Novel “Ibu Susu” karya Rio Johan diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia pada bulan Oktober 2017. Rabu, 25 Oktober, novel ini didiskusikan di Kafe Nyata Kopi, Yogyakarta.

“NOVELNYA sendiri lebih ke dongeng ya, buat saya. Ketimbang novel sejarah,” Rio Johan meluruskan genre novel Ibu Susu ciptaannya dalam acara “Ngopi Bareng Ibu Susu” di kafe Nyata Kopi pada Rabu, 25 Oktober 2017. Ia tampak santai mengenakan kaus berlengan panjang berwarna biru dongker-putih-abu-abu. Di sisi kanannya, duduk Adam T. Fusama dan Mario F. Lawi, dua penulis lain yang menjadi pembahas.

Novel Ibu Susu adalah hasil proses intelektual Rio Johan saat menjalani Program Residensi Penulis 2016 di Berlin, Jerman, pada Oktober hingga Desember 2016. Program dari Komite Buku Nasional itu mengantarkannya pada timbunan literatur tua tentang Mesir kuno, sebut saja Writings from Ancient Egypt (Penguin Classic), Religion And Magic in Ancient Egypt (Rosalie David, Penguin Classic), Lives of the Ancient Egyptians (Thames & Hudson), dan lainnya.

Rio mengaku, ide penulisan tentang ibu susu sudah ada sebelum melakoni program residensi. Ide awalnya datang dari cerita Joss Wibisono tentang seorang perempuan yang memberikan ASI-nya bagi orang-orang kelaparan yang bersembunyi di gubuk terpencil. Selama menjalani program residensi, konsep cerita mengalami perkembangan berkat referensi yang didapat, serta diskusi bersama pakar arkeolog yang berjasa mempertajam suasana Mesir Kuno.

Ibu Susu adalah buku yang menimbulkan lagi kesenangan saya membuka-buka kamus. Karena ada banyak sekali diksi yang tidak biasa dan tidak terasa dipaksakan,” komentar Adam yang membedah buku dari kacamata seorang editor. Ia sendiri pernah menangani naskah novel Dee Lestari Kepingan Supernova  (diterbitkan Bentang Pustaka, 2017). Adam juga menambahkan, meski penempatan diksi-diksi yang terkesan jadul—seperti teluh, ukup, gabir, baim, daksa, dll.—namun terasa pas karena cerita berlatar Mesir Kuno.

“Mungkin karena hobi Rio bermain video game dan membaca banyak kisah epos, menjadikan Ibu Susu ini  semacam cetak biru dari epos-epos lama,” Mario berkomentar. Ia menilai, novel yang dibuat Rio pada Oktober 2016 hingga Juni 2017 terkesan sangat maskulin meski terdapat satu karakter wanita yang sangat kuat: Perempuan Iksa.

“Menurut saya, sayang sih si Perempuan Iksa itu tidak diberikan suara yang lebih ‘panjang’ karena Rio terburu-buru atau apa. Tapi saya merasa, tiga bagian terakhir itu terlalu cepat diselesaikan,” kritik pria kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur ini.

Adam pun mengiyakan kritik Mario. Ia juga menyayangkan penutupan cerita yang terkesan terburu-buru. “Tapi, buat saya cukup elegan. Saya merasa ending-nya oke, meski mungkin bisa dipertajam, tapi tidak nyungsep banget, gitu.”

Selesai Mario memberi sedikit komentar, ilustrator novel Iqbal Asaputra memasuki ruang diskusi. Oleh moderator, ia langsung diminta untuk maju dan menceritakan proses kreatifnya saat membuat ilustrasi.

“Ilustrisasi dalam novel banyak terinspirasi dari kata-kata dalam novel. Hubungannya nanti ke ilmu semiotika,” jelas Iqbal. Ia mencontohkan ilustrasi kover yang dibuat berdasarkan kalimat pembuka,

...dia melihat hujan susu, hujan susu yang datang tiba-tiba, tanpa mega-mega gulita dan tak ada gemuruh guruh dari dewa-dewa.  (Hal. 1)

“Saya menggambarkan tetesan hujan susu cuma sedikit karena merasa itu sudah cukup.”

*

Saya menyaksikan jalannya diskusi dengan tidak begitu fokus—toh semua ucapan dan pembicaraan saya rekam. Saya tuntaskan rasa lapar dengan menyuapkan sendok demi sendok nasi goreng telur mata sapi yang saya pesan. Dua orang teman laki-laki saya; Suhairi dan Ageng sesekali tampak sibuk dengan gawainya.

Tiba-tiba, sesi tanya jawab sudah mulai saja. Tiba-tiba juga, moderator menodong saya untuk memberikan tanggapan atas novel—karena sebelumnya, dari Suhairi yang suka nyahut, moderator itu tahu saya sudah hampir menuntaskan novel tersebut.

Saya bukan tipe orang yang suka menjadi pembuka dalam aktivitas intelektual apapun. Dengan halus saya jawab, nanti saja dulu. Biar orang lain yang memulai. Tapi, ternyata tak satu pun tangan terangkat untuk bertanya atau berpendapat. Syukur saja sepiring nasi goreng sudah tandas. Mau tidak mau, saya raih mic yang telah disodorkan—selain karena memang ada beberapa hal yang mendesak untuk dikeluarkan dari dalam kepala, saya simpati juga pada moderator yang sepertinya kehabisan bahan untuk melanjutkan diskusi.

Dalam tanggapan saya, ada tiga hal yang terasa mengganggu. Pertama, dalam novel ini, dialog antartokoh saya rasa sangat kurang. Sebagai gantinya, monolog dari tokoh seperti Perempuan Iksa yang sangat panjanglah yang terlontar, itu pun jarang ditanggapi tokoh lain.

“Novel ini menurut saya sangat miskin dialog. Biasanya kan, saya membaca novel yang percakapannya ada, dan itu membangun jalan cerita juga pada akhirnya,” jelas saya. Pada bab “Permintaan Perempuan Iksa (1)” misalnya, keseluruhan bab ini—kecuali sedikit di bagian pembuka—merupakan monolog panjang Perempuan Iksa tentang syarat digunakannya kantung susunya untuk obat Pangeran Sem, calon Firaun masa depan.

Kemudian, kontradiksi yang dibangun oleh Perempuan Iksa sendiri. Di awal, tokoh ini meminta banyak sekali hasil panen dan bahan makanan pada Firaun Theb untuk dibagikan secara merata ke orang-orang Kheta yang menjadi budak akibat perang. Penggambaran imej yang baik pada tokoh ini runtuh ketika dalam prosesnya, rakyak jelata turut menanggung beban dengan ikut menyumbangkan persediaan sehari-hari mereka.

Terakhir, adalah penggambaran payudara sendiri. Dalam novel, payudara terkesan sangat fungsional, tidak hanya karena dinamakan ‘kantung susu’, tapi juga tidak adanya siratan bahwa bagian tubuh tersebut menjadi organ seksual. Ia digunakan untuk menghasilkan uang, dimana banyak ibu yang memerah ASI mereka untuk dijual di pasar.

Rio Johan menanggapi poin-poin tersebut dengan lugas.

“Soal payudara, kalau kita lihat pada konteks zamannya, pada zaman itu payudara bukan sesuatu yang bisa membangkitkan gairah. Di jaman Mesir Kuno, perempuan bebas pakai kain sepinggang dan cowok-cowok nggak bakal nafsu lihat dadanya kemana-mana,” jelasnya.

Atas masalah dialog, Rio mengaku ia memang tidak terlalu suka membuat dialog. “Saya sadari itu, cerpen-cerpen saya juga jarang ada dialognya. Saya lebih suka pakai kalimat-kalimat tidak langsung,” ungkap pria kelahiran Baturaja, Sumatera Selatan ini. Meski begitu, pada karya-karya selanjutnya, Rio ingin mencoba menambahkan dialog antartokoh.

Pria yang sebelumnya telah menghasilakan antologi cerpen Aksara Amananunna (diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia, 2014) melanjutkan, “Sebetulnya Perempuan Iksa ini tidak peduli pada semua rakyat papa, tapi hanya pada korban perang yang senasib dengan dia. Permintaan pertama ini bukan permintaan mulia, tapi lebih kepada permintaan main-main untuk menguji kesungguhan Firaun. Tapi, itu saya kembalikan lagi ke pembaca, apakah melihat itu sebagai permintaan yang mulia atau main-main,” tutup Rio.

*

Halaman terbuka kafe Nyata Kopi ditudungi pohon bertajuk tinggi. Beberapa sulur tanaman rambat menjulur dari entah-genteng-entah-kanopi yang menambah hijaunya suasana. Di antara ranting pohon, beberapa bohlam lampu pijar kuning lembut yang gosipnya boros energi tergantung. Mepet ke dinding, tiga meja dan kursi panjang dari gelondongan kayu yang dapat memuat enam orang sekaligus tampak penuh. Sisanya ada beberapa  meja persegi kecil dengan maksimal tiga kursi yang dapat diduduki.

Diskusi hampir selesai. Beberapa poin penting yang memperkaya pemahaman dalam pembacaan Ibu Susu saya catat baik-baik.

“Yang menarik dari Perempuan Iksa adalah dia mampu bersyair. Kalau kita lihat konteks saat itu, puisi itu suara laki-laki. Ia perempuan yang cerdas. Bisa dilihat dari bagaimana dia menjawab Firaun dengan metafora. Itu, permintaan-permintaan Perempuan Iksa, saya pikir penawaran yang sulit pada masa itu,” Mario menjelaskan.

Adam juga turut  menggarisbawahi beberapa hal. “Saya rasa, Perempuan Iksa inilah tokoh sentral dalam cerita. Kalau kita lihat tokoh lain seperti Firaun Theb dan istri agungnya, Meth, itu karakternya kering. Fungsi keduanya memang bertugas sebagai orang-orang istana. Sementara, si Perempuan Iksa ini punya rencana,” nilai Adam. Ia awalnya berpikir karakter Perempuan Iksa sangat biasa dan generik, karena banyak cerita sastra maupun film sering menampilkan karakter yang serupa.

Iqbal Asaputra menambahkan tentang proses mencari referensi untuk ilustrasi novel. “Kalau ilustrasinya sendiri inspirasinya dari bahasa Hieroglyph, yang pada masa Mesir Kuno itu dipakai dalam pahatan dan prasasti. Itu kan media untuk berkomunikasi, saya melihat gambar dan saya tahu itu maksudnya apa,” terangnya.

Selama proses tersebut, Iqbal menjadi memahami bagaimana simbol universal sebenarnya ada di sekeliling kita. “Kalau di Mesir, penggambaran orang itu hanya dari satu sisi, jadi matanya cuma satu. Kalau di sini mungkin seperti wayang kulit, menghadapnya juga cuma satu arah,” tambahnya.

Sebelum ditutup, Adam mengapresiasi Rio yang tetap menulis cerita tentang Mesir Kuno ketika ada wacana bahwa sastra Indonesia harus kental unsur lokalitas. Padahal, menurutnya, menulis tema sastra itu hal yang bebas.

“Tidak ada yang salah dalam membuat karya dengan unsur lokalitas, dan saya senang-senang saja. Misalnya saya ingin mengetahui tentang Sulawesi atau Makassar, saya bisa baca karya Faisal Oddang. Kalau tentang Sumatra, saya baca karya Arafat Nur atau Benny Arnas, begitu. Kalau tentang kalangan yang termarjinalkan saya baca karya Mahfud Ikhwan. Kebetulan saya dapat berita, novelnya, Dawuk menang di Kusala Sastra Khatulistiwa ya,” Adam berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Saya apresiasi penulis seperti Rio yang berani menuliskan sesuatu yang berjarak dengan pembaca-pembaca Indonesia. Dari sini kita akan punya banyak alternatif cerita,” tutup Adam.


Fitriana Hadi
Tertarik pada isu-isu gender. Beberapa esainya terbukukan dalam Aku & Buku 4: Para Penyair pun Memilih Buku (2017) dan ID.1 Perayaan Ide, Penghormatan pada Keragaman (2017). Aktif di Komunitas Radio Buku Yogyakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara