Panjebar Semangat. Majalah, Penerbit, lalu pernah memiliki ide kreatif dalam beriklan buku: beriklan sambil mengobarkan semangat.

PANJEBAR SEMANGAT merupakan majalah berbahasa Jawa yang usianya terhitung sudah uzur. Jarang sekali media di negeri ini yang bertahan melampaui zaman seperti Panjebar Semangat.

Menurut penulis Rizky Sekar A, di dalam tulisannya “Menyebarkan Semangat Hingga Akhir Zaman”, Soetomo memprakarsai media ini di paviliun timur Gedung Nasional Indonesia, Bubutan, Surabaya pada 2 September 1933.

Media yang berpusat di Surabaya dan terbit mingguan ini mulai menggunakan format majalah pada 1941. Awalnya, menurut Rizky Sekar, berbentuk lembaran koran saja. Isinya perihal kalimat agitatif, seruan perjuangan.

Namun, informasi berbeda disampaikan Sapardi Djoko Damono di dalam bukunya, Novel Jawa Tahun 1950-an; Telaah Fungsi Isi, dan Struktur.

Sapardi menulis, Panjebar Semangat merupakan sebuah media pecahan dari mingguan Soeara Oemoem, yang terbit kali pertama pada 1931. Soeara Oemoem merupakan gabungan dua majalah, Soeloeh Rakjat Indonesia dan Soeara Oemoem.

Lebih lanjut, Sapardi menerangkan, mingguan ini berisi berita dan karangan berbahasa Indonesia dan Jawa. Bagian yang berbahasa Jawa ditujukan untuk bacaan rakyat di desa-desa yang berpendidikan rendah. Seiring waktu, tepatnya pada 1933, edisi bahasa Jawa tersebut berdiri sendiri dengan nama Panjebar Semangat.

Awalnya, Panjebar Semangat yang menggunakan bahasa Jawa ngoko ini berbentuk lembaran. Pada 1935 baru berbentuk jilid. Majalah ini, sesuai dengan namanya, tak hanya menjual berita, tetapi juga hendak ikut menebar gagasan baru. Menurut Sapardi, hal itu sejalan dengan sumbernya, yakni Indonesische Studiesclub, yang didirikan Dr. Soetomo pada 1924.

Pada 2013, bertepatan dengan usianya yang ke-80, Panjebar Semangat mendapatkan hadiah istimewa. Sebuah catatan rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI), sebagai majalah berbahasa Jawa tertua di Indonesia (Tempo, 3 September 2013). September nanti, berarti usia majalah ini 85 tahun. Luar biasa.

Dari perjalanan sejarahnya yang panjang itu, Panjebar Semangat beruntung. Mereka memiliki pembaca dan penulis yang setia berkarya. Banyak pula tokoh-tokoh terkemuka yang terpengaruh majalah mingguan ini.

Salah satunya Sapardi Djoko Damono. Penyair yang sudah sepuh itu sangat menggemari Panjebar Semangat. “Tiap majalah Panjebar Semangat datang, kami sekeluarga berebut untuk membaca cerita pendek anak-anak yang dimuat di suplemen itu,” kata Sapardi di dalam buku Inspiring Stories; 30 Kisah Para Tokoh Beken yang Menggugah karya Ahmadun Yosi Herfanda dan Irwan Kelana.

Menurut Rizky Sekar, Bung Karno pernah menuliskan harapannya untuk media ini saat ulang tahun ke-20. “Kabeh madjalah kang mbijantu marang perdjoangan nasional gedhe gunane. Ta’ dongakake muga-muga Panjebar Semangat lestari mbijantu perdjoangan kita ini” (Semua majalah yang membantu perjuangan nasional besar jasanya. Saya doakan semoga Panjebar Semangat terus membantu perjuangan kita ini).

*

Pada 1950an—dan mungkin sebelum itu—banyak penerbit buku bermunculan. Panjebar Semangat pun menjadi salah satu pengedar bacaan untuk masyarakat. Selain Panjebar Semangat, ada sejumlah penerbit asal Surabaya yang eksis, di antaranya UP Kusuma, Ksatrya, Pustaka Nasional, Marpiah, Tangkai Seruni Press, Tjantik, dan Usaha Modern.

Menurut Sapardi, masih di dalam bukunya Novel Jawa Tahun 1950-an, Panjebar Semangat mengeluarkan seri terbitan, tapi bukan karya sastra. Seri Bacaan Rakyat menerbitkan riwayat para tokoh.

Ada usaha menerbitkan novel Jawa, tapi hanya terbatas dua novel detektif karya pengarang Any Asmara. Sapardi melihat, sebagai penerbit yang sudah berpengalaman dalam hal distribusi, rupanya Panjebar Semangat menyadari bahwa penerbitan buku novel tak bisa diharapkan memberi keuntungan. Lantas, mereka hanya menjadi agen penjualan novel-novel Jawa terbitan Balai Pustaka.

Penerbit-penerbit buku itu, gencar mengiklankan buku-buku terbitan mereka di majalah-majalah. Namun, alih-alih hanya memberikan informasi seputar harga dan ulasan buku, Panjebar Semangat memiliki strategi iklan yang agak berbeda: mereka beriklan, sembari mengobarkan semangat.

Bagaimana bisa?

Iklan di dalam majalah Terang Bulan edisi Januari 1956 misalnya. Di dalam iklan tersebut, terpampang ilustrasi seorang tokoh berpeci sedang tersenyum. Sepintas lalu, orang sudah bisa menebak, itu ilustrasi wajah Bung Karno. Lalu, apa yang membedakan iklan bagian penerbitan buku Panjebar Semangat dengan iklan-iklan dari penerbit asal Surabaya lainnya?

Ada kalimat yang menggugah. Iklan tersebut mengutip pidato Sukarno saat di Cirebon, sebelum terbitnya iklan itu.

“MUSNAKANLAH MUSUH JANG TERBESAR!”

Kalimat tersebut disematkan di bagian paling atas iklan. Seolah menggiring pembaca untuk lebih ingin tahu apa isi dari iklan itu.

Kemudian, kutipan Bung Karno disematkan di bawah kalimat tadi.

“Imperialisme adalah musuh besar. Tetapi musuh jang paling besar adalah ‘rasa ketjil’ jang tertanam didalam dada kita sendiri.”

Kata “rasa ketjil” (baca: rasa kecil), dibuat agak menonjol. Diberi tanda petik, dan menjadi poin penting kutipan pidato Bung Karno itu. Lantas, dilanjutkan dengan kalimat penegasan, yang diarahkan untuk berjualan buku.

“UNTUK MEMBERANTAS PENJAKIT ‘RASA KETJIL’ ITU BATJALAH DAN TELAAHLAH BUKU: Pertjaja Diri Sendiri.”

Ya, mereka menjual sebuah buku berjudul Pertjaja Diri Sendiri. Mungkin buku ini merupakan sebuah buku motivasi. Kemudian, ditambah kelebihan buku itu, dengan kalimat, “buku jang sangat bermanfaat bagi perkembangan djiwa tiap pembatja.” Dengan harga Rp3.50.

Barangkali, terbitan iklan tadi hanya sebagai strategi yang tak akan dipakai terus-menerus. Di dalam Terang Bulan edisi Agustus 1956, mereka beriklan sesuai format biasa—seperti yang dilakukan penerbit-penerbit buku lain. Ada sedikit ulasan, nama penulis, dan informasi harga.

Ada tiga buku yang diiklankan di Terang Bulan edisi Agustus 1956, yakni Pendidikan sebelum Lahir karya Moch Sajid, Ramah Tamah, dan Pertjaja Diri Sendiri.

Menariknya, mereka menginformasikan bahwa buku Pertjaja Diri Sendiri digemari masyarakat. Dalam tempo tiga bulan, buku ini sudah dicetak 6.000 eksemplar. Harganya pun naik, menjadi Rp4.

Apakah lakunya buku Pertjaja Diri Sendiri karena iklan “provokatif” dengan kutipan pidato Bung Karno pada awal 1956 tadi? Bisa jadi begitu.

Seiring waktu, Panjebar Semangat menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi. Mereka kini memiliki situs resmi panjebarsemangat.co.id. Saya tak tahu apakah penerbitan buku mereka masih eksis hingga kini. Namun, yang jelas, strategi iklan seperti yang dipraktikkannya itu perlu ditiru. Penerbit harus pandai-pandai menyematkan sebuah kutipan, yang tentu berhubungan dengan bukunya.

Menapaki sejarah yang panjang, Panjebar Semangat benar-benar sudah menebar kebaikan dari generasi ke generasi. Mereka berhasil mengatasi rintangan demi rintangan.

Seperti motonya, Sura Dira Djayaningrat Lebur Dening Pangastuti. “Segala kekuatan negatif yang ada di dalam masyarakat, bisa ditaklukkan dengan kebaikan”.


Fandy Hutari
Penulis dan peneliti sejarah. Berminat pada kajian sejarah film dan teater. Bermukim di Jakarta. Merawat blog www.fandyhutari.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara