Tanggal 7 September 2017 IBC mengadakan Kelas Menulis Puisi bersama Jokpin. Salah satu pesan Jokpin: Hidup ini sudah rumit, harusnya disederhanakan dalam puisi. Buat apa sih baca puisi yang bikin tambah pusing?

“Draft pertama adalah sampah. Tapi kita bisa mengolah sampah menjadi mutiara.”

Acara yang saya kira hanya akan berlangsung paling lama tiga jam itu, ternyata selesai dalam waktu hampir enam jam. Kalau kuliah, sudah dapat 6-8 sks. Tapi, kuliah yang ini berbeda. Melelahkan memang, namun benar-benar membuka pikiran kami, yang saya asumsikan menulis puisi sehari-hari hanya sekadar untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran yang berkecamuk.

Ternyata, puisi juga harus disunting.

Kelas Menulis Puisi bersama Joko Pinurbo yang diselenggarakan oleh Indie Book Corner pada 7 September 2017 lalu, adalah kelas yang menegangkan. Jokpin mengenakan kaos berkerah warna hitam yang cukup kontras dengan rambutnya yang sebagian sudah memutih. Wajah dan tubuhnya yang renta tak seimbang dengan nyala matanya yang masih tajam.

Jokpin lalu memulai kelas di Dongeng Kopi itu dengan membacakan beberapa puisi karyanya sendiri. Salah satunya, “Langkah-Langkah Menulis Puisi” yang ada dalam buku kumpulan puisi terbarunya, Buku Latihan Tidur. Langkah menulis puisi itu intinya duduklah dengan tenang, lepaskan semua beban dan kegalauan yang ada hidupmu. Kalau sudah tenang, mulailah menulis.

Langkah ini berkebalikan dengan saya, dan saya asumsikan teman-teman lain yang juga senang menulis puisi. Kami cenderung menulis puisi ketika sedang gundah, marah, gelisah. Kami pikir itu adalah bahan bakar terbaik untuk membakar kertas dengan tinta. Profesional dan amatiran memang ternyata sama sekali berbeda.

Selepas membaca puisinya, ia duduk di kursi yang sudah disediakan oleh panitia acara. Kursi itu sudah dilengkapi dengan laptop dan meja di depannya. Ternyata, kelas di siang yang sumuk itu adalah kelas menyunting puisi. Lagi, ini benar-benar hal baru. Saya kira selama ini puisi adalah ungkapan pikiran dan perasaan yang ketika sudah selesai ditulis, cukup dibiarkan saja. Kalau disunting, bukankah nanti hilang maknanya?

Salah besar.

Menurut Jokpin, ada tiga hal yang perlu diperhatikan saat menyunting puisi, yaitu koherensi, diksi, dan harmoni.

Koherensi adalah soal kesatuan ide. Apa saja kata yang menjadi inti dari puisi. Kesinambungan antara bait satu dengan bait selanjutnya termasuk dalam koherensi. Kalau nggak nyambung, terlalu banyak latar di awal bait, berarti puisinya tidak koheren. Tentukan apa saja kata yang merupakan nyawa dari puisimu. Semakin sederhana dan ringkas, semakin baik pula dan kemungkinan dipahami pembaca akan lebih besar.

Ini juga yang jadi persoalan bagi para penyair, katanya. Kebanyakan penyair merasa seluruh kalimat dalam puisinya sakral dan bermakna. Padahal, ketika menyunting, kita bukan lagi melihat puisi dari kacamata penulis, melainkan pembaca. Rendah hati dan pikiran terbuka jadi kunci saat menyunting puisi. Kita harus kritis kepada diri sendiri tatkala menyunting puisi buatan kita sendiri. Jokpin pernah mengundur naik cetak bukunya sampai lima kali di sebuah penerbit “hanya” karena ia masih ingin merevisi puisinya, meski hanya satu kata. Satu kata. Katanya, sebuah puisi menjadi baik karena detail-detailnya. Maka ketika dibacanya puisinya sendiri terdengar sumbang, ia akan segera membuka KBBI untuk mencari kata yang terdengar lebih padu.

Kedua, diksi. Jangan sampai hanya karena memaksakan bunyi, seorang penyair lalu memasukkan kata-kata yang sesungguhnya tidak sesuai. Contoh yang diberikan saat itu adalah:

Guyuran hujan mematuk-matuk tanah

Bagian “hujan mematuk-matuk” diakuinya sangat brilian, sebab belum ada penyair yang diketahuinya menggunakan kata ‘mematuk’ setelah ‘hujan’, bahkan Sapardi sekalipun. Namun karena ada kata ‘guyuran’ di awal, kalimat ini menjadi tidak nyambung. Wagu. Membuat pembaca bertanya-tanya, “jadi hujannya mengguyur atau mematuk-matuk?” maka kata guyuran dihilangkan dan kalimat berubah menjadi,

Hujan mematuk-matuk tanah

Masih belum puas, ia lalu mengatakan bahwa semua orang juga tahu kalau hujan mematuk-matuk tanah, memang apalagi? Memang hujan kan jatuhnya ke tanah. Dengan segera, ia mengganti ‘tanah’ menjadi ‘rindu’. Ini dilakukannya bukan tanpa alasan. Puisi itu berisi tentang kedatangan musim hujan yang menyelipkan rasa rindu ketika kemarau mulai pudar. Maka, kalimat kembali berubah menjadi,

Hujan mematuk-matuk rindu

Untuk menulis puisi dengan diksi yang beragam, Jokpin menyarankan penyair untuk memasang aplikasi KBBI di handphone. Jangan bosan mencari kata baru. Indonesia kaya akan kata, tapi sedikit yang benar-benar memakainya.

Ketiga, harmoni. Terutama untuk puisi lirik yang menekankan keindahan. Jangan sampai puisimu terdengar sumbang ketika dibaca. Meski dikenal sebagai penulis puisi naratif yang lebih bercerita dan cenderung merupakan kritik terhadap sesuatu, ia ternyata sangat memerhatikan bunyi pada puisinya. Pada suatu larik yang terdiri dari lima kata dan empat di antaranya terdiri dari dua suku kata lalu ada satu kata yang terdiri dari tiga suku kata, Jokpin menyuruh kami mencari padanannya yang hanya terdiri dari dua suku kata. “Biar kalau dibaca, enak didengar.”

Dalam kurun waktu hampir enam jam itu, Jokpin menyunting tiga puisi, dipilihnya dari peserta kelas yang telah mengirimkan puisi ke surel Indie Book Corner beberapa hari sebelum hari H acara. Ia lalu mengatakan bahwa hari itu hebat sekali, satu puisi bisa disunting hanya dalam waktu kurang lebih satu jam.

“Kerjaan saya sehari-hari ya duduk di depan laptop begini, sampai jam tiga pagi. Dengan menghabiskan bercangkir-cangkir kopi. Makanya, yang punya pasangan penyair, terutama yang perempuan, harus siap mental. Nanti suamimu melek terus sampai larut malam. Syukur-syukur ya ditemani. Eh, tapi mengganggu ding.”

Ia tidak tertawa setelah mengucapkan kalimat itu.

Lalu ia menambahkan, pekerjaan penyair itu enggak gampang. Modal untuk membuat satu puisi itu bisa sampai dua ratus ribu, kalau kita hitung harga kopi per cangkir dua puluh ribu. Itu kalau cepat. Belum lagi rokok. Setelah jadi buku, ya paling kalau dihitung puisi saya itu hanya Rp 1.200 saja satunya. Enggak balik modal.

Jokpin mengakui bahwa menulis puisi dan menyuntingnya adalah dua hal yang sangat berbeda. Menulis itu gampang. Tapi menyunting? Ia bisa menghabiskan waktu semalaman dan hanya sanggup menyunting dua baris, misalnya. Itu Jokpin, lho. Yang sudah berpuisi puluhan tahun. Tapi, lanjutnya lagi, jika penulis telah terbiasa bekerja dengan ritme semacam itu (menulis dan menyunting dengan benar), pasti akan ketagihan dan bisa dibandingkan hasil puisinya bagaimana sebelum dan setelah disunting. Dijamin yang disunting akan lebih mudah diterima pembaca (dan penerbit).

Ia juga berpesan kepada calon penyair, yang masih muda-muda, untuk tidak semakin merumitkan kehidupan di dunia ini ke dalam puisi. Hidup ini sudah rumit, harusnya disederhanakan dalam puisi. Buat apa sih baca puisi yang bikin tambah pusing? Hobinya penyair itu memang kadang-kadang pakai kata yang sulit, kalimat mendayu-dayu. Padahal, harusnya sebaliknya. Sederhana, tapi mengena. Imajinatif, tapi tidak terlalu jauh dan masih bisa dinalar.

Kelas ditutup dengan pesan mulai sekarang jadilah penyair kembali, dimulai dari postingan di media sosial apapun yang kamu punya, terutama yang bersifat pribadi (bukan blog penuh iklan). Dari situlah penyair yang sebenarnya bisa dilihat. Pilihan kata-katanya, meski bukan dalam puisi, jika enak dibaca, maka ia adalah penulis yang baik.


Chandra Wulan
Chandra Wulan adalah penulis kreatif di sebuah perusahaan start-up media daring di Yogyakarta. Cerpen dan puisinya dimuat dalam December Sun (Ellunar Publisher) dan Kado Terindah (Jejak Publisher), sedang ulasan-ulasannya bisa dibaca di minumkopi.com
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara