Kota, di luar pembahasan data statistik, masih menyisakan banyak sisi menarik untuk dibahas. Buku ini merupakan sebuah ikhtiar membahasnya dari beragam sudut pandang: sosiologi, psikologi, antropologi, sastra, dan filsafat.

MEMBICARAKAN KOTA dan segala pernak-perniknya selalu menarik, seolah tiada habisnya. Terutama ketidaktimpangan atau kenyataan yang terkadang sulit ditolak-sehingga sulit dipungkiri ciri masyarakat urban sekarang perlahan kehilangan identitas lokalnya.

Tak heran, ahli tata kota Marco Kusumawijaya pernah memberi julukan kepada kota Jakarta dengan segala problematikanya, belum sepenuhnya layak disebut “metropolitan” melainkan “kampung besar”. Hal itu disebabkan masih menguatnya sisa peradaban yang sulit tergerus misalnya masih berkembangnya ruang publik tradisional seperti pasar, warung, pedagang asongan, rumah kumuh, dan pedagang kaki lima.     

Budayawan Muji Sutrisno bahkan pernah dengan nada prihatin menyebut kota nyaris tak lagi menyisakan ruang publik bersama lantaran yang tersedia kebanyakan hanya untuk perkara konsumtif. Sebutlah, istilah “plaza” bergeser dari aslinya yang berarti “lapangan”,“alun-alun”–tempat berkumpul—dari bahasa Spanyol menjadi semata arena perniagaan di area modern berupa mal karena para pebisnis dan arsitektur kota Indonesia mengacu pada pusat pertokoan pertama di Amerika yang pertama kali menggunakan istilah “plaza” pada 1922, yaitu Country Club Plaza di Kansas, Missouri.

Seiring dengan perkembangan zaman, ketika dunia mulai perlahan menyadari derasnya modernisasi tak selalu membawa kemaslahatan bahkan malah membawa pada kehancuran alam dan populasi (salah satunya dalam ranah intelektual mulai dikembangkan Filsafat Ekologi), modernisasi kota kini di negara-negara maju tengah berupaya bermalih-rupa “ramah” dengan alam.

Buku kumpulan esei bertajuk Pengintip Kampung Pelirik Kota ini sedikit menunjukkan sinyalemen Filsafat Ekologi itu. Disusun oleh Bandung Mawardi, buku ini mengumpulkan pelbagai narasi kota yang kontekstual ditulis dari sudut pandang pelaku yang langsung mengalaminya. Ketimbang ulasan pakar dan paparan data statistik yang kaku, buku ini dengan berpijak dari sudut pandang sosiologi, psikologi, antropologi, sastra, dan filsafat membuatnya menjadi lebih enak dibaca.

Sebutlah “Minum Kota Mabuk Kampung” oleh Udji Kayang yang seolah menyerukan ambiguitas persoalan kemajuan kota dari sudut pandang kebiasaan minum minuman keras dari adat asli yang sulit bergeser. Misalnya “ciu”, kebiasaan di kampung Solo yang kerap dipandang sebagai masalah sosial tapi tetap ada demi kepentingan ekonomi. Tanpa perlu bikin festival mewah (oleh pebisnis) atau barangkali “ciu” kerap dipandang sinis sebagai “kampungan” dan “marabahaya”, oleh masyarakat Solo tetap ada sebagai identitas lokal. Pun ketika masyarakat Solo sendiri sudah bermigrasi ke tempat lain, ingatan terhadap “ciu” sulit pudar. Hal demikian pun juga berlaku kepada jenis miras dari etnis lain lantaran jika merujuk pada kota Jakarta yang kini sudah menjadi “melting pot”; peleburan beragam budaya, baik lokal maupun luar negeri.

Tak hanya “ciu”, kopi dan susu yang semula kerap dianggap bukan ciri khas modernisasi ketika semula hanya berkembang di warung “naik pangkat” ke kafe-kafe mewah. Memang dia hanya mengambil contoh satu kota (Surabaya) namun tengoklah di hampir seluruh kota yang padat urbanisasi, “ngopi” bermalihrupa menjadi budaya urban kelas elit apalagi dipadu dengan peracik kopi luar negeri “barista”.

“Wisata Kampung” oleh Achmad Fitri menunjukkan pergeseran perilaku ketika kota semula dari era 1960-1990-an dipandang sebagai tujuan wisata dengan sulit ditolak kenyataan “orang kampung kepingin jadi orang kota” tak dapat dipungkiri kini nyaris terbalik, orang-orang kota kepingin ke kampung” dengan menikmati suasana lepas hiruk-pikuk kota (pun) teknologi hingga berkembang menjadi salah satu primadona materi acara televisi sekarang (My Trip My Adventure, Ring of Fire, Jejak Petualang, Wisata Kuliner, dsb).

Sebagai pengingat, di sisi lain jika merujuk “Wisata Kampung”, hal ini sempat berkembang menjadi komoditi fenomenal dan pernah jadi kontroversi besar di seluruh dunia sebagai “eksploitasi kemiskinan”. Sebutlah “Jakarta Hidden Tour-Wisata Kota Kumuh” pada tahun 2008-2010 yang terinspirasi dari wisata kumuh di Afrika, Filipina, India dan Thailand. Di sini sempat berkembang orang malah cenderung ingin tahu sisi gelap ketimpangan modernisasi kota dengan mengunjungi apa yang dijuluki Marco Kusumawijaya tersebut sebagai “Jakarta sebagai kampung besar” (Jakarta Metropolis Tunggang Langgang, KPG 2004).  

Membaca kumpulan esei ini, seperti yang diurai Bandung Mawardi sendiri dalam “Manusia dan Kota”, seolah menguatkan kembali semangat yang tengah diserukan para cendekia filsafat ekologi yaitu hendaknya pembangunan atau modernisasi yang berkualitas tak boleh menyingkirkan etika:

“kesejarahan kota dan manusia perlu dijadikan acuan pertobatan…adab kota dan etik-kemanusiaan perlahan mengalami kehancuran oleh umat manusia”.

Buku ini adalah salah satu ikhtiar memuliakan gagasan tersebut. Tanpa bermaksud berlebihan, sudut pandangnya (dengan versi ringkas) nyaris serupa dengan semangat buku “The Making of Middle Indonesia” (YOI 2016)—penelitian kelas menengah di pelbagai kota Indonesia yang diprakarsai Gerry Van Klinken, yaitu dengan mengumpulkan amatan yang multi disiplin ilmu.


Kredit Gambar : instagram @kampungnesia
Donny Anggoro
Redaktur Jakartabeat.net dan CEO Roundabout Music Shop, tinggal di Jakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara