Gerakan literasi di sekolah penting untuk dikembangkan. Kebiasaan menulis di media sosial bisa diarahkan ke kebiasaan literasi yang lebih positif.

SMA Diponegoro 1 Jakarta berbahagia merayakan terbitnya lima buku yang ditulis guru dan siswa. Empat buku puisi masing-masing berjudul Angkasa Maroko, Dari Aku yang Katamu Tidak Pernah Serius Perihal Urusan Cinta, Colours Of Life, dan Everything I Didn’t Say. Buku kelima berjudul Trip Observasi: Catatan Kecil Mengenai Ingatan dan Rasa, penulisnya adalah guru SMA Diponegoro bernama Wahyudi Wacil. Buku berkisah mengenai perjalanan guru dan siswa selama melakukan observasi di daerah Jatiwangi. Buku itu dipamerkan dalam acara Dipo Fest bertema Sastra dan Seni Rupa. Pameran berlangsung selama tiga hari dengan pembukaan pada tanggal 20 Februari 2018. Buku disinggahi mata guru, siswa dan para orangtua siswa yang datang ke sekolah. Buku itu kemenangan guru dan siswa dalam pembuktian jika literasi masih tinggal di sekolah mereka.

Tiga hari itu, musala sekolah disulap menjadi tempat pameran yang tertata rapi. Papan panil dicat warna putih berdiri sejajar dan membentuk beberapa ruangan. Pertama masuk kita disambut buku yang ditata menyerupai perpustakaan. Buku dapat dibaca para pengunjung. Beberapa kutipan puisi dari buku dituliskan di dinding panil. Selain itu ada pula karya siswa yang berupa kerajinan tangan, lukisan dan poster. Di luar ruangan musik berbunyi keras menemani pengunjung menyantap kuliner dari ragam daerah. Menambah kemeriahan, pengunjung dihibur dengan tarian dari para siswa.

Hari terakhir, para siswa penulis buku diundang ke atas panggung untuk memberikan karya mereka kepada guru. Kemudian berfoto bersama sembari berjabat tangan. Peristiwa mesti lekas diabadikan dalam foto. Siswa dan guru patut berbangga, prestasi tidak hanya dapat dipamerkan lewat piala dan sertifikat. Peluncuran buku itu menyimpan martabat sekolah akan kehendak untuk tetap berhuruf dan berbuku.

Siswa memberikan buku kepada guru adalah peristiwa langka. Keberlimpahan ilmu di sekolah tersalurkan lewat buku, guru dan siswa saling memberi dan menerima buku. Kemudian buku-buku itu diobrolkan dengan keakraban sembari menyantap gorengan.

Buku karya siswa mengalami proses yang cukup panjang, hampir satu tahun. Buku itu adalah hasil dari kegiatan belajar di ekstrakurikuler literasi sekolah. Siswa memilih belajar menulis berarti mesti mengesampingkan banyak kesibukan, atau mencuri waktu di antara kesibukan mengerjakan tugas sekolah. Menulis bisa saja menjadi hiburan dari penatnya tugas yang menumpuk. Atau untuk sekadar melepas kegalauan dari rundungan masalah. Ketika tulisan dikumpulkan menjadi sebuah buku yang berhasil dicetak, ini adalah bentuk dukungan sekolah kepada semangat para siswa dalam menulis.

Peristiwa literasi hari itu berlanjut dengan belajar menulis bersama mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Sepuluh mahasiswa UNJ mendatangi sekolah dengan undangan belajar menulis bersama siswa kelas satu. Selama dua jam para pembelajar itu bercerita mengenai tulisan bertema “Aku dan Media Sosial”. Tema itu memicu kehebohan, media sosial tidak pernah lepas dari keseharian siswa. Penulis bisa berkisah apa saja mengenai media sosial. Pengalaman bermedia sosial dituliskan agar tidak sekadar menjadi peristiwa yang lewat begitu saja setiap harinya. Dari peristiwa satu beralih ke peristiwa lain setiap hari tanpa ada kesempatan untuk mengingatnya kembali.

Meja-meja berisi kertas folio dan pulpen. Kisah-kisah dituangkan berupa pertengkaran dengan pacar, diblokir oleh teman sendiri, kehebohan di grup WhatsApp, atau keluhan mengenai penyebaran berita bohong. Siswa mengingat kembali peristiwa bermedia sosial yang berkesan bagi mereka. Terkadang ingatan itu menimbulkan tawa ataupun kekesalan. Media sosial mencipta sekian banyak peristiwa dengan para siswa. Ragam peristiwa itu melibatkan banyak emosi di dalamnya.

Salah satu penulis bernama Rana Adinda berkisah mengenai perjalanannya dari pertama kali menggunakan media sosial. Rana mengingat dirinya pertama kali menggunakan BlackBerry Messenger (BBM) ketika kelas lima SD. Setelahnya Rana lebih suka menggunakan Line, Instagram dan Youtube. Rana menuliskan kejadian di Instagram “di aplikasi Instagram dengan fitur Snapgram  kadang ada yang suka menyindir orang lain”. Di media sosial orang dapat berkata apa saja dan memicu pertengkaran setiap harinya tanpa henti. Pertengkaran yang satu mereda maka akan muncul pertengkaran lain. Ketika pertengkaran muncul tidak ada yang tahu pasti kapan akan selesai. Rana mengingatkan diri untuk berhati-hati menggunakan media sosial.

Adha Saputra memilih menggunakan media sosial untuk menghasilkan uang lewat berjualan. Mengenal media sosial dengan lebih luas membuat Adha melihat adanya peluang usaha. Untuk berkarya, Adha memutuskan untuk membuat video yang diunggah ke Youtube. Kegiatan ini dirasa lebih bermanfaat ketimbang menuliskan banyak komentar yang kurang bermanfaat di media sosial. Sebelum memilih media sosial sebagai tempat usaha, Adha banyak belajar dari pengalaman kurang baik yang dialaminya selama mencari teman di media sosial. Teman yang diajak atau mengajak berkenalan di media sosial terkadang tidak jelas identitasnya. Selain itu mereka terkadang mengajak berbuat yang tidak baik. Berteman di media sosial harus melalui banyak pertimbangan.

Menuangkan kisah bermedia sosial ternyata tetap menjadi kesulitan sebagian siswa yang terbiasa bercerita lewat lisan namun masih jarang menuangkannya dalam bentuk tulisan. Beberapa siswa memilih bersemangat untuk menulis dan memenuhi satu hingga dua halaman folio dengan huruf. Beberapa yang lain hanya menuliskan beberapa kalimat atau bahkan hanya memenuhi kertas dengan coretan gambar. Namun peristiwa menulis yang jarang ditemui siswa itu mesti diapresiasi. Tulisan-tulisan itu kelak akan menemui pembacanya dalam wujud buku.


Sarah
Pegiat di Oceh Buku, Mahasiswa Sosiologi Universitas Negeri Jakarta.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara