Sebermula adalah majalah, baru kemudian kebiasaan membaca--dan berimajinasi, dan kemudian menulis--terbentuk pada diri anak.

MAJALAH pernah membagi ruang mula kecintaan membaca. Kita mendapati pengakuan dari Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, di Media Indonesia (21 Maret 2016). Bobo jadi majalah yang memantik peristiwa membaca. Tidak cukup berlangsung singkat, kecintaan pada kata-kata imajinatif harus berlangsung sepanjang masa. Najwa juga merumah di buku dengan bapak pembaca buku, Quraish Shihab. Pergi ke toko buku jadi keberlanjutan menuju pertemuan pada huruf-huruf.

Pembaca Bobo tidak hanya orang beken. Saya pun penggemar Bobo meski awalnya cuma mampu beli bekas seharga 1.500 di loakan. Saya biasanya memilih edisi berisi liputan Harry Potter. Sekarang meski tidak kanak lagi, saya biasanya mengambil bendel Bobo dan majalah lain seperti Kawanku, Bimba, Mentari, Si Kuncung, dan Ananda tahun 70-an sampai 90-an demi urusan “sinau” anak. Saya juga memiliki teman dari desa di Ponorogo yang gandrung Bobo. Dia puluhan kali bercerita suratnya pernah dimuat Bobo. Kini, dia menjadi ilustrator, esais, dan penulis cerita anak.

Anak-anak Indonesia pernah berkelana dari majalah ke majalah. Kunang-kunang bisa dikatakan sebagai majalah anak tertua yang terbit dalam nuansa pembebasan, empat tahun usai kemerdekaan oleh Balai Pustaka. Majalah yang bertahan sampai tahun 1954 ini pernah memuat ketokohan sastrawan kelas dunia Pramoedya Ananta Toer dan Leo Tolstoy (Kompas, 12 April 2015).

Sekitar dua tahun silam, saya mendapatkan 15 eksemplar majalah Kunang-kunang dari bakul buku lawas di Gladag, Solo. Per eksemplar dihargai 15 ribu. Kondisi sehat walafiat, kertas mulus, dan sampul tidak dedel. Sungguh senang dan takjub, majalah-majalah yang sempat melibatkan Pramoedya Ananta Toer di jajaran redaksi ini masih bertahan dan menemukan saya.

Di majalah, anak-anak bertemu tokoh, berkunjung ke suatu tempat, bertanya, berkirim surat, berteka-teki, dan berimajinasi atas banyak hal. Dengan kelengkapan  ilustrasi dan pelbagai rubrik menggembirakan, ada kesan berbeda dibanding dengan menghadapi buku bacaan, buku pelajaran, apalagi buku tulis. Kita mendapati anak-anak begitu biasa menganggap tokoh-tokoh ikonik cerita dalam majalah itu benar-benar ada. Mereka begitu serius menganggap tokoh jelmaan itu sebagai teman dan keluarga baru yang membagi cerita, nasihat, kejenakaan, sekaligus kejahilan.

Kita bisa simak surat ditulis oleh anak bernama Dani Hartono S (Jl. Cendrawasih IV/ 6A Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan) kepada redaksi Bobo. “Bo, Dani sudah lama langganan Bobo. Dani tadinya mau mengirim surat, tapi Dani sibuk belajar. Bo, salam manis Dani buat Paman Kikuk dan Bobo sekeluarga.”

Salam Dani setara dengan kerinduan pada ayah, ibu, kakek, atau nenek. Kita membayangkan Dani membaca cerita bergambar keluarga Bobo dan Paman Kikuk dengan tekun. Membayangkan Bobo dan Paman Kikuk benar-benar hidup dan beraktivitas harian.

Surat ini dimuat di Bobo edisi No. 12 Th. VII (30 Juni 1979) saat majalah masih berselang-seling hitam-putih dan warna. Bobo belum terlalu banyak diserang oleh iklan komoditas pangan, liburan, atau perangkat teknologi. Cerita pendek dan cerita bergambar memberi ruang lebih luas untuk keterasahan membaca. Huruf jadi bahan bakar berkelana ke negeri sendiri dan negeri dongeng. Majalah memberi ruang bagi imajinasi.

Pada akhir tahun 70-an juga terbit majalah keluarga Zaman di bawah pimpinan redaksi Goenawan Mohamad. Zaman memiliki jargon, ‘mingguan untuk seluruh keluarga’. Bacaan memenuhi kebutuhan ibu, bapak, dan anak. Ini jadi bentuk inisiatif keluarga yang memberi asupan bergizi wawasan dan pengetahuan untuk anak. Dunia anak, ibu, ayah, dan rumah dalam majalah memungkinkan mereka memiliki waktu bersama menikmati waktu berhuruf, menemani anak membaca, dan memantik setiap anggota keluarga terlibat dalam penciptaan karya.

Lebih lawas, terbit majalah Keluarga berjargon “Madjalah Bulanan untuk Ibu Bapa dan Anak” di bawah asuhan Herawati Diah. Melampaui membaca, majalah juga menjadi pantikan untuk menulis. Di edisi No. 7 Th. III (Djuli 1955) ada surat pembaca dari H. S di Tjilatjap. “Redaksi jth., Keluarga adalah salah satu madjalah jang diperuntukkan Bapa, Ibu dan anak. Sajang sekali ada ketentuan dari redaksi supaja karangan² itu diketik. Mengapa tidak ditentukan sadja ,,supaja ditulis seterang²nja”. Sebab bagi seorang anak jang ingin mengirim tulisan selain belum/tidak dapat mengetik, kebanjakan tidak mempunjai mesin tik. Demikian djuga pada pembatja Keluarga umumnja jang terdiri dari para pegawai jang biasa, jang tidak dapat pindjam mesin dari kantornja. Mereka menulis itu hanja karena keburu tjinta terhadap Keluarga.”

Pengirim surat menyampaikan keresahan sebagai pembaca dan orangtua. Permasalahan teknis jangan sampai menggagalkan minat berliterasi keluarga Indonesia.

Tokoh Pembaca Majalah

Majalah menempatkan satu permulaan menuju beragam penciptaan gagasan, keinginan menulis, dan cita-cita menjadi atau melakukan sesuatu. Bacaan-bacaan membentuk mentalitas dan identitas. Memantik rasa kemanusiaan untuk memilih wilayah peran di masa depan. Kita bisa mendapati para tokoh pada akhirnya menjadi orang-orang menentukan peran dan terlibat dalam pelbagai peristiwa kemanusiaan ataupun keilmuan karena asupan majalah di masa kecil.

Aktivis HAM Ita Fatia Nadia (2011) mengaku memiliki memori membaca Si Kuncung (saat itu masih dieja Kuntjung) di masa kecil. Orang tua Ita adalah manusia majalah dan buku yang menjadikan bacaan sebagai perahu berlayar. Majalah menjelma tanah subur untuk memetakan cita-cita anak yang masih terang-redup memikirkan masa depan.

Minda Perangin-Angin (Bukuku Kakiku, 2004), seorang teolog Kristen dan anggota Inter-Faith Dialogue Dewan Gereja Dunia membaca majalah Si Kuncung, Kawanku, Bobo, Gadis, dan Femina dari periode SD sampai SMA. Minda pun gemar belanja buku saat berstudi di Amerika.

Ketua Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia, Sutrisno Murtiyoso, merawat ingatan membaca masa kecil bersama majalah Si Kuncung. Latar desa Parakan, Temanggung, saat itu masih terbatas buku. Sutrisno kecil pun membaca buku apa saja dari pelbagai tema. Hati senang asal bertemu huruf-huruf. Sutrisno pernah menabung selama empat bulan agar bisa naik bus dari Parakan ke Sitodiningratan. Di sana ada tempat paling menggembirakan, yakni loakan buku sepanjang jalan (Aku & Buku, 2015).

Dalam biografi para tokoh berkeluarga, kita mendapati kesepelean jadi penanda peristiwa bermakna; literasi. Ada sebuah masa pertemuan dengan lembaran bekas atau malah lusuh. Kita menyadari ada orang-orang yang mengawali membaca dari selembar kertas bungkus tempe, sobekan koran, majalah bekas, atau buku lusuh dari loakan. Mereka memberi makna mendalam, bahkan tanpa berpamrih mendapati predikat prestisius Duta Baca atau Duta Buku. Pada mulanya majalah untuk kuyup menjelajah.


Setyaningsih
Esais, Penghayat pustaka anak. Penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016). Kontributor penulis buku Jassin yang Kemarin (2017)
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara