11 Feb 2018 Abi Fathe Bicara Buku

Kerap kali sebuah novel menampung bagian-bagian tertentu kehidupan penulisnya. Bukan hal yang salah, tapi juga bukan hal yang mudah untuk mencegahnya menjelma sepenuh memoir, memoir penulis.

PROSES menjadi penulis memang harus ditempuh dengan segala kekuatan dan kelapangan hati. Menjadi penulis novel, kumpulan puisi, atau kumpulan cerpen  bukanlah jalan menjadi kaya-raya. Apalagi menjadikannya sebagai satu-satunya jalan mencari nafkah dan berniat menjadi seorang miliarder, dapat dipastikan ini bukan jalan yang tepat. Kecuali kamu bisa menerbitkan novel yang dibaca jutaan orang di seluruh dunia lalu novelmu diangkat menjadi film dengan banyak sekuel seperti J.K. Rowling.

Atau, setidak-tidaknya, setiap buku yang kamu terbitkan bisa bertengger di rak best seller sebuah toko buku dalam waktu yang lama. Namun bukankah penulis dengan kebesaran—dan mungkin keberuntungan seperti itu hanya segelintir saja di jagad kepenulisan kita? Dan tentu masih lebih banyak penulis yang tidak kita kenal namanya, yang mungkin bukunya sampai dijual di bazar buku murah dengan harga tak lebih dari Rp. 10.000, itu pun belum tentu laku.

Pilihan menjadi seorang penulis bukan tanpa risiko. Seperti menjadi musuh kaum fundamentalis, negara yang otoriter atau fasis, masyarakat yang jumud, kelompok-kelompok konservatif atau liberal yang tidak bisa membedakan dunia imajinasi dengan kenyataan sehari-hari yang dijalaninya sebagai akibat dari kenakalan penulis menyingkapkan rahasia-rahasia diri mereka (halaman 276).

Profesi penulis bukanlah profesi yang membanggakan. Barangkali para orangtua akan puas dengan jawaban anak-anaknya ketika diberi pertanyaan apa cita-cita mereka dengan jawaban misalnya, ingin menjadi dokter, polisi, atau guru. Namun akan mengerutkan alis ketika ada yang menjawab ingin menjadi penulis.

Menjadi apa kita di masa nanti bukan hal yang mudah diterka. Tentu ada banyak pertimbangan tentang hal yang telah, sedang, dan akan kita lakukan. Begitu juga kepada orang yang memilih menjadi penulis. Ada kredo bahwa seseorang yang bertekad menjadi penulis harus berani menempuh jalan sunyi. Seperti pernah dikatakan Muhidin M. Dahlan dalam bukunya Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta (2016).

“Ingat-ingatlah kalian hai penulis-penulis belia. Bila kalian memilih jalan sunyi ini, maka yang kalian camkan baik-baik adalah terus membaca, terus menulis, terus bekerja, dan bersiap hidup miskin.”

Perihal jalan sunyi (dan tentu berat) ini juga dapat dipetik dari novel Darah Muda-nya Dwi Cipta. Bagaimana sejak kecil si aku cerita menemu banyak kemalangan, dari hubungan tidak baik di keluarga besarnya, perlakuan-perlakuan yang tidak mengenakkan sejak bayi, dan lain seterusnya. Sampai ia memilih melalui masa kecil dengan banyak bermain bersama anak-anak anjing—lantas dipanggil kirik oleh saudara-saudaranya. Karena menurutnya lebih baik bermain dengan anak anjing daripada dengan anak-anak yang menyakitinya, termasuk sepupunya sendiri.

Kemalangan masih juga belum berhenti. Si aku cerita harus merelakan dukungan ibu dan orang terdekatnya ketika memilih berhenti kuliah untuk meneruskan mimpinya menjadi seorang penulis. Memang tidak ada hubungan yang jelas antara berhenti kuliah dan menjadi penulis. Namun entah kenapa, ada saja orang-orang yang memilih menjadi penulis dan tidak melanjutkan kuliahnya, sebut saja Muhidin M. Dahlan dan Sujiwo Tejo. Barangkali bentuk pendidikan, termasuk perkuliahan, hari ini yang lebih menyerupai penyeragaman (dari fisik hingga pemikiran) dirasa tidak mengakomodasi ungkapan ekpresi dan eksplorasi bakat peserta didiknya, yang kita semua tahu bahwa setiap mereka adalah unik dan berbeda.

“Sekarang baru kusadari kalau sejak dulu aku selalu membenci sekolah” (halaman 293).

Pengakuan ini dilontarkan si aku kepada adiknya yang menyusul ke Jogja atas perintah bapak mereka. Novel yang sarat akan kritik terhadap dunia pendidikan di Indonesia, yang saya kira itu berangkat dari pengalaman empirik penulisnya sendiri. Dari guru antikritik yang tidak mau muridnya lebih pintar darinya, mahasiswa naif yang tidak bisa membedakan ucapan dosen di dalam dan luar kelas, atau mahasiswa yang bangga akan hafalan diktat kuliahnya, padahal diktat tersebut tak berubah selama dua puluh tahun belakangan.

Eh, benarkah hal yang demikian ini terjadi?

Mimpi dan cinta sangat jarang muncul secara tiba-tiba, selalu ada proses yang entah sadar atau tak sadar melingkup di baliknya. Perkenalan dan kebiasaan mengakrabkan mungkin menjadi cara yang kerap ditempuh agar cinta dan mimpi dapat rengkuh. Termasuk kecintaan si aku terhadap buku-buku, mimpinya menjadi penulis, dan kemudian tekadnya untuk memilih jalan hidup di sana.

Waktu yang tidak sebentar telah ditempuh si aku untuk memupuk subur tekadnya di dunia kepenulisan. Beruntung sejak kecil si aku ini sudah diakrabkan dengan buku-buku oleh ibunya. Tokoh ibu lantas menjadi menarik. Tampak benar dari profilnya, bagaimana seorang perempuan (dan ibu) yang tidak mengenyam pendidikan formal namun bertekad mengantar anaknya untuk mendapatkan pendidikan formal sebaik mungkin. Sekali pun yang terjadi adalah sebaliknya.

Kecintaan dengan buku-buku mengingatkan saya pada cerita Gunawan Budi Susanto, akrab disapa Kang Putu, seorang wartawan cum penulis yang sudah menerbitkan beberapa buku. Sama dengan si aku, sejak kecil Kang Putu sudah akrab dengan buku-buku dan bertekad menjadi penulis di kemudian hari, meski dalam hal membaca, Kang Putu tidak seleluasa si aku. Sebabnya, orangtua Kang Putu menganggap membaca buku adalah kegiatan yang tidak lebih penting dari melakukan pekerjaan rumah. Dan tentu orangtuanya akan mengomeli Kang Putu jika kedapatan sedang membaca buku.

Meskipun demikian, hal tersebut tak menyurutkan tekadnya. Ia lantas menyiasati dengan mencari tempat yang nyaman dan aman untuk membaca buku; ketemulah di atas pohon kelapa. Sulit dibayangkan memang, namun begitulah adanya. Barangkali tekad yang baik adalah tekad yang terus dijaga. Dan Kang Putu berhasil, novel teranyarnya akan segera terbit. Bukti bahwa hari ini tekadnya masih sekuat saat ia memanjat pohon kelapa.

Kembali ke Darah Muda. Ada bentuk keasyikan yang asing ketika membaca kisah si aku tersebut. Sering ia, yang juga kerap terlihat melankolis, menyimpan teka-teki dalam tingkah lakunya. Seperti ketika si aku berani menyatakan cinta kepada Mutiara—teman kuliahnya—namun tidak membiarkan cinta menggunakan keajaibannya, karena setelah menyatakan cinta ia menjauh dari Mutiara.

Di lain sisi kita juga akan menemukan suatu kejujuran pada dirinya. Bagaimana kemarahannya kepada nasib atau ketakutannya berpisah dari dunia kata-kata, disampaikan seolah-olah ia sedang berdoa di tengah malam dan hanya ia sendiri, dan Tuhan barangkali, yang mendengarnya.

Novel ini ditutup dengan si aku yang memulai menulis (dengan dikepung duka mendalam dan tangan yang gemetar) kalimat untuk karya pertamanya, yaitu “Pada mulanya adalah kisah keringnya sungai di sebelah timur rumahku selama bulan Oktober...” yang juga merupakan kalimat penulis untuk membuka novel ini. Sungguh keindahan yang subtil.

Sebagai seseorang yang mengejar mimpi untuk menjadi penulis, yang belum tentu menghantarkannya pada apa pun bahkan lebih berpotensi menjatuhkannya di hadapan orang-orang terdekat, setidaknya ia berhasil konsisten merawat tekadnya di dunia kata-kata. Sesuai apa yang dimimpikannya. Atau barangkali kebahagiaan seorang penulis memang berada di sana, ketika terus dapat merawat dan menghidupkan kata-kata, bukan untuk menjadi kaya raya dan berkuasa.


Abi Fathe
Mahasiswa FBS Unnes. Aktif di komunitas sastra Alas, Semarang.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara