12 May 2017 Adhe Teras Penerbit

Yogya dan penerbitan buku adalah dua hal yang nampaknya "satu zat satu urat", sejak dulu. Jika diamati, polanya juga bahkan berulang dulu dan kini: ada banyak penerbit yang lahir dari sebermula penjual buku.

PADA SUATU hari di tahun 1990-an, seorang laki-laki pedagang buku dari Shopping Center, Yogyakarta, tiba di Solo untuk belanja buku ke rumah-rumah penerbitan. Di sana ia melihat rumah-rumah megah milik bos-bos penerbit. Sejak itu pula ia bermaksud menjadi penerbit buku.

Laki-laki itu bernama Mas’ud Chasan. Sekarang banyak orang mengenal Pak Ud atau Cak Ud sebagai pemilik grup penerbit Pustaka Pelajar, percetakan, dan distributor serta jaringan toko buku Social Agency.

Mas’ud memulainya pada 1980-an sebagai remaja penjaga kios buku, lantas menjadi pemilik kios buku di komplek buku di samping pasar sayur-mayur di belakang Pasar Beringharjo. Pengalamannya dengan model perniagaan buku ala Shopping membuatnya enggan mengikuti gaya pemasaran ritel modern. Alih-alih menyuplai produknya ke jaringan toko buku Gramedia dengan segala aturan dan mekanisme korporat, dia justru membangun jaringannya sendiri melalui Social Agency.

Nama Social Agency itu mirip dengan nama agen-agen koran yang ada di pelbagai tempat. Kita juga bisa mengartikannya sebagai “agen sosial” atau agen perubahan sosial atau agen ilmu-ilmu sosial. Tafsiran itu terasa luas dan unik untuk sebuah gerai penjualan buku yang awalnya berbasis di komplek buku tradisional. Entah apa makna sebenarnya dari nama itu. Yang jelas, sekarang Toko Buku Social Agency berada di tujuh titik di Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta: Taman Pintar, Ambarrukmo, Sagan, Glagahsari, Jalan Kaliurang, Jalan Godean, Jalan Parangtritis.

Setelah Social Agency, Mas’ud mendirikan penerbit Pustaka Pelajar. Latar belakangnya sebagai pedagang buku turut memengaruhi cara dia menjalankan bisnis penerbitannya. Ia sadar bahwa keuntungan sebagai penerbit buku itu lebih besar daripada keuntungan sebagai penyalur dan pedagang buku milik penerbit-penerbit lain. Ia juga akan mampu mengendalikan terbitan-terbitannya sendiri.

Hal serupa tampak pada sosok Fanani, adik kandung Mas’ud. Fanani mendirikan Absolut, penerbit buku-buku panduan, buku agama, dan buku motivasi. Merasa tidak berkembang, ia lantas banting setir menjadi pengepul buku-buku retur milik para penerbit. Sekarang dia adalah bos Raja Murah, pengepul besar buku retur yang skala usahanya menurut saya lebih besar dibanding Yusuf Agency.

Tidak ada hal unik yang menjadi landasan Mas’ud (Pustaka Pelajar/Social Agency) dan Fanani (Absolut/Raja Murah) dalam memilih buku yang diterbitkan dan dijual selain melulu alasan bisnis buku. Pustaka Pelajar yang beralamat di Glagahsari, Umbulharjo, lahir hanya dua tahun setelah Penerbit Bentang dan di tahun yang sama dengan kelahiran Bentang Budaya serta LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial). Dua penerbit yang disebut belakangan kerap digolongkan sebagai “penerbit alternatif”, namun tidak demikian dengan Pustaka Pelajar karena penerbit ini, seperti dikatakan oleh Buldanul Khuri, “menerbitkan buku apapun demi mendapatkan keuntungan”. Hal ini mirip dengan Raja Murah yang membeli buku retur dari jenis apapun dan menjualnya di banyak wilayah.

Tapi, di samping kisah tentang Mas’ud dan Fanani, yang bisa disebut “pebisnis tipe Shopping”, pusat buku di sisi Benteng Vredeburg memang melahirkan dua jenis produsen buku: pembajak buku dan penerbit buku. Di sana ada banyak buku yang dijual, termasuk buku-buku bajakan. Suplainya bisa dari mana saja, termasuk dari salah satu teman saya yang entah kenapa dia beralih dari penerbit buku menjadi pembajak buku. Selain itu buku-buku bajakan juga bisa dibikin oleh oknum-oknum pedagang buku. Ah, biarlah kisah semacam itu kita bahas di lain waktu saja.

Taman Pintar adalah rahim penerbit buku yang embrionya adalah pedagang buku. Mas’ud mendirikan Pustaka Pelajar pada 1994. Pada awal era 2000-an Ashad Kusuma Djaya mendirikan Kreasi Wacana. Lantas pada 2010 Hafni melahirkan Pura Pustaka, disusul oleh Cakrawangsa yang didirikan oleh Muhammad Ashar Rahmat Wahyudi pada 2015.

Sebelum mendirikan penerbitan, Ashad bekerja sebagai editor di Pustaka Pelajar. Ia lantas membentuk LKPM (Lembaga Konsultasi Penerbitan Masyarakat) dan Kreasi Wacana. Ia juga memiliki Toko Buku Empat-K di komplek pedagang buku di Terban. 

Hafni adalah pengelola Toko Buku Social Agency di era Shopping Center. Selepas relokasi pedagang buku dan renovasi komplek Taman Pintar pada 2005, “murid langsung” Mas’ud ini mendirikan sendiri bisnisnya, yaitu Toko Buku Bangkit. Beberapa tahun kemudian ia mendirikan penerbit Pura Pustaka.

Pada 2015, Ashar menyusul Mas’ud, Ashad, dan Hafni. Ia, mengikuti jejak Ashad sang kakak, mendirikan penerbit Cakrawangsa. Pada saat yang sama ia tetap mengelola kios bukunya di Taman Pintar, yaitu Toko Buku Empat Putra. 

Penerbit-penerbit dari Taman Pintar itu memiliki kekhasan dalam pola pemasaran buku-buku mereka. Social Agency menjadi sumbu penyambung titik-titik distribusi mereka. Jauh sebelum anak-anak muda era digital berderet dalam barisan yang disebut “penerbit indie”, Pustaka Pelajar dan Kreasi Wacana sudah membangun jaringan distribusi alternatif. Buku-buku mereka nyaris tidak dapat kita temukan di Gramedia karena lebih banyak tersedia di Toko Buku Social Agency, Taman Pintar, dan toko-toko buku tradisional di dalam maupun luar kota. Mereka juga termasuk malas ikut acara-acara pameran buku karena mereka setiap hari berpameran di gerai-gerai yang disebut di muka.

Pustaka Pelajar, Kreasi Wacana, dan Pura Pustaka menerbitkan buku dengan tema-tema yang variatif. Anda bisa memeriksa terbitan-terbitan mereka melalui mesin pencari di dunia maya. Cara tersebut mereka lakukan karena mereka berasal dari lingkungan Shopping Center, komplek perniagaan buku yang harus menyediakan pelbagai jenis buku supaya konsumen dapat memiliki banyak pilihan. Bahkan ketiga penerbit itu tahu betul buku-buku yang tergolong laris di Taman Pintar sehingga mereka pun akan menerbitkan buku semacam itu. Mungkin inilah yang menjadikan mereka sebagai penerbit yang punya “radar pasar” dan membuat mereka mampu lebih bertahan dibanding generasi “penerbit alternatif” yang marak di Yogyakarta pada akhir era 1990-an dan awal era 2000-an.

Hal yang agak berbeda tampak pada Cakrawangsa. Mungkin karena Ashar menggabungkan pengaruh Mas’ud dan Ashad. Ia ingin berbisnis buku seperti Mas’ud, tapi ia juga terpengaruh oleh pilihan tema “buku wacana” ala Kreasi Wacana yang dihela Ashad, sang kakak yang dulu aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Ashar juga memulai penerbitannya di era perniagaan daring. Ia bergaul dengan penerbit-penerbit muda, turut menjualkan buku-buku mereka, dan kerap berdiskusi dengan para pegiat komunitas literasi. Ia menerbitkan buku-buku “kiri”, menempuh pola produksi yang berisiko minimum (cetak terbatas), dan menggunakan jalur alternatif pemasaran (daring dan jaringan komunitas). Ia seperti mewarisi pilihan tema penerbit-penerbit era Reformasi 1998 lalu mengedarkannya dengan mengombinasikan gaya “pemasaran ala Shopping” dan perniagaan daring.

Saya pikir contoh mutakhir penerbit dari sisi Benteng Vredeburg adalah Cakrawangsa. Pustaka Pelajar sudah sejak lama menemukan pola terbaiknya di industri buku mainstream: menerbitkan pelbagai tema, melayani jasa produksi, mengembangkan jaringan distribusi mandiri, memasok buku-buku ke perpustakaan-perpustakaan melalui proyek-proyek pengadaan buku. Kreasi Wacana dan Pura Pustaka melakukan hal yang mirip dengan Pustaka Pelajar walau dalam tingkat yang lebih kecil. Sedangkan Cakrawangsa lebih tampak sebagai “penerbit indie” yang menerbitkan buku-buku bertema “berat”, mencetaknya dalam jumlah sedikit, menjualnya di dunia maya dan jaringan luring non-Gramedia, serta mengerjakan semuanya dalam model kerja serba outsourcing sebagaimana umumnya penerbit kecil di Yogyakarta.

Hal-hal yang tampak unik dari penerbit-penerbit di Taman Pintar itu tetap berlangsung hingga saat ini. Pustaka Pelajar dan Kreasi Wacana mampu bertahan ketika sudah sejak lama barisan “penerbit alternatif” angkatan Bentang Budaya menutup rumah-rumah penerbitan mereka. Pura Pustaka tetap berjalan walau produktivitasnya tidak sebanyak penerbit-penerbit lain di kota ini. Begitu juga Cakrawangsa yang jumlah terbitannya masih lebih sedikit dibanding penerbit-penerbit muda yang seumuran dengannya.

Tapi, terlihat unik saja tidak menarik. Yang mereka lakukan itu melulu tindakan memutar roda: bikin-jual-bikin-jual. Saya tak melihat adanya upaya mereka untuk secara terencana mengenalkan wacana dan konten terbitan kepada publik. Mereka sangat jarang mengenalkan produknya dalam kemasan sosialisasi yang massif. Mereka belum menjadikan internet sebagai sarana kampanye produk dan pengenalan konten terbitan. Mungkin dalam hal-hal inilah mereka masih menunjukkan “karakter Shopping”: “pembeli buku akan datang sendiri ke pelukan kami”.

Taman Pintar adalah bagian tak terpisahkan dari pergerakan buku di Yogyakarta. Banyak penerbit dari pelbagai generasi yang tumbuh dan berkembang karena pengaruh buku-buku yang menumpuk di kawasan dekat Malioboro itu. Sebaliknya, tumbuhnya rumah-rumah penerbitan di sudut-sudut kota juga mendorong lahirnya Pustaka Pelajar, Kreasi Wacana, Pura Pustaka, dan Cakrawangsa.

Penerbit buku yang berasal dari pedagang buku di era Shopping Center dulu atau Taman Pintar sekarang itu mirip dengan penerbit-penerbit indie mutakhir yang berasal dari penjual-penjual buku di dunia maya. Mungkin yang membedakan adalah pilihan tema terbitan dan cara memasarkan produk mereka. Tapi, perbedaan-perbedaan landasan dan strategi setiap penerbit adalah kelumrahan.

Penerbit-penerbit yang lahir dari sisi benteng itu terus bekerja dengan caranya sendiri. Mereka lebih keren dibanding para pembajak buku dan penjual buku bajakan yang sehari-hari juga hidup dan bekerja berdampingan dengan mereka di Taman Pintar.


Adhe
Adhe adalah salah satu tokoh perbukuan Jogja. Penulis buku Declare, dan saat ini berdiri di balik penerbit Octopus.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara