Pondok Baca NH Dini lahir dari niat untuk mengenalkan anak-anak pada budaya membaca. Meski berkali-kali pindah karena bencana, perpustakaan ini terus berkembang sebagai sarana pemberdayaan masyarakat.

NH DINI tiba-tiba terbangun karena merasa ada sesuatu yang membangunkannya. Itu terjadi pada suatu malam tahun 1993, saat musim hujan parah melanda Jawa Tengah. Listrik mati. Angin di luar menderu-deru. Bangunan itu terasa bergoyang seperti gempa. Lalu, dia menyadari kakinya terendam banjir.

NH Dini segera membangunkan orang-orang yang tinggal di situ untuk mengamankan barang-barang, termasuk buku-buku yang merupakan barang utama di situ. Mereka terus mengevakuasi sampai pagi, sampai cuaca membaik. Tapi, saat hari sudah terang, jelaslah bahwa keadaan bangunan itu sudah menyedihkan. Begitulah, Pondok Baca NH Dini yang berletak di Griya Pandana Merdeka, Semarang, mesti pindah.

Peristiwa itu bukan pertama kalinya Pondok Baca NH Dini pindah tempat. Sebelumnya, sejak 1986 sampai 1991 tempatnya di salah satu bagian rumah keluarga Dini di Sekayu, Semarang. Banjir jugalah—limpahan dari Sungai Sekayu—yang membuat dia memindahkan Pondok Baca dari Sekayu, selain juga suasana rumah tangga yang tidak berkenan baginya dan kebisingan las, gerinda, dan mesin cetak di bangunan dekat rumahnya. Meskipun demikian, ke Sekayu jugalah Pondok Baca diungsikan sementara, sebelum akhirnya bertempat di Perumahan Beringin Indah sejak 1995.

Masalah bangunan bukanlah satu-satunya yang melanda Pondok Baca. Pada masa permulaan Pondok Baca, demi menambah koleksi buku yang cocok dengan anak-anak dan remaja, target utamanya, Dini mengirim proposal pada banyak penerbit supaya dihibahi buku. Penerbit BPK adalah salah satu yang menanggapinya. Mereka menghibahinya buku-buku riwayat pengarang dan komposer musik terkenal. Dini mensyukurinya.

Sebaliknya, Dini kecewa pada penerbit lain yang hanya memberikan buku-buku simpanan lama yang tidak laku padanya. Lebih kecewa lagi dia pada penerbit-penerbit yang sama sekali tidak menanggapi proposalnya. Dari 16 penerbit yang dihubungi total hanya ada 4 yang menanggapi.

Meskipun ada penerbit yang tidak mendukungnya, dia mendapatkan bantuan dari pihak lain dalam bentuk lain. Di zaman kegiatan-kegiatan umum mudah sekali dicurigai, Dini mendapatkan bantuan administratif dari pejabat semacam Emil Salim. Pihak-pihak terkait di Semarang dikirimi surat pengantar yang mempermudah perizinan Pondok Baca oleh Menteri Lingkungan Hidup saat itu. Pondok Baca juga mendapatkan promosi gratis saat istri Walikota Semarang saat itu meresmikannya; TVRI jadi meliput tempat itu.

Bahkan, Romo Mangunwijaya merancang salah satu bangunan Pondok Baca. Selain itu, tentu saja Dini mendapatkan sokongan dana dari banyak pihak. Kedutaan besar Selandia Baru, Johanna (teman yang sudah dianggap saudara), dan teman-temannya di Rotary Club Kunthi adalah beberapa pihak yang banyak membantu keuangan Pondok Baca. Tentu saja Dini sendiri menyisihkan uang dari honor menulis dan jasa-jasanya sebagai pembicara di mana-mana untuk membiayai operasional Pondok Baca.

Gagasan untuk mendirikan Pondok Baca muncul pada masa awal-awal Dini pulang ke Semarang dari Perancis. Pada masa itu, saat sedang bekerja, dia sering terganggu oleh kegaduhan anak-anak yang ada di lingkungan rumahnya. Keadaan itulah yang memberinya ide untuk mengajak anak-anak itu membaca. Dirumuskanlah Pondok Baca.

Target pembaca Pondok Baca adalah anak-anak kelas 3 SD sampai kelas 3 SLTP. Mereka diberikan katalog yang isinya digolongkan ke dalam tiga jenis.

Pertama, buku bertema Tanah Air. Yang termasuk dalam jenis ini adalah buku-buku tentang flora, fauna, kesenian, budaya, dan tokoh nasional Indonesia.

Kedua, buku bertema Dunia Luar. Isinya adalah buku-buku terjemahan sastra (Enid Blyton, Grimm bersaudara, HC Andersen, Tolstoy, sampai Shakespeare) dan majalah anak dan umum (Kawanku dan Intisari).

Ketiga, buku Fiksi. Isinya adalah novel, kumcer, dan buku cerita bergambar karya penulis Indonesia. Supaya para pengunjung mengetahui beragam bacaan, secara berkala Pondok Baca mengganti tema bacaan yang dipajang di rak.

Dalam menghadapi pembaca-pembaca muda itu Dini mengalami beberapa kendala. Pada awal pendirian Pondok Baca, anak-anak tidak bisa duduk anteng membaca. Mereka membaca 4 atau 5 halaman lalu mengobrol sampai gaduh. Dini maklum sikap itu disebabkan oleh ketidakbiasaan mereka dengan budaya membaca di perpustakaan. Lalu, dia berkali-kali memberikan pengertian secara lisan dan tulisan.

Pada kesempatan lain, Dini mendapati beberapa anak masih tinggal di Pondok Baca padahal sudah lewat jam tutup. Dia mengingatkan mereka. Tapi, anak-anak itu bilang bahwa mereka belum bisa pulang. Saat itu Dini terkejut karena menyadari bahwa mereka datang lebih karena menganggap Pondok Baca semacam tempat penitipan anak. Kali itu dia mengalah dan membiarkan mereka tinggal lebih lama. Meskipun demikian, dia memberikan pengertian bahwa Pondok Baca ada jam tutupnya.

Pada perkembangannya, Pondok Baca tidak hanya melayani pengunjung-pengunjung yang datang untuk membaca. Dini bahkan mengangkat anak yang dibiayai dengan dana operasional Pondok Baca. Pembiayaan itu khususnya menyangkut sekolah. Hal ini sejalan dengan misi pendidikan Dini.

Ada misalnya seorang gadis bernama Saidah. Dini ingin mengangkatnya sebagai anak asuh Pondok Baca. Dia sempat menjadi pengunjung tetap Pondok Baca. Tapi, tiba-tiba tidak pernah muncul lagi. Berdasarkan keterangan anak-anak lainnya, dia juga putus sekolah. Dini mendatangi rumahnya, berbicara dengan ibunya. Tapi, ibunya malah melarang Saidah sekolah dan menyuruhnya membantu di rumah saja.

Kasus lain, ada juga anak 14 tahun bernama Wiwid. Dini mengatur agar dia bisa melanjutkan sekolah di SLTPN Ngalian. Wiwid diserahi tugas membantu memelihara Pondok Baca. Selama beberapa waktu tugasnya berjalan lancar. Tapi, lama-lama tugas itu terbengkalai dan Wiwid sering pulang terlambat. Ternyata dia malah jadi kernet, bahkan sempat berbohong untuk menjadi kernet. Meskipun demikian, ada juga anak asuh yang sesuai dengan arahan Dini, seperti Nina yang usianya sudah bukan remaja lagi dan membantu pengelolaan Pondok Baca.

NH Dini tidak hanya menjadikan Pondok Baca sebagai tempat orang-orang membaca. Dia menjadikannya sarana pemberdayaan masyarakat, khususnya kalangan mudanya. Meskipun berkali-kali perpustakaannya itu ditimpa bencana fatal, dia berusaha untuk terus jalan. Semangat inilah yang patut dicatat dan ditiru oleh generasi masa kini.

 

Daftar Pustaka

Dini, NH. 2011. Pondok Baca Kembali ke Semarang. Gramedia.


Kredit Gambar : http://images.cnnindonesia.com
Muhammad Al Mukhlishiddin
Lulusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran, menulis ulasan buku, film, dan gim di al-ulas.blogspot.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara