Ada banyak toko buku di Jogjakarta, dari yang terkenal sampai yang belum. Salah satu yang terkenal adalah Toko Buku Raja Murah. Berdiri tahun 1993, toko buku ini masih konsisten menyediakan buku-buku pelajaran, sampai kini.

MENIKMATI PAGI yang cerah dan tak bising di Jogjakarta adalah suatu kelangkaan dalam beberapa tahun belakangan ini. Motor kian berjubel, hotel kian menjamur, hingga apartemen-apartemen kelas mewah kian banyak menjulang tinggi.

Kadang, saya sengaja menunggu jam 10 pagi untuk menghindari sesaknya pemandangan kemacetan di Jogjakarta. Namun, khusus di hari Jumat, saya memiliki agenda lain: berkunjung ke salah toko buku nostalgia saat saya masih menginjak usia sekolah dasar.

Toko buku itu adalah Toko Buku Raja Murah. Letaknya di Jalan Gejayan no. 43 Jogjakarta. Kalau Anda datang dari daerah utara, tokonya berada di samping pemakaman Gejayan, lebih tepatnya di antara ruko-ruko sepatu dan gawai.

Saya sungguh kagum dengan keberadaan Raja Murah. Sejak berdiri pada tahun 1993, toko tersebut tak pernah berpindah lapak. Masih saja kukuh di antara deretan ruko sepanjang jalan gejayan yang sudah bolak-balik berganti rupa. Sekarang, Jalan Gejayan lebih dikenal sebagai Jalan Affandi, tempat-tempat penjualan gawai masa kini.

Namun, yang lebih saya kagumi adalah sapaan pertama penjaga toko tersebut: "Cari buku sekolah apa mas?"

Aha, rupanya Raja Murah masih tetap mengandalkan sapaan tersebut. Saya sempat sedikit tersenyum kecil ketika mendengar ucapan penjaga tersebut. Ingatan saya terbuai saat saya masih bau kencur, saat masih mengenakan seragam sekolah dulu.

Ya, Raja Murah memang dikenal sebagai toko penyedia buku-buku sekolah terlengkap mulai dari SD hingga SMA. Mau dari penerbit kelas atap hingga kelas lantai. Semua tersedia di toko buku Raja Murah.

Dulu, saat toko buku belum menjamur seperti sekarang ini, begitu guru mengumumkan (harus) menggunakan buku sekolah ini itu, maka sudah bisa dipastikan malamnya Raja Murah akan didatangi oleh puluhan orangtua yang sigap untuk membelikan anak-anaknya buku sekolah.

Kalau sudah begitu, bisa dipastikan jam tutup yang biasanya pukul 9 harus diperpanjang hingga pukul 10 malam. Kadang, jika buku yang dicari habis, kita bisa pesan terlebih dahulu supaya bisa tetap memiliki buku tersebut dan tidak dimarahi guru.

"Cari buku SD, SMP, atau SMA, mas?"

Lamunan saya buyar gara-gara mengenang masa nostalgia. Saya hanya menggeleng kepala saat ditanya oleh penjaga toko. Saya hendak cari buku kuliah. Sayang, karena buku yang dicari terlalu lampau, penjaga toko hanya menggelengkan kepala sambil berkata, "Wah, itu aja penerbitnya sudah tutup, mas."

Saya tertawa lagi. Karena buku yang saya cari tak ada, lebih baik saya keliling saja, sekadar melihat-lihat melewati ruang-ruang sempit yang hanya bisa dilalui satu orang. Yang menyenangkan adalah sekarang di dalam toko sudah ada penamaan rubrik semisal rubrik sosial politik, agama, hingga sekolah. Seingat saya, dulu belum ada penamaan rubrik. Jadi mau tidak mau, kita langsung bertanya pada penjaga toko atau Pak Fanan, sang pemilik toko buku Raja Murah.

Saya mengamati dengan seksama rubrik demi rubrik. Wah, saya kembali tersenyum. Buku-buku langka pun masih tersedia di sini. Mungkin lain kali, saya tak perlu ke taman pintar untuk mendapatkan buku-buku langka. Cukup melongok ke Raja Murah, maka tercapai keinginan mendapatkan buku-buku tertentu.

Sembari mencari-cari buku yang menarik, mata saya tertuju pada kamus poket Arab-Indonesia. Bentuknya kecil dan tebal. Saat saya melihat bagian belakang, saya agak kaget. Harganya tak sesuai dengan kantong saya. Tapi saya yakin karena berlabel Raja Murah, saya mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada penjaga toko. Siapa tahu dapat diskon hingga harga termurah.

Benar dugaan saya, ketika menyerahkan buku tersebut tak perlu lama bagi penjaga toko untuk memberikan harga yang pantas.

"Untuk mas, 15 ribu saja."

Lagi-lagi saya tersenyum. Bahagia. Mendapatkan buku murah di toko buku Raja Murah. Sebenarnya saya hendak menawar kalau perlu jadi 10 ribu atau bahkan 5 ribu, namun saya berpikir lain. Orang-orang yang mau mendirikan toko buku adalah orang-orang yang memiliki pendirian yang luar biasa: mengumpulkan dan membagikan ilmu melalui sebuah toko buku. Itu adalah sebuah tugas dan tanggung jawab luar biasa. Sayangnya, terkadang keuntungan yang diraih tak berbanding lurus dengan jumlah buku yang dimiliki.

Serba salah memang, mau menjual mahal, takut tidak laku. Menjual murah, malah justru membuat toko gulung tikar. Butuh siasat yang tepat agar toko buku tetap awet hingga hari kiamat. Saya kira Raja Murah bisa dikatakan berhasil dalam mengelola sebuah toko buku. Jika dihitung rentang tahun maka Raja Murah sudah berdiri selama 24 tahun. Tentu, usia hampir seperempat abad bukan usia yang muda bagi kepemilikan toko buku. Selain itu, disaat dunia perbukuan sedang diserbu toko buku daring, Raja Murah masih setia menggunakan sistem luring.

Raja Murah mengajarkan bahwa dalam mengelola toko buku pasti ada pasang surut omzet. Kadang ada saat ketika pengunjung tak kunjung datang. Namun ada juga saat ketika pengunjung membeludak seperti saat tahun ajaran siswa baru beberapa minggu yang lalu.

Saya kemudian bergegas pulang setelah mengucapkan terima kasih kepada penjaga toko tersebut. Sekali lagi saya tersenyum. Saya berjanji pada diri saya, kalau nanti saya punya anak dan bersekolah di Jogja, saya akan mengunjungi dan membelanjakan buku sekolah di Raja Murah. Selain demi cerdasnya kehidupan anak juga setidaknya demi membantu keberlangsungan hidup toko buku Raja Murah.

Karena Raja Murah-lah yang salah satu toko buku yang paling sering saya kunjungi saat bersekolah. Raja Murah pula yang mengantarkan saya hingga lulus sekolah. Jogjakarta dikenal sebagai kota pelajar. Disebut begitu sebab banyak pelajar yang terpelajar akibat sering membaca buku. Dan, Raja Murah bisa dianggap salah satu toko buku yang ikut andil dalam membangun imej Jogja sebagai kota pelajar tersebut.


Moddie Alvianto Wicaksono
Pagi hari bertafakur dengan kata-kata, malam hari mendengkur dengan doa-doa.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara