10 May 2017 Safar Banggai Sosok

Untuk sampai ke posisi sekarang sebagai penulis, Gus Muh sudah melewati jalan yang "berdarah-darah". Bukan hanya esai, suatu hari dulu Gus Muh pun ternyata pernah membuat puisi, di buletin kampus.

Percakapan yang Menyakitkan

Di depan poster almanak Logo Indonesia, tepat samping kiri lukisan Gus Dur karya Eddy SusantoPerupa Indonesia—di Markas Besar Indonesia Buku (I:Boekoe), Muhidin M. Dahlan yang kerap disapa Gus Muh sedang duduk di kursi favoritnya.

Senja itu Gus Muh tak beraktivitas seperti biasanya: duduk di depan laptop dan mengutik tuts tapi ripuh bersama gawainya. Entah apa yang ia lakukan bersama gawainya itu. Sedangkan saya mendigitalisasi majalah-majalah purba yang telah diendapkan bertahun-tahun di Warung Arsip.

Maret 2016, belum cukup sebulan saya terlibat di Warung Arsip sebagai arsiparis tak berijazah. Gerakan mengarsip ini bukan hal mudah, bukan perihal teknis saja. Lebih dari itu. Sehingga saya bertanya kepada Gus Muh, walau rada segan kepadanya tentang tujuan pengarsipan yang ia lakukan.

 “Gus, boleh saya bertanya?” Rasa gugup menguasai saya.

“Kamu ngomong apa? Kalau bicara jangan berkumur, harus jelas.” Gus Muh menjawab dengan wajah datar.

Bicara cepat adalah gaya orang timur. Logat ketimuran saya masih melekat kuat. Saya ulangi pertanyaan tadi dengan lambat dan jelas. Rasa gugup belum hilang.

“Kamu mau tanya apa?” Ekspresi datar Gus Muh masih bersemayam di wajahnya.

“Apa pentingnya arsip ini?” sambil menunjuk mesin pindai.

Mimik datar Gus Muh berubah tak berarah. Seolah suara guntur bercampur petir hinggap di wajah karismatiknya. Ia belum jawab pertanyaan saya tapi kepalanya menunduk ke bawah sambil menggeleng berkali-kali. Saya tak tahu maksudnya apa, mungkin begitu khas penulis kesohor di negara nusantara. Ia taruh gawainya di meja dan menyerong kursi ke kanan di hadapan saya yang duduk di hadapan lukisan Gus Dur.

“Arsip itu nyawa. Arsip adalah nyawa bangsa. Cukup bakar seluruh arsip negara, kamu telah menghancurkan sendi kehidupan negeri Pancasila ini.” jawabnya tegas tapi wajahnya tetap datar.

Setelah itu, saya tidak bertanya lagi. Jelas.

Sufi Kiri

Sufi Kiri adalah julukan kami (santri Komunitas Kutub: Pesantren Menulis) untuk Gus Muh. Predikat Sufi Kiri tak asal tersemat kepadanya namun memiliki sejarah panjang—mungkin pecinta karya-karyanya telah tahu.

Gus Muh pernah ditempa di HMI-MPO. Bosan dengan gerakan organisasi Hijau Hitam yang stagnan ini, ia move on ke Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dan sempat nyantri di Komunitas Kutub yang dididik langsung oleh Gus Zainal Arifin Thoha (pendiri Komunitas Kutub). Derap langkah itu mengakibatkan Gus Muh melahirkan dua anak rohaninya yaitu Sosialisme Religius: Suatu Jalan Keempat? (2000) dan Cinta Sang Kekasih: Menyelami Hakikat Cinta Sejati Para Kekasih Tuhan (2003).

Memang, menjadi alumni HMI-MPO, PMII, dan nyantri di Pesantren Menulis bukanlah indikator seseorang disebut Sufi. Tapi apa salah, bila santri Kutub memiliki indikator berbeda daripada yang lain.

Sepertinya sufisme bukanlah jalan yang nyaman untuk Gus Muh. Ia membelot dengan tikungan 180 derajat dari jalan sebelumnya. Biarpun ia tak melewati pengaderan organisasi mahasiswa komunisma atau kekirian, tapi esais komunisma kontemporer Indonesia layak disematkan kepada Muhidin M. Dahlan.

‘Nabi Sang Kegelapan’ ini mengubah haluan dari Islam ke komunisma walaupun komunisma kerap tertambat di tiap esainya, nilai-nilai Islam tetap ada. Semacam bermetamorfosa dari jalan sufi ke jalan kiri; Sufi Kiri.

Sebiji Sajak Cinta untuk Adinda

Mari kita baca kisah Gus Muh dalam—buku Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta (2003)—berjuang merebut hati redaktur agar tulisannya bertengger di kolom opini.

Teruntuk muda-mudi yang coba-coba ikut gerak langkah Gus Muh, sebaiknya jangan lihat ia yang sekarang. Tiap minggu esainya kerap dimuat di koran nasional, media daring, dan menerbitkan buku sekali setahun.

Beberapa kawan saya kerap bertanya bagaimana cara Gus Muh menulis atau kok mudah ya tulisannya dimuat di media cetak. Saya jawab sebisanya bahwa ia mulai menulis saat kuliah dan tidak serta-merta langsung lihai mainkan jarinya. Kerja keras dan berdarah-darah adalah titian yang ditempuh oleh Gus Muh muda. Perjuangan ini telah ditapaki oleh para penulis hebat. Meneladani maklumat dari Haruki Murakami bahwa ingin menjadi penulis semestinya memiliki tiga ini: bakat, fokus, dan daya tahan. Kalau bakat, kita abaikan saja sebab bakat akan muncul karena pergulatan yang tiada henti.

Kita yang mengaku dan mendaku diri ingin menempuh gelanggang kepenulisan sudah keok sejak dalam dan luar pikiran hanya karena sebutir puisi kita ditolak sekali oleh redaktur. Tak mencoba lagi dan lagi. Perlu diketahui ialah Gus Muh menjebol meja redaktur koran nasional membutuhkan 32 kali tulisan, itu pun masih sebatas resensi—tingkatan esai terendah.

Proses kepenulisan Gus Muh tidak sebatas pada esai saja tapi dunia kepenyairan pun ia hinggapi. Ada diktum yang kerap kita dengar bahwa jangan sesekali menyakiti perasaan penyair, karena kau akan abadi nantinya. Nah, ini berlaku kepada Gus Muh yang mengabadikan Adinda—sebutan untuk junior di HMI—di salah satu kampus Yogyakarta. Sebab tahun 90-an belum ada Facebook untuk menulis sajak. Menulis di buletin kampus adalah jalan yang ditempusnya agar Adinda sendu setelah membaca.

Sajak kekecewaan yang berlipat ganda itu tertuang dalam buku Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta halaman 198 terbitan terbaru:

Karena engkau begitu agresif dengan energi keaktifan yang luar biasa, sedangkan aku hanyalah cunguk yang sering meringkuk dalam kediaman yang bisu, maka kita berhitung.

Karena engkau adalah perempuan yang lahir dari tradisi mal sedangkan aku hanyalah seorang kumuh yang hanya sanggup berada di antara deretan aksara buku yang seakan-akan kuat tapi sesungguhnya rapuh, maka kita berjarak.

Karena engkau berpedoman pada jenis cinta yang erotis, sedangkan aku lebih memahaminya sebagai sabda-sabda yang suci, maka kita berbeda akar.

Karena engkau mengatakan aku bukan kolam buat ikan sepertimu, maka kita bercerai hati.

Karena engkau berkhianat maka cinta apa lagi yang diharapkan di sana. Sebab kalaupun kupaksa hidup dalam kolam khianat, toh aku mati juga dalam ganggang dalam lumut gelembung keperihan yang sudah-sudah.

Aku sudah melihatnya—melihatnya sudah.

Aku sudah mengetahuinya—mengetahuinya sudah.

Dan aku memutuskan: sampai di sini saja hubungan kita yang paling dingin dan aneh ini. Lain waktu bisa bertemu lagi. Itu pun kalau kamu masih percaya pada pertemuan waktu.

Tiap kali saya membaca sajak ini, imajinasi saya membayangkan bagaimana keperihan dan kepedihan Gus Muh saat itu. Toh aku mati juga dalam ganggang dalam lumut gelembung keperihan yang sudah-sudah.

Saya kira, bila Gus Muh tetap konsisten di sasana kepenyairan. Saya percaya dengan seyakin-yakinnya bahwa puisi dalam film Ada Apa Dengan Cinta #2 bukanlah dari M Aan Mansyur namun dari Muhidin M. Dahlan. Sayang, Gus Muh telah rontok serontok-rontoknya hanya karena perempuan yang lahir dari tradisi mal.

Akur Gus. Kami semua sayang padamu.


Safar Banggai
Lahir di Pulau Paisubebe, Banggai Laut, Sulawesi Tengah. Arsiparis di Warung Arsip, Indonesia Buku (I:BOEKOE). Salah satu pegiat Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara