Ngaostik menjadi ruang peleburan antara sunyi dan syahdu. Kesunyian membaca buku dipadu dengan kesyahduan mendengar lagu. Sunyi dan syahdu masing-masing memberi kontribusi pada gerakan literasi dan buku.

PUISI “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono yang dipopulerkan Ari Malibu dan Reda Gaudiamo menjadi sebuah lagu itu, terdengar syahdu terlantun di salah satu cafe di Jalan JA Suprapto Kota Bojonegoro, menjelang malam pada Minggu, 16 April lalu. Sejumlah penonton terlihat saksama menyimak apa yang dilantunkan melalui selembar kertas yang masing-masing mereka bawa. Tidak hanya melantunkan, usai bernyanyi, para penampil menjelaskan perihal lagu puisi itu, siapa penciptanya dan sedikit cerita tentang kiprah penciptanya tersebut.

Temaram senja makin terasa hangat ketika para penonton bergantian maju untuk menampilkan performa. Baik pembacaan puisi, cerita, musikalisasi puisi hingga pembahasan sederhana tentang tokoh sastra secara bergantian. Para penampil pada acara itu merupakan pegiat buku dari berbagai komunitas literasi di Bojonegoro. Mereka melebur dalam sebuah agenda rutinan bertemakan baca buku dan musik akustik: Ngaostik.

Seperti namanya, Ngaostik menjadi ruang berbagi berbasis baca buku dan apresiasi musik akustik. Ruang ini dibentuk oleh berbagai komunitas perbukuan di Bojonegoro.

Keberadaan Ngaostik didorong keinginan yang sama, yakni: sejenak meriuhkan buku. Sebab, harus diakui, tidak seperti di Jogjakarta atau kota besar lainnya, di Bojonegoro, geliat perbukuan sangat sepi. Oleh sebab itu, Ngaostik mencoba meriuhkan hobi buku yang memang tidak bisa riuh itu.

Di Bojonegoro, memiliki hobi baca buku memang bukanlah sesuatu yang populer. Kondisi itu diperparah oleh minimnya zona buku. Sehingga, tidak ada hal menarik selain berkumpul dan melakukan sebuah agenda bersama. Begitulah, sejumlah komunitas buku menyepakati agenda berbentuk ruang kolaboratif berbasis buku dan musik. Ngaostik menjadi ruang berbagi dan berinteraksi antar pecinta buku yang dikemas dengan sajian akustik.

“Membaca buku selalu identik dengan jalan sunyi, sedangkan pertunjukan musik sebaliknya, ramai dan riuh. Kita mencoba mengolaborasikannya,” ucap Mohammad Tohir, salah satu pegiat Ngaostik.

Acara yang dibuka pukul 16.00 itu, menurut Tohir, memang fokus pada buku. Oleh sebab itu, pada jam-jam pertama acara dibuka, diisi dengan acara lapak buku. Setiap anggota yang hadir—setidaknya yang memiliki buku—diwajibkan membawa buku dan menggelarnya di atas karpet. Buku-buku itu, ada yang untuk dijual. Namun, ada juga yang hanya untuk dibaca di tempat. Para pengunjung pun bisa berdiskusi, tanya-tanya tentang buku atau pilih-pilih buku sepuasnya.

Nah, setelah hari menjelang malam, kata Tohir, acara inti, berupa penampilan-penampilan dari para anggota baru dimulai. Acara inti berisi unjuk kreasi dari sejumlah komunitas yang ikut dalam agenda tersebut. Ada pembacaan puisi, pembacaan cerita, lantunan akustik bertemakan buku, hingga pembahasan sederhana mengenai tokoh tertentu. Acara dikemas secara riang dan sederhana. Sebab, menurut dia, Ngaostik dijalankan atas dasar rasa gembira, bukan target beban kerja.

Lelaki berusia 28 tahun itu menjelaskan, tidak mudah membayangkan bagaimana pertama kali ide kolaboratif ini terwujud. Selain kolaboratif dalam hal acaranya, juga kolaboratif dalam hal penyelenggaranya, yakni berbagai komunitas. Namun, berangkat dari kegelisahan dan harapan yang sama, agenda gabungan itupun terwujud. Ngaostik lahir sebagai ruang temu antar pegiat buku dari sejumlah komunitas literasi di Bojonegoro.   

Ngaostik menjadi ruang peleburan antara sunyi dan syahdu. Kesunyian membaca buku dipadu dengan kesyahduan mendengar lagu. Meski secara logika keduanya barangkali tidak bisa bertemu, setidaknya masing-masing punya peran memberi kontribusi positif pada gerakan literasi dan buku. Tohir mengakui, sajian Ngaostik masih sangat sederhana. Namun, itu tidak menjadi masalah: ini acara pertama.

“Kedepannya, kita lebih bertema. Membahas satu tokoh dan menampilkan sejumlah karyanya melalui berbagai tampilan. Baik musik maupun pembacaan. Dengan bertema, lebih fokus dan mudah dimengerti,” ucapnya

Hidup dan tinggal di garis batas provinsi Jawa timur memang membuat pehobi buku di Bojonegoro sulit mencari akses berupa buku-buku bacaan berkualitas. Kota paling dekat untuk mencari buku bagus adalah Surabaya. Bojonegoro memang kota yang nanggung. Secara kualitas bukan kota besar, tapi juga bukan kota kecil. Hal itu lantas berdampak pada minimnya asupan teks-teks bergizi di Kota tersebut.

Dengan luas sebesar 2 ribu km lebih (masuk 4 besar kabupaten terluas di Jawa  Timur), hanya terdapat dua toko buku terpercaya di Bojonegoro. Kondisi itu membuat sesuatu berbau buku masih terkesan asing. Dampaknya, pegiat buku kurang memiliki ruang untuk menampakkan diri. Membaca buku tengah malam, atau membahas bacaan di warung kopi masih terkesan tabu dan dianggap memalukan.

Dengan situasi seperti itu, sebenarnya, geliat literasi di Bojonegoro tidaklah terlalu buruk. Ada banyak komunitas literasi di kota yang identik dengan minyak bumi itu. Bahkan sudah sejak lama ada. Hanya saja gerakannya cenderung sporadis. Itupun masih kerap labil karena minimnya ruang berekspresi. Dari sana tercetuslah ide, untuk bisa menampakkan eksistensi, harus ada giat di luar pakem yang harus diinisiasi: sejenak meleburkan visi.

Bergerak dari situ, pemuda-pemuda progresif dari sejumlah komunitas literasi di Bojonegoro mulai menggalang konsolidasi. Komunitas yang sebelumnya tidak saling kenal dan terkesan bergerak sendiri-sendiri itu, mulai menyusun pertemuan untuk melakukan giat secara bersama-sama. Tujuannya, selain meleburkan visi menjadi satu, juga saling mentransfer semangat pada yang lain agar tidak mudah angin-anginan. 

Ngaostik diinisiasi empat komunitas literasi—yang didominasi pemuda—di Bojonegoro: Atasangin, Bojaksara, Angkringan Buku Emperan (ABE), dan Guneman.

Ada komunitas buku yang memang berdiri sudah lama dan menjadi legenda. Ada pula komunitas yang baru didirikan. Semua saling melengkapi. Komunitas-komunitas yang sebelumnya tidak saling mengenal itu pun, mulai meleburkan visi bersama. Tidak hanya literasi, teman-teman dari komunitas musik indie dan seni rupa juga ikut berkontribusi. Tentu, melalui karya mereka masing-masing. Selain ruang baca buku, Ngaostik juga galeri tempat memamerkan karya bagi mereka yang belum mendapat lahan pameran.

Pegiat Ngaostik lainnya, Okky Wisnu Widodo menjelaskan, kesukaan membaca buku adalah laku sepi. Di Bojonegoro, sebanyak apapun komunitas yang ada, buku dan orang-orang yang membaca adalah sesuatu yang tidak biasa. Berdiskusi buku di tempat umum (kecuali di kampus dan sekolah, tentunya) masih terkesan tabu. Situasi seperti itu yang sebenarnya menjadi target utama Ngaostik: mewajarkan yang sebelumnya terkesan tabu.

“Tujuan kita tidak muluk-muluk. Sangat sederhana, mewajarkan masyarakat dengan membaca buku,” kata Okky.

Buku yang selalu terkesan tabu, menurut Okky, perlahan ingin diubah. Kesan tabu itu ingin dipecah. Sejenak diriuhkan untuk membangun gambaran pada masyarakat luas bahwa membaca buku adalah hal asyik, menyenangkan dan wajar. Se-sangat mendasar itulah dorongan awal dia dan teman-teman lainnya membuka ruang bernama Ngaostik: kolaborasi antara buku dan musik akustik secara tematik.

Ngaostik berasal dari dua suku kata, ngaos:membaca dan sti(c)k: tongkat. Ngaostik meyakini bahwa membaca adalah pegangan hidup. 

Unsur musik, dalam hal ini akustik, dipercaya menjadi media penghubung paling tepat. Akustik merupakan wasilah terbaik untuk memediasi sekaligus memperkenalkan telinga dan otak manusia kepada puisi. Jika memang sulit menangkap dan memahami puisi ataupun cerita misalnya,  bakal lebih mudah menangkap dan menikmatinya saat dibungkus dengan nada dan instrumen musik. Setidaknya itu yang diyakini teman-teman di Ngaostik.

Ngaostik memang mirip acara Mocosik di Jogjakarta beberapa waktu lalu. Hanya, bedanya, jika Mocosik acara besar berbasis festival, Ngaostik semacam acara rutinan sederhana berupa ruang yang memang mengolaborasikan buku, pembahasan tokoh dan lantunan akustik. Mengenalkan karya tulis dan sosok penulis melalui lantunan lagu akustik, pembacaan dan pembahasan sederhana. Meski, dalam pelaksanaanya, Ngaostik juga menjadi ruang apresiasi karya seni rupa seperti lukisan, zine, poster hingga kreasi merchandise hasil karya insan kreatif.


Wahyu Wrizkiawan
Jurnalis dan pembaca buku lepas, bergiat di Rumah Ngaostik. Bercita-cita mendirikan sekolah yang dipenuhi ruang baca dan perpustakaan.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara