Sebermula cerita pendek Indonesia adalah cerita-cerita jenaka yang menyerap kisah-kisah lokal. Dalam historiografi sastra Indonesia, Muhammad Kasim adalah salah satu pelopornya, dilanjutkan Suman Hasibuan.

SETUJU ATAU TIDAK, dalam pohon silsilah cerita pendek di Indonesia, kita mengenal nama M. Kasim sebagai Bapak Cerpen Indonesia.1 Mula-mula sastrawan kelahiran Muara Sipongi, Tapanuli, Sumatera Utara 1886 itu telah memproduksi cerpen jauh sebelum Perang Dunia Kedua meletus, seperti Bual di Kedai Kopi (cerpen), Bertengkar Berbisik (cerpen), Ja Binuang Pergi Berburu (cerpen), dan lain-lain yang diterbitkan dalam buku tipis yang memuat sebuah cerita.

Barulah terkemudian ia menulis untuk Majalah Pandji Poestaka. Kepiawaiannya mengemas humor dalam cerita membuat pembacanya terkekeh-kekeh. “Tjerita-tjerita lutju” untuk Pandji Poestaka itulah yang kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1936 dengan judul Teman Duduk.

Sebagaimana diketahui, pada zaman itu para sastrawan hadir dengan tradisi menulis roman, dan hanya penulis roman-lah yang dianggap sebagai sastrawan. Maka dari itu, bentuk pertama cerpen yang diperkenalkan berupa anekdot, cerita-cerita yang pendek-pendek dan lucu-lucu karangan M. Kasim  dikatakan sebagai pembuka jalan tradisi penulisan cerita pendek Indonesia.

Tulisan-tulisan M. Kasim itu sekaligus juga merupakan titian penghubung antara dua bentuk kesusastraan. Yang pertama adalah kesastraan lisan yang dikenal sebagai cerita-cerita pelipur lara, dan yang kedua adalah kesastraan tulis yang berbentuk cerita pendek namun tetap mempertahankan dongeng-dongeng lucu yang digemari hampir semua suku bangsa di Indonesia kala itu.

Agaknya M. Kasim mendapat pengaruh dari kekentalan tradisi sastra lisan di Nusantara. Tentu kita ingat dengan Lebai Malang, Si Kabayan, Jaka Dolok, dan nama-nama lain sebagai tokoh utama cerita-cerita lelucon di Nusantara.2 Pada saat itu, kehadiran cerita-cerita lucu sebagai hiburan dan perintang waktu seolah mengajak para pendengarnya untuk melupakan kesukaran hidup pada masa kolonial. Cerita jenis humor dapat menjadi “pendidikan sehat” bagi jiwa penikmatnya, karena ia tidak memilih tingkat usia dan ilmu pengetahuan sebagaimana karya sastra serius.

Berkenaan dengan hal tersebut, berikut petikan surat M. Kasim kepada Balai Pustaka sebagai jawaban atas usul penerbit untuk menerbitkan cerita-cerita lucunya yang selama ini terserak di Majalah Panji Pustaka:

"Menurut pendapat saya, cerita-cerita yang menarik hati ialah yang berisi percintaan, perempuan, perkara yang hebat, yang ajaib, yang sedih, dan yang lucu. Tetapi kegemaran akan perkara-perkara itu ada batasnya, bergantung kepada umur dan derajat jiwa seseorang. Hanyalah perkara lucu-lucu itu boleh dikatakan tidak ada batasnya. Orang yang telah berumur dan orang yang tinggi kecerdasannya pun masih suka kepadanya.”

M. Kasim banyak merekam dan menyikapi peristiwa-peristiwa sosial, tradisi adat-istiadat, agama, juga peristiwa kehidupan masyarakat berupa humor dan sering berupa kritik. Kenyataan di masyarakat itulah yang direspon oleh M. Kasim melalui cerita-cerita karangannya.

Nampaknya ada kesadaran penuh bahwa di masa-masa itu masyarakat pembaca perlu dimanjakan dengan hal-hal yang sifatnya menghibur, membuat hubungan antara pengarang dengan masyarakat pembaca terjalin dalam kesamaan persepsi tentang dunia bacaan. Hal ini bertujuan untuk menarik minat masyarakat masuk ke dunia bacaan dan menjadi masyarakat membaca.

Keberhasilan M. Kasim disusul oleh sastrawan seangkatannya, yakni Suman Hs. (Hasibuan) dengan kumpulan cerpen karyanya berjudul Kawan Bergelut (Balai Pustaka, 1938). Beberapa kalangan malah memandang bahwa karya-karya Suman Hs. lebih baik dari karya-karya M. Kasim. Gaya penulisan Suman Hs. sebagai sosok yang dilahirkan di Bengkalis, Riau, tempat keberadaan akar tunggang bahasa Indonesia, menunjukkan kemahiran dan keindahan cerita-ceritanya melebihi M. Kasim.3

Kedua sastrawan ini, M. Kasim dan Suman Hs., kemudian dikenal sebagai tokoh utama cerita pendek Indonesia modern. Penyebabnya karena genre cerita pendek belum pernah dikenal di dalam sastra Indonesia sebelum dua kumpulan cerpen kedua tokoh kita itu diterbitkan.4

Meski membuka jalan dalam pembaruan sejarah sastra di Indonesia, beberapa pengamat, peneliti, komentator, atau analis, “bertengkar berbisik” dengan pandangan bahwa karya kedua sastrawan pelopor itu kurang dalam mutu sebagai suatu pembaharu. Barangkali hal tersebut karena pada masa itu dalam menulis cerita pendek keduanya terlalu lugu, tidak dengan kesadaran mengarang untuk menciptakan karya sastra. Keduanya lebih banyak didorong oleh kehendak berlelucon, agar pembacanya dapat tertawa mendapat sesuatu yang menghibur.

Meskipun demikian, nyatanya karya-karya M. Kasim yang dikatakan kurang bermutu itu tetap saja memiliki sisi lain yang membuktikan bahwa karya tersebut merupakan landasan kebaharuan tradisi cerpen Indonesia modern. Dari landasan itulah bermunculan reaksi para pengarang lain untuk kemudian melanjutkan tradisi cerpen Indonesia menuju perkembangan yang lebih baik.

Hal tersebut tentunya ditempuh tidak dengan jalan membebek sepenuhnya kepada hasil pekerjaan pada masa M. Kasim. Satu hal lain yang perlu diingat adalah bahwa cerita-cerita lucu M. Kasim berhasil melawan arus tradisi penulisan roman dan lolos sensor peraturan ketat Nota Rinkes Penerbit Balai Pustaka.

Ya, M. Kasim tidak bisa lepas dari peran Balai Pustaka dalam perkembangan kesastraan Indonesia. Berdirinya Commissie voor De Volkslectuur  (Komisi untuk Bacaan Rakyat) pada tahun 1908, yang kemudian berubah menjadi Penerbit Balai Pustaka pada tahun 1917 memberi kesempatan bagi elit kecil dan para calon sastrawan untuk menikmati bacaan-bacaan serta melatih diri dalam dunia kepenulisan.

Dari situlah M. Kasim yang berkedudukan sebagai guru mendapatkan buku-buku bacaan. Dari situ pula jalan kepengarangannya ditempuh dengan mengirimkan cerita-cerita lucunya ke Majalah Pandji Poestaka serta memenangkan sayembara penulisan cerita anak-anak yang diadakan Balai Pustaka pada tahun 1924. Karya tersebut kemudian terbit di Balai Pustaka dengan judul Pemandangan dalam Dunia Kanak-kanak pada tahun 1928 dan terbit kambali setelah masa kemerdekaan dengan judul Si Samin.

Tidak banyak catatan mengenai riwayat hidup sastrawan bernama lengkap Muhammad Kasim ini. Sebagaimana nama-nama sastrawan pada masa Hindia-Belanda kisaran tahun 1920-an, para sastrawan awal banyak yang menyembunyikan identitasnya, terutama bagi yang terlibat secara langsung maupun tidak dalam perjuangan politik.

Penyebab penyembunyian identitas itu sederhana. Pada masa kolonial, tulisan-tulisan yang berhubungan dengan dunia politik dan kesusastraan mendapat perhatian khusus dan serius dari pemerintah Hindia-Belanda.5 Hal tersebut berkaitan dengan keberadaan media massa yang tidak diakui dan dianggap sebagai media massa sempalan karena tidak membawa misi penguasa dan cenderung menggunakan bahasa Melayu rendah. Para penulisnya, selain kebanyakan NN (nomen nescio) atau anonim, mereka juga lebih sering menggunakan nama pena (samaran) daripada nama asli.

Sementara itu, Balai Pustaka memiliki aturan-aturan yang menjadi pedoman penulisan karya sastra. Pedoman tersebut mengatur keharusan bersikap netral terhadap agama, memperhatikan syarat-syarat budi pekerti yang baik, menjaga ketertiban dan tidak diperbolehkan berpolitik melawan pemerintah sesuai dengan Politik Balas Budi yang disebut Nota over de Volkslectuur.

Nota over de Volkslectuur dibuat pada tahun 1911 oleh Komisi untuk Bacaan Rakyat dan sekolah Bumi Putera yang ditandatangani oleh Dr. D. A. Rinkes yang bertugas mengkaji bahasa-bahasa di Indonesia. Karena itulah Nota itu kemudian dikenal sebagai Nota Rinkes.

Sebagaimana telah disampaikan, apa yang dikerjakan M. Kasim itu merupakan suatu kebaharuan bagi tradisi penerbitan Balai Pustaka. Hal tersebut berhubungan dengan tugas komisi bacaan rakyat menyediakan bahan-bahan bacaan bagi rakyat Indonesia pada saat itu. Untuk memperoleh bacaan rakyat, komisi menempuh beberapa cara:

Pertama, mengumpulkan dan membukukan cerita-cerita rakyat atau dongeng-dongeng yang tersebar di masyarakat. Naskah tersebut kemudian diterbitkan sesudah digubah atau disempurnakan.

Kedua, menerjemahkan atau menyadur karya-karya sastra Eropa.

Ketiga, menerima karya pengarang-pengarang muda yang isinya sesuai dengan keadaan hidup sekitarnya dan tidak menyimpang dari gagasan politik etis (Balas Budi) yang diterapkan parlemen di Negeri Belanda kepada masyarakat Hindia-Belanda.6

Pada masa itu, naskah-naskah berupa bacaan anak-anak maupun bacaan orang dewasa sebagai penghibur dan penambah pengetahuan terbit terutama menggunakan bahasa Melayu selain menggunakan bahasa-bahasa daerah lainnya. Tentu semua terbitan Balai Pustaka sudah melewati sensor ketat yang berpatokan pada Nota Rinkes tersebut.  

Barangkali karena nalurinya sebagai seorang guru, M. Kasim yang hidup pada masa itu pun banyak mencurahkan perhatiannya pada bacaan-bacaan untuk anak-anak. Ia menerjemahkan cerita anak-anak seperti Niki Bahtera karya C.J. Kieviet (1920) dan Pangeran Hindi karya Lewis Wallace (1931). Ia juga menulis sebuah novel Muda Teruna (1922).

Keberhasilan M. Kasim menembus sensor Balai Pustaka, disadari atau tidak, menunjukkan hal yang sebenar-benarnya bahwa “tjerita-tjerita lutju” itu bukanlah sekadar lelucon semata. Ada kesadaran kebangsaan Indonesia seorang M. Kasim bahwa bangsa ini adalah bangsa yang plural sehingga ia berusaha menyatukannya melalui lelucon dalam cerita-ceritanya.

Dengan kata lain, senda gurau berkemungkinan menjadi cara untuk menyadarkan bahwa posisi semua rakyat bangsa ini adalah sama. Mereka sama-sama membutuhkan kebebasan untuk mengekspresikan ‘kebahagiannya’.7

Ada beberapa hal yang membuat M. Kasim memang layak untuk dibicarakan berkaitan dengan kepiawaiannya meramu cerita humor dalam cerita pendek. Karya M. Kasim sebagai cerpen masa awal dalam sastra Indonesia berkait erat dengan cerita-cerita rakyat yang khas dalam sebuah kebudayaan di masyarakat dengan nilai-nilai karakter masyarakat dan warna lokal yang tebal.

Dalam cerita-ceritanya, perwatakan tokoh mewakili suatu kebudayaan pada latar waktu dan tempat tertentu hadir tidak dengan suatu hal yang terkesan dibuat-buat secara berlebihan. Sementara itu, eksperimentasi bentuk dengan penggunaan bahasa Melayu menunjukkan estetika tanpa mengurangi muatan yang terkandung di dalam isi cerita yang disampaikan.

Selanjutnya, nilai moral di dalam masyarakat jadi masalah utama yang dipermainkan secara selaras dan realistis dalam ceritanya. Penggunaan pola struktur sudut pandang cerita lisan memberikan keluasan dan keleluasaan bagi pembaca untuk menafsurkan secara terbuka dengan bebas maksud yang ingin disampaikan pengarang.

Selain itu, sebagai embrio bentuk cerita pendek di Indonesia, karya-karya M. Kasim telah melahirkan inspirasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan cerpen di Indonesia. Untuk melihat kebenaran itu, disebutkan oleh Korrie Layun Rampan bahwa cerita humor dalam cerpen-cerpen Indonesia modern dapat ditemui dalam karya-karya Mohammad Diponegoro, Gerson Poyk, Yulius R. Sijaranamual, Nadjib Kartapati Z., dan lain-lain.8

Rasa-rasanya, cerita-cerita buah tangan M. Kasim memiliki umur panjang, tak lekang oleh waktu. Nilai-nilai yang terkandung dalam isi cerita memiliki tafsir yang tiada putus-putusnya dan agaknya masih relevan dengan situasi di masyarakat saat ini.

Membaca kekonyolan dari kelucuan dalam cerita-cerita M. Kasim, seperti “Senda Gurau di 1 Sawal”, “Tabik jang Bersambung-sambung”, “Air jang Pandai Berlaga”, “Bertengkar Berbisik”, “Bual di Kedai Kopi”, misalnya, kita akan merasa tiada putus-putusnya terbahak melihat kejujuran sebuah karya yang menerbitkan sikap tidak ingin ditertawakan atau menertawakan diri sendiri, namun mengubah sikap hidup supaya tidak menjadi bahan tertawaan. Salah jika menganggap cerita-cerita M. Kasim hanya sebuah cerita anekdot pelipur lara yang tidak berbobot, rendah mutu.  Kira-kira begitu.

 

Catatan Kaki:

1. Ada bermacam pendapat yang dikemukakan sejumlah kritikus sastra Indonesia berkenaan dengan penyebutan M. Kasim sebagai Bapak Cerpen Indonesia. Jika merujuk pada pemahaman dan kesepakatan bahwa kesusastraan Indonesia lahir bersamaan dengan lahirnya bahasa Indonesia, yaitu sejak munculnya semangat kesadaran kebangsaan Indonesia, bukan pada saat bahasa Indonesia diikrarkan dan disahkan sebagai bahasa nasional, maka cerita-cerita M. Kasim tergolong sebagai karya sastra Indonesia modern masa awal, karena ditinjau dari sejarah, pada tanggal 20 Mei 1908 sudah muncul kesadaran kebangsaan Indonesia. Mengenai hal ini ada baiknya baca Ajip Rosidi, 1964, Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir?, Jakarta: Bhratara.

2. Baca Ajip Rosidi, “Pertumbuhan dan Perkembangan Cerpen Indonesia” dalam Pamusuk Eneste (ed.), 1983, Cerpen Indonesia Mutakhir, Jakarta: Gramedia.

3. Baca Ajip Rosidi, 1968. Tjerita Pendek Indonesia. Jakarta: Gunung Agung.

4. Baca Korrie Layun Rampan pada “Suman Hs. (1904-1999) Novelis dan Bapak cerpen Indonesia”, Kakilangit 203/ November 2013, Horison xlviii/11/2013.

5. Baca Korrie Layun Rampan pada “Muhammad Kasim (1886-...) Sang Pemula Cerpen Indonesia”, Kakilangit 116/ Agustus 2006, Horison xxxxi/8/2006.

6. Makalah: “Menguak Polemik Pengangkatan Muhammad Kasim sebagai Bapak Cerpen Indonesia”, Fitri Merawati, Nanang  Syaiful Rohman, Frisky Ilma Nafiana, Pascasarjana Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, 2013.

7. Ibid.

8. Ibid.

 


Latief S. Nugraha
Carik di Studio Pertunjukan Sastra dan Balai Bahasa DIY. Buku kumpulan puisinya Menoreh Rumah terpendam (Interlude, 2016).
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara