Suatu hari sebelum medsos ramai digunakan untuk berjualan buku, hal serupa sudah dilakukan banyak orang melalui milis. Salah satu milis yang pernah aktif, milis pasarbuku, bisa memiliki anggota mencapai 9620.

Buku memberiku begitu banyak hal, Teman, sahabat, sedikit uang untuk hidup, dan juga cinta.

Moh. Rudy aka Kardus Buku

 

SEBAGAI SEORANG PECINTA buku sejak kecil yang kemudian menjadikan dunia perdagangan buku sebagai sumber pendapatan utama saat dewasa, saya mengamini secara mutlak apa yang dituliskan Bung Rudy tersebut. Dunia buku bagi saya tak hanya tempat bermain tapi juga tempat mencari penghidupan, baik penghidupan secara materi maupun penghidupan bagi jiwa.

Di tengah riuhnya perdagangan buku online di media sosial akhir-akhir ini, saya teringat beberapa tahun kemarin ketika saya mulai berjualan buku-buku lawas. Berawal dari penemuan saya ketika berselancar di dunia maya pada sebuah milis di yahoo yang ramai dengan postingan mengenai buku, baik buku-buku baru maupun yang tergolong langka. Milis tersebut bernama pasarbuku.

Milis atau mailing list adalah media interaksi di dunia internet di mana antar sesama anggotanya bisa saling bertukar informasi dan berita. Sistem kerja milis adalah dengan memanfaatkan akun email.

Siapapun bisa ikut berkomunikasi dalam milis jika dia memiliki akun email, dan dia bebas mengikuti milis apapun yang dikehendakinya karena sifat keanggotaan milis yang terbuka. Meski demikian, biasanya ada aturan-aturan yang ditetapkan oleh beberapa orang yang membentuk milis tersebut. Penegakan aturan main sebuah milis umumnya dipegang oleh seorang atau beberapa orang yang diangkat menjadi administrator atau moderator.

Ada 2 jenis milis yang lazim didirikan, yakni milis Announcement Type List  dan Discussion Type List. Pada Announcement Type List, interaksi hanya berjalan searah. Dalam milis semacam ini, anggota milis hanya menerima informasi tanpa bisa memberikan umpan balik ataupun mengomentari informasi yang dia terima. Sebaliknya, pada Announcement Type List, setiap anggota bisa saling berkomentar dan memberikan umpan balik atas segala informasi atau berita yang dia terima.

Setiap anggota milis bisa sewaktu-waktu berhenti mengikuti sebuah milis yang diikutinya. Cara kerja milis hampir sama dengan forum atau grup-grup diskusi di Facebook. Perbedaanya hanya pada keanggotaan. Setiap anggota milis ditandai sesuai alamat emailnya masing-masing. Kebanyakan milis di Indonesia menggunakan layanan yang disediakan secara gratis oleh Yahoo dan Google.

Sebagai seorang pengangguran di tahun 2003, saya cukup aktif mengikuti berbagai milis, dari yang awalnya hanya sekadar bermain-main mengisi waktu luang hingga akhirnya terjun secara aktif. Keaktifan itu muncul setelah saya menemukan sebuah milis yang banyak membicarakan dunia buku: milis pasarbuku.

Milis pasarbuku ini saya temukan saat saya iseng mencari buku-buku Pramoedya Ananta Toer melalui yahoo. Saya lalu bergabung menjadi anggota dan rajin mengikuti semua postingan dari milis tersebut yang masuk melalui email pribadi saya. Di milis pasarbuku, saya menemukan sebuah interaksi menarik dari berbagai pihak yang terkoneksi oleh satu hal: buku.

Milis yang beralamat di yahoogroups ini pertama kali dibangun pada tahun 2000 oleh Komunitas Pasar Buku Indonesia. Digawangi Wien Muldian, ini adalah tempat bertemunya semua individu dan komunitas yang bergerak di dunia perbukuan. Sesuai namanya, postingan di milis ini dipenuhi berbagai penawaran buku dari para pedagang buku atau para kolektor buku, baik yang bersifat jual beli, barter atau sekadar berbagi informasi buku. Anggota milis juga berasal dari berbagai kalangan, dari mulai penggiat literasi sampai para pekerja buku, terutama penulis dan penerbit.

Tapi tentu saja yang paling seru dari milis pasarbuku adalah penawaran buku-buku, terutama buku-buku bekas yang sudah mulai susah didapatkan tapi banyak peminatnya. Hampir setiap saat masuk berbagai email dari anggota milis ke dalam kotak pesan email pribadi saya. Berbagai respon dari anggota milis yang lain menyita perhatian saya, bagaimana sebuah penawaran buku langsung dibalas dengan permintaan terhadap buku yang ditawarkan tersebut.

Hal inilah yang kemudian memunculkan keisengan saya untuk mencoba peruntungan dengan menjual beberapa buku koleksi saya. Ternyata keisengan saya tersebut berbalas positif. Beberapa anggota milis kemudian berkirim pesan secara pribadi ke akun email saya untuk bertransaksi. Saya yang tidak siap akhirnya kelabakan meminjam rekening bank seorang kawan, karena saat itu saya tidak memiliki rekening bank sama sekali.

Hasil positif dari postingan awal saya tersebut berujung pada keseriusan saya untuk berjualan buku di milis pasarbuku. Jadwal sehari-hari saya pun berubah seperti ini:

Di siang hari saya mencari buku-buku di berbagai lapak buku bekas, sore hari saya balik ke rumah, membuat daftar buku-buku yang hendak ditawarkan, kemudian di malam hari saya bergerak ke warnet untuk berkirim email via milis sekaligus berinteraksi dengan sesama anggota milis. Bisa mendapatkan uang dari berjualan buku via milis benar-benar merupakan masa yang menyenangkan bagi saya yang waktu itu tidak memiliki pekerjaan tetap.

Berbeda dengan aktifitas perdagangan buku online saat ini, ketika perkembangan media sosial yang terfasilitasi dengan perkembangan teknologi telepon pintar memudahkan pedagang buku dalam menawarkan buku dagangannya, era milis bagi saya menyisakan keseruan yang takkan terlupakan.

Berbeda juga dengan perdagangan online saat ini yang memungkinkan kita mengirim foto kondisi buku yang ditawarkan, untuk berdagang di milis, kita tidak bisa menyertakan foto buku yang kita tawarkan. Hal itu disebabkan beberapa milis membatasi anggotanya untuk mengirimkan lampiran foto atau gambar. Solusi yang biasanya diambil adalah kita menjelaskan secara rinci buku apa yang hendak ditawarkan.

Ketidakberadaan foto ini agak menyusahkan calon pembeli buku, karena mereka tidak bisa meneliti dulu kondisi buku yang hendak dibelinya. Tentu mereka bisa menghubungi sang penjual buku melalui jalur pribadi dan meminta dikirimi foto detail buku-buku yang diminatinya, akan tetapi hal itu bisa membutuhkan waktu yang agak lama, karena tidak semua penjual buku siap dengan foto buku-buku yang dia jual.

Setiap pedagang punya jurus uniknya masing-masing. Saya memilih menulis secara rinci nama penulis, judul buku, tahun terbit, nama penerbit, juga tebal buku dengan ditambahi keterangan mengenai kondisi masing-masing buku. Karena yang saya jual adalah buku-buku lama dan buku-buku bekas baca, maka penjelasan mengenai kondisi buku sangatlah penting.

Pada masa-masa awal saya berjualan, saya belum paham bagaimana pentingnya menjelaskan kondisi sebuah buku yang saya jual. Salah satu imbasnya adalah ada banyak keluhan dari para pembeli buku saya yang merasa kurang nyaman dengan buku yang dia beli dari saya.

Pada tahun 2007, saya mulai membuat blog khusus untuk menampilkan buku-buku yang saya jual. Hal ini saya lakukan supaya calon pembeli lebih mudah mengecek rincian buku-buku mana yang dibutuhkan, agar tidak seperti membeli kucing dalam karung. Saya tetap tawarkan koleksi saya di milis, tapi bersamanya saya sertakan tautan link blog toko online saya tersebut.

Salah satu keseruan lain adalah cara setiap pedagang berusaha menarik perhatian peminat buku terhadap koleksi yang dia tawarkan. Hampir setiap saat ada saja penawaran buku. Terkadang seorang pedagang bisa mengirimkan lebih dari satu postingan daftar buku-buku yang dijualnya.

Saya sendiri terkadang lebih dari sekali dalam satu hari mengirimkan daftar buku-buku yang saya jual. Hal itu dimaksudkan selain untuk memperbarui daftar stok buku yang saya jual, juga untuk menginformasikan buku-buku yang sudah dipesan atau sudah terjual.

Gesekan antar individu dalam milis pasar buku adalah sesuatu yang tak terelakkan terjadi. Kadangkala sebuah masalah bisa direspon secara terbuka bila dianggap berpotensi mengganggu kestabilan milis. Pada saat itulah peran moderator atau admin penting sekali dalam menegakkan aturan yang telah ditetapkan dalam pendirian milis.

Seringkali pula protes dilayangkan pada mereka yang mengirim informasi di luar dunia buku atau tidak bersangkut paut sama sekali dengan dunia buku. Terkadang muncul pula laporan tentang individu-individu nakal yang tidak konsekuen dalam bertransaksi. Keributan-keributan kecil antar individu di milis pasar buku bagi saya adalah keseruan, karena dari polemik yang terjadi tadi saya belajar banyak hal mengenai dunia perbukuan di Indonesia.

Saya pribadi merasa lebih nyaman jika peminat buku-buku saya langsung mengontak saya secara personal. Hal itu bisa dilakukan baik dengan membalas secara personal email yang saya kirimkan ataupun menghubungi nomor telepon yang saya cantumkan dalam setiap email yang saya kirimkan di milis.

Bagi saya saat itu, transaksi jadi lebih mudah jika dilakukan secara tertutup antar pribadi karena cenderung tidak mengganggu kenyamanan anggota milis lainnya. Saya sendiri sering merasa tidak nyaman jika melihat beberapa kawan pedagang di milis yang bertransaksi secara terbuka dan mengirimkan email yang banyak dan cenderung diulang-ulang sehingga berpotensi menjadi semacam spam.

Persaingan usaha dalam milis pasarbuku biasanya terjadi di antara pedagang-pedagang yang berjualan buku dengan kategori yang hampir sama, semisal persaingan antar pedagang buku atau komik bekas, persaingan antar pedagang buku antik, dll. Tapi seringkali persaingan tersebut memunculkan adu kreatif dalam menawarkan dagangan masing-masing.

Bagi para kolektor atau pecinta buku yang sudah tahu buku-buku apa yang dia inginkan, perburuan dengan memantau setiap email masuk dari penjual buku di milis juga memunculkan persaingan. Meski demikian, persaingan tersebut tidak seekstrem perdagangan buku online saat ini ketika terkadang hanya dalam waktu semenit dari saat sebuah buku bagus diposting, buku tersebut sudah berstatus terpesan atau terjual.

Perdagangan buku online melalui media sosial saya rasa banyak memberikan kemudahan baik bagi penjual maupun pembeli. Dalam hal ini, pedagang buku bisa dengan cepat menawarkan buku-bukunya tanpa harus susah payah mendatanya terlebih dahulu. Tinggal memfoto buku, memberi keterangan mengenai detail buku berikut kondisinya, mengirim gambar, dan tinggal menunggu respon pembeli. Pada titik ini keterampilan pedagang dalam mengolah foto dan menjelaskan buku-buku yang dia jual menjadi seni tersendiri.

Sementara itu, kemudahan bagi pembeli adalah mereka bisa melihat secara detail kondisi buku. Mereka juga bisa mengirimkan komentar atau bertanya secara langsung kepada sang pedagang mengenai buku yang diminati.

Dengan kata lain, perdagangan online saat ini jauh lebih mudah dan cepat dibandingkan saat saya berjualan di milis dahulu. Kemudahan itulah yang saya tengarai memunculkan banyak pedagang-pedagang buku online kini, baik yang sudah terlebih dahulu mempunyai lapak offline atau yang awalnya hanya coba-coba merintis usaha perdagangan buku seperti yang dulu saya lakukan.

Sayang, sejak ramainya perdagangan buku di dunia media sosial, terutama facebook, dunia milis pasarbuku mengalami penurunan eksistensi. Dari data yang saya ambil, jumlah pesan masuk mencapai tingkat tertinggi pada bulan Juni 2006 dengan jumlah mencapai 1106 pesan. Mulai tahun 2012, pesan yang masuk di milis pasarbuku mengalami penurunan signifikan. Hingga di akhir tahun 2016, hanya 2 pesan penawaran buku yang masuk ke milis.

Tapi bukan berarti milis pasarbuku ditinggalkan oleh penghuninya. Karena tercatat kenggotaan milis tersebut masih 9620 alamat email. Dengan kata lain, milis tersebut tidak ditinggalkan oleh penghuninya, tapi memang tak lagi dihidupkan. Mungkin juga memang sudah tak ada lagi yang mau menghidupkan, atau memang tak lagi mengecek email karena lebih asik berkirim pesan via medsos.

Sesekali saya masih menyempatkan diri melongok milis pasarbuku walau nyaris tak pernah lagi menawarkan buku-buku koleksi saya di situ. Saya total beralih menjual buku-buku koleksi saya via medsos. Namun saya tak akan melupakan peranan milis tersebut dalam kehidupan saya sebagai pecinta dan pedagang buku.

Bagi saya, milis pasarbuku adalah jejak awal pasar buku online. Ia adalah media yang membuat saya menemukan bahwa hidup dari buku adalah takdir yang harus saya jalani dengan suka cita, karena dari dunia buku saya dapatkan semua hal yang membuat saya tetap hidup.


Kredit Gambar : pixabay
Dodit Sulaksono
Dodit Sulaksono adalah seorang pedagang buku sekaligus seorang ayah. Sosok penyayang sekaligus pemarah.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara