Buku, di negeri ini, masih menjadi pilihan yang cenderung kalah dari tak hanya kebutuhan primer tetapi juga dari kebutuhan sekunder lain yang dianggap lebih kekinian.

TOKO BUKU Togamas Solo, pada bulan Februari lalu, menggoda publik dengan potongan harga 20 persen untuk semua buku. Momentum diskonan ini merayakan Solo Great Sale. Di Hari terakhir, saya datang untuk kali kedua, tapi tidak ada kondisi berdesakan seolah inilah momentum penghabisan demi sebuah diskon yang lumayan.

Secara imajinatif, tak terbayangkan ketegangan dan keresahan para pembaca buku seperti pada saat dihadapkan diskon 50 persen selama sehari saja (12 Desember 2017) sekaligus gratis ongkos kirim oleh Gramedia.com. Dalam rangka Hari Belanja Online Nasional, orang-orang dari pelbagai daerah diajak menyerang, menyerbu, dan memesan sampai konon lamannya hang. Buku-buku dari pelbagai penerbit yang bahkan menahun jadi incaran, diborong dengan setengah harga. Kehausan buku yang sering disebabkan harga, harus diselesaikan meski setelahnya terjadi keruwetan pengiriman. Buku-buku yang lama dikirim sekaligus gagal sampai membuat dahaga buku makin terasa.

Promosi semacam “great sale” atau “hot sale”, memang tidak menjamin antrian membaris kalau tentang buku. Cukup langkah bahwa mengantre buku seperti mengantre sembako murah. Entah, mungkin orang-orang telah kelelahan dengan segala bentuk obralan buku, atau memang mereka merasa memiliki kesombongan literasi: sudah tidak ada buku yang layak dibaca dan dibawa pulang lagi dari obralan!

Namun, Indonesia sempat punya pesta diskonan lewat pameran buku berkelas internasional BIG BAD WOLF, salah satunya pernah digelar pada 21 April-2 Mei 2017 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Serpong, Banten. Dipastikan, ribuan orang datang menjemput diskonan. Lewat media sosial, saya bahkan mendapat kabar tentang jasa titip buku. Saya tidak terlalu yakin apakah pembagi kabar adalah sosok gila baca atau kalap belanja kata. Pun, dengan pembuka jasa titip buku, sungguh mulia memberesi urusan buku karena masalah jarak dan waktu. Big Bad Wolf dianggap menolong nasib Indonesia dari paceklik buku.  

Dari kisah pembelanja buku, diskonan memang neraka bagi buku-buku bagus dengan harga jelata. Kapasitas pembacaan orang-orang memang masih sering sangat tertentukan oleh harga, bukan oleh waktu yang segera ingin dihabisi buku sejak diterbitkan. Bahkan seorang teman sekaligus penulis sakti sering berkelakar tentang kemiskinan di hadapan buku; “Sudah didiskon, eh…masih tidak bisa beli!”

Tidak ada jaminan juga penggemar pameran buku memang sosok-sosok penggila buku yang juga bertaruh membeli buku dalam kondisi gres, mahal, dan tanpa diskon. Secara umum, harga buku masih terlalu mahal dan tak layak dipertaruhkan seperti gawai terbaru, tas, sepatu, paketan data internet, dan tentu santapan kuliner.

Saya jadi harus mengingat pemandangan mengantre sang buku terakhir, novel  Harry Potter and the Deathly Hallows di seluruh dunia. Tentu saja antrean terjadi bukan karena harga diobral mati-matian. JK. Rowling berhasil menyihir dunia lewat cerita yang membuat setiap orang mau mengantri demi kelanjutan kata-kata, tanpa peduli apapun, termasuk harga. Mereka bersedia menginap di jalan, menunggu di depan toko berjam-jam, dan menjadi pertama pembeli sang mahakarya. Cerita menyihir orang-orang berada di antrean kata-kata, bahkan sejak buku belum digarap. Buku penghabisan itu menjadi pertaruhan diri menjadi pembaca sejak permulaan.

Buku dari Tempat Sampah

Dalam urusan buku, Barat selalu menjadi garda terdepan berbuku dan penyelamat paceklik literasi bagi negara-negara Dunia Ketiga. Sejak kemunculan badan amal, lembaga charity, atau aksi donatur bagi kemanusiaan, buku pun jadi sumbangan berarti bagi dunia. Kita mengingat John Wood, mantan pejabat Microsoft yang mendirikan organisasi nirlaba Room to Read untuk memberesi masalah pendidikan, perempuan, dan etos berbuku anak-anak. Di buku Mengembangkan Ruang Baca (2014) Wood bercerita bahwa bukan hanya karena mahal, faktor geografis dan resepsi diskriminatif makin menjadi kendala mendatangkan buku. Di desa terpencil negara-negara Dunia Ketiga, buku benar-benar menjadi kemewahan di tengah sulit makan dan beban kerja harian rumah tangga.

Pada tahun 1997, di Hue, Vietnam, Wood bertemu dengan Vu, laki-laki 15 tahun yang bekerja sebagai resepsionis hotel. Ia meminta Wood mengajari bahasa Inggris sebagai bahasa teknologi dan perhitungan lewat Excel. Sebuah buku kumal ditunjukkan kepada Wood; buku panduan kalkulator Casio yang salah satu modelnya CX-753. Tentu, alat dan buku panduan itu sudah sangat ketinggalan. Vu mengatakan, “Seorang turis Jepang pernah ke hotel sini empat bulan yang lalu. Dia meninggalkannya di tempat sampah. Saya kira dia sudah selesai mempelajarinya. Jadi saya mengambilnya dan membacanya berkali-kali.”

Buku dari tempat sampah berjenis panduan itu mustahil diantre khalayak. Namun, buku menyelamatkan dari keterpencilan geografis, teknologi, dan intelektual. Dari seorang asing buku tidak sengaja diantre dan justru mengantarkan ke ilmu komputer.

Ronald Barker dan Robert Escarpit, dua peneliti perbukuan yang disokong UNESCO, dalam Haus Buku (Pustaka Jaya, 1976) mengabarkan stastistik UNESCO menandai 500.000 judul buku atau setara 45,4 persen berasal dari Eropa (belum termasuk Soviet) pada 1969. Tahun 1970, Afrika, Amerika Latin, dan Asia (tanpa Jepang) hanya menghasilkan 19 persen buku di dunia. Rendahnya produksi, kesukaran distribusi, biaya tinggi buat impor buku dalam jumlah cukup menjauhkan Dunia Ketiga dari antrean buku dunia. Membeli buku sama artinya tidak makan. Kelangkaan buku sama halnya dengan krisis pangan dan air dalam masa paceklik.

Di sekitar kita dalam kondisi kekinian, terkadang kita bisa merasa heran mendapati kenyataan sengit; sudah harga murah, selera pilihan buku pun murah. Buku-buku berisi kabar kontroversial, motivasi, how to, atau kiat-kiat sukses-kaya lebih banyak diburu. Berapa orang berani membeli buku-buku mahal-tebal dalam kondisi baru tanpa pamrih yang pasti

Mengingat antrean gila di pembersihan gudang atau serbuan menuju diskon pameran besar-besaran, jadi sindiran telak betapa mahal harga buku. Di keseharian biasa, rasanya mustahil ada kerumunan di depan kasir toko buku. Di negeri ini harga menentukan orang berani berbelanja. Betapa orang-orang sengaja dibuat sabar menantikan buku menjadi lawas dan harga menjadi murah bertahun-tahun sejak kelahiran buku. Tidak peduli musim hujan atau kemarau, pembaca harus siap menghadapi paceklik buku sekaligus paceklik etos (membaca).


Setyaningsih
Esais, Penghayat pustaka anak. Penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016). Kontributor penulis buku Jassin yang Kemarin (2017)
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara