23 Aug 2017 Aziz Dharma Sosok

Bulan Agustus, bulan kemerdekaan. Negeri ini merayakannya dengan penuh kegembiraan. Ikatan persatuan dari perayaan proklamasi itulah yang idealnya bisa dirasakan semua orang, termasuk masyarakat Sampang.

KURANG LEBIH seratus rumah terbakar di Sampang, Madura pada Agustus 2012. Hingga kini, 335 warga terpaksa tinggal di rumah pengungsian di Rusunawa Puspa Agro, Jemundo, Sidoarjo—sekitar 131 km dari kampung halaman. Kalau saja kebakaran itu disebabkan korsleting listrik atau tabung gas yang meledak, mungkin mereka tak perlu mengungsi sejauh itu.

Juga, tak perlu selama itu.

Sayangnya ada api kebencian yang meledak lima tahun lalu. Api yang membakar rumah warga Syiah. Api yang membakar ketenteraman dan kerukunan warga Sampang. Api yang hingga kini masih menyimpan prasangka-prasangka terhadap orang yang berbeda.

Mungkin kita bisa menemukan niat baik pemerintah untuk memberikan kehidupan selanjutnya bagi para pengungsi. Wujudnya mulai dari rusunawa, pelatihan keterampilan usaha, hingga insentif bulanan. Namun, jika yang dicari adalah niat baik untuk memadamkan api kebencian yang ada di sana, mungkin kita akan kesulitan.

Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin sebenarnya pernah mengunjungi tempat pengungsian dan bertemu pengungsi di Rusunawa Jemundo. Saat itu, Menag berjanji membuat roadmap penyelesaian konflik. Namun alih-alih mengerahkan sumber daya sekaliber nasional, awal tahun ini Menag malah mengatakan dirinya menyerahkan sepenuhnya urusan tersebut kepada pemerintah daerah.

“Ini kan penyelesaiannya lebih ditangani oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sampang. Jadi itu juga tergantung pemerintah daerah sendiri dalam menyelesaikan persoalannya,” ujarnya di sela-sela menghadiri prosesi wisuda kelulusan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (18/3/2017).

Tepat tiga hari setelahnya, di kota yang sama, acara Refleksi 5 Tahun perjalanan Advokasi Syiah Sampang diselenggarakan. Di sana, sikap Menag ditanggapi Andy Irfan Junaidi, Ketua Badan Pengurus Kontras Surabaya. “Negara tidak bisa hanya sekadar memberikan fasilitas jatah hidup dan penginapan saja, terus kemudian beberapa pejabatnya berkomentar bahwa warga Syiah harus menyelesaikan masalahnya sendiri, itu kan cara berpikir yang sesat dan menyesatkan, tidak bisa begitu.” Ujar Andy. Ia menambahkan, penanganan yang harus dilakukan negara adalah memberi jaminan atas kepulangan mereka ke kampung halaman.

Yang jadi soal bukan cuma nihilnya kehadiran negara untuk memikirkan cara kepulangan mereka. Lebih dari itu, intoleransi masih dibiarkan begitu saja. Hingga saat ini, rasa aman belum tercipta untuk sebagian orang atas perbedaan identitasnya. Warga Syiah tidak boleh pulang ke rumahnya karena alasan yang masih sama: orang-orang yang kini ada di Sampang belum bisa menerima, aparat khawatir kepulangan warga Syiah membuat gejolak kembali terjadi.

Ditilik sejarahnya, Sampang memang tidak begitu bervariasi. Identitas pokok yang sejak dulu dirujuk berporos pada dua hal: Syiah dan Sunni. Ekososio-kultural Sampang cenderung tertutup rapat bagi perayaan keberagaman. Pengusiran warga dari kampung halamannya sendiri adalah titik kulminasi dari rentetan konservatifme yang terjadi di Sampang sejak zaman sebelum Indonesia merdeka.

Anomali muncul di tahun 1981. Sebuah buku dengan judul dan sampul provokatif hadir dari kandungan LP3ES. Buku itu berjudul Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib. Pada mulanya hanya sebuah catatan harian yang rapi saja tidak. Namun, di sana tergambar jelas keresahan seorang pemuda atas agama, tuhan, ideologi, politik, dan sepotong perasaannya. Oleh Djohan Efendi dan Ismet Nasir, buku itu disunting sekenanya.

Ahmad Wahib si pengarang menuntun kita untuk berkenalan dengan islam modern yang bergejolak di dalam kepalanya saban hari. Ahmad Wahib si pengarang menunjukkan kepada kita bahwa seorang pemuda yang lahir dan tumbuh di Sampang, Madura bisa memberikan gebrakan dengan buku diarinya. Untuk sekadar jadi gambaran, 1980-an adalah masa di mana buku-buku sejenis masih jarang muncul di pasaran. Gus Dur muda yang berkesempatan membaca draf buku yang kala itu masih disunting Ismet Nasir berkomentar: “Dahsyat ini, Med. [Bakal jadi] best seller nih. Apa judulnya?”

“Kata Bung Aswab, Pergolakan Pemikiran Pembaharu,” jawab Ismet.

“Ngapain Pergolakan Pemikiran Pembaharu? Ganti saja Pergolakan Pemikiran Islam,” kata Gus Dur sambil mengangkat kepalan tangannya ke atas.

Buku ini mulanya hanya catatan harian pribadi dan tidak diniatkan untuk konsumsi publik. Wahib yang kala itu menjadi wartawan Tempo, meninggal karena tertabrak motor pada usia 30 tahun. Setelah ia meninggal, buku catatan Wahib kemudian ditemukan di meja kerjanya. Dasar tulisan bagus, sekalipun bersifat personal tetap saja menggugah nalar dan perasaan orang lain. Ide untuk diterbitkan muncul. Satu hal yang terjadi kemudian: pergolakan pribadi yang ditulis Wahib ternyata mampu mewakili—bahkan memberi arah—bagi pergolakan pribadi banyak orang lain.

Melihat bagaimana tulisan-tulisan di buku itu bersumber dari batok kepala seorang anak kelahiran Sampang, saya tergugah. Ahmad Wahib, melalui tulisan-tulisannya, adalah satu dari sekian manusia Indonesia yang menjadi perantara tuhan untuk mengenalkan saya pada kedamaian kehidupan beragama. Seakan terjadi paradoks, perantara lain—yang tuhan kirimkan untuk memperkenalkan saya pada pentingnya kedamaian dan pluralisme—adalah santernya pemberitaan tentang konflik yang terjadi di Sampang di televisi. Apakah paradoks itu kebetulan?

Naufil Istikhari dalam esainya yang berjudul “Jalan Menikung Toleransi Pemikiran Wahib untuk Tanah Kelahirannya Sendiri” mengatakan bahwa kehadiran Wahib cenderung eksklusif. “...ibarat seekor gagak putih di antara jutaan gagak hitam yang amat langka,” tulis Istikhari. Masih di tulisan yang sama, ia mencoba merunut bagaimana Wahib bisa bertemu dengan gagasan-gagasan modernitasnya kelak.

Tahun 1913-1920 menjadi awal Sarekat Islam (SI) mulai menyebar di seluruh Madura dengan Sampang menjadi basis pertamanya. Karena di sana pedagang Tionghoa dominan dalam urusan perdagangan, SI Madura cepat mendapat anggota. Sebagai organisasi yang awalnya didirikan untuk menghadapi persaingan dengan pedagang-pedagang asing, SI memang mudah membasis massa pedagang. Oleh pengaruh Tirto Adhi Soerjo, organisasi ini kemudian menjadi organisasi politik yang menentukan perkembangan Islam modern.

Bersamaan dengan itu pula, pada 1920-an, Muhammadiyah mulai melebarkan sayap dan memperkenalkan ide pembaruan Islam ke Madura (Kuntowijoyo, 1989: 33; 2002: 472- 479). Singkat cerita, situasi inilah yang kemudian mempengaruhi pemikiran ayah Wahib dan menular ke Wahib.

Dari sekian banyak kesan yang menempel pada sosok Wahib, pemikiran Islam modern dan toleransi adalah hal yang menonjol. Khusus untuk Sampang, saya menemukan salah satu tulisan Wahib yang akan menarik jika ia benar-benar merasuk ke orang-orang di daerah kelahirannya.

Kelompok muslim modern ini harus ofensif masuk ke kubu-kubu kelompok lain, berdialog secara bijaksana dan jujur, memahami dan mengerti kelompok masing-masing dan menghilangkan kecurigaan-kecurigaan yang tidak perlu.” (Wahib, 9 Februari 1970).

Pastinya akan menarik jika petikan ini dimamah pelan-pelan oleh orang yang sudi mengaku dirinya “kelompok muslim modern”, khususnya mereka yang ada di Sampang. Bahwa hal yang perlu dilakukan adalah “ofensif ke kelompok lain dengan cara dialog”; bukan gebuk, api, atau pengusiran. “Memahami dan mengerti dengan menghilangkan kecurigaan” dalam dialog yang setara.

Niscaya, jika itu bisa terjadi, tak akan ada lagi api-api kebencian yang berkobar pada bulan Agustus di Sampang. Sekalipun para pengungsi kembali ke rumahnya. Kalaupun ada kobaran api, sebagaimana di tempat-tempat lain, adalah api kehangatan dalam perayaan proklamasi kemerdekaan. Proklamasi yang secara tidak langsung mengikat perbedaan berbagai golongan menjadi satu, bernama Indonesia.


Aziz Dharma
Pekerja grafis serabutan. Bisa dihubungi via Facebook.com/AzizDhar atau surel azizdarma@gmail.com.
Bagikan :

© 2016 PoCer.co | Buku Dibaca Penerbit Bicara