27 Sep 2017 Danang Pamungkas Sosok

Setelah sebuah kunjungan tanpa rencana ke Perpustakaan PATABA, terjadilah obrolan mengasyikkan dengan Pak Susilo Toer. Salah satu isi obrolannya adalah tentang Pram yang pernah mendapatkan Nobel.

BLORA, 25 Agustus 2017.

Aku dan seorang teman sedang duduk santai di pinggir jalan Stasiun Blora sambil menunggu buka puasa datang. Cuaca hari itu tak menentu terkadang langit menampakkan sinar matahari yang cerah, namun tiba-tiba awan berubah menjadi hitam pekat pertanda bahwa hujan segera mengguyur kota. Aku masih duduk sambil berdiskusi dengan temanku membahas program penelitian yang sudah 2 bulan ini mangkrak karena tak punya ide apapun untuk mengerjakannya. Bising suara kendaraan di jalan raya membuatku semakin pusing untuk berpikir.

Kemudian temanku nyeletuk berkata “Rio, Pak Susilo Toer Adiknya Pak Pramoedya masih hidup kan”?

“Iya Beliau masih hidup. Ia baru menerbitkan 6 novel tentang Pram di tahun ini. Tapi aku belum pernah membacanya,” Jawabku dengan lesu  sambil melihat-lihat sekitaran jalan.

“Bukannya Pak Susilo  itu tinggalnya di Blora ya?” Tanya temanku lagi.

“Iya. Perpustakannya bernama Pataba. Tapi aku tidak tahu alamatnya.” Kataku.

“Dari pada kita pusing tak punya ide membuat rancangan penelitian ini, lebih baik ayo kita main ke pataba saja, gimana?” Ucap temanku dengan raut muka semangat dan penuh kegembiraan.

“Sebentar, aku tak hafal jalan kota ini, aku cari dulu di Google Map ya.” Sambil mencari alamatnya kemudian aku langsung menaiki sepeda motor vespa tahun 70-an yang besinya sudah berkarat dan keropos itu. “Baik, aku sudah menemukan rutenya.” Jawabku sambil memberi aba-aba dari belakang agar temanku tidak ngawur memilih jalan.

Jam sudah menunjukkan pukul 3.00 WIB artinya 2,5 jam lagi adalah waktu berbuka puasa. Aku bilang pada temanku: “Eh kita jangan lama-lama ya main di sana. Aku harus pulang jam 5 karena kakakku dari Sumatera sedang di rumah, aku tak enak bila tidak bisa berbuka puasa bersama keluarag besar.” Ucapku.

“Iya gampang. Sudahlah, yang penting kita bisa menemukan lokasinya.” Jawab temanku yang tidak peduli dengan kegelisahanku.

Tak lama berselang rumah di kiri jalan besar dekat Pasar Blora itu mulai nampak dari dekat. Rumah itu seperti rumah tahun 1920-an. Terbuat dari susunan kayu jati yang dicat putih dengan pekarangan rumah yang luas berisi pepohonan yang tumbuh liar di sekitaran rumah. Aku pun turun dari motor untuk membuka gerbang yang terbuat dari kayu tua dan membukanya perlahan-lahan. Aku langsung masuk bersama temanku. Kulihat ada seorang kakek tua di depan pintu sedang membakar sampah.

Aku langsung bertanya, “Apakah ini benar rumahnya Pak SusiloToer.”

Kakek itu menjawab: “Iya, masuk dulu saja mas.”

Aku masih menggelengkan kepala dan bingung mau masuk dari mana. Karena pintu depan rumah masih tertutup. Kemudian ada seorang anak muda yang berjalan ke arahku sambil membawa buku berkata, “Mas lewat utara ya, nanti langsung masuk saja.” Ucap anak muda itu sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Aku mengikuti ucapannya dan masuklah aku bersama temanku di sebuah ruangan berukuran kira-kira 8x10 m. Pada pintu depan rumah nampak tulisan Perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa). Saat masuk ruangan, aku terheran-heran. Ada banyak sekali foto Pramoedya Ananta Toer yang dipajang di dinding rumah itu lengkap dengan foto keluarga, dan sastrawan besar dunia macam Maxim Gorky dan Leo Tolstoy.

Tak menunggu lama si kakek tua yang tadi itu menghampiri kami berdua sambil mengancingkan bajunya yang berukuran lebih besar daripada tubuhya yang kurus. Itulah untuk pertamakalinya aku mengetahui bahwa ia adalah Susilo Toer, adik dari Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan yang sangat aku kagumi.

Lalu ia berkata, “Dari mana, dek?”

“Dari Rembang, pak,” jawabku. Sementara temanku juga menjawab sambil bermain hp dan berfoto selfi, “Dari Garut, pak.”

“Coba kalian isi dulu buku tamu di sini, biar saya tidak lupa,” ucapnya sambil memberikan bolpoin kepadaku.

Sembari aku mengisi buku tamu, temanku malah pamit untuk masuk kedalam perpustakaan dan membaca buku. Pak Susilo pun dengan senang hati mempersilahkan temanku untuk membaca buku di sana. Waktu tak kusia-siakan begitu saja, langsung aku bercerita panjang lebar terkait karya-karya Pram.

“Pak, saya sangat menyukai novel Pak Pram yang berjudul Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Saya juga menyukai novel Gadis Pantai dan Panggil Aku Kartini Saja. Mengapa Pak Pram bisa sehebat itu dalam menulis sastra, pak? Apa rahasianya?” Tanyaku penuh antusias.

Langsung ia jawab “Pram itu dulu penah dikritik oleh Balai Pustaka karena memadukan fakta sejarah dengan cerita fiksi menjadi sebuah karya sastra. Namun dalam perjalanannya ternyata karya Pram sangat disukai banyak orang bahkan dicintai oleh orang-orang di dunia. Pram itu dulu sebenarnya jurnalis, tapi ia disuruh oleh seseorang untuk membaca buku dan menulis sastra. Lalu ia menekuninya sampai berhasil. Dan jangan lupa Pram itu bisa berkarya seperti itu karena pacaran!”

Wajahku tak percaya mendengar kalimat yang terakhir ini. Kemudian aku langsung bertanya “Bagaimana manfaatnya pacaran untuk membuat penulis menjadi lebih produktif membuat karya?” Tanyaku lagi

“Karena membuat karya itu membutuhkan kekuatan yang lebih dan harus menyatukan otak kanan dan otak kiri. Jikalau kamu ingin jadi penulis besar pacaranlah!” Jawab Pak Sus sambil tertawa.

Aku masih tak percaya dengan jawaban itu. Kemudian aku bertanya “Pak Sus, lalu kalau karakter Ang San Mei dan Prncess Van Kasirutta itu beneran atau fiksi Pak?”

“Itu fiksi yang diimajinasikan oleh Pram saja. Kepandaian Pram adalah membuat narasi-narasi yang nampaknya sepele dan kecil tapi bermakna mendalam. Dia sangat pandai memainkan emosi pembaca.” Jawab Pak Sus sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.

Aku menggelengkan kepala. Kubayangkan betapa hebatnya Pram ketika  mengisahkan sebuah cerita cinta dan sejarah menjadi satu topik yang mudah dicerna. Kemudian Pak Sus berkata padaku, “Dek, Pram pernah dapet Nobel lho.” Sahutnya.

Aku menggelengkan kepala dan berkata “Tidak pernah, Pak.”

Lalu Pak Sus kembali menjawab “Pernah. Apa itu Nobel? Nobel itu artinya Noni Belanda dan Noni Belarussia.”

Sontak aku tertawa lepas sembari melupakan mangkraknya rancangan penelitianku yang harus dikumpulkan 2 minggu lagi setelah lebaran. Tak lama jam sudah menunjukkan pukul 5.15 WIB, sangat asyik sekali pembicaraan dengan Pak Sus hingga aku lupa untuk pulang ke rumah. Aku pun langsung berpamitan seketika itu juga. Sebelum pulang aku membeli novel Maxim Gorky yang berjudul “Cinta Pertama” yang diterbitkan oleh perpustakaan PATABA. Sebelum pulang Pak Sus berkata padaku “Kenalilah dirimu Dek. Kalau kamu punya naskah novel atau cerpen, kirimkan ke saya nanti saya terbitkan. Sering-seringlah main ke sini  ya.” Ucap Pak Sus sambil menepuk pundakku.

Aku pun hanya bisa mengangguk dan berkata “Iya Pak.”

Kemudian aku langsung mengajak pulang temanku yang masih asyik membaca. Ketika membuka gerbang, Pak Susilo tersenyum padaku dan melambaikan tangannya. Pada detik itu kami belum mengetahui bahwa dalam perjalanan pulang kami akan mendapatkan ide penelitian yang tadi membuat kami bingung dan dua minggu kemudian rancangan penelitian itu diterima oleh profesor kepala di fakultas.


Danang Pamungkas
Penulis dan peneliti di Yayasan Kampung Halaman. Aktif menulis di berbagai media daring termasuk indoprogress.com dan berisik.id. Satu novelnya diterbitkan PATABA Press berjudul "Kisah Harubiru Sang Pengoceh".
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara