Ada banyak cara sebuah buku bisa sampai dari penerbit ke pelanggan. Salah satu yang sering ditempuh adalah sistem Pre-Order. Dengan cara ini, pelanggan bisa memesan buku sebelum wujudnya muncul di pasaran.

BAGI Lihin Wangsitalaja, selaku penerbit buku Jogja, PO (Pre-Order) adalah upaya paling menarik sebagai salah satu cara mengukur minat publik terhadap suatu judul buku lewat media sosial, yang nantinya berguna bagi keputusan jumlah eksemplar yang musti diproduksi. Sedang bagi seorang pedagang buku seperti Djamal Abdurahman, pola itu bisa membuatnya lebih aman karena bisa menyesuaikan keuangannya dengan jumlah pemesan buku. Sejalan dengan jargon: “jual buku tanpa modal” bagi pedagang, atau “bikin buku modal dengkul” bagi penerbit.

Sederhananya, keduanya sama-sama bisa menekan bahkan menghindari kerugian.

Bayangkan, baik Lihin maupun Djamal, hanya perlu menunjukan kover buku dengan tagline “segera terbit!”, mencantumkan sinopsis paling menarik, harga dengan diskon khusus, tanggal cantik, dan nomor yang bisa dihubungi. Kemudian mereka menunggu sambil membaca Waiting for Godot milik Beckett, sembari membayangkan orang-orang yang begitu menginginkan buku itu membayarkan sejumlah uang sebagai tanda bahwa mereka akan jadi kelompok pertama yang memperoleh buku tersebut.

Sebagai pedagang, tentu Djamal punya keuntungan lain. Yakni ‘memutar’ uang itu sebelum penerbit memberikan tagihan saat jatuh tempo. Sedang bagi Lihin, ia berkesempatan mengukur pangsa pasarnya, atau bisa juga membayar uang muka cetak tanpa mengeluarkan dari kantongnya sendiri.

Masalahnnya adalah, sudah efektifkah pola tersebut saat ini?

Lewat pesan pendek, Djamal Abdurahman yang tidak berdomisili di Jogja, mengeluhkan betapa cukup sering ia mengecewakan pembeli ketika memakai pola ini. Sebab, umumnya buku-buku yang telah diiklanlan, terlambat sampai dari waktu yang telah ditentukan. Jika hanya terlambat sehari dua, mungkin itu bisa dimaklumi. Namun celaka dua belas, apabila keterlambatan dirunut: dari percetakan ke penerbit (tiga hari), penerbit ke ekspedisi pengiriman (sehari), jasa ekspedisi pengiriman ke dirinya (seharusnya tiga hari jadi lima hari). Akumulasi keterlambatan itulah yang membuatnya sering “lebaran duluan”, meminta maaf dari satu pembeli ke pembeli lainnya.

Itu belum ditambah perih yang terasa pada jari yang digigit Djamal sendiri, ketika melihat bahwa reseller di kota yang sama dengan penerbit, memperoleh dan menjual barang duluan. Djamal merasa gagal.

Konsumen hampir tidak mau tahu, apa dan bagaimana halangan yang terjadi sehingga sebuah judul telat diproduksi. Yang mereka ingat, adalah angka yang tertera di sana. Meliputi harga dan pada tanggal berapa seharusnya buku itu sampai di depan pintu, meja kerja, atau tempat seseorang yang mereka hadiahi.

PO sendiri adalah pola yang mengandalkan kesabaran dan kepercayaan.

Sebagai pembeli, Dodit Sulaksono berharap bahwa ada “imbalan” yang bisa ia dapat sebagai golongan yang membayar saat PO, minimal menjadi orang yang memperoleh buku duluan dibanding yang lain. Sialnya yang terjadi kadang berkebalikan, selain harus menerima keterlambatan barang, ia musti masygul melihat yang tidak mengikuti PO memperoleh barang di waktu yang sama. Tidak jarang malah lebih dulu, bagi pembeli yang kebetulan satu kota dengan penerbitnya. Itulah alasan, mengapa akhirnya Dodit Sulaksono tidak lagi mau ikut PO saat belanja buku.

Untuk apa yang dialami Dodit dan Djamal, muaranya tentu pada Lihin Wangsitalaja sebagai penerbit. Ini tentu PR baginya dan rekan penerbitan lain agar mampu mengatur semua berjalan efektif. Djamal sudah jauh hari mengusulkan, agar ada tenggat yang betul-betul longgar. Terutama bagi reseller tetap yang ada di luar kota. Syukur-syukur bila buku yang sudah dipastikan jadi terlebih dahulu, didistribusikan duluan ke luar kota (prioritas), baru kemudian serempak menjualnya.

Dodit meminta hal yang sama: sekiranya ia sebagai pembeli yang ikut PO, bisa memperoleh barangnya duluan dibanding yang lain. Agar bisa pamer di IG di samping rainbow cake. Sebelum kemudian yang lainnya menyusul melakukan hal yang sama.

Sebagai penerbit, Lihin Wangsitala memang musti lihai. Ada sebab mengapa yang demikian kadang terjadi. Misalnya, ia tentu tidak bisa memaksa percetakan agar lekas menyelesaikan naskahnya. Sebagai penerbit Ngindie dengan oplah cetak yang tidak banyak dan DP yang tak seberapa, membuatnya harus lapang dada jika tidak menjadi prioritas, apalagi jika sedang terjadi antrian cetak. Selain itu, faktor mengapa Lihin tidak bisa menjanjikan deadline yang ketat adalah karena tidak memiliki kontrol terhadap alat produksi. Mengapa begitu?

Ya Ngindie tadi itu.


Wijaya Kusuma Eka Putra
Sosok di balik Pojok Cerpen
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara