, .... Bahkan Tuhan pun pergi berlibur di bulan Agustus.”

Dalam bagian prolog pula, Gabo mengatakan kalau sebagian cerpen dalam antologi ini berdasarkan fakta-fakta jurnalistik. Dan kita bisa menemukan fakta-fakta tersebut dalam cerpen “Maria dos Prazeres”. Sebuah cerpen tentang bekas pelacur tua yang mempersiapkan pemakamannya sendiri, setelah mendapat mimpi yang ia tafsir sebagai alamat kematiannya. Cerpen ini memuat paling banyak referensi historis, yang mungkin dimaksud Gabo dengan “fakta-fakta jurnalistik” tadi. Di sini kita bisa menemukan prakondisi kisah tentang sejarah Perang Saudara Spanyol beserta para pelakunya.

Maria dos Prazeres, sang tokoh utama yang namanya dijadikan judul, adalah seorang Brazil yang dijual ibunya kepada pelaut Turki, sebelum terdampar di Barcelona dan menjadi pelacur. Ia tumbuh dewasa dengan menjadi saksi gejolak politik Katalunya, antara pemberontak Katalan dan rezim Kastilia yang menguasai Spanyol. Kepada gerakan anarkis, ia simpatik sampai hari tuanya. Seperti orang lain, yang simpatik pada perjuangan Katalunya, ia mengidolakan Buenaventura Durruti, seorang anarko-sindikalis yang ikut memimpin gerakan melawan Kastilia. Pemerintah Spanyol, karena alasan politis, memasang nisan tak bernama pada makam Durruti di Montjuich.

Nah, oleh simpatisan Katalunya, nisan Durruti terus ditulis-nama untuk mengenangnya, sebelum petugas pemakaman menghapusnya seperti mula. Maria dos Prazeres pun suka berbuat demikian—suatu tindakan yang membuatnya menyadari salah tafsir atas mimpi-mimpinya. Dalam cerpen ini pula, hubungan masa tua Maria dos Prazeres dengan seorang pangeran dari Cardona juga menarik disimak. Relasi antara kelas sosial yang jauh beda, dibumbui alam-pikir khas lansia, membikin dua tokoh ini saling membutuhkan dalam hubungan yang ganjil.

Menarik untuk menilik bagaimana subjek-subjek Amerika Latin dalam antologi ini mengatasi keberjarakannya dengan konteks tempat (Eropa). Seperti dalam cerpen “Kujual Mimpi-Mimpiku”. Tentang Frau Frieda, seorang Kolombia yang dianugerahi tafsir presisi atas mimpi-mimpinya. Frau Frieda menjual mitosnya di Eropa, pertama-tama pada sebuah keluarga di Wina, di tengah masyarakat yang mahsyur rasional. Bagaimanapun, mau seberapa rasional, mereka takluk dengan mitos Frau Frieda yang akhirnya berhasil mewarisi kekayaan keluarga tersebut. Dalam cerpen ini, kita melihat kemenangan mitos atas rasionalitas.

Sebaliknya, dalam cerpen “Tramontana”, kita bakal melihat kegagalan seorang pengiman mitos berinteraksi dengan manusia rasional. Dalam cerpen tersebut, seorang Karibia dengan mitosnya gagal mengatasi kegagalpahaman sekelompok rasionalis Swedia. Orang Karibia itu pun berakhir tragis bersama mitosnya.

Namun, kegagalpahaman paling miris terdapat dalam cerpen “’Aku Datang Hanya untuk Memakai Telepon”. Cerpen ini berkisah tentang Maria de la Luz Cervantes, seorang Meksiko yang tinggal di Zaragoza, kemudian raib dalam perjalanannya ke Barcelona. Ia raib bukan oleh peristiwa gaib, ia sekadar menumpang bus untuk mencari telepon. Bus itu mengantarnya pada sebuah rumah sakit jiwa, dan sebab beberapa kesalahpahaman kecil, Maria gagal menunaikan maksudnya.

Antologi ini ditutup dengan cerpen “Jejak Darahmu di Salju”. Barangkali kisah paling berlebihan dalam antologi ini: seorang istri yang mati kehabisan darah karena tertusuk duri mawar. Namun inti ceritanya bukanlah di situ. Inti cerita ini berkisar pada suaminya, seorang Kolombia yang terasing di Prancis. Suami-istri itu terpisah sejak sang istri dirawat inap di rumah sakit. Si suami, karena peraturan, harus rela menanti seminggu untuk membesuk. Selama itu, si suami berusaha mencari informasi tentang istrinya yang dirawat di rumah sakit, tapi tak berbuah hasil sedikitpun. Serasa dunia meninggalkannya, meski ironisnya, keberadaannya sedang dalam pencarian berskala nasional.

Selain cerpen-cerpen di atas, ada beberapa cerpen dengan dimensi cerita yang tak jauh beda, seperti “Putri Tidur dan Pesawat Terbang”, “Hantu Bulan Agustus”, “Kebahagiaan Musim Panas Nona Forbes”, dan “Cahaya Laksana Air”. Memanglah masing-masing cerita membawakan subjek dan persitiwanya sendiri. Tetapi, seperti lorong sebuah gedung, rasanya mereka ada dalam dimensi yang sama.

Benang merah dalam cerita ini adalah keberjarakan dan keterasingan subjek Amerika Latin dengan Eropa—tempat serta orang-orangnya. Masing-masing subjek menyikapi keberjarakan itu dengan caranya sendiri, meski penyikapan mereka terikat oleh peristiwa masing-masing pula. Sebagian berhasil mengatasi, sebagian lain sekadar digagalpahami lantas bernasib buruk.

Dalam buku ini, yang kesemua ceritanya berkisar pada kesenjangan subjek dengan latar, kita menemui beragam kasus kegagalan interaksi, kegagalan memahami suatu lingkungan sosial—atau sebaliknya, kegagalpahaman atas subjek. Ketika membaca buku ini, saya teringat tesis Linda Christanty atas cerpen “Murjangkung” karya A.S. Laksana: “masalah terbesar umat manusia berawal dari kegagalan komunikasi yang membuat mereka tidak mampu untuk saling berempati”.


Ikhsan Abdul Hakim
Mahasiswa UNY
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara