20 Dec 2017 Setyaningsih Sosok

Bondan Winarno, lahir 29 April 1950 dan meninggal 29 November 2017. Selain seorang wartawan dan pegiat di bidang kuliner, beberapa novel dan cerpen juga lahir dari tangannya.

“…bahwa saya bukanlah “sekadar tukang icip-icip kuliner”, melainkan sudah lebih dulu berprofesi sebagai penulis dalam artian sesungguhnya—a published author. Biar pun tidak kaya, sombong itu tetap penting, kan?”

Kita tidak harus menganggap pernyataan di pengantar buku kumpulan cerpen Petang Panjang di Central Park (Noura, 2016) sebagai bentuk protes seorang Bondan Winarno atas kefatalan orang-orang mengenal dan mengenang. Pernyataan itu tidak sengaja menjadi pesan-pamitan sebelum kepergian di usia 67 tahun pada 29 November 2017. Kita mungkin amat terlambat untuk membenahi pengenalan secara imajiner-sastrawi. Namun, rasanya tidak terlambat membaca lagi Bondan Winarno sebagai seorang cerpenis dan novelis. 

Bondan Winarno mengakui bahwa penerbitan ulang cerpen-cerpen oleh penerbit Noura sungguh disambut dengan riang sekaligus jadi pilihan hadiah menjelang hari jadi ke-55. Menulis cerita pendek diakuinya meredakan jenuh bergelut di dunia pers sebagai wartawan dan kolumnis. Di penerbitan ini, memang tidak semua naskah berhasil mengabadikan separuh diri Bondan Winarno.

“Sayangnya, cerpen-cerpen saya di harian Indonesia Raya, Angkatan Bersenjata, dan majalah, Varia, tidak berhasil saya temukan naskahnya. Dari semua yang berhasil saya kumpulkan, saya pilih 25 cerpen untuk diterbitkan menjadi sebuah antologi cerpen, kebanyakan adalah cerpen yang pernah diterbitkan Kompas Minggu. Banyak di antaranya terpilih sebagai 10 cerpen terbaik dalam beberapa tahun.”

Selain Kompas, cerpen-cerpen Bondan Winarno memang pernah pamer diri lewat majalah Horison, Matra, Femina, Kharisma dalam kurun 1983-2004.

Publik pembaca majalah era 70-80an, tentu mengingat novel Josephine garapan Bondan Winarno memenangi Sayembara Mengarang Novel Femina 1977. Novel ketiga, setelah Haneda dan Tinggal Landas, diterbitkan oleh PT. Gaya Favorit Press pada 1979. Sampul buku bernuansa merah jambu menampilkan ilustrasi wajah perempuan yang cantik tapi sendu tengah menunduk. Ia diimajinasikan berdiri di hamparan bunga. Di sampul belakang, dituliskan kesaksian bagaimana Josephine lahir dan dibahas sedikit tentang Bondan Winarno. Tidak ketinggalan, foto setengah badan Bondan Winarno semasa muda, agak gondrong, dan bergaya mungkir dari KTP.

Di situ dikatakan kalau Josephine, “Mulai ditulis akhir 1972 di sebuah hotel yang bau masakan India di Kuala Lumpur, diselesaikan di Singapura 1973, kemudian masuk laci hingga 1977 karena Bondan patah hati. Laci itu pun dibuka, novel itu diperbaiki di sana-sini dan akhirnya diikutsertakan Sayembara Mengarang Novel femina 1977.”

Meski Paus Sastra Indonesia sekaligus dewan juri sayembara, H.B. Jassin, mengatakan kejujuran dan kelancaran sebagai keunggulan, Josephine melalui prosesi kelahiran yang tidak mudah. Di Femina edisi 12 Februari 1980, iklan promosi Josephine tampil sederhana dan tidak terlalu provokatif.

Iklan itu berbunyi: “baru terbit! Bondan Winarno: Josephine.” Selain informasi harga, tambahan ongkos kirim, dan alamat penerbit, iklan juga menawarkan rentetan novel pop dari penulis-penulis tenar di masa itu, seperti Atikah (Bustomi SA), Sebuah Ilusi (Marga T.), Raumanen (Marianne Katoppo), Selembut Bunga (Aryanti), dan Seribu Burung Layang-layang di Tangerang (Sri Subakir).

Membaca (Lagi)

Sajian cerita Bondan Winarno mengaromakan gairah percintaan, asmara bagi perempuan kedua atau ketiga, liku luka berkeluarga, patah hati, kelindan manusia urban, atau panorama kota tanpa kecenderungan bersikap tendensif atas masalah-masalah sosial nan rumit. Tokoh-tokohnya kosmopolit melatar di pelbagai kota lintas negara dan waktu. Menjadi kekhasan Bondan memilih tokoh lintas kebangsaan untuk menunjukkan cita rasa melanglang buana manusia berperistiwa. Bondan juga tidak ingin terikat pada tata adat, kultur, atau agama yang sering mengungkung.

Di Josephine, kita diajak menyusuri kota-kota di Indonesia, Singapura, dan Malaysia yang mewadahi konflik percintaan lelaki bernama Miko dengan istri, Nia, dan perempuan lain, Josephine. Ada kelindan rasa bersalah Miko yang cukup mengaduk emosi, barangkali juga mengundang kemarahan para pembaca. Namun, Miko cenderung memiliki rasa cinta sama besar dan sama seimbang. Kisah ini berakhir melankolis dengan kematian Josephine, seolah mengukuhkan laki-laki (suami) harus bersetia pada satu perempuan saja.

Novel ini juga menanda komoditas yang sempat populer di masa 70-an, seperti pepsodent dan ajinomoto. Termasuk, tampil aneka minuman berkelas urban dan tempat-tempat yang pernah dijadikan rujukan pelesiran umat perkotaan. Tidak mengherankan tampak kejelian Bondan Winarno pada merek-merek yang pernah meramaikan jagat Indonesia, berkat keterlibatan dirinya di dunia periklanan. Bondan Winarno juga menulis Rumah Iklan (2008) sebagai kupasan hiruk-pikuk dunia periklanan Indonesia. Ia mengatakan bahwa di era 1970 mulai terjadi ledakan di sektor periklanan. Merek-merek asing bermunculan dan mewabahi pasar.

Cerita di Pada Ulang Tahun Nyonya Besar (Petang Panjang di Central Park, 2016), kita mendapati kelindan manusia urban, tentang perselingkuhan, pola asuh yang salah, pergaulan bebas, sampai senjakala rumah tangga. Bondan meletakkan kesaksian atas kekoyakan rumah tangga Nyonya Besar di hadapan seorang pembantu bernama Amah. Justru lewat Amah, Nyonya Besar mendapat kehormatan terakhirnya di hari ulang tahun sekaligus hari kematian saat suami dan anak-anak bergantian meninggalkan sang nyonya. Tidak muluk dan cenderung tidak ingin berbahasa yang akrobatik, Bondan Winarno bercerita pada kita.

Berjalanlah pulang dengan tenang, Pak Bondan! Kami tengah berusaha mengenangmu sebagai penyaji sepiring menu (kata). Sajian sarapan, santap siang, atau santap malam maknyuss bagi ingatan yang sering melupa dan tidak tahu.


Setyaningsih
Esais, Penghayat pustaka anak. Penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016). Kontributor penulis buku Jassin yang Kemarin (2017)
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara