Svatantra, artinya independen, mandiri. Didirikan tahun 2013, penerbit indie ini pada tahun 2016 menerbitkan Hikayat Tirai Besi yang menggemparkan. Rencana tahun 2017: menerbitkan tiga atau lima buku, termasuk novelet.

Saya selalu ingat bagaimana sulitnya menembus penerbitan besar agar buku-buku saya bisa terbit. Waktu itu novel pertama saya, “Bandar: Keluarga, Darah dan Dosa yang Diwariskan”, selalu ditolak berbagai penerbitan. Dalam penolakan itu, ada penerbit yang memberikan masukan dan kritiknya sehingga saya bisa memperbaiki naskah novel saya, ada juga yang tidak memberikan jawaban sama sekali.

Sampai akhirnya untuk sementara waktu saya melupakan dulu upaya menerbitkan naskah itu melalui penerbitan besar. Pada 2011, tiba-tiba saja saya pikir akan lebih mudah untuk menerbitkan buku melalui penerbit indie. Pilihan saya jatuh pada penerbitan Majelis Sastra Bandung (MSB), karena yang mengelolanya kawan saya sendiri. Untuk percobaan, saya memberikan naskah kumpulan cerpen saya “Johnny Mushroom dan Cerita Lainnya.”

Sebenarnya saat itu saya hanya meminjam “bendera” saja kepada MSB, selebihnya saya harus membiayai sendiri penerbitan buku kumpulan cerpen itu: mulai dari tata letak, desain sampul, sampai percetakan. Saya meminjam bendera, karena benar-benar tidak tahu bagaimana menerbitkan buku sendiri, dan saya membutuhkan bendera untuk mengurus ISBN—yang saat itu belum dilakukan secara daring.

Setelah diterbitkan, “Johnny Mushroom dan Cerita Lainnya” tidak mendapat respon yang begitu bagus. Tetapi setidaknya saya jadi belajar tentang seluk-beluk penerbitan indie. Dan pelajaran itulah yang saya gunakan untuk membuat penerbitan saya sendiri.

Saya dan istri saya, Reita Ariyanti, mendirikan Svatantra pada tahun 2013.

Svatantra adalah bahasa sanskerta yang berarti independen atau mandiri.

Saya langsung mengurus badan hukumnya dengan nama CV Svatantra. Pengurusnya hanya dua orang, saya dan Reita Ariyanti.  Proyek pertama penerbitan Svatantra adalah buku kumpulan reportase saya, sebagai penanda sepuluh tahun saya menjadi jurnalis. Ada sepuluh cerita dari berbagai periode hidup saya sebagai jurnalis di dalam buku itu, yang kemudian saya beri judul “Komedi Sepahit Kopi”.

Respon dan penjualan “Komedi Sepahit Kopi” cukup lumayan bagi ukuran saya, ada ratusan eksemplar yang sudah terjual. Dan mungkin buku itu pula yang kemudian ikut mendongkrak penjualan “Johnny Mushroom dan Cerita Lainnya”. Bahkan sampai sekarang dua buku itu masih banyak yang memesannya.

Proyek kedua bagi Svatantra adalah penerbitan ulang buku reportase investigasi saya “Kehausan di Ladang Air”. Tadinya buku itu diterbitkan dengan dana urunan antara saya dan berbagai lembaga yaitu Walhi Jabar, K3A, Urbane, dan LSPP. Setelah buku edisi pertama habis, ternyata masih banyak orang yang ingin membeli buku itu, sehingga saya menerbitkannya kembali melalui Svatantra.

Di masa-masa awal itu, Svatantra juga menerbitkan dua buku; War on Drugs karya Patri Handoyo, kemudian disusul buku Dari Balik Lima Jeruji karya Suksma Ratri.

Tetapi rupanya, walau sudah memiliki penerbitan sendiri, saya masih tergoda untuk bisa menembus penerbitan besar. Pilihan saya jatuh pada Gramedia Pustaka Utama (GPU). Saya mengirimkan naskah “Bandar; Keluarga, Darah, dan Dosa yang Diwariskan” ke redaksi GPU, dan saya berjanji kepada diri sendiri, kalau mendapatkan penolakan, saya akan segera menerbitkannya di bawah bendera Svatantra.

Rupanya GPU menerima naskah novel pertama saya itu. “Bandar” meluncur ke pasar buku mainstream pada 2014. Respon pembaca atas novel itu cukup bagus untuk ukuran saya. Dua tahun kemudian meluncur novel kedua saya “Pusaran Amuk” pada 2016, yang juga diterbitkan GPU. Penerbitan dua novel itu membuat saya meninggalkan kesibukan membesarkan Svatantra. Dua tahun Svatantra saya abaikan.

Setelah “Pusaran Amuk” saya mulai berpikir kembali untuk mengaktifkan Svatantra. Terlebih setelah saya tahu, penjualan “Bandar” dan “Pusaran Amuk” ternyata tidak begitu menggembirakan. Mungkin karena dua novel saya itu tidak sesuai dengan selera pembaca saat ini, dan juga tidak mendapat ruang promosi yang cukup dari penerbitnya, dan kenyataannya saya sendiri yang lebih rajin mempromosikan dua novel itu ketimbang penerbitnya.

Jadi saya pikir sekarang saatnya saya “pulang” ke penerbitan saya sendiri. Untuk menghidupkan Svatantra, pada 2016 saya menerbitkan buku terjemahan “Bolshevik Myth” karya Alexander Berkman. Buku lawas itu diterbitkan Svatantra dengan judul “Hikayat Tirai Besi”, diterjemahkan oleh Zacharias Ali.

Penjualan “Hikayat Tirai Besi” sangat mengagetkan. Pemesan berdatangan dari berbagai daerah, dari Sumatera sampai Maluku. Tentu saja hal itu membuat saya lebih optimis, bahwa Svatantra mulai bergerak secara ekonomi. Keuntungannya tidak besar, tetapi lumayan untuk menutup biaya operasional.

Pada 2017, saya banyak merencanakan sesuatu untuk Svatantra. Jika ada rezeki, saya ingin menerbitkan tiga sampai lima buku tahun ini. Projek pertama 2017 akan dimulai dengan penerbitan kumpulan novelet saya, semoga bisa meluncur pada Mei 2017. Lalu akan disusul dengan penerbitan beberapa buku dari penulis lokal dan beberapa buku karya terjemahan.

Apakah semua rencana itu akan terwujud? Saya tidak tahu, saya hanya bisa terus berusaha. Ekonomi saya terasa sangat berat belakangan ini, tetapi nyala Svatantra akan tetap saya jaga. Karena saya sudah memantapkan diri untuk hidup dan menghidupi dari aktivitas literasi. Svatantra tidak harus jadi besar, cukup saja tetap menyala terang dan memberikan alternatif bacaan bagi para kutu buku.


Zaky Yamani
Penulis dan pendiri penerbit Svatantra.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara