Dua sastrawan yang berbeda memandang perang dengan cara berbeda. Yang satu mengkhawatirkan kerusakan budaya, yang satu menyesalkan kenapa dia tak gugur di dalamnya.

PADA TAHUN 1948, Kawabata Yasunari pernah menulis refleksi tentang perang sebagai berikut:

Aku adalah salah satu penduduk Jepang yang paling sedikit terkena dampak perang atau menderita karenanya. Tak ada perubahan mencolok dalam karyaku sebelum, di saat, dan setelah perang, dan tak ada garis pemisah yang jelas. Aku tidak mengalami ketidaknyamanan atau gangguan apapun meski ada perang, baik dalam berkarya maupun dalam hidup. Dan dengan sendirinya sudah jelas betapa aku tak pernah terjebak dalam gegap gempitanya hasrat dewani untuk menjadi pengikut fanatik atau pemuja buta negeri Jepang. Aku selalu berduka untuk rakyat Jepang dengan kedukaanku sendiri: itu saja. Sebagai akibat kalah perang, kedukaan itu telah meresapi daging dan tulangku. Tapi kekalahan membawa kebebasan jiwa dan memberi makna hidup damai.

Aku menganggap hidupku setelah perang adalah hidup di tahun-tahun sisa, dan bahwa tahun-tahun ini bukan milikku melainkan penjelmaan dari tradisi keindahan di Jepang. Kurasa itu bukan kenyataan yang ganjil.

Ketika Kawabata sadar bahwa Jepang akan kalah, satu-satunya pelipur lara adalah buku Genji monogatari, The Tale of Genji. Buku itu adalah karya sastra klasik Jepang yang ditulis oleh Murasaki Shikibu pada tahun-tahun awal abad ke-11.  

Saat perang, Kawabata pernah menjadi petugas jaga jika ada serangan udara. Ia menulis kenangannya tentang masa itu sebagai berikut:

Ketika aku keluar untuk berpatroli di malam musim gugur atau dingin, dan cahaya rembulan membanjiri lembah-lembah kecil yang tak tersuluhi lampu listrik, Genji Monogatari yang baru saja aku baca merambatkan isinya dalam benakku, dan kenangan tentang orang-orang jaman baheula yang pernah membaca Genji Monogatari mengalir ke dalam diriku. Kupikir aku musti terus bertahan hidup, bersama hikayat-hikayat yang mengalir di dalam diriku.

Pada saat lain, ia menulis:

Aku berdiri tegak di tengah jalan dalam cuaca dingin malam dan merasakan kedukaanku menyusup ke dalam kedukaan Jepang. Kiranya aku akan hidup semata demi keindahan tradisional Jepang... Itulah pikiranku dan dengannya aku bertahan hidup. Mungkin kemalangan sebuah negara kalah perang secara tak disangka telah memberiku perlindungan dengan cara menguatkan kesadaranku tentang makna hidup....

Bisa kita rasakan benar kekhawatiran Kawabata betapa perang akan merebut semua hal miliknya yang paling berharga, yang selama ini ia pertahankan. Betapa perang bukan hanya mengancam Jepang secara fisik, namun juga segala warisan budaya yang pada saat damai sekalipun harus dengan susah payah ia pegang teguh agar bisa tetap hidup. Betapa dalam suasana perang, dirinya dan Jepang (lama) itu terasa telah menjadi satu tubuh. Betapa ‘kedukaanku menyusup ke dalam kedukaan Jepang’. Ada sosok aku dalam Jepang yang  berduka dan begitu pula sebaliknya.

Pernyataan Kawabata untuk ‘hidup semata demi keindahan tradisional Jepang’ mencapai kebulatan dalam pidato yang dibacakannya saat menerima hadiah Nobel Sastra pada tahun 1968. Di situ Kawabata tak menyebut satu pun nama penulis Barat atau buku mereka yang pernah dipelajarinya.

*

Bagaimana dengan Mishima Yukio semasa perang? Ada satu kisah yang cukup menarik tentang ini.

Mishima punya kesempatan emas untuk mati di medan perang. Sayang, kesempatan itu terbang begitu saja. Ceritanya, menjelang perang ia dipanggil untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan. Nah, pada hari pemeriksaan ia kena demam, dan ketika si dokter muda yang kurang berpengalaman bertanya apakah ia selalu kena demam dan terbatuk-batuk, dengan memelas Mishima mengangguk. Ia pun didiagnosis kena pembengkakan paru-paru dan disuruh pulang.

Banyak orang menafsirkan ketertarikan Mishima pada dunia militer adalah pelunasan bagi rasa terhinanya setelah ditampik oleh tim pemeriksa kesehatan. Donald Keene punya pandangan lain. Mishima merasa dengan batalnya ia turun ke medan perang berarti sesuatu yang sangat penting telah terlewatkan. Ia merasa bersalah bukan karena tak bisa ikut bela negara, melainkan lebih karena dirinya gagal mati di medan tempur.

Di kemudian hari beredar kabar bahwa unit militer yang menjalani pemeriksaan satu angkatan bersama Mishima itu akhirnya disembelih di Philipina.

*

Anda lihat, dua penulis terbesar Jepang klasik menanggapi perang dengan getar dan gelora yang berbeda. Mishima boleh dibilang menuruti gairah narsismenya untuk mati muda bersama patriotisme terselubung. Ia telah membuat paralelisme antara seni untuk hidup dan seni untuk mati.

Pada dirinya, hal ini berkaitan erat dengan besarnya ketertarikan akan romantisisme Eropa ala Schiller, Keats, atau penyair awal abad ke-19 lainnya. Bahwa kematian di usia muda itu indah dan mulia, dan medan perang menyediakan jalan. Kawabata sendiri justru menjadikan ancaman akibat perang sebagai alasan untuk terus hidup.

Namun, menurut saya, ada kemiripan pula di tengah perbedaan itu. Keduanya sama-sama mengedepankan anonimitas. Kawabata hendak ‘menyusup ke dalam kedukaan Jepang’, menggabungkan kedukaannya yang kecil dengan kedukaan sebuah negeri, dan dengan demikian membiarkan namanya larut tak tersebut. Mishima bergairah untuk mati di medan tempur dan menjadi bagian dari sebuah kesatuan yang tidak membilang nama-nama.  

Hasrat Kawabata untuk ‘menyusup ke dalam kedukaan Jepang’ itu bisa ditafsirkan pula sebagai bentuk spiritualitas Zen Buddhisme. Tidak seperti pengikut aliran Buddha Negeri Murni yang setahu saya dianut Mishima, pengikut Zen tidak menghadap figur sang Buddha ketika bersembahyang. Mereka menghadap dinding kosong di tengah gelap.

Dengan demikian, Jepang dalam batin Kawabata telah menjadi satu abstraksi yang menjadi utuh justru ketika sebuah situasi menjadi gelap: adanya perang besar. Perang, seperti halnya agama, telah memungkinkan dirinya untuk melakukan abstraksi bagi makna hidup.

‘Keindahan tradisional Jepang’ yang dimaksudkannya itu tersimbolisasi oleh tokoh Akiko, gadis berkaki timpang dalam cerpen Daun-Daun Bambu yang termuat dalam antologi berjudul sama terbitan EA Books. Akiko bertunangan dengan seorang  pemuda yang tengah berjuang di medan perang. ‘Mungkin sentimentalitas masa perang’ tulis Kawabata, ‘telah membuat si pemuda ingin menikah terutama dengan seorang gadis berkaki timpang’. Sedangkan rumah besar yang dilihat Akiko, yang belum jelas siapa bakal penghuninya di akhir cerita itu, adalah simbolisasi masa depan Jepang setelah perang usai.

Untuk Mishima sendiri, pergulatan yang terjadi sebenarnya sudah tersimbolisasi dengan sangat cemerlang melalui cerpennya, Sang Pendeta Kuil Shiga dan Kekasihnya yang terjemahannya termuat di buku Bocah Lelaki yang Menulis Puisi terbitan EA Books pula. Seperti sang pendeta yang merias citra batinnya akan sang selir dengan beragam cara, seolah ia tengah menghiasi patung Sang Buddha dengan mahkota, sutera, dan brokat, Mishima pun telah merias citra batinnya akan kematian yang indah di medan tempur seolah ia tengah meneriakkan patriotisme.

Donald Keene pun menguatkan kesimpulan ini dalam Five Modern Japanese Novelist. Kata Keene, pemujaan sang kaisar yang dimaksud Mishima tidak terarah pada Hirohito. Ia bahkan dengan ironis menirukan ucapan sang kaisar dalam sebuah pesta kebun. Anda tahu, Mishima mendapat lencana khusus yang disematkan langsung oleh Hirohito ketika ia menjadi mahasiswa lulusan terbaik seluruh Jepang.

Dalam cerpen ‘Sang Pendeta Kuil Shiga dan Kekasihnya’ kita bisa menarik garis paralel antara sang selir agung dengan kaisar Hirohito dan antara Negeri Murni dengan medan Perang Dunia II. Mishima menegaskan betapa sang pendeta ‘membayangkan Negeri Murni dalam citraan yang begitu gemilang sekaligus memedihkan’ (tanda miring dari saya) dan ‘Sang selir tentu saja tak tahu betapa sang pendeta menatap lurus ke arahnya namun tembus hingga ke Negeri Murni’.

Dengan demikian, Mishima telah menempatkan perang sebagai pintu untuk meraih titik puncak dalam estetika hidup.


Kredit Gambar : Google: Japanese Soldier Word War 2
Nurul Hanafi
Penulis dan penerjemah. Bukunya yang baru terbit adalah Novel berjudul Piknik. Sedang terjemahannya antara lain Ibu Kota Lama (Yasunari Kawabata), Bocah Lelaki Yang Menulis Puisi (Yukio Mishima) dan yang terbaru Rumah Delima (Oscar Wilde).
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara