Rafael Chirbes (1949-2015) merilis novel pertamanya, Mimoun, pada tahun 1988. Novel yang pendek tapi memikat dengan deskripsi yang kuat dan karakter-karakter yang unik.

JIKA dalam risalah pendeknya, The Function of Criticism, Terry Eagleton menyinggung peran warung kopi sebagai salah satu “ruang publik” yang kemudian ikut melahirkan kritik sastra Eropa Modern, maka dalam novel Mimoun kita akan menemukan warung kopi sebagai sebuah tempat yang kemudian tak disukai Manuel, tokoh protagonis, karena satu sebab yang sederhana: segala pembicaraan di sana "selalu terkait dengan uang".

Begitulah, uang—atau kebutuhan akan uang—memang menjadi salah satu penggerak beberapa adegan dalam Mimoun dari awal sampai akhir. Uang, di awal kisah misalnya menjadi satu-satunya alasan para pengajar Universitas Fez untuk tetap tinggal supaya nanti bisa pergi saat mereka sudah memiliki cukup tabungan, uang jugalah yang di akhir kisah memantik perubahan pandangan Fransisco terhadap Charpent setelah yang terakhir ini meninggal: obsesinya untuk mendapatkan uang gaji Charpent membawa pada klimaks cerita.

Mimoun adalah novel pertama karangan Rafael Chirbes, seorang sastrawan kelahiran Spanyol yang meninggal pada 15 Agustus 2015. Novel ini terbit pertama kali pada tahun 1988, menyabet posisi finalis Herralde de Novela pada tahun yang sama, dan dianggap sebagai karya terpenting dalam kiprah Chirbes di dunia kesusasteraan Spanyol.

Novel ini pun kemudian menjadi novelnya yang pertama diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan semoga bukan satu-satunya: masih ada 8 novelnya yang lain yang tersisa, dua di antaranya memenangkan Premio de la Critica de narrativa castellana pada tahun 2007 dan 2013. Karena merupakan terjemahan pertama novelnya, maka cukup dimaklumi pengenalan sosok Chirbes ini terlebih dahulu sangat penting, hal yang dilakukan sangat bagus oleh penerbit Kentja dengan mencantumkan biodata yang tak terlalu singkat dalam versi terjemahannya.

Apa boleh buat, kita tak akan menemukan nama sastrawan ini dalam Ensiklopedi Sastra Dunia-nya Anton Kurnia yang biasanya lumayan lengkap, sementara referensi daring di wikipedia berbahasa Inggris sekalipun hanya mencantumkan satu paragraf singkat penjelasan tentang sosoknya dan karya-karyanya.

Adalah sebuah kelaziman selama ini bahwa ulasan karya terjemah terpusat pada semacam perbandingan antara teks sumber dan teks sasaran. Hal itu tidaklah mudah dilakukan untuk novel ini karena satu sebab: novel ini diterjemahkan langsung dari bahasa Spanyol, tidak melalui jembatan terjemahan Inggris sebagaimana kerap kali dilakukan para penerjemah kita.

Apa yang lazim tentu saja tidak berarti sama dengan apa yang musti. Sebuah terjemahan karya sastra juga bisa dipandang sebagai sebuah upaya mengakrabkan teks yang asing menjadi bagian dari khazanah teks bahasa sasaran.

Bertolak dari pandangan itulah ulasan singkat ini dimaksudkan: sebuah ulasan yang mengandaikan Rafael Chirbes sebagai penulis lokal yang menulis sebuah novel berjudul Mimoun. Sisanya adalah resepsi seorang pembaca seputar pelbagai aspek intrinsik Mimoun sebagai sebuah karya fiksi, sebagai sebuah novel.

*

“Fez, minggu pertama bulan September, terasing, kotor, nun jauh di dataran yang berlatar semak belukar kering.” Demikianlah novel ini mengenalkan latarnya pertama-tama. Tapi Fez bukanlah latar yang akan menjadi pusat perhatian kita saat membaca setiap halaman novel ini, melainkan Mimoun.

Fez, sebagaimana dikatakan oleh tokoh protagonis yang setelah mencapai halaman 28 baru kita ketahui bernama Manuel, "adalah kota terindah di dunia", meski dia tak bisa menjelaskan alasannya. Sementara Mimoun adalah sebuah kota kecil yang semestinya tak membuatnya kerasan, tapi kota itulah yang membuatnya memutuskan pindah ke sana pada musim gugur. Dan di sanalah pelbagai peristiwa terjadi membentuk novel ini.

Mengikuti peristiwa demi peristiwa itu kita mungkin lama kemudian baru—atau mungkin tetap tidak—memahami sebenarnya apa yang dituju oleh novel ini. Novel ini bukanlah novel yang mudah ditangkap pesannya, kalaupun ada, ia hanya berjalan dengan ritme yang tak terlalu cepat sekaligus tak terlalu pelan, dan kita akan mudah terpikat mengikuti perjalanan itu dengan benak dipenuhi oleh rasa penasaran.

Rasa penasaran itu timbul sebagian karena kehadiran Manuel, tokoh protagonis, lengkap dengan kehadiran para tokoh pendukung yang tak lazim: Fransisco yang sifatnya berubah-ubah, Hassan yang misterius dan ternyata terlibat afair dengan seorang wanita, Charpent sang penyair yang mencoba bertahan di dunia yang sangat berbeda dengan kampung halamannya.

Tapi Manuel sendiri pun bukan sosok yang mudah dipahami. Kehadirannya sebagai orang asing, pendatang yang mengajar bahasa Spanyol di Universitas Fez, membuatnya selalu mencoba beradaptasi dengan berbagai hal di dunianya yang baru, dan itu bukannya tanpa pengorbanan. Bukan sekali saja dia misalnya tertipu hanya karena dia terlalu baik untuk menolak membantu kenalannya yang membutuhkan. Proses adaptasi setengah hati yang dilakukannya jugalah yang membuat dia tak mampu lagi menyelesaikan novel yang sedang ditulisnya.

Dan Manuel adalah seorang biseksual. Dia bisa bercinta dengan seorang pelacur yang wajahnya sangat cantik tapi “alat kelaminnya mengeluarkan bau busuk yang tak tertahankan”, sebagaimana dia juga bisa bercinta dengan Hassan pada tangga di bawah loteng. Posisinya yang seperti itu juga bisa ditafsirkan secara simbolik sebagai posisi ambang dirinya dalam kehidupan dua kultur: kultur Mimoun dan kultur tanah kelahirannya.

Sebagian rasa penasaran yang lain akan lahir dari deskripsi yang ditawarkan novel ini: Chirbes mahir merangkai kata yang puitik dalam kadar yang tepat untuk menggambarkan suasana eksotik latar-latar dalam novelnya. Adalah semacam kebiasaan bahwa pada akhir—terkadang juga awal—bab dalam novelnya yang berjumlah 25 bab dengan panjang pendek yang tak sama dia menyajikan deskripsi suasana yang memikat. Simak misalnya deksripsi yang menutup bab terakhir novel ini:

...kemudian melintasi terowongan hitam di bawah rimbunan tanaman pisang dimana kami melihat deretan cahaya Batij di atas bukit, seolah-olah mereka berada dalam liukan ombak. Malam itu adalah malam yang terang, saat di pucuk-pucuk bayangan pohon-pohon zaitun, berpendar jutaan bintang-bintang.

Betapa indahnya. Dan keindahan itu nampaknya bukan sekadar keindahan, ia memiliki fungsi lain yang bisa kita kira-kirakan: di penghujung novel itu pada akhirnya Manuel meninggalkan tanah Mimoun dan kita bisa membayangkan bahwa kehidupannya akan lebih indah di Madrid, meski mungkin tak seseru petualangannya di Mimoun.

Alur dalam Mimoun dikendalikan oleh relasi-relasi Manuel dengan pelbagai tokoh yang hadir di sekitarnya. Pertemuannya dengan Ahmed, Fransisco, Charpent, Hassan, dan Polisi Driss. Kombinasi perilaku-perilaku aneh kaum tokoh-tokoh pendatang yang mencoba menghibur diri dengan melakukan berbagai hal demi rasa kerasan di sana dengan perilaku-perilaku yang aneh tokoh-tokoh lokal yang di satu sisi menyambut “yang asing” dengan hormat tapi di sisi lain biasa meledak dalam teriakan frustrasi “aku bukan orang dungu” adalah kombinasi yang cukup menjadikan novel ini untuk menjadi bahan menarik analisis poskolonial.

Novel ini, dalam bahasa Indonesia, adalah sebuah novel yang disajikan dengan baik: kita akan mudah bersepakat bahwa ia adalah sebuah novel yang—terlepas dari pesannya yang sepintas nampak mengambang—disajikan dengan baik. Jika pun ada beberapa masalah kecil maka itu sebatas masalah pengeditan diksi, termasuk juga penggunaan bentuk singkat “tuk” dan “kan” yang tak sepenuhnya konsisten. Akan lebih baik rasanya jika diberikan semacam pengantar penerjemah untuk menjelaskan hal semacam itu ataupun hal-hal lain terkait penerjemahan teks novel bahasa Spanyol ini ke dalam bahasa Indonesia.    

“Fez, minggu pertama bulan September....” Demikian novel ini pertama-tama mengenalkan latarnya. Pada bulan September 2017 pula penerbit Kentja merilis versi terjemahan bahasa Indonesianya. Hanya 124 halaman, lebih tipis dari versi terjemahan Inggris—diterbitkan Serpent’s Tail, 1993—yang memiliki 144 halaman. Tentu saja itu hanya masalah tata letak dan ukuran buku yang akan nampak di mata pembaca sebelum mereka memutuskan memasuki dunia unik Mimoun dan bergabung dengan Manuel menempuh petualangan di sebuah tempat eksotik dan bergaul dengan para penduduknya yang unik.


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara