Tahun ini Yusi Avianto Pareanom merilis kumpulan cerpen keduanya, "Muslihat Musing Emas". Tahun pun ditutup dengan sebuah ingatan akan sederet muslihat dalam absurditas dalam cerpen. Dalam hidup.

NAMA Yusi Avianto Pareanom sulit diremehkan dalam peta kesusastraan kita hari ini. Setidaknya sejak novel Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi (Banana, 2016) berhasil memenangkan prosa pilihan Majalah Tempo 2016 sekaligus prosa terbaik Kusala Sastra Khatulistiwa di tahun yang sama. Sulit dimungkiri, Raden Mandasia adalah novel penting dan aduhai. Kini, Yusi menghadirkan karya fiksi teranyarnya yang bertajuk, Muslihat Musang Emas (Banana, 2017). Ini adalah buku cerpen kedua Yusi setelah Rumah Kopi Singa Tertawa (Banana, 2011).

Dari 21 cerita dalam Muslihat Musang Emas, hanya tiga cerita yang pernah dimuat di media dalam kurun 2013 sampai 2017, yakni Muslihat Musang Emas dan Elena, Pemuda Penyayang, dan Ia Pernah Membayangkan Ayahnya Adalah Hengky Tornado. Selebihnya cerita-cerita lain ditulis secara maraton pada 2017 hingga terhimpun dalam buku ini. Agaknya hal itu menjadi strategi Yusi agar memungkinkan dirinya melakukan banyak eksplorasi. Tidak saja dalam kelonggaran panjang cerita, tetapi juga permainan alur cerita, keberagaman gaya narator atau pengisah, sampai percobaan segar menjadikan palindrom sebagai kerangka dalam salah satu ceritanya.

Apabila dibandingkan dengan Rumah Kopi Singa Tertawa, kumpulan cerpen ini cenderung memiliki beberapa kesamaan seperti tema cerita, semua tokoh utama adalah laki-laki, dan kisah-kisah yang terasa semi-biografis. Tidak hanya itu, beberapa cerpennya memiliki nama tokoh yang akrab seperti Joko Pinurbo, Aswendo Atmowiloto dan Martin Suryajaya.

Yusi menggoda pembaca saat Joko Pinurbo disebut sebagai juragan bakso, atau Martin Suryajaya sebagai seorang ustaz sekaligus penulis serial buku budi daya tanaman hidroponik.

Narasi tentang orang-orang yang terjebak dalam kepelikan dan kesialan takdir menjadi pokok utama cerpen-cerpen Yusi. Dalam Samsara, misalnya, Yusi mengajak kita bertemu dengan tokoh yang sekalipun telah mencoba menolak takdir, pada akhirnya tetap tertimpa muslihat nasib sial. Dalam cerita itu, takdir seakan selalu berkhianat pada setiap usaha dan siasat melakoni hidup.

Dikisahkan Sabda Dhani Wibisono mencoba bunuh diri setelah tahu riwayat hidupnya. Semuanya baik-baik saja sampai seorang perempuan mengatai dirinya anak setan yang lahir dari hubungan sungsang. Tabiatnya yang semula periang mendadak menjadi pemurung begitu mengetahui orang tua biologisnya ternyata bersaudara kandung. Dia pun kabur dari rumah lalu melihat tulisan di dinding rumah makan: Hidup Mulia atau Mati Syahid. Sabda Dhani Wibisono memutuskan ingin hidup mulia dengan mati syahid.

Kita lalu mengenal Sabda Dhani Wibisono sebagai Amin Khadafi saat menjadi mujahid di Afganistan. Tetapi nasib tak berpihak, selalu saja gagal menjadi syuhada, malah disemburit oleh panglima perang. Dirinya dipulangkan dengan nama Irwan Anugrah, tetapi mengaku sebagai Andreas Wirawan sewaktu tertimpa sial tertangkap polisi lantaran membawa opium dan dipenjara. Kesengsaraannya baru berakhir setelah sebuah kematian tragis mengakhiri hidupnya.

Kita gampang teringat cerita Sisifus yang berulang kali mendorong sebuah batu besar sampai ke puncak gunung, namun batu itu bergulir jatuh kembali. Sisifus adalah metafor bagi segala bentuk absurditas, yang dalam cerita-cerita Yusi adalah upaya melawan takdir, tetapi berujung kesia-siaan belaka. Namun, seperti dikatakan filsuf Prancis, Albert Camus dalam Le Mythe de Sisyphe (1942), “Perjuangan itu sendiri sudah cukup untuk mengisi hati manusia. Kita harus membayangkan bahwa Sisifus berbahagia.” Tak pelak, bagi tokoh-tokoh semisal Sabda Dhani Wibisono, absurditas justru menjadi sumber alasan bagi mereka bermuslihat untuk mengakali hidup.

Yusi melalui tokoh-tokohnya berupaya menampilkan segala bentuk kenekatan paling liar yang mungkin dilakukan seseorang atas keabsurdan yang dialaminya. Dari rencana mendirikan agama baru sampai meminum cairan sperma demi kecerdasan.

Pemicunya dapat bermacam hal; asmara, keluarga, pekerjaan, agama, hingga politik yang memunculkan pelbagai ekspresi kemarahan, kebencian, dendam, kejahatan, bahkan kedunguan. Yusi, seperti dikatakan dalam buku ini, mengajak kita menyelam ke dalam palung-palung tergelap jiwa manusia, tempat asal-muasal seseorang sanggup melakukan apa saja.

Dalam cerpen Alfion, misalnya, Yusi menunjukkan kejahatan tidak melulu bermotif moralitas tetapi sebentuk represi psikologis. Yusi mengisahkan riwayat kejahatan yang dilakukan Alfion sepanjang hidupnya. Alfion membunuh seorang juragan karet, memukuli dan memeras pemilik restoran, dan hidup sebagai buronan. Serentetan tindak kejahatan yang dilakukan Alfion ternyata bersumber pada kebenciannya terhadap Ayahnya. Motif serupa akan kita temukan dalam cerpen Pergi ke Malang, tentang kepedihan seorang suami yang harus membunuh istrinya.

Muslihat dalam absurditas juga Yusi suguhkan dalam cerpen Pak Pendek Anggur Cap Orang Tua Terakhir di Dunia. Berkisah tentang tokoh bernama Jarwo yang terlahir cebol dan selalu jadi bahan ejekan. Jarwo mengikut pekerjaan ayahnya mencari kodok di sawah, sampai seseorang dari kota datang dan meminta Jarwo menjadi penghibur acara-acara promosi sebuah perusahaan minuman anggur. Jarwo bermimpi hidup enak dan lepas dari olok-olok. Tetapi Jarwo justru mengalami pelbagai peristiwa yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya, dan mati dengan cara yang menyedihkan.

Dalam setiap cerita, Yusi adalah pengarang yang eksploratif, imajinatif, sekaligus usil dalam menggarap narasi. Pembaca gampang menjadi jahat lantaran terhibur dengan derita para tokoh. Seperti halnya novel Raden Mandasia, Yusi mengesahkan dirinya sebagai seorang pendongeng yang cekatan mempermainkan takdir hidup para tokoh-tokohnya. Setelah selesai merampungkan bukunya ini, pembaca dapat terusik, atau justru merasa dibohongi dengan kutipan dari Ashalu Al-Maanah Al-Insaniyah atau Asal-Muasal Derita Manusia karya Yusuf Al Uraizy yang Yusi sodorkan di halaman awal bukunya: Tuhan berencana, manusia menentukan.

Melalui dua puluh satu cerpen yang terhimpun dalam buku ini, Yusi berhasil memperlihatkan betapa sering kita juga terjebak dalam absurditas yang sama seperti tokoh-tokoh dalam ceritanya. Dalam setiap absurditas tersebut, ketragisan hanya muncul saat si tokoh menyadari akan nasib sialnya. Maka kita boleh saja berandai-andai. Sekalipun misalnya kita adalah Sisifus, kita mesti pandai bermuslihat untuk menghibur diri.


Muhammad Khambali
Menulis cerita, esai, dan ulasan buku. Mengajar di YPD Rawinala, Editor Buku di Pustaka Kaji, dan pengelola buletin Oceh Buku. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di pelbagai surat kabar termasuk Koran Tempo, Koran Sindo, dan Pikiran Rakyat.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara