Musik dan Sastra, khususnya novel, nampak akrab dalam Seni Novel-nya Milan Kundera. Bukan kebetulan: sastrawan terkemuka kelahiran Ceko itu sampai usia 25 masih lebih tertarik pada musik daripada sastra.

ADALAH DALAM RISALAH Aristoteles yang berjudul Puitika kita bisa menemukan musik dan sastra disinggung dalam satu tempat yang sama pertama-tama. Musik dan Sastra berbeda dalam hal media representasinya. Sementara musik menggunakan irama dan melodi, sastra menggunakan bahasa.

Sastra pada masa Aristoteles memiliki tiga genre: epik, lirik, dan drama. Di kemudian hari, meski tidak sepenuhnya lepas dari karakteristik dua genre lain, dari tiga genre kuno ini lahir genre sastra modern: epik melahirkan prosa, lirik melahirkan puisi, drama melahirkan drama.

Tapi Aristoteles tidak menutup kemungkinan kombinasi media representasi. Maka pada genre lirik kita menemukan media representasi bahasa, irama, dan melodi. Bentuk yang bisa kita temukan sisanya pada masa kini dalam wujud musikalisasi puisi.

Demikian juga pada genre drama. Sebermula pada zaman Renaisans, kita menemukan musik yang digunakan sebagai bahan dramaturgi yang disebut sebagai opera. Lalu berlanjut kita pun, dalam kaitannya antara naskah drama dengan musik, mengenal istilah libreto, yakni naskah drama musikal.

Lalu bagaimana hubungan antara genre epik dengan musik? Atau, bagaimana menghubungkan antara prosa—sebagai bentuk evolusi dari genre epik—dengan musik?

Pada titik inilah kita bisa menyebut satu nama dan satu judul: Milan Kundera, Seni Novel.

*

Milan Kundera lahir di Brno, Cekoslovakia, pada tahun 1929. Selepas kehilangan kewarganegaraan Ceko, Kundera menetap di Perancis dan pada tahun 1981 menjadi warga negara kehormatan Perancis. Setelah itu, Kundera selalu meyakini bahwa dirinya adalah penulis Perancis sehingga karya-karyanya pun dianggapkan sebagai bagian dari Sastra Perancis.  

Meski menulis genre sastra yang berbeda-beda—puisi, prosa (novel dan cerpen), naskah drama—dan dia lebih dahulu menerbitkan kumpulan puisi daripada novelnya pada tahun 1953, nama Kundera mendunia melalui novel-novelnya. Menyebut dua judul di antaranya (dalam versi Bahasa Inggrisnya): The Book of Laughter and Forgetting dan The Unbearable Lightness of Being.

Sementara dari kumpulan esainya, salah satunya adalah L’art du Roman, pertama terbit sebagai buku pada tahun 1986 dalam Bahasa Perancis, dua tahun kemudian diterbitkan sebagai buku dalam bahasa Inggris sebagai The Art of the Novel. Terjemahan pertama buku ini dalam bahasa Indonesia diterbitkan tahun 2002 dengan judul Art of Novel (Jalasutra), terjemahan kedua pada tahun 2016 dengan judul Seni Novel (Octopus).

Seni Novel bukanlah buku petunjuk praktis menulis novel. Buku yang merupakan kumpulan tulisan yang diciptakan terpisah ini adalah kisah pengalaman Kundera dalam menulis novel-novelnya. Dari tujuh bagian yang ada di dalamnya, ada tiga esai, dua perbincangan dengan Christian Salmon dari The Paris Review, satu glosarium yang memuat 63 kata kunci estetika novelnya, dan satu naskah pidato terima kasih saat mendapatkan Jerusalem Prize.

Dengan kata lain, buku ini adalah semacam puitika Kundera perihal novel, seni komposisi novel-novelnya. Sisi pentingnya, buku semacam ini bisa memberikan inspirasi, meski tentu saja tak ada keharusan menirunya ataupun meninggalkannya. Sebagaimana Puitika-nya Aristoteles, Seni Novel pun mengandung muatan historiografi. Kundera misalnya di dalamnya menelusuri perubahan pandangan seni novel Cervantes berlanjut ke masa yang lebih baru: Joyce, Kafka.

Yang menarik, dalam tulisannya, Kundera banyak membuat perbandingan antara novel dengan musik. Hal itu mungkin disebabkan oleh cita-citanya masa kecil untuk menjadi musisi—“sampai usia dua puluh lima, saya jauh lebih tertarik pada musik daripada sastra”—dan ayahnya sendiri adalah seorang pemain piano.

Dengan kata lain, Kundera memiliki pengetahuan yang luas tentang musik. Ia menyebut banyak nama komponis dari mulai Beethoven, Chopin, Stravinsky, Schoenberg, sampai Janacek. Tak heran pula kita menemukan berbagai kata yang bisa dikatakan bukan pilihan lazim seorang novelis saat membahas novel seperti fuga, rondo, adagio, dan scherzo. Dalam perbincangannya dengan Christian Salmon misalnya, Kundera mengatakan seperti ini:

Polifoni dalam musik adalah penyajian berbarengan dua atau lebih suara (baris-baris berirama) yang terikat bersama-sama dengan sempurna akan tetapi masih menjaga kebebasan nisbi mereka. Dan polifoni dalam novel? Pertama mari kita mengemukakan yang berlawanan dengannya: komposisi yang unilinear. Kini, semenjak awalnya, novel selalu mencoba untuk melarikan diri dari unilinear, untuk membuka celah-celah dalam narasi tanpa henti sebuah kisah. (hal.97)

Unilinear: berkembang pada atau melibatkan serangkaian tahapan, biasanya dari yang primitif ke yang lebih maju. Kundera membahas novel sebagai narasi dengan berbagai lanturan, bukan sebagai kisah yang monoton hanya bergerak ke satu arah, linear.

Demikian juga dia mencontohkan novel-novelnya—yang dia katakan merupakan “varian-varian sebuah arsitektur yang berdasarkan pada angka tujuh” (hal.117)—sambil menganalogikan “bagian” dengan “irama” dan “bab” dengan “ketukan”, dua istilah yang diambilnya dari dunia musik. Dari sana dia kemudian memberikan penjelasan rinci seputar tempo per bagian novelnya yang bisa diidentifikasi menggunakan tanda musik: moderato, presto, adagio, allegreto.

Kundera juga bertolak dari soneta Chopin yang menyajikan irama sentimental kemudian ditutup dengan irama tidak-sentimental dalam penciptaan sebuah novel yang menurut dia bagus. Baginya, “menyusun sebuah novel itu sama dengan menyusun ruang-ruang emosional yang berbeda saling berdampingan” (hal.123).

Pada titik ini Seni Novel Kundera menjalankan satu fungsinya yang lain yang juga penting, yakni memberikan tolok ukur nilai sebuah novel. Yang perlu disadari, tolok ukur semacam ini tidaklah mutlak, melainkan terikat ruang. Selalu ada tolok ukur “bagus” yang lain yang didasarkan pada konsep orang yang berbeda.  

Penarikan ranah novel ke ranah musik seperti yang dilakukan Kundera sebenarnya juga bukan hal yang sepenuhnya baru. Satu yang tak bisa ditolak adalah dia memberikan satu contoh yang rinci tentang hal itu. Contoh tersebut dia perjelas kembali kelak dalam antologi esainya yang lain yakni Testaments Betrayed yang diterbitkan tujuh tahun setelah Seni Novel.

Konsep Kundera bahwa dalam novel-novelnya “semenjak kata pertama, pemikiran-pemikiran saya memiliki sebuah nada” (hal.107), misalnya, mau tak mau mengingatkan pada apa yang dalam dunia kritik sastra dikenal sebagai tone, cara seorang pengucap berkata pada pendengar. Dari analisis tone sebuah tokoh dalam novel misalnya, bisa ditarik informasi seputar watak tokoh tersebut, relasinya dengan yang diajak bicara, ataupun kondisi emosionalnya.

Begitulah, dalam tulisan-tulisan Kundera yang dirakit menjadi satu buku Seni Novel, kita menemukan keakraban antara musik dan sastra, khususnya genre modern novel. Keakraban yang sayangnya jarang kita bahas seolah keduanya berjalan pada jalur yang tak memiliki pertautan sama sekali. Padahal, keduanya adalah sama-sama turunan seni, yakni karya-karya yang sama tercipta, kata Kundera, dengan “diinspirasi oleh gelak tawa Tuhan”.


Cep Subhan KM
Penulis dan Penerjemah kelahiran Ciamis yang sekarang berdomisili di Yogya.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara