Untuk apa membaca? Bukankah membaca tak membuat kita nampak lebih keren dari mereka yang tidak membaca? Mungkin, tapi membaca, dan menulis, adalah kehormatan terakhir sebagai manusia.

DELAPAN PULUH DELAPAN tahun yang lalu, Antoine de Saint-Exupery menerbitkan kisah petualangan penerbangan yang diberi judul Corrier Sud atau Pesawat Pos Selatan dalam terjemahan bahasa Indonesianya. Saat itu usianya 29 tahun. Ia adalah seorang pilot dari Perancis yang menulis novel itu setelah bergabung dengan Latecoere dan membuka jalur pos menuju koloni-koloni di Afrika dan Amerika Selatan.

Delapan puluh delapan tahun yang lalu, jika saja Antoine lahir di Jawa Tengah, barangkali namanya adalah Bambang, bekerja sebagai buruh pabrik dan tidak memiliki kesempatan menulis novel sehingga pada tahun 2017, Bela Jannahti, salah seorang karyawan di perusahaan penerbangan Indonesia tidak akan pernah membaca bukunya.

“Antoine de Saint-Exupery sangat filosofis kalau bikin tulisan. Tapi saya suka,” ujar Bela. Usianya kini 25 tahun. Ia bisa membaca buku di musala, di dalam kereta api, atau bahkan saat mengantri di depan ATM. Bela memulai kebiasaan membaca buku sejak masih berusia enam tahun yang berarti dia telah terbiasa membaca buku selama sembilan belas tahun.

Pada saat Bela masih duduk di Sekolah Dasar (SD), kakak sepupunya berlangganan majalah Bobo, ia sangat ingin membacanya. Sayangnya, ayah Bela yang ketika itu menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga berpendapatan pas-pasan. Alhasil ayah Bela memutar otak, tak dapat majalah Bobo, ia akhirnya berlangganan majalah Ina.

Sejak saat itu Bela mulai rajin membaca.

Berbeda dengan Bela, Udji Kayang Aditya Suprianto sedikit lebih beruntung. Semasa kecil ia telah terbiasa mengakses majalah Bobo. Ia menyebut bapaknya sebagai orang yang paling berjasa dalam membantunya memulai kebiasaan membaca buku. Dalam seminggu, ia bisa menyelesaikan dua sampai tiga buah buku.

Kini, setelah usianya menginjak 23 tahun, Udji telah menjadi salah satu dari sebagian kecil generasi milenial yang konsisten menulis untuk koran. Ketika ia lulus dari Universitas Sebelas Maret belum lama ini, ia telah menulis 30 esai dan 17 resensi buku yang dimuat di koran-koran lokal dan beberapa koran nasional.

Kecuali Udji memiliki kemampuan luar biasa dalam menulis, ia tak akan mendapati dirinya seproduktif sekarang dalam menulis jika ia tidak terbiasa membaca buku. Sebagai pembaca yang tekun, Udji bukannya tak pernah bosan. Kadang-kadang ia berhenti membaca buku saking bosannya. Tapi toh ia kembali lagi, membaca buku lagi.

Tuhan, seperti yang dipercayai orang-orang, telah menciptakan takdir bagi masing-masing umat manusia. Maka Cahyani Yuniar dan Bunga Irmadian pun menjalani takdirnya masing-masing meski usianya tidak jauh berbeda.

Niar adalah karyawati swasta di sebuah perusahaan otomotif di Salatiga sementara Bunga adalah mahasiswi yang sedang menempuh skripsi di Universitas Brawijaya, Malang. Hanya saja mereka sedikit sama di hadapan sebuah buku. Niar dan Bunga sama-sama memutuskan baru akan berhenti membaca buku jika telah mati.

“Sampai mati kelak. Saya harap kondisi mata saya akan tetap baik sampai saya jadi nenek-nenek,” ujar Niar.

Sementara Bunga mengatakan, “Ketika nanti saya mati,”.

Jika sedang keasyikan, Niar bisa membaca empat buah buku dalam satu bulan. Sedangkan Bunga selalu menghabiskan lebih dari satu buku dalam satu bulan.

Bela, Udji, Niar, dan Bunga tak jauh berbeda dengan orang-orang Eropa yang rata-rata menghabiskan 25 buku dalam satu tahun. Mereka adalah sebagian sangat kecil yang tidak termasuk golongan 0 baca buku seperti disebutkan Najwa Shihab ketika menghadiri Festival MocoSik di Yogyakarta pada awal Februari 2017.

“Data UNESCO, rata-rata orang di Eropa bisa membaca 25 buku setahun, di Singapura 17 buku setahun. Namun di Indonesia adalah 0 buku dalam setahun alias kurang sekali," kata Najwa Shihab seperti dikutip dari Republika.

Perkara ini memang klise tapi minat baca orang-orang Indonesia selalu disebut-sebut (kalau tidak bisa dibilang menyedihkan) berada di bawah negara-negara maju. Penelitian “Most Littered Nation in The World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 bahkan menempatkan negara Indonesia pada posisi 60 dari total 61 negara. Hanya satu tingkat lebih tinggi di atas Botswana (61), negara miskin di benua Afrika dan persis di bawah Thailand (59). Artinya bukan hanya berada di bawah negara-negara maju tapi juga di bawah negara ketiga.

Padahal berdasarkan penelitian tersebut, dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung kegiatan membaca, Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Negara berpenduduk 257 juta ini berada di peringkat 34 dalam hal infrastruktur, mengalahkan Jerman, Portugal, Selandia Baru, dan Korea Selatan.

Anies Baswedan, yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan bahwa penduduk Indonesia memanfaatkan infratruktur yang ada dengan sangat minim. Menurutnya, membaca harus lebih dulu menjadi budaya. Oleh karenaitu diperlukan beberapa tahapan. Salah satunya adalah dengan mengajarkan anak membaca, lalu membuatnya menjadi kebiasaan sehingga terbentuk karakter senang membaca. Baru setelah itu bisa menjadi budaya.

“Jadi budaya membaca itu hadir karena ada kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca ada jika rencana membaca secara rutin dan rutinitas dalam baca itu penting sekali,” kata Anies seperti dikutip dari Kompas.

Melihat pendapat Anies Baswedan, maka apa yang ditulis AS Laksana dalam sebuah kolom opini menjadi relevan. Penulis buku Bidadari yang Mengembara itu pernah melamunkan negara Indonesia memiliki Partai Indonesia Membaca.

“Sekarang, ketika putus asa mengenai rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, saya kembali melamun. Membayangkan alangkah baiknya jika gemar membaca bisa didorong menjadi sebuah gerakan politik. Saya pikir tidak cukup jika ia sekedar menjadi gerakan kultural yang dijalankan oleh para aktivis pecinta buku semampu mereka. Saya menghormati idealisme mereka yang sebesar gunung Semeru tetapi tanpa dukungan politik gerakan kultural hanya akan serupa dengan upaya seorang diri untuk mendorong bis mogok,” tulis AS Laksana seperti dilansir dari Beritagar.

Tapi lagi-lagi opini itu toh nasibnya sama seperti upaya seorang diri AS Laksana untuk mendorong bis mogok.

Lagipula membaca buku memang tidak lebih penting dari minum air putih. Buku semacam karya sastra misalnya, jika mengutip pada apa yang dikatakan Dea Anugerah, penulis buku Bakat Menggonggong, toh tidak lebih penting ketimbang air ledeng atau deodoran, dan tidak membuat orang-orang yang membacanya jadi lebih diminati ketimbang anak Aburizal Bakrie atau cucu Ibnu Sutowo.

Lalu jika seperti itu, di antara lautan penduduk Indonesia yang tidak membaca buku, mengapa Bela bisa membaca buku di mana saja? Mengapa Udji, meski bosannya setengah mati akhirnya kembali membaca buku? Mengapa Niar dan Bunga baru akan berhenti membaca buku ketika ajalnya tiba?

Ketika teman-temannya di SD telah fasih mengeja kalimat, Niar belum. Ia terlambat membaca. Maka ayahnya, yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil membelikannya setumpuk buku bacaan agar ia terbiasa membaca buku. Ia mulai membaca majalah Bobo, lalu menyelesaikan kisah-kisah rekaan yang ditulis oleh Roald Dahl maupun Enid Blyton.

Jalur bacaannya terus berlanjut. Ia mulai mengakses teenlit ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan terus membaca sampai sekarang ketika usianya telah menyentuh seperempat abad. Terakhir, ia baru saja menyelesaikan novel Han Kang berjudul The Vegetarian, pemenang penghargaan Man Booker International Prize 2016.

“Kewajiban penulis adalah membuka pikiran pembaca agar lebih manusiawi. Buku ini saya rasa telah berhasil melakukannya,” ujarnya.

Niar mencintai buku. Menurutnya, penulis-penulis itu berhak mendapatkan penghormatan dengan cara membaca karya-karyanya. Setali tiga uang dengan Niar, Bela juga jatuh cinta dengan buku.

“Kadang membaca buku memberiku pandangan lain mengenai bagaimana mengatasi suatu masalah atau bagaimana kita harus bersikap. Buku tak selamanya menuliskan kebenaran. Tapi dengan membaca kita punya lebih banyak pilihan akan pandangan mana yang benar, mana yang salah, mana yang setengah benar, seperempat benar, dan sebagainya. Sikap kita setelah mengetahui kebenaran, kembali lagi pada nurani kita sendiri. Ah, ya bicara nurani kadang buku pun mengenalkan kita akan nurani orang lain, dalam hal ini tokoh pada suatu buku, yang mungkin belum pernah kita temui,” terang Bela.

Bela dan Niar sama-sama paling sering membaca karya sastra, namun sekarang ini Bela juga mulai membaca kajian-kajian yang mendukung pekerjaannya di perusahaan penerbangan.

Tidak jauh berbeda dengan Bela dan Niar, Bunga juga kerap melahap karya sastra. Ia mengawali tahun pertamanya di Universitas Brawijaya, Malang dengan membaca buku-buku sastra. Baru ketika menginjak tahun kedua ia mulai mengakses buku-buku filsafat. Setelah itu pelan-pelan ia mulai memandang hidup dengan cara pandang yang berbeda. Ketika membaca Mite Sisifus karya Albert Camus misalnya, ia akhirnya meyakini bahwa kematian adalah sebenar-benarnya makna hidup.

“Buku ini membuat saya makin percaya bahwa kehidupan dan dunia ini begitu absurd, mencari dan memberinya sebuah arti tidak lantas membuat hidup itu baik-baik saja. Saya selalu percaya bahwa tiada yang abadi selain ketiadaan, dan ketiadaan itu akan kita jelang saat ajal menjemput. Itu sebenar-benarnya makna hidup, yaitu kematian,” terangnya.

Bunga percaya bahwa membaca adalah kebutuhan, sama seperti makan dan minum bagi manusia. Baginya, membaca, seperti juga menulis, adalah terapi kesehatan mental. Tanpanya ia tak yakin akan tetap waras. Ditambah dengan musik, maka lengkap sudah upayanya dalam menghindari hiruk-pikuk masyarakat yang menurutnya kian tak masuk akal.

Sementara itu Udji mengaku sepakat dengan ungkapan kawannya yang mengatakan bahwa membaca dan menulis adalah kehormatan terakhir sebagai manusia.

“Ada banyak orang yang pensiun menulis di luar sana atau tetap ngotot menulis tapi sudah tidak keren lagi. Arief Budiman dan Ignas Kleden misalnya, mereka masih hidup dan jarang menulis lagi. Yang satu sudah tidak bisa menulis malah. Tapi toh kita tetap menghormati mereka karena pernah menulis bukan? Kasus lain, Goenawan Mohamad (GM) misalnya, kita boleh saja tak setuju dengan sikap politiknya, posisinya dalam kebudayaan, tapi toh sampai hari ini tak ada yang bisa mengalahkan etos dia dalam menulis bukan? Belum ada yang bisa segila GM dalam menulis dan merawat kolom Catatan Pinggir sampai setua itu. Seandainya GM meninggal nanti, orang boleh berpolemik, tapi dia tetap memiliki kehormatan, kehormatan terakhir: membaca dan menulis,” jelas Udji.

Keempat orang ini adalah generasi milenial yang sampai sekarang masih membaca dan akan terus membaca buku, bahkan sekalipun dengan membaca mereka tidak menjadi lebih diminati ketimbang anak Aburizal Bakrie atau cucu Ibnu Sutowo.


Kredit Gambar : Eka PoCer
Ruhaeni Intan Hasanah
Reporter di LPM Dimensi
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara