Satu solusi distribusi buku ke pelosok-pelosok adalah menggunakan jasa kantor pos dan Pelni.

MENGHADAPI masalah demografi yang luas untuk pendistribusian buku, Muhidin M. Dahlan berpendapat bahwa BUMN seperti Pos Indonesia bisa dimanfaatkan untuk berjualan buku pula.

“Hanya lima hal yang mampu menjangkau demografi Indonesia yang begitu luas ini, yaitu TVRI, RRI, Kantor Pos, Pelni dan partai. Nah, Kantor Pos itu kan sepi biasanya. Lebih baik dimanfaatkan untuk bisa berjualan buku di situ karena pendistribusian dari distributor atau jaringan toko buku belum bisa menjangkau sampai ke pelosok-pelosok,” ujar Muhidin.

Selain Pos Indonesia, Pelni pun bisa dimanfaatkan lewat kapal-kapalnya yang kerap mengitari perairan Indonesia. “Daripada kapal-kapal rongsokan Pelni tidak dipakai, kan bisa dijadikan toko buku apung”, tambah Muhidin. Muhidin lalu menyarankan idenya ini untuk bisa ditindaklanjuti para penerbit indie beserta perusahaan EO khusus buku seperti ThreeG Production dengan melobi kepada presiden atau pejabat negara lainnya.

“Yakin saya, cara ini bikin rakyat untung, penerbit senang, penulis tenang, BUMN pun optimis bahwa mereka masih dibutuhkan oleh rakyat”, ujar Muhidin saat tampil sebagai salah satu pembahas dalam Sidang Komisi Distirbusi di Dongeng Kopi, Rabu (20/09).


Margareth Ratih Fernandez
Redaktur pelaksana di EA Books. Bermukim di Jogja.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara