Proses kelahiran sebuah penerbit kadangkala seperti proses kelahiran Gargantua: tak terjadwal. OAK adalah salah satu penerbit indie Yogya yang lahir dari mimpi tentang teduhnya pohon besar di dalam kamar.

Orang-orang di Belakang OAK

Ketika OAK belum ada, semua menjalani hari seperti biasa. Hengki sebagai pegawai asuransi yang tekun, Michel sebagai editor cum novelis, Tanama Andre sebagai dosen sekaligus pelukis, Widi sebagai pemalas yang mencintai otomotif, dan saya sebagai pemuda yang terobsesi mengumpulkan buku-buku penerbit Pustaka Jaya.

Pada suatu siang di jam istirahat kerja, Michel menuruni anak tangga hendak menuju kantin Fisipol. Ia yang melihat saya melapak di sana, berbasa-basi menanyakan kabar. Pada akhir percakapan kami yang sebentar, saya melempar tanya, “Kamu bersedia menerjemahkan esai Orwell?" Dia tertawa. Mengangguk, tapi tidak bisa berjanji. Tapi ia mengerti, sesuatu akan dimulai.

Suatu hari saya mengirim surat pada Hengki bersamaan dengan paket buku yang ia beli. Saya menyatakan padanya tentang keinginan memiliki penerbit. Hengki sedang bersiap menjadi calon Ayah saat itu. Hubungan kami yang absurd, bermula dari pelanggan dan pedagang. Walau permintaan itu nampak seperti bercanda, dia tetap mengamini keinginan itu.

Di salah satu ruangan dekat fakultas desain komunikasi visual, sebuah pohon besar berdiri kokoh, tugur menunggu Tanama Andre yang nampak ragu-ragu memutuskan. Ketika akhirnya ia bersuara, jawaban tidaknya bukan karena tak ingin, melainkan berarti ia berhitung dengan keadaan. Posisinya sebagai dosen, sebagai ayah, sebagai seniman, serta sebagai penari jaipongan paruh waktu, membuatnya tidak benar-benar yakin bahwa dia akan bisa maksimal. Namun ia tetap melakukan sesuatu: membuat logo (juga merancang kover perdana buku OAK).

Lewat rekomendasi Nara, saya bertemu Widi di Café Legend. Ia langsung menunjukan wajahnya yang ajaib: kalem tapi sengak. Kami spontan bicara nama-nama dunia, dan riwayat buku yang mungkin bisa kami terjemahkan. Sejujurnya, saya sempat tak percaya ketika mendengar Widi mampu menerjemahkan dari empat bahasa. Namun setelah Orwell (Inggris), kemudian Camus (Prancis), dan akhirnya Kafka (Jerman), ia sebenarnya tidak perlu membuktikan dengan Dante atau Luigi Priandello (Italia). Hanya saja, dia memang berniat melakukannya.

 Pada 15 April 2015, OAK menjadi bagian dari identitas kami. Secara resmi lewat akta, secara tanda lewat buku.

*

Suasana Ketika OAK Lahir

Pola penerbitan perlahan sedikit berubah. Perkembangan teknologi, berpengaruh pada terobosan bagi gerak perbukuan belakangan ini. Pasar bisa diraba, pra-produksi bisa diprediksi, produksi bisa diukur. Sederhananya, risiko bisa ditekan.

OAK adalah salah satu dari generasi penerbit yang tumbuh ketika media sosial menjadi jembatan antara pelaku penerbitan dan pembaca sebagai penikmat. Interaksi yang terbangun, menjadikan apa yang diinginkan pembaca dan apa yang ditakutkan penerbit bisa dicarikan jalan tengahnya.

Saya masih ingat bagaimana proses lahirnya buku perdana kami. Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London (Down and Out in Paris and London), adalah novel autobiografi yang berkisah tentang petualangan tokoh aku dan kawannya, Boris. Mengangkat tema kemiskinan, diskriminasi serta strata sosial yang tajam, Orwell dengan bahasanya yang khas menceritakan pengalamannya di dua kota: Paris dan London.

Hampir tidak ada “rasa khawatir” tentang bagaimana kami akan membiayai produksi. Sebab OAK memang akan memproduksi sebatas kekuatan modal yang ada. Tidak juga tentang tempat yang akan menjadi gudang buku-buku pasca-cetak. Sebab OAK tidak akan memproduksi melebihi batas kemampuan tampungnya.

Sistem POD (Print On Demand), menjadi solusi yang ideal. OAK memulai dengan lima ratus lembar kover dengan offset, dan seratus eksemplar isi buku. Itu alternatif bagi ukuran kantong dan juga ruang simpan. Ketika seratus eksemplar pertama habis tidak lebih dari tujuh hari, kami masih memiliki empat ratus lembar kover sisa untuk melakukan produksi lanjutan. OAK masih melakukan pola itu pada judul kedua. Saat judul ketiga, OAK mulai bisa meraba daya serap. Itu pertama kalinya OAK mencetak langsung offset (oplah minimal 500 eks). 

Sudah pasti ada selisih antara cetak jumlah banyak dan jumlah sedikit, namun jika Anda memiliki seorang akuntan, hal-hal demikian bisa teratasi.

*

Penerbit-penerbit yang Memengaruhi OAK

Harus diakui, OAK sangat dipengaruhi oleh beberapa penerbit. Pustaka Jaya, Bentang Budaya, atau KPG untuk lokal. Sedangkan dari luar: Penguin Classic. Penerbit-penerbit itulah yang menginspirasi baik dalam ciri visual, olah wacana, maupun pengemasan produk.

Tentu tidak hanya mereka, ada begitu banyak penerbit lain yang telah lebih dulu hadir mewarnai lalu lintas penerbitan kita. Tidak saja saling memengaruhi, melainkan juga beberapa beranak-pinak dari satu rahim. Itu hal biasa, sebagaimana sudah ditunjukkan oleh Adhe, salah seorang pegiat buku, yang membuat bagan tentang kaitan antara satu penerbit dengan penerbit lainnya.

*

Perjalanan OAK Ke Depan

Apa yang menjadi harapan kami, adalah menerbitkan banyak judul buku (fiksi). Baik lokal maupun terjemahan. Baik nama baru maupun nama besar.

Mengapa fiksi?

Pada sebuah riset dari Annual Review of Psychology (Tahun 2011), ada penjelasan bahwa analisis fMRI terhadap otak partisipan ketika mereka membaca sebuah pengalaman seseorang menunjukkan stimulasi neurologis seolah-olah mereka mengalaminya sendiri. Begitu juga ketika kita membaca sebuah novel petualangan, maka otak kita akan merasakan bahwa kita sedang mengalami petualangan itu. Hal inilah yang kemudian mencegah otak kita untuk mengalami kerusakan.

Tentu saja alasan kami tidak seideologis itu. Alasan sebenarnya adalah karena kami, orang-orang di belakang OAK, menyukai fiksi. Itu membuat kami melakukan kerja-kerja yang menggembirakan. Walau tak menutup kemungkinan, non-fiksi pun tetap kami terbitkan.

Dalam setiap buku OAK, selalu ada lembar khusus dengan tulisan: membaca adalah kunci. Bukan hal yang baru memang, tetapi tagline tersebut menjadi salah satu ciri yang akan menjadi pengingat betapa pentingnya membaca.

Maka, jika Anda belum pernah beli buku terbitan OAK, Anda tidak akan bisa merasakan teduhnya pohon besar di dalam kamar.


Wijaya Kusuma Eka Putra
Sosok di balik Pojok Cerpen
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara