Lahir di Kabupaten Bone, salah satu daerah otonom di Sulawesi, Penerbit Metabook hadir dari seorang yang justru jauh dari hiruk pikuk perbukuan.

BELAJAR. KATA ITU barangkali merupakan kata yang paling tepat untuk kami sematkan pada apa yang telah kami kerjakan, termasuk dalam menciptakan buku.

Saat berangkat dari Makassar pada pertengahan tahun 2014, itulah untuk pertama kalinya saya memutuskan pergi merantau. Saat itu saya tak memiliki bekal pengetahuan apa pun tentang suatu kota yang hendak saya tuju, kecuali ada terpatri di benak saya satu hal bahwa di sana akan banyak buku dan penerbit.

Tidak bisa saya pungkiri bahwa pilihan saya merantau ke Jogjakarta, dengan tanpa memiliki sanak keluarga di kota ini ataupun bekal pengetahuan memadai baik secara geografis maupun kultur tentangnya, pada dasarnya juga karena saya ingin melanjutkan pendidikan. Di kota ini saya kemudian mendaftar di salah satu universitas.

Ya, bisa dikatakan apa yang saya lakukan adalah sambil menyelam minum air. Saya melanjutkan pendidikan sekaligus menimba ilmu tentang perbukuan.

Saya punya deskripsi sendiri tentang benda yang bernama buku itu. Andaikan buku serupa seorang wanita maka ia wajib saya jadikan istri. Buku tidak hanya membawa saya sampai ke kota ini, tetapi juga mempertemukan saya dengan banyak orang yang awalnya tidak pernah saya pikirkan bisa bertemu.

Saya memulai upaya mengumpulkan buku pada tahun 2012 dengan cara membeli online. Di daerah saya, Makassar, jika boleh jujur, tidak ada banyak buku yang sesuai dengan selera saya. Karena itulah membeli buku secara online menjadi cara untuk menemukan buku-buku yang saya suka.

Di sanalah saya kemudian bertemu dengan dua orang sahabat yang lagi-lagi juga sangat membantu saya belajar “buku”, Eka PoCer dan Adhe. Buku tidak hanya memberikan ilmu dan informasi, tetapi juga bisa memberikan banyak sahabat. Hal itu telah saya buktikan sendiri.

Sambil kuliah, saya berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak beres jika telah jauh merantau tapi hanya melakukan aktivitas “kuliah” semata. Sementara di sisi lain, saya menyukai buku dan ada orang-orang yang ingin mengajari saya tentang bagaimana cara membuat buku sendiri.

Pada akhirnya, karena merasa tertantang, saya pun memutuskan untuk ikut mendirikan penerbit. Konsekuensinya, saya wajib membagi waktu dengan baik antara  buku dan waktu kuliah karena saya harus tetap mengingat tujuan utama saya ke Jogja, yaitu kuliah.      

Kami memilih Nama Metabook

Metabook. Merek itulah yang kemudian kami gunakan untuk buku-buku yang kami terbitkan. Entah mengapa saya dan teman-teman menyepakati nama itu. Walaupun ada beberapa alternatif nama yang lain, akan tetapi, nama itulah yang kemudian melekat sampai sekarang.

Tahun 2015 tepatnya penerbit Metabook berdiri. Saya dibantu oleh dua orang sahabat untuk mengelolanya, Israr Nuryadi dan Prima Hidaya. Kedua sahabat ini memiliki peran masing-masing yang berbeda satu sama lainnya dalam setiap terbitan Metabook selanjutnya. Ada yang bertugas sebagai “ini” dan ada yang bertugas sebagai “itu” (penerjemahan, editor, perwajahan buku—peny.).

Sebagai penerbit awal yang belum lama berdiri, penerbit Metabook tentu memiliki banyak keterbatasan, termasuk dana dan juga banyak hal lainnya. Meskipun demikian, penerbit yang saya dirikan dengan dibantu oleh kedua orang sahabat saya itu akhirnya sedikit demi sedikit bisa menerbitkan beberapa judul buku di sela waktu kuliah kami bertiga.

Dengan anggapan bahwa kuliah tetap menjadi tujuan utama, maka dengan terpaksa buku dinomorduakan. Walaupun begitu, hal itu bukan berarti kami lantas menjadi seenaknya dalam mengejarkan buku-buku yang kami terbitkan. Sebaliknya, kami tetap mencoba memberikan yang terbaik dari apa yang bisa kami berikan. Kami juga terus belajar dari kesalahan dan tak henti melakukan perbaikan demi perbaikan supaya bisa menciptakan hasil lebih bagus dari apa yang telah kami kerjakan sebelumnya.

Menciptakan Buku adalah Kepuasan

Terbitan pertama Metabook adalah Perjalanan Ke Timur karya Hermann Hesse. Sebelum naskah itu beredar, saya telah berbicara kepada dua orang sahabat saya yang membantu di Metabook bahwa apa yang menjadi tujuan utama dari mendirikan penerbit ini adalah untuk “menambah referensi bacaan, kalaupun ada duitnya, itu belakangan.”

Di Metabook kami belajar. Setiap naskah yang terbit di Metabook adalah kepuasan kami karena dengannya kami bisa ikut andil menambah referensi bacaan mengingat minimnya jumlah bacaan yang ada. Minimnya jumlah bacaan itu terutama untuk kategori naskah-naskah asing yang diindonesiakan.

Dalam usianya yang masih sangat muda, penerbit Metabook mampu menghadirkan naskah terjemahan sebanyak lima judul. Karya Jean Paul Sartre merupakan naskah terbaru yang Metabook terbitkan. Memasuki tahun kedua penerbit ini, kami tetap berusaha terus menambah referensi bacaan untuk masyarakat, khususnya naskah-naskah yang belum ada di pasaran. Semoga kehadiran penerbit Metabook dengan segala keterbatasannya tetap bisa memberikan suguhan judul-judul baru kedepannya.


Indra Andi Batara
Indra Andi Batara, menyelesaikan studi S2 Sastra di Universitas Negeri Yogyakarta. Bersama dua rekannya, ia kini menjalankan penerbit metabook.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara