Membandingkan membaca pada tahun '90-an dengan masa kini memiliki banyak perbedaan. Misalnya ini: pada masa itu akses buku tertentu masih sukar, beda dengan sekarang, tapi justru karena itu pembacaan menjadi sungguh-sungguh.

“Hemingway,” katanya tegas saat kami membahas penulis favorit, “The Old Man and The Sea,” ia meneruskan. Kami lantas tertawa kecil untuk sama-sama bersepakat akan hal itu. Bahwa kisah Santiago, seorang tua malang yang berusaha mengalahkan seekor Ikan Marlin dalam rekaan penulis penggemar Cerutu Kuba, mengajarkan pada kami arti perjuangan.

The Old Man and the Sea adalah salah satu karya sastra paling berkesan baginya. Obrolan itu sendiri adalah selingan kesekian dari obrolan kami siang itu. Kami telah duduk selama hampir tiga jam. Memesan kopi, makan berat, cemilan, dan kopi lagi sambil saya menemaninya menunggu jemputan.

Hampir tidak mungkin untuk tidak menyebut namanya sebagai bagian dari pergerakan ‘98. Ia dan rekannya, Andy Arif, menjadi dua pemimpin kharismatik bagi pergerakan pada zamannya. Ia bukan hanya dicari, melainkan sudah ditangkap, bahkan sempat dipentung hingga dikurung. Sebulan setelah penyekapan pada sebuah operasi Komando Pasukan Khusus, ia dibebaskan, seiring dengan mundurnya Soeharto sebagai Presiden.

Delapan belas tahun sudah berlalu sejak kejadian tersebut, ia tampil sederhana di depan saya dan menceritakan kisah-kisah masa lalu seperti sebuah dongeng. Cara bertuturnya tenang dan kalem. Sebagai seseorang yang telah menjadi Ayah (atau aktivis yang telah ‘kenyang’), ia punya kesibukan kecil lain yaitu menjadi salah satu pendiri sekaligus penasihat penerbit Circa saat ini, penerbit alternatif yang fokus pada karya non-fiksi dan jurnalistik.

Sambil mengobrol, ia sesekali meminta izin untuk berbicara sambil berdiri. Pekerjaan sehari-harinya sebagai Digital Editor-in-Chief di The Jakarta Post sekaligus anggota Dewan Pers barangkali menuntutnya sering duduk sehingga punggungnya mudah terasa ngilu.

“Jadi bang Nezar, apa kali ini saya boleh merekam pembicaraan kita dan menanyakan beberapa hal tentang buku?”

“Mengapa tidak. Tapi tunggu dulu.” Ia kembali memanggil pelayan.

Kemudian kami kembali tenggelam dalam percakapan. Berikut adalah jejak percakapan kami yang ia tuturkan dengan semangat nostalgia.

 

Bagaimana kondisi perbukuan zaman Bang Nezar dulu?

Bagi generasi kami, generasi ‘90-an, terutama yang ikut dalam gerakan mahasiswa, buku merupakan pacar kedua, selain tentu saja pacar betulan (tertawa). Tiada hari tanpa mendiskusikan buku. Mahasiswa dan mahasiswi pada masa itu, selalu memegang buku dan membicarakannya, terutama buku-buku politik yang dianggap subversif. Semakin subversif buku itu, semakin membuat orang yang kelak membacanya merasa gagah.

Masing-masing dari kami akan datang dengan berbagai informasi. Dari informasi yang berbeda-beda itu, diskusi kemudian terjadi, saling silang yang kami peroleh, sekaligus yang belum kami ketahui.

Buku-buku bagaimana yang dimaksud tersebut?

Sebut saja buku-buku Karl Marx atau Pramoedya. Seorang kawan kami, Bonar Tigor Naipospos pada tahun ‘88-‘89 ditangkap dan dipenjara karena membaca serta menyimpan buku tersebut. Namun hal itu justru menunjukan betapa membaca buku tertentu menjadi sangat seksi. Gengsi seseorang menjadi tinggi karena membaca buku-buku terlarang.

Apa ada batasan tema bacaan “yang disebut seksi” saat itu? Misal hanya buku-buku kiri?

Tidak juga. Sebenarnya tidak ada batasan tema dalam hal bacaan. Hanya saja tema politik memang menjadi santapan utama mengingat kondisi sosial politik yang bergejolak. Sastra, sejarah, dan filsafat tetap punya ruang, mendampingi teori-teori alternatif gerakan sebagai yang paling digandrungi.

Perlu diketahui juga, bagi mahasiswa-mahasiswa yang bergabung di tahun ’90-an, buku lain yang membuat mereka melihat bahwa diskusi tidak lagi cukup untuk membereskan keadaan saat itu, adalah Catatan Seorang Demonstran.  Buku itu membuat kami perlu melakukan aksi yang lebih konkret. Tidak sekadar diskusi, melainkan membawa hasil dari diskusi ke lapangan.

Nama lain yang kemudian layak disebut, tidak jauh beda dari Gie, sosok yang mengajak berpikir melawan satu konservatif, ialah Ahmad Wahib melalui Pergolakan Pemikiran Islam. Ia seperti punya cara pandang yang berbeda, menggoda kami melakukan hal yang serupa.

Dua buku tersebut bisa dikatakan menjadi patron. Ahmad Wahib membuat kami penasaran akan pemikiran-pemikirannya yang melawan arus, sedangkan Gie membuat kami bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di tahun ‘60-an. Semisal, mengapa Soe Hok Gie yang mulanya mendukung Orde Baru, berbalik menjadi pengkiritik? Pasti ada sesuatu.

Dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul, tragedi ‘65 tiba-tiba menjadi objek yang penting, karena di sana ada kabut tebal yang menghalangi pandangan kami. Buku-buku terbitan Cornell Paper menjadi referensi lanjutan. Kami gandakan dalam jumlah banyak.

Belum cukup sampai di situ, rasa penasaran membawa kami mengulik buku-buku tentang pergerakan Indonesia 1920-an sampai 1945, terutama dari haluan kiri. Juga aliran lain, Islam dan Nasionalis.

Tema-tema kiri menjadi yang utama, mengingat buku-buku tersebut paling dilarang saat itu. Pertanyaan kami tentang hal itu terbantu lewat buku Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan (Soe Hok Gie, penerbit Lentera).

Cara membaca yang runtut inilah yang kemudian menempa dan membantu membuka perspektif baru tentang Indonesia. Tiba-tiba kami menyadari seolah kami adalah satu generasi yang hilang, yang gagap sejarah, yang tidak benar-benar tahu mengapa republik ini berdiri. Itu terus berlanjut dengan munculnya kajian-kajian kebangsaan, kerakyatan, mendominasi wacana diskusi sehari-hari.

Penjelasan Bang Nezar menunjukan betapa mewahnya buku saat itu?

Benar. Mengingat akses media informasi belum seramai sekarang, buku adalah barang mewah. Terutama untuk memperolehnya.

Semisal begini, kegandrungan kami terhadap buku-buku kiri, membuat kami perlu mencari. Maka terjadilah perburuan besar-besaran. Kami masuk ke perpustakaan-perpustakaan dan mencari di mana buku-buku itu diletakan sesuai arahan senior kami. Salah satunya perpustakaan di Jln. Abu Bakar Ali, Kolase St Ignatius. Di sanalah kami menemukan banyak buku ilmu sosial dan teori kiri. Mungkin karena mereka mengulas teologi pembebasan.

Sumber lain tentu saja dari kawan-kawan yang studi ke luar negeri. Mereka mengirimi kami judul-judul tertentu. Atau saat pulang, mereka membawakan buku-buku yang kemudian bisa kami gandakan.

Siapa saja tokoh-tokoh yang menjadi acuan wacana saat itu?

Kalau ilmu sosial, kami mengacu pada Arief Budiman atau Dhaniel Dhakidae, Sejarah pada Abdurrachman Surjomihardjo. Merekalah yang membuka keran-keran buat kami. Mereka masih muda (kecuali Abdurrachman). Mereka baru memperoleh Ph.D atau masih sekolah. Tapi mereka sangat produktif untuk memberikan pandangan-pandangan mereka yang dituangkan dalam bentuk jurnal. Jurnalnya pun nantinya tersebar dalam bentuk stensilan.

Kami mempelajari pandangan mereka lewat tulisan-tulisannya. Hanya sedikit yang beruntung untuk bisa bersama mereka dalam satu ruang dan berdiskusi secara langsung. Kawan-kawan yang beruntung itulah yang akan menjelaskan ulang kepada kami

Jurnal apa yang dimaksud di atas?

Jurnal Prisma. Jurnal tersebut memberi info pada kami terkait isu-isu yang perlu diperhatikan. Prisma juga menjadi barometer. Siapa saja yang mengirim tulisan kemudian dimuat, maqam-nya langsung terangkat. (tertawa)

Berarti bisa dikatakan, saat itu pun ada “persaingan membaca”? Dan bacaan seseorang pada satu tema, akan menentukan cara pandangnya?

Betul. Seseorang akan dilihat dari apa yang dia baca, makin baru buku yang dibaca, menunjukan level dirinya dalam kaitannya dengan arus informasi.

Buku-buku apa yang cukup sering menjadi pegangan?

Karena kondisi saat itu, buku Militer dan Politik di Indonesia-nya Harold Crouch sering kami jadikan acuan. Revolusi Pemuda milik Ben Anderson menyusul kemudian. Buku itu membuat kami mengenal perjuangan tokoh-tokoh pergerakan tahun '20-an sampai '40-an yang buku-bukunya kami baca juga seperti HOS Tjokroaminoto (Islam dan Sosialisme), Bung Hatta (Kumpulan Karangan), Sutan Sjahrir (Perjuangan Kita), Tan Malaka (Dari Penjara ke Penjara), dan Soekarno (Autobiografi dan Di Bawah Bendera Revolusi).

Saya berharap buku-buku itu diterbitkan kembali. Sejarah menjadi sangat penting di era yang serba cepat ini, agar generasi sekarang tidak lupa dan gagap dengan masa lalu. Kekurangan mereka terhadap Sejarah, akan mudah membuat mereka terseret pada kepentingan-kepentingan tertentu.

Kami juga membaca buku-buku Islam, dan yang paling banyak pengaruhnya adalah buku-buku revolusi Islam di Iran, antara lain karangan-karangan Ali Shariati dan Murtadha Muthahhari, dan terutama satu buku kecil dari Bani Shadr "Pemuda dan Kerja", sebuah buku yang sangat luar biasa.

Dalam banyak jawaban Bang Nezar, ada cukup sering kata penggandaan. Apakah itu artinya, jasa fotokopian memegang peranan penting?

Sangat penting. Gerakan kami bisa disebut Xeroxism atau Xeroxisme. Kami menggandakan semua teks yang layak dan perlu digandakan lewat mesin itu. Misal pada kasus buku Anak Semua Bangsa karangan Pramoedya, kami fotokopi secara terpisah tiap bab-nya. Si A akan membaca Bab I terlebih dahulu, setelah selesai, ia akan menyerahkan pada si B dan si A berhak membaca Bab II. Rolling dan bergantian-gantian. Agar mudah mendistribusikannya. Jika sial, Anda akan memulai membaca justru dari Bab V, hahaha.

Apakah dengan kemudahan akses sekarang, dalam pandangan Bang Nezar kegiatan membaca menjadi biasa saja?

Bisa jadi. Mengingat keberagaman buku dan kemudahan mengaksesnya, terkadang membuat pembaca kurang fokus. Pembaca tertarik membacanya, tetapi terkadang tidak menuntaskannya. Hanya mengambil chapter-chapter tertentu, lalu dijahit menjadi satu. Maka tidak heran jika banyak ditemukan penulis atau tulisan yang mengutip banyak sekali teori, namun sebenarnya rapuh. Mungkin karena pemahaman dasarnya belum selesai

Sedangkan dulu, karena sulitnya akses, buku yang diperoleh akan benar-benar dibaca sampai habis. Fokus, dan mendalam. Kecenderungan untuk membaca teori babon pun terasa sangat kuat, karena hal itu akan menentukan pandangan kami. Misalnya politik, kami langsung merujuk pada Rousseau, Locke atau Marx.

Hanya saja, untuk merujuk pada satu teori babon juga bukan hal mudah. Kami harus bekerja keras memperoleh bukunya terlebih dahulu. Berburu fisik bukunya. Kami harus tahu di perpustakaan mana buku berada, atau siapa yang memiliki atau intelektual siapa yang sedang mendalami tema ini.

Berburu buku fisik baru langkah pertama, kami masih harus berjuang lagi apabila ternyata buku tersebut berbahasa asing. Tidak semua mampu berbahasa asing dengan baik. Untunglah banyak rekan-rekan kami yang mau menerjemahkan, kemudian menggandakannya dalam bentuk stensilan.

Apakah bisa disimpulkan ada perbedaan yang mencolok antara membaca pada zaman itu dengan sekarang?

Mungkin memang demikian. Di zaman kami, membaca perlu dua perjuangan. Pertama, memperoleh fisiknya. Kedua, memahami isinya.

Kawan-kawan dulu jika membaca sangat intens. Khusyuk. Mereka masuk ke dalam buku itu, untuk kemudian menceritakannya seolah ia juru bicara buku tersebut.

Kedalaman membaca akan menentukan karakter orang. Sekarang banyak orang membaca begitu banyak buku, dengan sangat cepat, hingga membuatnya seperti ensiklopedia berjalan. Namun sulit jika ditanya tentang satu teori tertentu, atau stand point yang ingin disampaikan.

Ini perkara kecepatan dan kedalaman. Generasi sekarang mungkin memiliki akses yang cepat untuk memperoleh informasi, tapi soal kedalaman, generasi kami bisa diadu. Maksud saya, di era sekarang cukup sulit mencari sosok yang memiliki kedalaman pada wacana tertentu. Jikalaupun ada, sangat langka.

Martin dengan Marx, atau al-Fayyadl dengan Derrida saya kira contohnya. Hanya saja, mereka merupakan generasi sambungan, antara generasi saya dan generasi sekarang.

Saya akui generasi sekarang lebih diuntungkan. Akses sangat mudah, informasi jadi lebih cepat tahu, tapi sekaligus cepat lupa juga. (tertawa).


Wijaya Kusuma Eka Putra
Sosok di balik Pojok Cerpen
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara